Membedah Anti-Persepuluhan melalui Lensa Teologi Biblika dan Pena Inspirasi
Oleh Pdt. J.F. Manullang
Di tengah hiruk pikuk diskursus teologis modern, praktik persepuluhan kembali menjadi sorotan. Gerakan anti-persepuluhan, yang sering kali didorong oleh klaim bahwa praktik ini adalah relik usang dari hukum seremonial Perjanjian Lama yang telah dihapuskan, semakin mendapatkan tempat di kalangan umat Kristen, termasuk di lingkungan Advent.
Gerakan ini berargumen bahwa di bawah anugerah Perjanjian Baru, pemberian harus bersifat sukarela, ceria, dan tidak terikat pada persentase persepuluhan yang kaku.
Namun, sebuah analisis induktif yang mendalam terhadap keseluruhan kanon Alkitab, yang didukung oleh wawasan Pena Inspirasi dan analisis teologis yang cermat, menunjukkan bahwa argumen-argumen ini, meskipun terdengar menarik, pada dasarnya keliru dan gagal memahami prinsip ilahi yang abadi di balik praktik tersebut.
Esai ini akan membangun argumen teologis, biblika, etis, dan praktis yang tak terbantahkan bahwa prinsip persepuluhan bukanlah ketentuan Ilahi yang telah mati, melainkan sebuah prinsip kemitraan, penyembahan, dan kepercayaan yang kekal, dengan implikasi yang sangat mendalam bagi umat Tuhan di akhir zaman.
Akar Persepuluhan: Sebuah Prinsip Abadi
Kesalahan fundamental pertama dari gerakan anti-persepuluhan adalah mengasumsikan bahwa persepuluhan berasal secara eksklusif dari sistem aturan Lewi Sinai.
Kenyataannya, Alkitab memperkenalkan persepuluhan jauh sebelum hukum Musa diberikan di Sinai. Kisah Abraham dalam Kejadian 14 adalah buktinya.
Setelah kemenangan militernya, Abraham bertemu dengan Melkisedek, “imam Allah Yang Mahatinggi” (Kej. 14:18), dan “memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya” (Kej. 14:20).
Tindakan ini, seperti yang dicatat oleh para teolog seperti Kenneth A. Strand, bukan didasarkan pada perintah hukum, melainkan sebagai respons spontan penyembahan dan pengakuan atas kedaulatan dan berkat Tuhan.¹
Satu generasi kemudian, Yakub, dalam pelariannya, bernazar di Betel, “Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku, akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu” (Kej. 28:22).
Sekali lagi, ini adalah respons iman pribadi, sebuah janji yang dibuat sebagai pengakuan atas pemeliharaan dan kepemimpinan Tuhan.
Seperti yang ditekankan oleh Walter C. Kaiser, Jr., praktik-praktik patriarkal ini membentuk pola dasar dari rencana penebusan Allah yang kemudian dikodifikasikan, bukan diciptakan, dalam hukum Musa.²
Ini menunjukkan bahwa persepuluhan pada intinya adalah sebuah prinsip penyembahan yang melampaui dispensasi hukum tertentu.
Studi leksikal memperkuat gagasan ini. Kata Ibrani untuk “sepersepuluh”, ma’aser (מַעֲשֵׂר), secara harfiah berarti “bagian kesepuluh.”³
Kata ini berasal dari akar kata ‘asar (עָשַׂר) yang berarti “sepuluh.” +Theological Wordbook of the Old Testament (TWOT)_ mencatat bahwa konsep ini secara konsisten merujuk pada bagian yang disisihkan untuk tujuan kudus, sebagai pengakuan bahwa keseluruhan adalah milik Tuhan.⁴
Ini bukan pajak atau iuran, melainkan pengembalian simbolis dari apa yang sudah menjadi milik Sang Pemberi.
Ketika hukum Musa mengkodifikasikan persepuluhan (Imamat 27:30-32; Bilangan 18:21-26), itu tidak menciptakan prinsip baru, tetapi mengaturnya untuk mendukung pelayanan imamat Lewi dalam konteks teokrasi Israel.
Malachi 3:8-10, ayat yang sering diperdebatkan, bukanlah pengenalan persepuluhan, melainkan panggilan untuk kembali pada praktik yang telah diabaikan.
Ketika Tuhan bertanya, “Bolehkah manusia menipu Allah?” (ha-yiqba’ ‘adam ‘elohim), kata qaba’ (קָבַע) memiliki konotasi perampokan atau penipuan yang kuat.⁵
Dengan menahan ma’aser (persepuluhan) dan terumah (persembahan), umat Tuhan pada dasarnya merampok Tuhan dari bagian-Nya yang kudus dan, akibatnya, merampok diri mereka sendiri dari berkat yang dijanjikan.
“Rumah perbendaharaan” (bet ha-‘otsar) adalah sistem terpusat untuk mendukung pelayanan kudus dan memastikan kelangsungan misi Tuhan.⁶ Prinsipnya jelas: Tuhan menetapkan sistem untuk mendukung pekerjaan-Nya melalui partisipasi umat-Nya.
Persepuluhan dalam Afirmasi dan Transformasi Prinsip
Argumen utama anti-persepuluhan adalah “argumen dari kebisuan” (argument from silence), yang menyatakan bahwa karena Yesus dan para rasul tidak secara eksplisit memerintahkan persepuluhan kepada gereja Perjanjian Baru, maka praktik itu tidak lagi berlaku. Argumen ini rapuh dan mengabaikan bukti-bukti penting.
Pertama, afirmasi eksplisit Yesus dalam Matius 23:23 (paralel di Lukas 11:42) adalah batu sandungan bagi argumen ini.
Yesus menegur orang Farisi karena mereka dengan teliti memberikan persepuluhan (apodekatoo) dari rempah-rempah terkecil, tetapi mengabaikan “yang terpenting dalam hukum Taurat, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan” (ten krisin kai ton eleon kai ten pistin).
Kemudian Dia memberikan pukulan telak: “Yang satu ini harus dilakukan (tauta de edei poiesai) dan yang lain jangan diabaikan.”
Kata Yunani dei adalah kata yang kuat yang menunjukkan keharusan atau kewajiban moral.⁷ Yesus tidak menghapuskan persepuluhan; Dia menempatkannya dalam perspektif yang benar.
Persepuluhan tanpa keadilan dan kasih adalah legalisme kosong, tetapi keadilan dan kasih tidak meniadakan kewajiban untuk mengembalikan milik Tuhan.
Sebagaimana dijelaskan oleh D.A. Carson, Yesus mengoreksi penyalahgunaan, bukan menghapuskan praktik itu sendiri.⁸
Kedua, penulis kitab Ibrani menggunakan persepuluhan Abraham kepada Melkisedek (Ibrani 7) sebagai argumen utama untuk menunjukkan keunggulan imamat Kristus atas imamat Lewi.
Fakta bahwa persepuluhan pra-lewitikal ini digunakan sebagai tipologi Kristus justru mengangkat dan mengabadikan prinsip tersebut, mengikatnya langsung pada pelayanan Imamat Surgawi Kristus.
Seperti yang diuraikan oleh George W. Reid, argumen di Ibrani 7 akan kehilangan kekuatannya jika prinsip persepuluhan itu sendiri dianggap usang.⁹
Ketiga, Rasul Paulus meletakkan dasar teologis untuk kelanjutan prinsip dukungan finansial bagi pelayanan Injil. Dalam 1 Korintus 9:13-14, ia membuat paralel yang tak terbantahkan:
“Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bagian mereka dari mezbah itu?
Demikian pula Tuhan telah menetapkan (ho kurios dietaxen), bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”
Paulus secara langsung menghubungkan dukungan bagi para imam Lewi (yang didanai oleh persepuluhan) dengan dukungan bagi para pelayan Injil.
Meskipun ia tidak menggunakan kata “persepuluhan,” ia mentransfer prinsip di baliknya secara langsung ke dalam konteks Perjanjian Baru.
Tuhan “menetapkan” (diatasso, sebuah istilah otoritatif untuk perintah) sebuah sistem dukungan. Persepuluhan adalah satu-satunya model sistematis yang diberikan Tuhan dalam Alkitab.
Menolaknya berarti mengabaikan prinsip yang ditetapkan Tuhan demi sistem yang tidak pasti dan bergantung pada suasana hati.
Ellen G. White dengan tegas menyimpulkan transisi ini: “Tuhan tidak mengubah rencana-Nya; Dia menghendaki agar umat-Nya saat ini menjalankan instruksi-Nya dengan kesetiaan yang sama seperti yang Dia harapkan dari Israel kuno.”¹⁰
Bagi E.G. White, sistem persepuluhan adalah “sederhana, adil, dan indah,” dan tidak berakhir dengan sistem Lewi tetapi “sepenuhnya berlaku untuk dispensasi Kristen.”¹¹
Sintesis Teologis, Etis, dan Psikologis
Memandang persepuluhan hanya sebagai kewajiban finansial adalah reduksionisme yang berbahaya. Praktik ini memiliki dimensi teologis, etis, dan psikologis yang mendalam.
*Secara Teologis, persepuluhan adalah pengakuan kedaulatan Tuhan dan praktik *stewardship (penatalayanan). Alkitab dengan jelas menyatakan, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya” (Mazmur 24:1).
Dengan mengembalikan sepersepuluh, kita tidak memberi sesuatu dari milik kita, melainkan mengembalikan sebagian dari apa yang seluruhnya adalah milik-Nya.
Ini adalah tindakan penyembahan yang mengingatkan kita bahwa kita adalah oikonomoi (penatalayan), bukan pemilik. Seperti yang ditekankan oleh teolog Advent, Ángel Manuel Rodríguez, persepuluhan adalah “pengakuan atas hubungan perjanjian kita dengan Tuhan sebagai Pencipta dan Penebus kita.”¹²
Secara Etis, persepuluhan adalah praktik keadilan distributif. Dalam sistem Advent global, “rumah perbendaharaan” memastikan bahwa Injil dapat diberitakan tidak hanya di wilayah yang kaya, tetapi juga di daerah-daerah termiskin di dunia. Ini adalah sistem yang menentang individualisme dan nasionalisme ekonomi, menciptakan persekutuan global di mana yang kuat membantu menopang yang lemah demi misi bersama.
Menolak sistem ini, seperti yang diungkapkan oleh Norman Gulley, berarti memilih model kongregasionalis yang pada akhirnya akan menyebabkan ketidaksetaraan misi yang parah dan melumpuhkan jangkauan global gereja.¹³
Ini adalah etika Kerajaan yang dipraktikkan, yang melampaui kepentingan lokal untuk merangkul kebutuhan dunia.
Secara Psikologis dan Spiritual, persepuluhan adalah benteng melawan materialisme, “akar segala kejahatan” (1 Tim. 6:10).
Yesus berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat. 6:24). Materialisme adalah penyembahan berhala modern yang paling halus dan kuat.
Dengan secara teratur dan sistematis menyisihkan bagian pertama untuk Tuhan, seorang percaya secara aktif melatih hatinya untuk lebih mempercayai Tuhan ketimbang uang.
Ini adalah disiplin spiritual yang membentuk karakter, mematahkan cengkeraman keserakahan, dan menumbuhkan kemurahan hati.
Seperti yang ditulis dalam pena inspirasi, “Tuhan menguji kita… untuk melihat apakah kita akan setia dalam mengembalikan kepada-Nya apa yang menjadi milik-Nya.”¹⁴ Ini adalah tes loyalitas yang membentuk hati kita untuk Kerajaan Surga.
Implikasi bagi Umat Tuhan di Akhir Zaman
Bagi umat Tuhan yang hidup di ambang kedatangan Kristus kedua kali, penolakan terhadap prinsip persepuluhan memiliki implikasi yang sangat serius.
Pertama, ini adalah indikator krisis spiritual. Gerakan anti-persepuluhan, sering kali dengan dalih “kebebasan dalam anugerah,” sebenarnya dapat menjadi gejala dari hati yang tidak mau tunduk pada otoritas Firman Tuhan dan tidak mau mempercayai-Nya secara finansial.
Dalam buku Last-Day Events, Ellen White memperingatkan bahwa pada akhir zaman, akan ada kecenderungan untuk menahan sarana, yang akan menghambat pekerjaan Tuhan.¹⁵
Penolakan terhadap sistem yang telah ditetapkan Tuhan untuk mendanai misi-Nya adalah langkah berbahaya menuju kemandirian spiritual yang pada akhirnya menjauhkan diri dari Tuhan.
Kedua, ini adalah sabotase terhadap misi global. Misi umat yang sisa di akhir zaman adalah memberitakan Pekabaran Tiga Malaikat “kepada setiap bangsa, suku, bahasa, dan kaum” (Why. 14:6).
Misi global yang monumental ini tidak dapat didanai oleh pemberian yang sporadis dan tidak menentu.
Sistem persepuluhan menyediakan aliran dana yang stabil dan dapat diprediksi yang memungkinkan perencanaan strategis jangka panjang untuk evangelisasi, pendidikan, pekerjaan medis, dan publikasi di seluruh dunia.
Melemahkan sistem ini berarti secara langsung melumpuhkan kemampuan gereja untuk memenuhi panggilan kenabiannya di saat yang paling krusial dalam sejarah.
Seperti yang dinyatakan oleh P. Gerard Damsteegt, kesatuan doktrin dan misi gereja Advent sangat terkait dengan kesatuan struktur organisasinya, yang didukung oleh sistem persepuluhan.¹⁶
Ketiga, ini adalah kegagalan dalam pembentukan karakter. Ujian terakhir bukanlah tentang doktrin semata, tetapi tentang karakter—apakah kita telah mengembangkan karakter yang tidak mementingkan diri sendiri seperti Kristus. Persepuluhan adalah salah satu alat utama yang Tuhan gunakan untuk menumbuhkan karakter ini.
Ini adalah latihan praktis dalam penyangkalan diri dan kepercayaan pada pemeliharaan ilahi. Dengan setia dalam hal-hal kecil (keuangan), kita dipersiapkan untuk setia dalam hal-hal besar yang akan datang selama krisis terakhir.
Mengabaikan latihan ini berarti kehilangan kesempatan berharga untuk pertumbuhan spiritual yang mempersiapkan kita untuk bertemu dengan Yesus.
Kesimpulan
Gerakan anti-persepuluhan, terlepas dari retorika kebebasan dan anugerahnya, pada akhirnya didasarkan pada pembacaan Alkitab yang dangkal dan pemahaman yang keliru tentang sifat Allah dan rencana-Nya.
Prinsip persepuluhan jauh lebih tua dari hukum Musa, ditegaskan oleh Kristus, diadaptasi oleh para rasul untuk mendukung pelayanan Injil, dan merupakan praktik penyembahan, penatalayanan, dan kemitraan yang mendalam.
Ini bukan tentang membeli berkat atau legalisme, melainkan tentang respons penuh kasih dan kepercayaan kepada Tuhan yang memiliki segalanya.
Pada akhirnya, mengembalikan milik Tuhan bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah kehormatan yang mengubah hati. Ini adalah undangan untuk berpartisipasi secara nyata dalam pekerjaan paling agung di alam semesta—penebusan umat manusia.
Dengan menempatkan kepercayaan kita pada sistem-Nya, kita tidak hanya mendanai misi, tetapi juga membentuk karakter kita untuk kekekalan.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti bertanya apa yang bisa kita berikan, dan mulai mengalami sukacita dari apa yang Tuhan lakukan melalui kita ketika kita dengan setia mengakui apa yang dari semula adalah milik-Nya.
Catatan Akhir:
¹ Kenneth A. Strand, “The Tithing System: Its History and Significance for Seventh-day Adventists,” dalam The Sabbath in Scripture and History, ed. Kenneth A. Strand (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association, 1982), 315.
² Walter C. Kaiser, Jr., The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2008), 78.
³ Francis Brown, S. R. Driver, and Charles A. Briggs, A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament (Oxford: Clarendon Press, 1906), 834.
⁴ R. Laird Harris, Gleason L. Archer Jr., and Bruce K. Waltke, eds., Theological Wordbook of the Old Testament (Chicago: Moody Press, 1980), 2:714.
⁵ Ludwig Koehler and Walter Baumgartner, The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament (Leiden: Brill, 2001), 1076.
⁶ Ángel Manuel Rodríguez, Stewardship Roots: A Biblical and Theological Study of Tithes and Offerings (Silver Spring, MD: Stewardship Ministries Department, General Conference of Seventh-day Adventists, 1994), 45.
⁷ Walter Bauer, Frederick W. Danker, William F. Arndt, and F. Wilbur Gingrich, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2000), 214.
⁸ D.A. Carson, “Matthew,” dalam The Expositor’s Bible Commentary, ed. Frank E. Gaebelein, vol. 8 (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1984), 481.
⁹ George W. Reid, “Tithing in the New Testament,” dalam One in Christ: A Biblical and Practical Study of Church Structure (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association, 2012), 121.
¹⁰ Ellen G. White, The Acts of the Apostles (Mountain View, CA: Pacific Press Publishing Association, 1911), 337.
¹¹ Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 3 (Mountain View, CA: Pacific Press Publishing Association, 1872), 392.
¹² Ángel Manuel Rodríguez, “Tithing in the Writings of Ellen G. White,” Biblical Research Institute, diakses 24 Oktober 2023, https://www.adventistbiblicalresearch.org/materials/stewardship/tithing-writings-ellen-g-white.
¹³ Norman Gulley, Systematic Theology: The Church and the Last Things (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2016), 4:155-156.
¹⁴ Ellen G. White, Counsels on Stewardship (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association, 1940), 93.
¹⁵ Ellen G. White, Last-Day Events (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association, 1992), 77.
¹⁶ P. Gerard Damsteegt, Foundations of the Seventh-day Adventist Message and Mission (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1977), 267





