Oleh Pdt. J.F. Manullang
Layar kalender berputar setiap tahun, membawa kita pada sebuah persimpangan familier: Desember. Udara dipenuhi aroma pinus dan kayu manis, kilau lampu berkelip di tengah kegelapan, dan denting lonceng memanggil dunia untuk berhenti sejenak.
Di tengah riuh rendah perayaan yang kita kenal sebagai Natal, bersemayam sebuah paradoks kuno—sebuah perayaan universal yang fondasi historisnya, yakni tanggal kelahiran Sang Juru Selamat, justru diselimuti misteri. Debat tentang “kapan” seringkali membayangi keagungan “siapa” dan “mengapa” natal itu.
Esai ini akan menavigasi labirin perdebatan tanggal tersebut, bukan untuk memberikan jawaban final yang mustahil, melainkan untuk mengalihkannya pada pertanyaan yang lebih esensial:
Bagaimana kita, sebagai pribadi, keluarga, dan jemaat di akhir zaman, dapat menghayati makna inkarnasi yang mengubah sejarah, mempersiapkan kita untuk kehidupan saat ini dan kedatangan-Nya yang kedua kali.
Penyelidikan Sebuah Tanggal
Pertanyaan mengenai tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus telah menjadi sebuah “kasus dingin” teologis selama berabad-abad.
Bagaimana kita menyelesaikan perbedaan pendapat ini? Jawabannya tidak terletak pada penemuan satu bukti baru yang tak terbantahkan, melainkan pada pemahaman yang jujur terhadap bukti-bukti yang ada dan keterbatasannya.
Secara historis, penetapan tanggal 25 Desember tidak muncul dari tradisi apostolik langsung.
Para Bapa Gereja awal seperti Klemens dari Alexandria bahkan menyebutkan berbagai tanggal spekulatif, termasuk di bulan Mei dan April.¹
Dopumen paling awal yang secara eksplisit menghubungkan kelahiran Kristus dengan 25 Desember adalah Chronograph tahun 354 M di Roma.²
Ada dua teori utama mengenai asal usul tanggal ini. Teori Sejarah Agama ( Religionsgeschichtliche Schule)* berpendapat bahwa tanggal ini dipilih untuk menggantikan atau “membaptis” perayaan pagan Romawi, Dies Natalis Solis Invicti (Hari Kelahiran Matahari yang Tak Terkalahkan), yang dilembagakan oleh Kaisar Aurelian pada tahun 274 M.³
Logikanya adalah, saat kekristenan mendapatkan pengaruh, ia “menebus” festival populer ini dengan mengisinya dengan makna baru: kelahiran Kristus sebagai “Matahari Kebenaran” (Maleakhi 4:2).
Namun, Teori Kalkulasi (Calculation Theory)**, yang didukung oleh para sarjana seperti Thomas J. Talley dan William J. Tighe, menawarkan alternatif yang lebih tua dan berakar pada tradisi Yahudi.
Teori ini berargumen bahwa gereja mula-mula percaya ada hubungan integral antara momen konsepsi seorang nabi besar dan kematiannya.
Berdasarkan tradisi bahwa Kristus disalibkan pada 14 Nisan (yang mereka perkirakan jatuh pada 25 Maret dalam kalender Julian), mereka menyimpulkan bahwa konsepsi-Nya (Inkarnasi) juga terjadi pada 25 Maret.
Dengan menambahkan sembilan bulan masa kehamilan normal, mereka tiba pada tanggal 25 Desember.⁴ Teori ini menunjukkan bahwa pilihan tanggal tersebut lebih bersifat teologis daripada sinkretis.
Lalu, bagaimana dengan tanggal yang “tepat dan akurat” menurut bukti yang tidak dapat dibantah? Jawaban singkat dan jujur secara akademis adalah: tidak ada. Kitab Suci sendiri, sumber utama kita, secara mencolok diam mengenai tanggal spesifik. Injil Lukas, narasi kelahiran paling detail, justru memberikan petunjuk yang menantang tradisi Desember.
Lukas 2:8 menyatakan bahwa para gembala “tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.” Kata Yunani yang digunakan adalah ἀγραυλοῦντες (agraulountes), yang secara harfiah berarti “hidup di ladang.”⁵
Studi zoologi dan iklim Palestina kuno, seperti yang dicatat dalam SDA Bible Commentary, menunjukkan bahwa bulan Desember adalah musim dingin yang dingin dan hujan di Yudea, di mana kawanan ternak biasanya sudah dikandangkan dan tidak lagi merumput di padang terbuka pada malam hari.⁶ Ini membuat skenario kelahiran di musim dingin menjadi kurang mungkin.
Beberapa sarjana, seperti Kenneth Bailey, telah mengusulkan musim semi, sekitar Maret atau April, yang bertepatan dengan musim kelahiran anak domba di Betlehem—sebuah simbolisme yang kaya mengingat Kristus adalah “Anak Domba Allah” (Yohanes 1:29).⁷
Yang lain, seperti banyak teolog Advent, menunjuk pada musim gugur, sekitar September atau Oktober, yang bertepatan dengan Pesta Pondok Daun (Sukkot).
Argumen ini didasarkan pada Yohanes 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.” Kata “diam” adalah ἐσκήνωσεν (eskēnōsen), dari kata σκηνή (skēnē), yang berarti “kemah” atau “tabernakel.”⁸
Ini menciptakan gema teologis yang kuat: Kristus “berkemah” di antara umat manusia, menggenapi makna Pesta Pondok Daun. Lebih lanjut, jadwal pelayanan imam Zakharia di Bait Suci (Lukas 1:5, 23-24), jika ditelusuri, menempatkan kelahiran Yohanes Pembaptis sekitar musim semi, dan konsekuensinya, kelahiran Yesus (enam bulan kemudian) pada musim gugur.⁹
Ellen G. White, seorang penulis yang sangat dihormati dalam tradisi Advent, dengan bijaksana menyimpulkan dilema ini:
“Tanggal pasti kelahiran Kristus tidak diketahui… Surga tidak menuntut agar hari itu harus dirayakan sebagai hari kelahiran Kristus.”¹⁰ Ia menekankan bahwa fokus pada tanggal yang tidak pasti dapat mengalihkan perhatian dari kebenaran agung dari peristiwa itu sendiri.¹¹
Dengan demikian, upaya untuk menemukan tanggal yang “tidak dapat dibantah” adalah pengejaran yang sia-sia dan, pada akhirnya, tidak alkitabiah.
Alkitab tidak memberikan tanggal karena penekanannya bukanlah pada kronologi tetapi pada Kristologi; bukan pada kapan Dia datang, tetapi bahwa Dia datang dan mengapa Dia datang.
Misteri tanggal ini, alih-alih jadi masalah, justru menjadi undangan untuk melampaui hal-hal sepele dan menyelami kedalaman makna inkarnasi.
Menghayati Gema Palungan di Akhir Zaman
Jika tanggal bukanlah pusatnya, lalu apa? Bagaimana kita menghayati makna kelahiran Kristus—Natal—secara pribadi, dalam keluarga, dan sebagai jemaat, terutama saat kita hidup dalam apa yang Alkitab sebut sebagai “akhir zaman”?
Makna kelahiran-Nya bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan sebuah realitas hidup yang membentuk masa kini dan menerangi masa depan.
- Kerendahan Hati dan Penyerahan Diri
Panggung Betlehem bukanlah diorama yang manis dan steril. Itu adalah sebuah adegan kekacauan, kemiskinan, dan penolakan. Firman yang kekal (Yohanes 1:1) memasuki dunia yang Ia ciptakan, namun “tidak ada tempat bagi-Nya di rumah penginapan” (Lukas 2:7).
Kata Yunani untuk “rumah penginapan,” κατάλυμα (kataluma), lebih tepat diartikan sebagai “ruang tamu” atau “kamar tamu” di sebuah rumah pribadi, bukan penginapan komersial (untuk itu, Lukas menggunakan kata πανδοχεῖον, pandocheion, dalam kisah Orang Samaria yang Murah Hati).¹²
Ini berarti Maria dan Yusuf kemungkinan besar ditolak, bukan oleh seorang pemilik penginapan yang kejam, tetapi oleh kerabat atau kenalan yang rumahnya sudah penuh sesak karena sensus.
Tuhan Semesta Alam, yang oleh-Nya segala sesuatu diciptakan, tidak menuntut ruang di istana, tetapi mendapat penolakan dan keterbatasan.
Dia lahir di tempat hewan makan—palungan (φάτνη, phatnē).¹³ Ini adalah tindakan κένωσις (kenōsis) yang paling radikal, “pengosongan diri” yang dideskripsikan oleh Paulus dalam Filipi 2:7, di mana Ia “mengambil rupa seorang hamba.”¹⁴
Bagi kita di akhir zaman ini, yang hidup dalam budaya narsisme, promosi diri, dan pencarian pengakuan, palungan adalah sebuah teguran dan undangan. Menghayati Natal secara pribadi berarti merenungkan kenosis Kristus dan mengizinkannya membentuk karakter kita.
Ini adalah panggilan untuk melepaskan hak-hak kita, untuk melayani tanpa pamrih, untuk menemukan kekuatan dalam kelemahan, dan untuk menerima “palungan” dalam hidup kita—kegagalan, kekecewaan, dan keterbatasan—sebagai tempat di mana Kristus dapat dilahirkan kembali di dalam kita.
Sebagaimana yang ditulis oleh Gerhard F. Hasel, tema besar kontroversi kosmik antara Kristus dan Setan menemukan titik baliknya dalam kerendahan hati inkarnasi, yang menunjukkan karakter Allah yang rela berkorban, berkebalikan dengan keegoisan Setan.¹⁵ Menghayati Natal adalah memilih kerendahan hati palungan di atas kesombongan Babel setiap hari.
- Realitas dan Harapan Keluarga
Kisah Natal bukanlah dongeng keluarga. Itu adalah kisah tentang sebuah keluarga muda yang menghadapi krisis: kehamilan di luar nikah yang penuh stigma, perjalanan yang melelahkan, penolakan, persalinan dalam kondisi darurat, dan kemudian menjadi keluarga pengungsi yang melarikan diri dari genosida yang diperintahkan oleh Herodes (Matius 2:13-15). Keluarga Kudus adalah keluarga dalam tekanan.
Bagi keluarga-keluarga modern yang berjuang dengan tekanan ekonomi, konflik internal, ketidakpastian masa depan, atau krisis kesehatan, kisah Natal menawarkan bukan pelarian, tetapi solidaritas ilahi. Allah tidak masuk ke dalam dunia yang ideal; Ia masuk ke dalam kekacauan hidup kita.
Menghayati Natal dalam keluarga berarti mengakui bahwa Allah hadir di tengah-tengah ketidaksempurnaan kita.
Ini mengubah cara kita memandang perayaan itu sendiri. Pemberian hadiah dapat ditransformasikan dari ritual konsumeris menjadi cerminan dari anugerah Allah yang tak ternilai (Yohanes 3:16), di mana “kehadiran” kita satu sama lain jauh lebih berharga daripada “hadiah”.
Meja makan keluarga bisa menjadi tempat untuk berbagi tidak hanya makanan, tetapi juga kerapuhan dan harapan, meneladani keluarga yang pertama kali berkumpul di sekitar palungan.
Dalam konteks akhir zaman, di mana “kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Matius 24:12), keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi inkubator kasih ilahi, sebuah “Betlehem” kecil di mana Kristus diterima dan dipelihara.
- Persekutuan Gembala dan Orang Majus di Akhir Zaman
Pengumuman kelahiran Kristus secara sengaja meruntuhkan tembok sosial. Malaikat pertama kali muncul bukan kepada para pemimpin agama di Yerusalem, tetapi kepada para gembala—kelompok yang secara sosial dan ritual dianggap najis dan tidak dapat diandalkan pada masa itu.¹⁶
Mereka adalah kaum terpinggirkan. Namun, pada saat yang sama, sebuah bintang menuntun Orang Majus dari Timur—para sarjana, bangsawan, dan orang-orang non-Yahudi yang kaya—untuk datang dan menyembah Raja yang baru lahir.
Di palungan, gembala dan orang Majus, orang miskin dan orang kaya, penduduk lokal dan orang asing, orang Yahudi dan orang non-Yahudi, bersatu dalam penyembahan. Ini adalah gambaran profetis dari gereja akhir zaman yang sejati.
Seperti yang ditekankan oleh Jon Paulien, pesan Injil abadi dalam Wahyu 14 memanggil “semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum” untuk menyembah Sang Pencipta.¹⁷
Gereja bukanlah klub eksklusif, tetapi persekutuan radikal di mana semua perbedaan duniawi—status sosial, ras, pendidikan, latar belakang—ditiadakan di kaki salib dan palungan.
Menghayati Natal sebagai jemaat berarti secara aktif membangun komunitas “gembala dan orang Majus” ini.
Ini berarti gereja harus menjadi tempat yang paling ramah bagi “para gembala” di masyarakat kita—mereka yang terpinggirkan, dilupakan, dan terluka.
Ini juga berarti gereja harus menjadi tempat yang menantang “orang Majus” di antara kita—mereka yang memiliki kekayaan, pengaruh, dan pengetahuan—untuk mempersembahkan “emas, kemenyan, dan mur” mereka (talenta dan sumber daya) demi pelayanan Kerajaan Allah.
Menghayati Natal di gereja seharusnya bukan oleh konser dan drama, tetapi sebuah manifestasi nyata dari Injil yang mendobrak tembok pemisah, mempersiapkan umat untuk menyambut Raja yang akan datang, yang kedatangan-Nya akan mengumpulkan umat-Nya dari “keempat penjuru mata angin” (Matius 24:31; 1 Koristus 11:26).
Dari Betlehem ke Takhta Kemuliaan
Pada akhirnya, perdebatan tentang tanggal kelahiran Yesus adalah sebuah gema kosong jika dibandingkan dengan pekik tangis bayi di palungan yang mengguncang surga dan bumi.
Kitab Suci dengan sengaja mengaburkan tanggal untuk menajamkan fokus kita pada Yesus Kristus sendiri: Allah menjadi manusia. Yahweh, Sang “AKU ADA” yang kekal (Keluaran 3:14), menjadi Imanuel, “Allah beserta kita” (Matius 1:23).¹⁸
Ini adalah jantung dari iman Kristen, sebuah kebenaran yang begitu dalam sehingga hanya dapat dipahami melalui iman dan kerendahan hati.
Menghayati kelahiran Kristus di senja zaman ini bukanlah tentang memenangkan argumen kronologis (tanggal kelahiran Yesus) atau menyelenggarakan perayaan yang paling meriah. Ini adalah undangan untuk sebuah transformasi radikal.
Ini adalah panggilan untuk mengizinkan kerendahan hati Sang Raja yang baru lahir meruntuhkan kesombongan dalam diri kita. Ini adalah ajakan untuk menemukan kehadiran-Nya di tengah kekacauan hidup pribadi dan keluarga kita.
Dan ini adalah sebuah mandat untuk membangun jemaat di mana tidak ada lagi “orang Yahudi atau orang Yunani,” “budak atau orang merdeka,” karena semua adalah satu di dalam Kristus (Galatia 3:28).
Panggung Betlehem adalah awal dari sebuah narasi agung yang puncaknya belum tiba. Ia yang datang dalam keheningan sebuah kandang domba adalah Ia yang sama yang akan kembali dengan gemuruh kemuliaan di awan-awan.
Dengan menghayati makna kedatangan-Nya yang pertama, kita tidak hanya mengenang masa lalu; kita membentuk masa kini dan dengan penuh kerinduan mempersiapkan masa depan sebagaimana yang selalu kita ingat dalam Perjamuan Tuhan (1 Koritus 11:24-26).
Kita membuat ruang di “penginapan” hati kita yang sibuk, agar Imanuel dapat benar-benar tinggal, bukan hanya untuk satu musim, tetapi untuk selamanya, hingga fajar keabadian menyingsing.
Catatan Akhir:
¹ Clement of Alexandria, Stromata I, xxi, dalam The Ante-Nicene Fathers, ed. Alexander Roberts dan James Donaldson (Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 1994), 2:333.
² George R. Knight, A Search for Identity: The Development of Seventh-day Adventist Beliefs (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association, 2000), 188.
³ Hans K. LaRondelle, “The Biblical Significance of Christmas,” Journal of the Adventist Theological Society 3, no. 2 (1992): 75.
⁴ William J. Tighe, “Calculating Christmas,” Touchstone Magazine, Desember 2003. Teori ini juga dibahas dalam Andrew McGowan, How December 25 Became Christmas (Oxford: Oxford University Press, 2017).
⁵ Walter Bauer, Frederick W. Danker, W.F. Arndt, and F.W. Gingrich, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2000), 14, s.v. “ἀγραυλέω.”
⁶ The Seventh-day Adventist Bible Commentary, ed. Francis D. Nichol (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association, 1956), 5:703.
⁷ Kenneth E. Bailey, Jesus Through Middle Eastern Eyes: Cultural Studies in the Gospels (Downers Grove, IL: IVP Academic, 2008), 34-36.
⁸ Gerhard Kittel, ed., Theological Dictionary of the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1964-1976), 7:383, s.v. “σκηνή.” Lihat juga Roy Gane, The Book of Leviticus, Zondervan Exegetical Commentary on the Old Testament (Grand Rapids: Zondervan, 2004), 425, yang membahas hubungan tipologis antara Sukkot dan inkarnasi.
⁹ Argumen ini dijabarkan secara rinci dalam berbagai studi, termasuk yang merujuk pada pembagian tugas imam dalam 1 Tawarikh 24. Lihat, sebagai contoh, Jack Finegan, Handbook of Biblical Chronology, rev. ed. (Peabody, MA: Hendrickson Publishers, 1998), 291-301.
¹⁰ Ellen G. White, The Adventist Home (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association, 1980), 477.
¹¹ Ellen G. White, Review and Herald, 9 Desember 1884.
¹² Darrell L. Bock, Luke 1:1-9:50, Baker Exegetical Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Baker Academic, 1994), 205.
¹³ BDAG, 1049, s.v. “φάτνη.”
¹⁴ Gordon D. Fee, Paul’s Letter to the Philippians, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1995), 211-218. Fee berpendapat bahwa kenosis tidak berarti pengosongan atribut ilahi, melainkan pelepasan status dan hak istimewa.
¹⁵ Gerhard F. Hasel, “The Great Controversy and the Person of Christ,” dalam The Seventy Weeks, Leviticus, and the Nature of Prophecy, ed. Frank B. Holbrook (Washington, DC: Biblical Research Institute, 1986), 335.
¹⁶ Joachim Jeremias, Jerusalem in the Time of Jesus: An Investigation into Economic and Social Conditions During the New Testament Period (Philadelphia: Fortress Press, 1969), 303-312.
¹⁷ Jon Paulien, What the Bible Says About the End-Time (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association, 1994), 114-115.
¹⁸ Willem A. VanGemeren, ed., New International Dictionary of Old Testament Theology and Exegesis (Grand Rapids: Zondervan, 1997), 1:1003, s.v. “היה.” Kata kerja ini menunjukkan keberadaan yang dinamis dan berkelanjutan.





