Pendahuluan

Pertanyaan haruskan orang Advent merayakan natal selalu berulang ditanyakan setiap akhir tahun.

Pertanyaan tersebut muncul salah satunya karena komentar dari teman-teman Kristen lain yang menanyakan mengapa gereja Advent tidak merayakan natal?

Tentu sebagai orang Advent terkadang kita tidak punya cukup argumentasi untuk menjelaskan apakah kita merayakan natal atau tidak.

Sebagian orang Advent berpendapat bahwa kita tidak merayakan natal, dan argumentasi untuk menjawab pertanyaan diatas adalah karena asal-usul perayaan natal berasal dari paganismen.

Sebagaian akan mengatakan bahwa kita tidak merayakan natal karena tidak ada perintah dalam Alkitab untuk merayakannya.

Namun apakah jawaban tersebut cukup memadai dan apakah memang itu dasar utama untuk tidak merayakan natal?

Atau bagaimana sebenarnya sikap gereja terhadap perayaan natal? Apakah kita merayakan natal atau tidak?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan lebih baik saya menampilkan ulasan yang datang dari beberapa sumber resmi gereja kita maupun yang tidak resmi dalam gereja kita.

Lembaga penelitian Alkitab GC

Pertama datang dari Bible Riset gereja kita (BRI). Ini adalah Lembaga resmi gereja, yang secara khusus membahas isu-isu teologi yang muncul di gereja kita.

Topik ini dibahas oleh Ángel Manuel Rodríguez yang ditulis pada desember 2010. Bacalah apa yang disampaikan berikut ini:

Haruskah umat Advent merayakan Natal?

Setiap tahun saya menerima surat atau telepon yang menanyakan apakah benar bagi umat Advent untuk merayakan Natal.

Ketidakpastian ini biasanya didasarkan pada tidak adanya informasi alkitabiah tentang tanggal kelahiran Kristus, dan pada keyakinan bahwa 25 Desember telah dikaitkan dengan festival pagan.

Izinkan saya memberikan beberapa informasi historis tentang perayaan Natal dan mengatakan sesuatu tentang signifikansinya

1. Natal dan Adventis: Sebelum saya mengomentari pertanyaan ini, izinkan saya menjelaskan bahwa Adventis tidaklah, dan seharusnya tidak menentang, Natal.

Mengapa kita harus menentang periode waktu ketika orang Kristen memperingati kelahiran Juruselamat kita?

Namun, karena perayaan ini tidak ditetapkan oleh Kitab Suci, kita tidak menganggapnya mengikat bagi orang percaya.

Kita hanya mengakui satu hari suci, yaitu Sabat; dan kita menguduskannya sebagai ketaatan kepada Pencipta dan Penebus kita.

2. Natal dan Sejarah: Sudah diketahui umum bahwa istilah “Natal” berasal dari kata bahasa Inggris kuno “Christmesse,” yang berarti “Misa Kristus.”

Istilah ini berasal dari Abad Pertengahan dari praktik mengadakan Misa tengah malam pada malam tanggal 25 Desember untuk merayakan kelahiran Kristus. Dalam bahasa lain disebut “Nativity” (Latin, natalis ) atau “Holy Nights” (Jerman, Weihnachten).

Sejarah perayaan Kristen ini masih belum jelas. Para sejarawan menunjukkan bahwa perayaan Natal mulai dirayakan oleh umat Kristen pada abad keempat.

Beberapa orang Kristen menghitungnya berdasarkan kematian Kristus yang terjadi pada tanggal 25 Maret.

Kemudian muncul spekulasi bahwa Ia pasti lahir sembilan bulan sebelumnya pada tanggal 25 Desember. Yang lain menempatkan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Maret.

Tetapi penjelasan yang paling umum adalah bahwa Natal entah bagaimana terhubung dengan kultus Romawi tentang Matahari yang Tak Terkalahkan (Latin, Sol Invictus ), kelahiran kembali matahari, yang dirayakan pada tanggal 25 Desember.

Ini dapat menjelaskan pentingnya lampu selama perayaan Natal, meskipun “cahaya” juga dikaitkan dengan Kristus dalam Kitab Suci (misalnya, Lukas 1:78, 79).

Oleh karena itu, sering terdengar tuduhan bahwa umat Kristen mengadopsi dan mengadaptasi perayaan pagan. Ini mungkin saja, tetapi sulit untuk dibuktikan dari bukti sejarah yang tersedia.

3. Natal dan Umat Beriman: Kita harus mengakui dua fakta: Pertama, kita tidak tahu mengapa Tuhan, dalam pemeliharaan-Nya, memilih untuk tidak menyimpan catatan tentang hari kelahiran Yesus bagi kita. Tidak perlu berspekulasi tentang hal ini.

Kedua, faktanya adalah bahwa dunia Kristen merayakan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember. Kita tidak dapat mengubah ini, dan tidak ada alasan untuk mencoba mengubahnya.

Upaya untuk menolak perayaan ini didasarkan pada ketiadaan bukti Alkitab dan kemungkinan hubungannya dengan perayaan pagan.

Oleh karena itu, kita harus menyerahkan masalah ini kepada hati nurani setiap individu.

Meskipun demikian, izinkan saya menyatakan sekali lagi bahwa sama sekali tidak ada yang salah dengan memilih waktu tertentu untuk bermeditasi dan merenungkan inkarnasi Juruselamat kita.

Saya menyarankan agar selama Natal kita dapat meluangkan waktu untuk memikirkan misteri Inkarnasi.

Ini adalah misteri karena hal itu menjadi bukti bahwa Putra Allah menjadi “daging” (Yohanes 1:14). Sang Pencipta menjadi makhluk ciptaan untuk menyelamatkan kita dari kuasa dosa dan kematian.

Kelahiran Yesus juga dapat dipahami sebagai karunia Allah kepada umat manusia; dalam Putra-Nya, Allah memberi kita karunia paling berharga yang dapat Dia berikan kepada kita.

Dia adalah roti surga yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita oleh Bapa surgawi kita (Yohanes 6:48-51).

Namun, Natal juga merupakan waktu untuk pemberitaan . Pada malam itu, para malaikat memberitakan kabar baik kepada para gembala: “Jangan takut…. Hari ini di kota Daud telah lahir seorang Juruselamat bagimu” (Lukas 2:10, 11).

Kita seharusnya bergabung dengan suara para malaikat dan sekali lagi memberitakan ke seluruh planet kabar baik tentang perdamaian dan kebebasan dari rasa takut melalui Kristus, Tuhan.

Natal memberikan kesempatan yang sangat baik untuk mengingatkan umat manusia bahwa Anak yang lahir di Betlehem akan segera datang.

Sumber asli ada disini

Nah, dari penjelasan diatas ada dua poin yang saya dapatkan:

Pertama: Tidak ada ketetapan dalam Alkitab tentang perayaan kelahiran Yesus. Karena itu tidak ada posisi resmi gereja tentang merayakan natal atau tidak.

Merayakan atau tidak diserahkan kepada masing-masing anggota sesuai dengan hati nurani masing-masing.

Kedua, natal dapat digunakan menjadi waktu untuk merenungkan inkarnasi Yesus. Mengingatkan kembali kasih Allah bagi kita sehingga dia rela datang kedunia untuk menebus kita dari dosa dan dia akan datang kembali untuk yang kedua kalinya.

Anda bisa menambahkan poin selanjutnya yang Anda temukan dalam penjelasan diatas.

============

Penjelasan Pastor Ted Wilson

Selain Bible Research Institute, Pastor Ted Wilson pada tahun 2015, saat itu beliau masih sebagai ketua GMAHK Sedunia, memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang sama sebagai berikut:

Tanya:

Pendeta Wilson, saya ingin tahu apakah Gereja Advent Hari Ketujuh merayakan Natal?

Jawab:

Sebagai gereja, kita tidak memiliki pernyataan atau posisi resmi tentang perayaan Natal, melainkan menyerahkannya kepada masing-masing individu.

Kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan topik Natal menjadi isu yang memecah belah di antara kita, mengkritik atau mengasingkan mereka yang mungkin memiliki pandangan berbeda tentang Natal dibandingkan kita.

Ellen White telah memberikan nasihat bijak tentang topik ini yang tetap relevan bagi kita hingga saat ini:

“Kita sekarang hampir memasuki akhir tahun, dan bukankah seharusnya kita menjadikan hari-hari raya ini sebagai kesempatan untuk mempersembahkan persembahan kita kepada Tuhan? Saya tidak dapat mengatakan kurban, karena kita hanya akan memberikan kepada Tuhan apa yang sudah menjadi milik-Nya, dan yang hanya Dia percayakan kepada kita sampai Dia memintanya. Tuhan akan senang jika pada hari Natal setiap gereja memiliki pohon Natal yang di atasnya digantung persembahan, besar dan kecil, untuk rumah-rumah ibadah ini.”

“Kami menerima surat-surat pertanyaan yang menanyakan, Haruskah kami memiliki pohon Natal? Bukankah itu akan seperti dunia? Kami menjawab, Anda dapat membuatnya seperti dunia jika Anda memiliki keinginan untuk melakukannya, atau Anda dapat membuatnya sebisa mungkin berbeda dari dunia. Tidak ada dosa khusus dalam memilih pohon cemara yang harum dan menempatkannya di gereja-gereja kita, tetapi dosa terletak pada motif yang mendorong tindakan tersebut dan penggunaan yang dilakukan terhadap hadiah-hadiah yang diletakkan di pohon itu.”

“Pohon itu boleh setinggi dan selebar apa pun yang paling sesuai dengan kesempatan; tetapi biarlah dahan-dahannya dipenuhi dengan buah emas dan perak dari kemurahan hatimu, dan persembahkan ini kepada-Nya sebagai hadiah Natalmu. Biarlah sumbanganmu disucikan oleh doa.”

“Perayaan Natal dan Tahun Baru dapat dan harus diadakan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Tuhan dimuliakan ketika kita memberi untuk membantu mereka yang memiliki keluarga besar untuk dihidupi.”

“Tidakkah kalian akan bangkit, saudara-saudari seiman, dan mempersiapkan diri untuk menjalankan tugas dalam takut akan Allah, sehingga urusan ini tidak menjadi membosankan dan tidak menarik, tetapi penuh dengan kenikmatan yang tulus dan bertanda dari Surga? Saya tahu kaum miskin akan menanggapi saran-saran ini. Orang-orang terkaya pun hendaknya menunjukkan minat dan memberikan hadiah serta persembahan mereka sesuai dengan kemampuan yang telah Allah percayakan kepada mereka.”

“Semoga tercatat dalam kitab surgawi suatu Natal yang belum pernah terjadi sebelumnya karena sumbangan yang akan diberikan untuk menopang pekerjaan Allah dan membangun kerajaan-Nya.” — Review and Herald, 11 Desember 1879, par. 15.

Meskipun kita tidak tahu persis kapan Yesus lahir, yang penting adalah kita tahu bahwa nubuat itu digenapi tepat seperti yang diprediksi — Yesus lahir di Betlehem dari seorang perawan.

Ia dibungkus dengan kain lampin dan berbaring di palungan. Ia menjalani hidup tanpa dosa, terluka karena pelanggaran kita, mati dan bangkit kembali, dan sekarang berada di surga melayani kita di tempat kudus surgawi. Segera, Ia akan datang kembali, bukan sebagai bayi yang tak berdaya tetapi sebagai Raja yang menaklukkan untuk membawa kita pulang.

Mari kita gunakan waktu di penghujung tahun ini untuk mempersembahkan karunia terbaik kita kepada Raja segala raja agar dapat menjangkau teman, tetangga, rekan kerja, kenalan, dan bahkan orang asing, dengan pesan indah yang diberitakan dengan begitu indah dalam Yesaya 9:6:

“Sebab bagi kita seorang anak telah lahir, bagi kita seorang putra telah diberikan; pemerintahan akan berada di atas bahunya; dan namanya akan disebut Ajaib, Penasihat, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai.”

Semoga Tuhan memberkati kita masing-masing saat kita memberikan hati kita kepada Kristus hari ini dan setiap hari sambil menantikan kedatangan-Nya yang segera — kedatangan-Nya yang kedua.

Dari penjelasan diatas ada empat poin:

Pertama, Gereja tidak memiliki posisi resmi tentang merayakan natal atau tidak. Semua diserahkan kepada masing-masing individu.

Kedua, mengutip peryataan Ellen G. White, bahwa momen natal dapat digunakan untuk memberikan persembahan kepada Tuhan.

Ketiga, memiliki pohon natal tidak perlu dipertentangkan. Memiliki pohon natal dan menggantungkan persembahan disana sangat dianjurkan.

Keempat, Natal dan tahun baru dapat digunakan menjadi waktu untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Intinya, tidak ada yang salah dengan merayakan atau tidak merayakan natal. Natal justru dapat menjadi momen untuk berbagi dan memberkati orang lain.

============

Penjelasan Gerhard Pfandall

Selanjutnya artikel yang ditulis Gerhard Pfandll, yang dimuat di Adventist Theological Society at Digital Commons @ Andrews University.

Berikut pebahasan dalam artikelnya:

Injil tidak menunjukkan kapan Kristus dilahirkan. Bahwa para gembala menjaga kawanan domba mereka di ladang pada malam hari (Lukas 2:8), menyingkirkan bulan Desember.

Karena cuaca dingin dan hujan yang menusuk tulang pada waktu itu, domba tidak akan dibiarkan tanpa perlindungan di tempat terbuka pada malam hari.

Tanggal 25 Desember berasal dari perayaan Romawi yang berkaitan dengan pembaruan Matahari pada titik balik matahari musim dingin.

Perayaan Saturnalia untuk menghormati Saturnus, dewa penaburan atau benih, diadakan dari tanggal 17-24 Desember. Itu adalah waktu untuk bersenang-senang dan merayakan.

Pekerjaan dihentikan sehingga orang-orang dapat berpesta, berjudi, menari, bertukar hadiah, dan secara umum menikmati diri mereka sepenuhnya.

Terkait dengan festival ini adalah harapan akan perdamaian, kebahagiaan, dan kebaikan. 25 Desember dirayakan sebagai hari kelahiran Mithra, dewa cahaya Iran.

Mithraisme, saingan terberat Kekristenan pada abad-abad awal era Kristen, menekankan penyembahan Sol Invictus—matahari yang tak terkalahkan.

Pada tahun 274 M, Kaisar Aurelian memanfaatkan penyembahan pagan terhadap Matahari dengan menyatakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Matahari yang Tak Terkalahkan.

Selama abad keempat, gereja di Roma menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Raya Kelahiran Matahari Kebenaran.

Penyebutan paling awal tanggal 25 Desember untuk kelahiran Kristus terdapat dalam Kalender Philocalian (almanak untuk penggunaan Kristen) dari tahun 354.

Pada pertengahan abad kelima, tanggal tersebut menggantikan Epifani (6 Januari) sebagai hari kelahiran Kristus, dan umumnya dirayakan di seluruh dunia Kristen.

Berbagai kebiasaan Natal berasal dari berbagai sumber.

Pertukaran hadiah berasal dari perayaan Saturnalia, dedaunan dan lampu berasal dari Tahun Baru Romawi, dan Santa Claus mendapatkan namanya dari Sinter Klaas, bentuk Belanda dari Santo Nicholas, seorang uskup Kristen di Asia pada abad keempat, yang konon memberikan semua uang yang diwarisinya dari orang tuanya yang kaya.

Nama Natal berasal dari kebiasaan Katolik Roma abad pertengahan untuk merayakan misa tengah malam pada malam sebelum kelahiran Kristus.

Seiring waktu, Natal, sebagai hari perayaan kelahiran Kristus, menjadi festival Kristen terpenting, dan asal-usul pagannya hilang dalam sejarah.

Penjelasan Ellen G White

Meskipun berasal dari paganisme, Ellen White tidak menolak perayaan Natal. Nasihatnya yang seimbang tentang bagaimana umat Advent Hari Ketujuh dapat memasukkan Natal ke dalam kehidupan mereka terdapat dalam buku Adventist Home.

“Karena tanggal dua puluh lima Desember diperingati untuk memperingati kelahiran Kristus, karena anak-anak telah diajarkan melalui ajaran dan contoh bahwa ini memang hari sukacita dan kegembiraan, Anda akan merasa sulit untuk melewati periode ini tanpa memberikan perhatian padanya. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang sangat baik.

“Kaum muda harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Mereka tidak boleh dibiarkan pada hari Natal untuk mencari hiburan mereka sendiri dalam kesombongan dan kesenangan yang akan merugikan spiritualitas mereka.

Orang tua dapat mengendalikan hal ini dengan mengarahkan pikiran dan persembahan anak-anak mereka kepada Tuhan dan tujuan-Nya serta keselamatan jiwa.

“Keinginan untuk hiburan, alih-alih dipadamkan dan diatur secara sewenang-wenang, harus dikendalikan dan diarahkan dengan upaya sungguh-sungguh dari pihak orang tua. Keinginan mereka untuk memberi hadiah dapat dialihkan ke saluran yang murni dan suci dan menghasilkan kebaikan bagi sesama kita dengan menyediakan perbendaharaan dalam pekerjaan besar dan agung yang untuknya Kristus datang ke dunia kita. . . .

“Adalah benar untuk saling memberi tanda kasih dan kenangan jika kita tidak melupakan Tuhan, sahabat terbaik kita. Kita harus memberikan hadiah yang akan terbukti bermanfaat bagi penerima. Saya akan merekomendasikan buku-buku yang akan membantu dalam memahami firman Tuhan atau yang akan meningkatkan kecintaan kita pada ajaran-ajarannya.” “Sediakan sesuatu untuk dibaca selama malam-malam musim dingin yang panjang ini.”¹

Meskipun pohon suci dan bahkan pohon yang diterangi ditemukan dalam beberapa agama kuno, pohon Natal seperti yang kita kenal sekarang secara historis hanya dibuktikan sejak abad ke-16 dan seterusnya.

Dari Kronik Beckschen (sekitar tahun 1600) kita mengetahui bahwa pohon Natal dihiasi dengan apel dan wafer yang dikuduskan.

Menjelang akhir abad ke-17, pohon Natal selain buah-buahan dan wafer juga dihiasi dengan lilin, meskipun lilin itu sendiri merupakan bagian dari perayaan Natal sejak zaman gereja mula-mula.

Dari Jerman, pohon Natal menaklukkan dunia, terutama selama abad ke-19.

Ketika Ellen White ditanya tentang penggunaan pohon Natal, dia menjawab dengan mengatakan, “Tuhan akan sangat senang jika pada hari Natal setiap gereja memiliki pohon Natal yang di atasnya akan digantung persembahan, besar dan kecil, untuk rumah-rumah ibadah ini.

Surat-surat pertanyaan telah datang kepada kami yang bertanya, Haruskah kita memiliki pohon Natal? Bukankah itu akan seperti dunia?”

Kami menjawab, Anda bisa membuatnya seperti dunia jika Anda memiliki kecenderungan untuk melakukannya, atau Anda bisa membuatnya sebisa mungkin berbeda dari dunia.

Tidak ada dosa khusus dalam memilih pohon cemara yang harum dan menempatkannya di gereja-gereja kita, tetapi dosa terletak pada motif yang mendorong tindakan dan penggunaan yang dilakukan terhadap hadiah yang diletakkan di pohon itu.”²

Nasihat yang diilhami dapat diringkas sebagai berikut: Natal dapat dirayakan untuk melayani tujuan yang baik; pikiran dapat diarahkan ke surga kepada pengorbanan Kristus bagi umat manusia yang berdosa; dan persembahan harus diberikan untuk pekerjaan Tuhan.

Dengan kata lain, Natal dapat dijadikan berkat bagi keluarga dan gereja Advent Hari Ketujuh.

Dalam editorial Review and Herald,³ Kenneth H. Wood memberikan dua saran praktis tentang bagaimana umat Advent Hari Ketujuh dapat merayakan Natal dengan cara Kristen:

Pertama, ia menyarankan untuk memprioritaskan orang lain daripada diri sendiri. Kunjungi orang tua dan orang yang kesepian.

Undang seseorang yang tidak dapat membalas keramahan Anda untuk makan, atau bawalah keranjang Natal kepada seseorang yang membutuhkan.

Kedua, ia menyarankan untuk memilih proyek di gereja seperti penginjilan, Radio Dunia Advent, Suara Nubuat, penemuan baru, ADRA, penginjilan, dll.

Kemudian menyumbangkan jumlah dana tersebut untuk proyek yang dipilih. Ini selaras dengan nasihat Ellen White ketika dia berkata,

“Biarlah tercatat dalam kitab-kitab surgawi suatu Natal yang belum pernah terlihat sebelumnya karena sumbangan yang akan diberikan untuk menopang pekerjaan Allah dan membangun kerajaan-Nya.”4 Natal harus dirayakan selaras dengan prinsip-prinsip Kristen.

Dengan menyediakan kebutuhan bagi orang miskin dan kesepian, dan dengan memberikan hadiah untuk pekerjaan Allah pada Natal, kita menghormati Kristus.

Di atas segalanya, kita harus berhati-hati agar tidak melupakan fakta bahwa Natal mengingatkan kita pada kedatangan pertama Kristus.

Mempelajari kehidupan dan pekerjaan-Nya di Bumi setiap hari selama musim Natal akan sangat tepat.

Anak-anak dapat diajarkan bahwa, meskipun tanggal kelahiran Kristus tidak diketahui, kita dapat merayakan peristiwa itu dengan cerdas dan sesuai selera.

Poin dalam bagian ini: Anda dapat merayakan natal dengan berbuat kebajikan.

==========

Penjelasan askadventistfriend.com

Saya juga mendapatkan ulasan dari askanadventistfriend.com, sebuah situs yang membahas seputar pertanyaan tentang Advent.

Berikut ini mereka memberi ulasan yang masih sama dengan yang diatas.

Secara umum, sebagian besar umat Advent Hari Ketujuh merayakan Natal.

Karena denominasi kami tidak memiliki pedoman khusus tentang hari raya, terserah kepada setiap anggota untuk memutuskan apakah akan merayakannya berdasarkan keyakinan pribadi dan studi Alkitab mereka.

Apa yang diyakini umat Advent tentang perayaan Natal?

Bagi sebagian besar umat Advent, Natal adalah kesempatan untuk mengenang kelahiran Yesus Kristus , meskipun sebagian kecil mungkin menghindari hari raya ini karena alasan pribadi.

Gereja Advent Hari Ketujuh tidak memiliki aturan khusus tentang perayaan Natal. Hal ini karena Kitab Suci tidak memberikan petunjuk untuk menerima atau menolak Natal. Lagipula, Alkitab ditulis jauh sebelum hari raya ini dirayakan.

Dalam hal-hal seperti ini, umat Advent disarankan untuk mengikuti hati nurani pribadi mereka dan mencari prinsip-prinsip utama dalam Alkitab untuk membimbing keputusan mereka.

Mengapa sebagian besar umat Advent merayakan

Seperti yang telah kita sebutkan, Natal adalah waktu ketika banyak umat Advent merenungkan kelahiran Putra Allah dan berbagi sukacita itu dengan orang lain.

Kita melihatnya sebagai kesempatan besar untuk terhubung dengan orang-orang yang sudah mempertimbangkan makna yang lebih dalam dari hari raya ini.

Siapa tahu—mungkin ini satu-satunya waktu dalam setahun di mana seorang teman atau anggota keluarga bersedia menghadiri gereja dan mendengarkan tentang Tuhan.

Kita juga senang merayakan Natal karena memberikan kesempatan untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang lain, baik itu dengan berpartisipasi dalam kegiatan pengumpulan makanan dan mainan atau mengundang orang yang kesepian untuk makan malam Natal bersama.

Dan akhirnya, perayaan Natal kita berakar dari kenyataan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh sukacita. Dalam Alkitab, kita menemukan bahwa Yesus sendiri turut serta dalam sukacita sederhana perayaan pernikahan ( Yohanes 2:2 ).

Demikian pula, Natal adalah hari untuk menikmati kebersamaan dengan teman dan keluarga—dan mendapatkan sedikit gambaran tentang sukacita Tuhan melalui persekutuan itu.

Mengapa sebagian umat Advent tidak merayakan

Sebagian umat Advent tidak merayakan Natal karena mereka khawatir tentang asal-usulnya dan cara orang merayakannya.

Mereka khawatir mereka dan keluarga mereka bisa terjebak dalam materialisme hari raya ini dan melupakan apa yang benar-benar penting—mengasihi dan melayani orang lain serta menyebarkan kabar baik Yesus .

Sebagian lainnya menolak hari raya ini karena banyak dekorasi dan ikonnya berasal dari festival dan penyembahan pagan.

Ambil contoh tanggal 25 Desember.

Sejarawan tidak memiliki bukti bahwa Yesus benar-benar lahir pada hari ini.² Satu – satunya hal yang signifikan tentang hari ini adalah bahwa awalnya hari ini merupakan hari raya pagan untuk menghormati dewa matahari.³

Pada saat yang sama, umat Advent yang merayakan Natal mungkin akan menunjukkan bahwa hampir segala sesuatu dapat dikaitkan dengan asal-usul pagan.

Itu berlaku untuk nama-nama planet kita dan hari-hari dalam seminggu. Namun, sekarang Natal telah kehilangan makna paganismenya.

Dan tanpa makna ini, benda-benda seperti pohon Natal dan mistletoe hanyalah benda-benda biasa.

Meskipun demikian, materialisme dan paganisme sama-sama merupakan alasan yang sah untuk memutuskan untuk tidak merayakan hari raya ini.

Namun, sebagai umat Advent, tujuan kita bukanlah untuk menjadikan ini sebagai isu yang memecah belah.

Tidak seorang pun boleh merasa bahwa keyakinan pribadi mereka untuk menerima atau menolak perayaan Natal adalah salah.

Setiap individu harus memutuskan sendiri.

Sementara itu, pelopor Adventis Ellen G. White memberikan jawaban kepada mereka yang khawatir bahwa aspek-aspek tertentu dari Natal akan mendorong paganisme:

“Kami menerima surat-surat pertanyaan yang menanyakan, Haruskah kami memiliki pohon Natal? Bukankah itu akan seperti dunia? Kami menjawab, Anda dapat membuatnya seperti dunia jika Anda memiliki keinginan untuk melakukannya, atau Anda dapat membuatnya sebisa mungkin berbeda dari dunia. Tidak ada dosa khusus dalam memilih pohon cemara yang harum dan menempatkannya di gereja-gereja kita, tetapi dosa terletak pada motif yang mendorong tindakan dan penggunaan yang dilakukan terhadap hadiah yang diletakkan di pohon itu.” 4

“Tidakkah kalian akan bangkit, saudara-saudari seiman, dan mempersiapkan diri untuk menjalankan tugas dalam takut akan Allah, sehingga urusan ini tidak menjadi membosankan dan tidak menarik, tetapi penuh dengan kenikmatan yang murni dan bertanda dari Surga?” 5

Dalam kutipan-kutipan ini, Ellen White mengemukakan inti permasalahannya: Kekhawatiran seputar Natal berpusat pada bagaimana kita berencana untuk merayakannya. Dan perhatikan, dia mendorong kita untuk menjadikannya waktu “kenikmatan yang polos.”

Apa yang Alkitab katakan tentang perayaan Natal?

Alkitab tidak menyebutkan apa pun tentang merayakan Natal, tetapi Alkitab memberikan prinsip-prinsip untuk membimbing cara kita merayakannya.

Berikut beberapa pertanyaan sederhana yang dapat Anda ajukan kepada diri sendiri:

• Bagaimana hari raya ini berhubungan dengan keyakinan saya akan Firman Tuhan ? ( Yohanes 17:17 ; 1 Tesalonika 5:5 ).

• Bagaimana perayaan hari raya ini memengaruhi perilaku saya ? ( Galatia 5:13-14 , Roma 12:1-2 ).

• Bagaimana perayaan hari raya ini memengaruhi cara saya memperlakukan orang lain? ( Filipi 2:3-4 ; Roma 12:10-13 ).

• Bagaimana perayaan hari raya ini memengaruhi hubungan saya dengan Tuhan? ( Matius 6:33 ; Lukas 16:13 ).

Seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, jawaban Anda atas pertanyaan-pertanyaan ini mungkin berbeda dari jawaban orang lain. Dan itu tidak apa-apa!

Natal mungkin mendorong seseorang untuk merangkul nilai-nilai Kristen tentang kasih sayang dan kebaikan.

Tetapi Natal mungkin mendorong orang lain untuk terjebak dalam materialisme, keserakahan, atau stres liburan.

Tuhan memanggil kita kepada standar karakter yang sama, tetapi pada akhirnya, kita semua bergumul dengan masalah dan godaan yang berbeda .

Kita menanggapi situasi secara berbeda karena perjalanan Kristen setiap orang itu unik.

Itulah mengapa setiap penganut Advent membuat keputusan untuk hidup mereka yang paling sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab ini.

Hal ini juga berlaku untuk hari libur lainnya.

=============

Kesimpulannya

Gereja tidak memiliki posisi resmi untuk merayakan atau tidak merayakan natal atau kelahiran Yesus. ini bukan posisi abu-abu.

Merayakan atau tidak dikembalikan kepada masing-masing anggota berdasarkan nurani mereka dan pembelajaran mereka akan Alkitab.

Sikap tersebut diambil karena memang tidak ada perintah untuk merayakan kelahiran Yesus dan tidak ada juga catatan tentang waktu yang tepat dari kelahiran Yesus.

Mereka yang tidak merayakan natal atas dasar keyakinan asal-usul natal, padangannya harus tetap dihargai. Termasuk mereka yang merayakan natal.

Natal dapat dirayakan dengan melakukan kebajikan. Berbagi dan memenuhi kebutuhan mereka yang memerlukannya. Memberi persembahan dan mendanai sebuah proyek gereja.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *