Teks: Bilangan 13:6, 30-32; Yosua 14:6-14; Lukas 18:1-5; Yosua 19:49-51; 2 Korintus 3:18; Roma 12:1-2

Sebuah studi pernah mengungkapkan bahwa jika Ayah dan Ibu menghadiri gereja secara teratur, 72% anak-anak mereka tetap setia. Jika hanya Ayah, 55% tetap setia.

Jika hanya Ibu, 15%. Jika keduanya tidak menghadiri gereja secara teratur, hanya 6% yang tetap setia.

Statistik ini berbicara sendiri—teladan orang tua dan orang dewasa lebih penting daripada semua upaya gereja dan pendidikan agama.

Berbicara tentang teladan, setiap orang tua tahu bahwa anak-anak mereka belajar dari teladan, atau apa yang mereka lihat dari orang tua mereka.

Apakah itu teladan?

Sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya) (Kbbi).

Banyak orang tua yang resah dan gelisah ketika melihat bahwa anak-anak mereka mengikuti sifat buruk mereka dibanding sifat baik mereka.

Memang itulah realitas dari kejatuan manusia, kita lebih mudah melakukan yang salah daripada yang benar.

Paulus membenarkan realitas itu, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” ( Rm. 7:15 )

Kita ingin melakukan yang benar, tapi dalam realitasnya, kita justru melakukan hal yang sebaliknya.

Sejak lahir, manusia dibentuk oleh kekuatan keteladanan. Kita belajar melakukan hal-hal paling mendasar dalam hidup, seperti berjalan, berbicara, dan mengekspresikan emosi, dengan meniru orang-orang terdekat.

Sebagai orang dewasa, kita tetap membutuhkan panutan, dan, meskipun mereka tidak sempurna, kita dapat mengagumi dan meneladani sifat-sifat spiritual yang menjadikan mereka raksasa iman.

Minggu ini, kita akan mengkaji lebih dalam kisah pribadi dua tokoh besar iman dalam kitab Yosua: Kaleb dan Yosua.

Apa yang membuat mereka menonjol di generasi mereka dan memainkan peran kunci dalam kehidupan umat Allah di salah satu periode paling krusial dalam sejarah Israel?

Teks: Bilangan 13:6, 30-32 dan Yosua 14:6, 14

Kita akan mempelajarai tokoh iman yang pertama, yaitu Kaleb.

Siapakah Kaleb?

Nama Kaleb berasal dari bahasa Ibrani kelev artinya berani, bersemangat. Namanya juga nama binatang yang berarti ‘anjing.’

Di Timur Dekat kuno, anjing dapat melambangkan pelayan yang patuh. Di Perjanjian lama nama Kelev muncul dalam konteks negatif.

Namun dalam surat-surat himne diluar Alkitab, nama ini mengungkapkan keberanian, keuletan, dan kesetiaan seorang hamba kepada tuannya.

Jadi seperti namanya, Kaleb orang yang setia kepada Tuhan seumur hidupnya.

Dia berasal dari suku Yehuda. Ayahnya bernama Yefune. Itu sebabnya dia sering dipanggil sebagai Kaleb bin Yefune.

Kaleb bukan orang Israel asli. Walau demikian, dia Israel sejati. Aslinya dia berasal dari suku Kenas. Karena itu dia disebut orang kenas (Yosua 14:6, 14).

Siapakah Kenas?

Penyebutan pertama tentang orang Kenas di Kejadian 15:19, di mana orang Kenas disebutkan bersama orang Keni, orang Het, orang Kanaan, dan sebagainya.

Penyebutan ini berkaitan dengan janji Tuhan memberikan tanah kepada Abraham dan keturunannya.

Jika melihat kepada penyebutan tersebut di jaman Abraham, ada asumsi bahwa orang kenas telah ada di Kanaan sebelum Abraham tiba disana.

Kehadiran mereka di wilayah tersebut selanjutnya dikonfirmasi dalam Bilangan 24:21-22 , di mana nubuat Bileam menyebutkan suku Keni, menyoroti tempat tinggal mereka yang aman:

“Kokoh tempat kediamanmu, tertaruh di atas bukit batu sarangmu.”

Namun dibagian lain disebutkan Kenas adalah keturunan Esau, orang Edom  (Kej. 36:11, 15, 42).

Nah, apakah orang Kenas di kejadian 15:19 dan kejadian 36 adalah orang yang berbeda?

Kemungkinan penyebutan Kejadian 15:19 bersifat anakronisme artinya menyebut orang kenas bahkan sebelum mereka ada.

Sebagian berpandangan orang kenas orang asing yang tidak punya kekerabatan dengan Esau.

Bagaimana awal mula hubungan suku Kenas dengan Israel?

Apa pun itu, suku kenas telah memiliki hubungan dengan Israel. Dan bagaimana awal mula hubungan mereka rumit dan banyak dimensi.

Mungkin bermula dari salah satu suku Kenas yang paling terkenal adalah Yitro, juga dikenal sebagai Reuel, ayah mertua Musa.

Yitro, seorang imam Midian, memberikan Musa nasihat dan dukungan selama perjalanan orang Israel melalui padang gurun ( Keluaran 18:1-27 ).

Hubungan ini membentuk ikatan antara orang Kenas dan orang Israel, yang berlanjut hingga generasi-generasi berikutnya.

Selanjutnya, selama Keluaran, orang Kenas semakin dikenal karena hubungan persahabatan mereka dengan orang Israel.

Dalam Bilangan 10:29-32, Musa mengundang Hobab, putra Reuel orang Midian (Yitro), untuk bergabung dengan orang Israel dalam perjalanan mereka ke Tanah Perjanjian, menawarkan kepadanya bagian dalam berkat-berkat.

Undangan ini menggarisbawahi aliansi dan rasa saling menghormati antara kedua kelompok.

Kemudian berintegrasi orang Kenas dengan orang Israel diilustrasikan lebih lanjut dalam periode Hakim-Hakim.

Hakim-Hakim 1:16 mencatat bahwa keturunan ayah mertua Musa, orang Kenas, pergi dari Kota Pohon Palem (Yerikho) bersama orang-orang Yehuda untuk tinggal di antara orang-orang di Gurun Yehuda di Negev dekat Arad.

Bagian ini menunjukkan mereka hidup berdampingan dan kerja sama yang damai antara orang Kenas dan suku Yehuda.

Bagaimana Kaleb orang Kenas menjadi orang Yehuda?

Ada beberapa kemungkinan:

1. Adopsi atau Asimilasi: Ada kemungkinan bahwa keluarga Kenas dari Yefune bergabung dengan suku Yehuda dan diakui sebagai bagian dari warisan Yehuda.

Adopsi atau asimilasi keluarga asing ke dalam suku-suku Israel dalam beberapa kasus dicatat di Alkitab, seperti orang-orang Gibeon.

2. Penggabungan Klan melalui Pernikahan: Penjelasan lain adalah bahwa garis keturunan orang Kenas bergabung dengan Yehuda karena adanya pernikahan campur, yang akhirnya menjadi sepenuhnya selaras dengan silsilah dan klaim suku Yehuda.

Bergabungnya orang Kenas menjadi orang Israel menunjukkan bahwa kesetiaan seseorang kepada Allah melampaui garis keturunan.

Meskipun Kaleb memiliki latar belakang non-Israel, ia muncul sebagai teladan iman (misalnya, Bilangan 14:24 ) dan dianugerahi warisan pribadi.

Apa Peranan kaleb di Israel?

Ia adalah salah satu mata-mata utama yang diutus oleh Musa. Dia utusan dari suku Yehuda.

Apa persamaan laporan dari 12 mata-mata?

Mata-mata yang kembali memberikan laporan yang sama, yaitu bahwa negeri itu kaya dan Makmur. Orang-orang Kanaan itu kuat. Kotanya bertembok. Orang Enak keturunan raksasa.

Apa perbedaan 2 mata-mata dengan 10 mata-mata dalam menyikapi kekuatan orang Kanaan?

1. Sepuluh orang mata-mata pesimis: takut, ciut nyalinya. Sementara dua orang optimis. Mereka adalah Kaleb dan Yosua.

2. Mereka yang optimis (Kaleb dan Yosua) berani, tidak takut dan yakin mereka akan mengalahkan negeri itu. Maka mereka mengajak untuk berperang dan maju tak gentar.

3. 10 mata-mata yang pesimis, melarang untuk maju, karena yakin mereka pasti akan kalah.

4. Agar mereka tidak usah maju, mereka memprovokasi umat dengan hoax atau informasi palsu yaitu negeri itu kanibal. Memakan manusia (Bil 13:32).

Selain itu, kata mereka, penduduknya raksasa. Saking besarnya, mereka kecil seperti belalang.

Bagaimana reaksi umat mendengar laporan 10 mata-mata?

Mereka lebih percaya kepada laporan sepuluh mata-mata yang menakuti-nakuti. Mereka menangis dan bersungut-sungut karena ketakutan.

Mereka mempersalahkan Tuhan dan menyesal telah keluar dari Mesir, dan hendak kembali ke Mesir (Bil 14:1-4).

Apa yang Kaleb dan Yosua lakukan menyikapi laporan 10 mata-mata?

1. Mereka mengoyakkan pakaiannya, menunjukkan tanda dukacita, kesedihan, atau kemarahan. Mereka berduka karena busuknya hati mereka.

2. Kaleb dan Yosua meyakinkan mereka bahwa negeri itu baik dan mereka pasti masuk kesana.

3. Mereka menasehati untuk jangan memberontak kepada Allah dan jangan takut. Namun mereka diancam dilempari dengan batu. Kemuliaan Tuhan mencegah mereka (Bil 14:6-10).

Jadi bangsa itu lebih percaya hoax dibanding kebenaran yang disampaikan Yosua dan Kaleb. Padahal mereka punya bukti bagaimana Tuhan berperang untuk mereka dan menang.

Bagaimana nasib 10 mata-mata yang memprovokasi dan orang Israel yang memberontak?

1. Kesepuluh mata-mata: Shammua, Shafat, Igal, Palti, Gaddiel, Gaddi, Ammiel, Sethur, Nahbi, dan Geuel, mereka dilupakan karena nama mereka tidak layak diingat.

2. Kesepuluh mata-mata dan Israel tidak diijinkan masuk tanah perjanjian. Mereka semu mati dipadang gurun (Bil 32:11-13). Karena mereka melaporkan, tanah Perjanjian sebagai sesuatu yang mustahil ditaklukkan.

Mereka tidak beriman. Orang yang tidak beriman tidak akan masuk ketanah Kanaan surgawi.

Bagaimana nasib Kaleb dan Yosua?

Mereka berdua masuk ketanah perjanjian, karena mereka mengikut TUHAN dengan sepenuh hatinya (Bil 32:12).

Laporan mereka positif. Membangun. Mereka beriman kepada Tuhan. Membela kebenaran walau nyawa taruhannya. ( Bil. 14:10 ).

Betapa indahnya kata keterangan yang digunakan untuk menggambarkan Kaleb. Ia mengikuti dengan setia, sepenuhnya, dan sepenuh hati.

Ia tidak pernah menurunkan standarnya, tetapi senantiasa sepenuh hati. Keberaniannya tak tergoyahkan.

Para raksasa tidak mengganggu Kaleb, begitu pula para pengecut yang siap melemparinya dengan batu.

Renungan: Apakah yang akan kita lakukan untuk mempertahankan kebenaran, sekali pun mayoritas menentangnya?

Teks: Yosua 14:6-14 , Bilangan 14:24 , Bilangan 32:12 , Ulangan 1:36 , dan Lukas 6:45.

Apa janji Tuhan kepada Kaleb?

Dia dan keturunannya akan masuk dan memiliki tanah perjanjian.

Bagaimana Tuhan menggenapi janjinya kepada Kaleb?

Setelah 40 tahun janji itu digenapi, kepada Kaleb, Yosua memberikan Hebron menjadi milik pusakanya, karena mengikut Tuhan sepenuh hati (Yosua 14:13).

Ketika kita membaca catatan tentang warisan pribadi Kaleb di tanah Kanaan, kita mendapati dia, pada usia delapan puluh tahun, memohon kepada Yosua,

“.. berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN.” Kaleb adalah orang yang hidup di ketinggian. Ia tidak puas dengan yang biasa-biasa saja.

Ia tidak pernah memikirkan pagar atau kota bertembok. Bagi Kaleb, ketinggian adalah tujuan utamanya, dan meskipun gunung yang ia inginkan dipenuhi orang Enak yang bermusuhan, ia menolak kekalahan dan menuntut warisannya.

Akhirnya, pahala yang setimpal datang kepada orang yang mulia ini karena “bagi orang yang beriman, pahala itu pasti.”

Mengapa Kaleb meminta daerah pegunungan?

Wilayah pegunungan itu adalah tempat orang-orang Enak, yang badanya raksasa. Mereka membuat 10 pengintai ketakutan dan menjadi alasan untuk tidak maju.

Dengan meminta daerah tersebut, Kaleb ingin menaklukkan mereka meskipun usianya tidak lagi mudah, 85 tahun. Namun kebugarannya sama dengan pria umur 40 tahun.

Dalam Yosua 15:13-14, dia mengusir tiga orang enak: Sesai, Ahiman dan Talmai, anak-anak Enak.

Usia tua tidak pernah menjadi masalah bagi Kaleb, selama hatinya sepenuhnya didedikasikan untuk Tuhan dan tujuan-Nya.

Bagaimana dengan Yosua?

Dia juga mendapat warisannya setelah semua bangsa itu mendapatkan warisannya. Dia orang yang terakhir yang meminta warisannya.

Ia meminta Timnat Serah, sebuah kota di wilayah pegunungan yang terjal dan tandus milik sukunya sendiri (Efraim), padahal ia bisa saja mengambil tanah di daerah Kanaan yang paling indah dan paling produktif. (Yos 19:50).

Pilihan ini menunjukkan kerendahan hatinya. Inilah yang menjadikan Yosua gambaran yang begitu indah tentang Yesus Kristus

Apa artinya Kaleb dan Yosua mengikut Tuhan sepenuh hati?

Alkitab mencatat sebanyak enam kali disebutkan Kaleb “tetap mengikuti TUHAN sepenuh hati” ( Bil 14:24 ; 32:12 ; Ul 1:36 ; Yos 14:8 , 9 , 14 ).

1. Mengikut Tuhan sepenuh hati artinya, tidak membagi hatinya, yaitu dengan tulus, tanpa berpura-pura; dengan riang, tanpa berdebat; terus-menerus, tanpa menurun.

2. Percaya dan komitmen sepenuh hati terhadap janji Tuhan. Kata Ibrani, secara harfiah berarti “Aku dipenuhi oleh TUHAN” ( Yos. 14:8 )..

Mungkin ungkapan panjangnya adalah “Hatiku dipenuhi oleh TUHAN,” atau “Aku memenuhi hatiku untuk berjalan mengikuti  TUHAN.” Hati Kaleb sepenuhnya didedikasikan kepada Tuhan.

Kata itu diulangi kembali di Yosua 14:9, 14: “..engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati..”

Hati seperti itulah yang membedakan Yosua dan Kaleb dengan sepuluh pengintai. Hati mereka bercabang. Setengah hati mengikut Tuhan, bahkan mungkin tidak punya hati ikut Tuhan.

Apakah kunci agar semua daerah Kanaan menjadi miliki semua suku Israrel?

Kuncinya pada seberapa mereka punya iman untuk mengklaim janji Tuhan. Pemenuhan janji tergantung kepada seberapa besar iman mereka, yang disertai dengan tindakan penurutan.

Dalam prakteknya mereka kurang iman bahkan kompromi. Tidak melakukan perintah Tuhan. misalnya, orang Yehuda tidak menghalau orang Yebus di Jerusalem. Mereka tinggal sama-sama.

Lalu bani Efraim tidak menghalau orang Kanaan, malah memperbudak mereka dan beberapa kasus kompromi lainnya.

Semua kompromi ini membuat mereka tidak bisa mengikut Tuhan dengan sepenuh hati, akibatnya banyak daerah Kanaan yang tidak bisa mereka miliki. Hasil akhirnya mereka merosok dalam iman.

Renungkan kompromi-kompromi apa saja yang dapat menghalangi kita untuk sepenuhnya mengikuti Tuhan?

Teks: Yosua 15:16-19 , Hakim-Hakim 1:13 , dan Hakim-Hakim 3:7-11

Apakah itu teladan?

Teladan adalah seseorang yang prestasi, perilaku, atau gaya hidupnya ditiru oleh orang lain yang juga bercita-cita untuk berada di level yang sama.

Ilustrasi tentang teladan

Pada tahun 1981, Gatorade memproduksi iklan berdurasi 60 detik yang mempopulerkan slogan “Be Like Mike”.

Iklan tersebut menampilkan berbagai anak dan orang dewasa bermain basket bersama Michael Jordan, bintang Hall of Fame Chicago Bulls.

Produser awalnya berharap untuk menggunakan musik “I Wanna Be Like You” dari film animasi Disney, The Jungle Book .

Namun, karena tidak dapat memperoleh hak atas lagu tersebut, ia malah menggubah lagu aslinya.

Iklan ini mengandalkan konsep “panutan”, sebuah istilah yang dicetuskan oleh sosiolog Robert Merton pada tahun 1900-an.

Ia berpendapat bahwa orang-orang membandingkan dan mencontoh individu dalam lingkup kehidupan mereka yang mengisi peran yang mereka cita-citakan.

Akibatnya, orang-orang tersebut berusaha meniru individu tersebut dengan meniru elemen-elemen tertentu dari penampilan dan perilaku mereka.

Seperti cerita diatas, bagaimana orang-orang muda meneladani Kaleb yang sudah tua?

Kaleb bertanya, apakah ada orang yang mau menggempur Kiryat-Sefef dan merebutnya? Kaleb menjanjikan anaknya kepada barang siapa yang bisa merebutnya.

Salah seorang yang mengikuti teladan Kaleb adalah Otniel. Dia meniru iman dan keberanian Kaleb untuk merebut Kiryat-Sefer.

Otniel adalah putra Kenas, saudara Kaleb. Otniel berarti “singa Allah,” dan Kenas berarti “berburu” atau “wadah kekuatan.”

Kaleb setia pada janjinya, sehingga ia memberikan putrinya, Akhsa, kepada Otniel untuk dinikahinya.

Patut dicatat bahwa Otniel, kemudian hari memimpin bangsa Israel melawan para penindas Mesopotamia sebagai hakim pertama ( Hak. 3:8-11 ).

Jelaslah bahwa keberanian Kaleb dan imannya yang teguh kepada TUHAN memengaruhi beberapa pria di generasi setelah Kaleb dan Yosua.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita meninggalkan jejak di hati orang-orang yang datang setelah kita, agar mereka juga dapat berjuang dalam perjuangan iman yang baik karena teladan kita?”

Ketika generasi yang lebih tua mengakhiri pelayanan mereka, muncul generasi baru yang siap menghadapi tantangan dan terus menggenapi rencana Allah bagi Israel.

Siapa lagi yang mengikuti teladan Kaleb?

Putrinya sendiri, Aksha. Dia sangat mirip dengan Kaleb ketika membuat permintaan kepada Yosua, dengan dibantu suaminya meminta mata air kepada Kaleb.

Permintaan Akhsa didasarkan pada hubungannya dengan ayahnya. Ia tahu ayahnya berhati besar dan murah hati.

Apa yang ditunjukkan dari permintaan Akhsa?

Menunjukkan iman dan tekad yang sama seperti yang ditunjukkan ayahnya. Melalui tekad dan keberaniannya, Akhsa melanjutkan jejak teladan Kaleb dalam pemenuhan janji untuk memiliki tanah itu.

Teladan iman Kaleb lebih berharga bagi keluarganya daripada properti yang ia klaim untuk mereka.

Generasi yang lebih tua harus menyediakan kebutuhan bagi generasi berikutnya, tidak hanya secara materi tetapi terutama secara rohani.

Memang, tanah itu adalah anugerah dari Yahweh kepada Israel, tetapi Israel harus merebutnya dengan menuntut janji-janji Tuhan dengan iman dan keberanian.

Tekad Akhsa menggambarkan kegigihan para perempuan dalam Injil yang tidak akan ditolak oleh orang banyak atau para murid dan tidak akan menyerah sampai mereka menerima berkat Yesus bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Bagaimana teladan Kaleb kepada Otniel?

Otniel menjadi hakim pertama dalam kitab Hakim-hakim. Waktu itu mereka diperbudak oleh raja Mesopotamia 8 tahun lamanya.

Bangsa itu berseru dan membangkitkan otniel, anak Kenas adik Kaleb.sebagai penyelamat (Hakim 3:9).

Roh TUHAN menghinggapi dia dan ia menghakimi orang Israel. Ia maju berperang, lalu TUHAN menyerahkan Kusyan-Risyataim, raja Aram, ke dalam tangannya, sehingga ia mengalahkan Kusyan-Risyataim. Lalu amanlah negeri itu empat puluh tahun lamanya. Kemudian matilah Otniel anak Kenas. (Hakim 3:10-11).

Disini kita menemukan bahwa 1) Otniel diangkat menjadi hakim dan pemimpin di Israel, 2) ia mengalahkan raja Mesopotamia, dan

3) Otniel dan bangsa Israel hidup damai setelah masa ini. Kepemimpinan Otniel berlangsung lama, mencakup sekitar tahun 1350–1310 SM.

Disini kita melihat bagaimana teladan Kaleb, telah menginspirasi generasi muda untuk beriman dan mengklaim janji Tuhan dan menjadi pemimpin umat-Nya.

Inilah kekuatan keteladanan mampu menciptakan gerenasi muda untuk beriman dan bertindak seperti pendahulunya.

Pertanyaan renungan:

Mewariskan obor iman kepada generasi mendatang sangat penting bagi pemenuhan misi yang telah Tuhan percayakan kepada kita.

Renungkanlah tantangan mewariskan iman kepada generasi mendatang, di satu sisi, dan tentang kesempatan bagi kaum muda untuk memikul lebih banyak tanggung jawab dalam pekerjaan Tuhan, di sisi lain.

Apa yang dapat kita lakukan untuk memfasilitasi dan melatih kaum muda agar mampu mengemban kepemimpinan yang saleh? Seberapa pentingkah teladan kita dalam proses ini?

Teks: Yosua 19:49-51

Apa arti sesungguhnya dari kerendahan hati?

Kerendahan hati bukan inferioritas atau rasa minder. Seorang pengkhotbah besar, Charles Spurgeon, mengatakan bahwa kerendahan hati adalah “to make a right estimate of oneself.”

Kerendahan hati adalah mengerti posisi diri kita dengan tepat di hadapan Tuhan.

Seorang yang rendah hati adalah seorang yang mengatakan bahwa semua kemampuannya berasal dari Tuhan dan bahwa ia mampu melakukan sesuatu karena Tuhan yang memampukannya. Tanpa Tuhan, ia sama sekali bukan apa-apa.

Buku klasik karya Andrew Murray yang berjudul “Humility” memberi definisi rendah hati sebagai berikut.

“Kerendahan hati adalah rasa ketidakberartian yang sempurna, yang muncul ketika kita menyadari betapa sesungguhnya Allah adalah segalanya, dan di dalamnya kita memberi ruang bagi Allah untuk menjadi segalanya.” Dengan nada yang sama.

Martin Luther dengan lugas berkata, “Allah menciptakan dunia dari ketiadaan, dan selama kita tetap tidak berarti, Dia dapat menciptakan sesuatu dari kita.”

Kalau dielaborasi lebih jauh, yang dikatakan Murray dan Luther kira-kira begini. Manusia itu pada dasarnya “nothing“, lalu dalam kondisi “nothing” tersebut, manusia diubah dari “nothing” menjadi “something” oleh Tuhan yang adalah “everything”. Saat manusia mulai berani mencoba sendiri untuk menjadi “something”, Tuhan tidak lagi dapat bekerja melaluinya. Karena Tuhan tidak mungkin mengubahnya dari “something” menjadi “everything“.

Kerendahan hati memang unik, kalau kita mengklaim bahwa kita memilikinya, kita justru tidak memilikinya.

Saat kita merasa bahwa kita orang yang rendah hati, saat itulah kita kehilangan kerendahan hati kita.

Inilah paradoks kerendahan hati. Kerendahan hati adalah satu-satunya karakteristik yang kita miliki tanpa kita merasa memilikinya.

Kerendahan hati Kaleb dan Yosua

Sekarang kita kembali kepada pahlawan iman Kaleb dan Yosua. Salah satu karakter yang menonjol dari mereka adalah kerendahan hati.

Kerendahan hati Kaleb ditunjukkan ketika dia meminta wilayah pegunungan. Tempat yang tidak strategis, tidak subur, bahkan musuh masih bercokol disana.

Dia bisa saja meminta tanah yang subur, ditengah-tengah, luas dan datar. Namun dia lebih mengutakaman orang lain dibanding dirinya. Dia memilih area yang orang lain tidak kehendaki.

Kerendahan hati Yosua ditunjukkan dengan dia menerima warisannya terakhir. Dia mendahulukan kepentingan orang lain, baru dirinya.

Dia bisa saja mendapat bagian lebih dahulu. Sebagai pemimpin dia bisa memilih tanah yang lebih luas, strategis, subur dan datar. Namun dia tidak melakukannya.

Pemimpin yang sejati dia makan terakhir, setelah semua orang telah kenyang.

Apakah warisan yang diterima Yosua?

“Sesuai dengan titah TUHAN, mereka memberikan kepadanya kota yang dimintanya, yakni Timnat-Serah di pegunungan Efraim. Kota itu dibangunnya dan menetaplah ia di sana.” (Yosua 19:50).

Timnat Serah , sebuah kota di wilayah pegunungan yang terjal dan tandus milik sukunya sendiri (Efraim), padahal ia bisa saja mengambil tanah di daerah Kanaan yang paling indah dan paling produktif.

Timnat-Serah, sebuah nama yang terdiri dari dua kata. Kata pertama, Timnat, berasal dari kata kerja (manah) yang berarti menghitung atau menetapkan, dan artinya bagian atau wilayah.

Kata kedua dapat berasal dari kata kerja Ibrani (seracḥ) , dan artinya kelebihan atau sisa (bandingkan dengan Kel. 26:12 ).

Nama kota Yosua dapat diterjemahkan sebagai bagian yang tersisa atau wilayah yang tersisa. Artinya, warisan yang diterima Yosua adalah sisa-sisa.

Apa yang ingin dibuktikan dari pilihan Yosua ini?

1. Karakternya yang mulia

Membuktikan karakter mulia pemimpin kedua Israel. Pertama-tama, ia menunggu sampai seluruh bangsa menerima bagian mereka.

Kemudian, Yosua tidak memilih salah satu wilayah yang padat penduduknya atau kota-kota yang paling mengesankan sebagai warisannya..

Melainkan sebuah kota yang sederhana, atau mungkin reruntuhannya, untuk membangunnya kembali dengan kerja keras (bandingkan dengan Yosua 19:50 ).

2. Prioritasnya akan hadirat Tuhan

Yosua memilih Timnat-serah karena dekat dengan Silo, sekitar tempat kudus. Menunjukka prioritas Yosua ingin dekat dengan hadirat Tuhan.

Kedua hal diatas menunjukkan bahwa Yosua puas menjalani kehidupan sederhana dengan fokus pada apa yang paling penting..

Dengan demikian mewujudkan doa yang diungkapkan kemudian oleh Daud:

“Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.” (Mzm. 27:4).

Pilihan Yosua yang rendah hati mengingatkan kita pada perkataan Yesus

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Markus 9:35

Yosua menjadi inti dari perkataan Yesus di perjanjian baru,

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Markus 10:45.

Yosua datang melayani dan memberikan hidupnya kepada bangsa itu.

Pelajaran apa yang bisa Anda petik dari sikap Joshua? Bagaimana Anda bisa menerapkannya sekarang?

Teks: Ibrani 12:1-2 ; 2 Korintus 3:18 .

Kontemplasi menurut KBBI adalah renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh.

Kontemplasi berasal dari kata Yunani theoria , yang berarti melihat dan ‘mengetahui melampaui kata-kata..’

Kontemplasi melibatkan penentuan ruang untuk observasi, atau menyimpan gagasan di benak.

Definisi-definisi ini merujuk pada tindakan observasi dan investigasi batin yang reseptif dan disengaja, baik terhadap objek kontemplasi tertentu maupun hubungan yang lebih mendalam dengan landasan keberadaan kita.

Kontemplasi adalah tentang realisasi diri, dengan pepatah Yunani kuno ‘kenalilah dirimu’ yang mencerminkan perintah untuk mencari pengetahuan tentang realitas hakiki dan maknanya yang tak teruraikan.

Sesuai dengan arti kontemplasi, maka dalam pelajara ini kita akan merenungkan, melihat, mengetahui kehidupan pahlawan iman: Yosua dan Kaleb.

Apa gunanya merenungkan kehidupan mereka?

Agar melalui cara hidup mereka kita dapat mengalami pertumbuhan iman, bahkan menjadi pahlawan iman seperti mereka.

Siapakah teladan utama dalam hidup kita?

Jawabanya adalah Yesus. Dari sekian banyaknya saksi iman, Yesus adalah yang tertinggi. Meneladani hidup Yesus dengan menghidupkan ajaran-Nya akan membuat kita menjadi saksi iman.

Bagaimana kehidupan Yesus dapat mengubah hidup kita?

Ibrani 12: 2 mengatakan, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan..”

Kata ‘tertuju..” dari bahasa Yunani adalah aphorao dari apo = menjauh dari sesuatu yang dekat, menunjukkan pemisahan, kalau ditambah kata horao= melihat, mengamati, memandang.

Berarti mengalihkan pandangan dari segala hal dan menatap dengan mantap dan saksama ke arah objek yang jauh.

Jadi kata aphorao artinya mengalihkan pandangan dari hal-hal lain dan memusatkannya pada sesuatu. Kata itu juga berarti “mengalihkan pikiran seseorang ke suatu hal tertentu.”

Agar mudah memahami arti aphorao, perhatikan ilustrasi berikut ini:

Pada tahun 1954, sebuah peristiwa yang tak terlupakan terjadi di Empire Games di Vancouver, di mana mata dunia tertuju pada Roger Bannister dan John Landy, dua pelari mil tercepat di dunia saat itu.

Peristiwa itu disebut “Miracle Mile” karena dunia sedang menunggu untuk menyaksikan lomba lari mil pertama dalam waktu kurang dari empat menit.

Dan itu sesuai harapan karena Landy dengan cepat memimpin di putaran pertama, tetapi kemudian ia melakukan kesalahan yang tak dapat diperbaikinya.

Ia menyempatkan diri untuk melihat ke bahu kirinya untuk melihat di mana Bannister berada, dan saat itu Bannister melesat melewatinya dan melesat ke depan, mengalahkan Landy dengan selisih lima yard dan berlari satu mil dalam waktu kurang dari empat menit.

Landy kemudian berkata kepada seorang reporter majalah Time, “Jika saya tidak melihat ke belakang, saya pasti menang!”

“Kehilangan konsentrasi yang fatal” yang dialami Landy (Kent Hughes) merupakan gambaran dari apa yang dikatakan penulis Kitab Ibrani dalam ayat ini.

Fokuskan pandangan Anda kepada Yesus , singkirkan semua gangguan, berlarilah untuk memenangkan perlombaan hidup Anda!

Intinya fokus kepada Yesus, jangan biarkan hal-hal yang tidak penting mengganggu konsentrasi kita memandang kepada Yesus.

Ilustrasi lain tentang arti aphorao adalah dengan membayangkan seekor kuda menarik kereta. Apa yang sering dikenakan kuda pada mata mereka?

Penutup mata untuk mencegah mereka melihat ke samping dan teralihkan dari tugas utama mereka, yaitu berlari kecil lurus ke depan.

Sebuah gambaran yang tepat tentang apa yang Allah inginkan dari anak-anak-Nya.

Memandang Yesus berarti Anda “tidak memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan apa yang telah Tuhan lakukan di dalam Yesus Kristus.”

James Montgomery Boice, menulis bahwa “Satu-satunya hal yang akan membuat kita terus bergerak di jalan penyangkalan diri dan pemuridan ini adalah dengan memusatkan pandangan kita kepada Yesus dan apa yang telah Dia lakukan bagi kita, sehingga kita mengasihi-Nya, dan dengan demikian juga ingin bersama-Nya, baik sekarang maupun selamanya. Yesus adalah satu-satunya teladan kita untuk penyangkalan diri. Dia adalah gambaran sejati dari memikul salib. Dan karena kasih kepada-Nya dan keinginan untuk menjadi seperti Dia, kita memikul salib kita dan dengan rela mengikuti-Nya ( Mrk. 8:34 , 35 , 36 )

Apa kata Ellen G White tentang pentingnya memandang kepada Yesus?

“Dengan memandang Yesus, kita memperoleh pandangan yang lebih terang dan lebih jelas tentang Allah, dan dengan memandangnya, kita diubahkan. Kebaikan, kasih kepada sesama, menjadi naluri alami kita. Kita mengembangkan karakter yang merupakan padanan dari karakter ilahi. Bertumbuh ke dalam gambar-Nya, kita memperluas kapasitas kita untuk mengenal Allah. Semakin kita bersekutu dengan dunia surgawi, dan kita memiliki kuasa yang terus meningkat untuk menerima kekayaan pengetahuan dan hikmat kekekalan.”— Ellen G. White, Christ’s Object Lessons , hlm. 355 .

Apa yang dikatakan Roma 12:1-2 tentang perubahan karakter?

Dalam Suratnya kepada Jemaat di Roma, rasul Paulus berbicara tentang dua kekuatan yang saling bertentangan yang mencoba membentuk hidup kita:

1. Dunia sekitar kita

Pengaruhnya yang negatif mencoba memaksa kita setiap hari untuk membentuk diri kita sendiri, membentuk suatu bentuk dalam diri kita yang bekerja dari luar ke dalam.

2. Roh Kudus

Untuk melawan pengarih dari dunia, Roh Kudus mampu mengubah kita dari dalam ke luar, layaknya seekor ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah.

Namun, agar proses itu terjadi, kita perlu mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya untuk melanjutkan karya baik yang telah Dia mulai di dalam kita ( Flp. 1:6 ).

Pada akhirnya, kita harus membuat pilihan sadar, setiap saat, untuk berjalan di dalam Roh.

Jadi dengan merenungkan Yesus tiap hari, kita akan diubahkan menjadi serupa dengan tabiat Kristus.

Jika para pahlawan Perjanjian Lama (Yosua dan kaleb) adalah terang yang memberi kesaksian tentang iman kepada Allah, maka Yesus di kayu salib adalah matahari yang menyala-nyala yang membawa iman ke ekspresinya yang paling cemerlang.

Jadi mari kita berkontemplasi atau merenungkan kehidupan Yesus setiap hari agar kita diubahkan serupa dengan tabiatnya, yang menjadikan Yosua dan Kaleb menjadi raksasa iman.

Ayat Hafalan

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka..” Ibrani 13:7

Pendahuluan

Pelajaran minggu ini merefleksikan warisan rohani Kaleb dan Yosua.

1. Kaleb adalah teladan yang setia (Minggu, Senin, selasa, Jumat)

A. Caleb berarti “anjing”.

  • Meskipun selalu digunakan dalam konteks negatif dalam Alkitab, nama Kaleb (“keleb”) tampaknya menekankan kesetiaan kepada tuannya, Tuhan (lihat Pel Minggu, par 1).
  • Berbeda dengan para mata-mata yang tidak setia, kita mengetahui nama Kaleb (dan Yosua) karena pengabdiannya yang berani kepada Tuhan—bahkan dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri—membuatnya layak dikenang.

B. Kaleb memilih Hebron sebagai warisannya ( Yos. 14:6-14 ).

  • Pilihan tanah Kaleb berkaitan langsung dengan janji Tuhan 40 tahun sebelumnya (ayat 9-12).
  • Ia tidak meminta tanah yang sudah ditaklukkan, melainkan tempat yang dianggap mustahil ditaklukkan oleh para mata-mata.

Dengan pertolongan Allah, ia akan merebut kembali bentengnya dari tangan para raksasa yang kekuatannya telah menggoyahkan iman Israel.

Bukan keinginan untuk mendapatkan kehormatan atau kebesaran yang mendorong permintaan Kaleb.

Prajurit tua yang pemberani ini ingin memberikan teladan kepada bangsanya yang akan memuliakan Allah, dan mendorong suku-suku untuk sepenuhnya menaklukkan tanah yang dianggap tak tertaklukkan oleh nenek moyang mereka. PP 513 ( Jum, par 1)

C. Putri Caleb menunjukkan keberanian setia ayahnya.

  • Kaleb menjanjikan putrinya, Akhsa, untuk menjadi istri orang yang menaklukkan Debir—menunjukkan prioritas kepercayaannya kepada Tuhan untuk menyelamatkan tanah itu seperti yang dijanjikan.
  • Jelas, Akhsa belajar dari contoh ayahnya.

2. Yosua adalah teladan yang setia (Rabu)

A. Pilihan tanah Yosua menunjukkan kerendahan hati dan iman sejati.

  • Yosua memilih untuk mengambil warisannya terakhir, mencerminkan kerendahan hati Musa ( Yos. 19:49, 50; lihat juga Bil. 12:3 ).
  • “Nama kota Yosua [Timnath-serah] dapat diterjemahkan sebagai bagian yang tersisa atau wilayah yang masih tersisa.” Rabu, par 2.

B. Bagi Yosua, salah satu pertimbangan utama dalam penetapan wilayahnya adalah kedekatan dengan Silo, tempat kediaman Tuhan (lihat Rab, par 4).

3. Satu teladan bernilai banyak ajaran (Sabtu, selasa, kamis)

A. Seperti Yosua belajar dari Musa dan seperti Akhsa belajar dari ayahnya, Kaleb. Kita juga harus belajar dari teladan orang-orang saleh.

  • Para Rasul dalam Perjanjian Baru berulang kali menekankan pentingnya teladan saleh dalam iman Kristen.
  • Rasul Petrus melatih para penatua yang ia tetapkan agar tidak berlaku seperti “tuan-tuan atas mereka yang dipercayakan kepadamu,” tetapi menjadi “teladan bagi kawanan domba itu” ( 1 Pet. 5:3 ).
  • Rasul Paulus menulis, “Tirulah aku, sama seperti aku juga meniru Kristus” ( 1 Kor. 11:1 ) dan memohon kepada saudara-saudara di Filipi untuk “ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup demikian, sama seperti kami yang menjadi teladanmu” ( Flp. 3:17 ).

Banyak orang akan bersedia bekerja jika mereka diajari cara memulainya. Mereka perlu diinstruksikan dan didorong.

Setiap gereja seharusnya menjadi sekolah pelatihan bagi para pekerja Kristen. Para anggotanya harus diajari cara membaca Alkitab, cara memimpin dan mengajar kelas Sekolah Sabat, cara terbaik untuk membantu orang miskin dan merawat orang sakit, cara bekerja bagi mereka yang belum bertobat.

Seharusnya ada sekolah kesehatan, sekolah memasak, dan kelas-kelas dalam berbagai bidang pekerjaan pelayanan Kristen.

Seharusnya tidak hanya ada pengajaran, tetapi juga pekerjaan nyata di bawah instruktur yang berpengalaman.

Biarkan para guru memimpin dalam bekerja di antara jemaat, dan orang lain, yang bersatu dengan mereka, akan belajar dari teladan mereka. Satu teladan lebih berharga daripada banyak ajaran. ChS 59

Kesimpulan

Sejak lahir, manusia dibentuk oleh kekuatan keteladanan. Kita belajar melakukan hal-hal paling mendasar dalam hidup—seperti berjalan, berbicara, dan mengekspresikan emosi—dengan meniru orang-orang terdekat kita.

Sebagai orang dewasa, kita tetap membutuhkan panutan, dan meskipun mereka tidak sempurna, kita dapat mengagumi dan meneladani sifat-sifat spiritual yang menjadikan mereka raksasa iman. Pel Sab, par 2

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka..” Ibrani 13:7

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *