“Dalam dua puluh satu tahun pelayanan, saya telah bertemu ribuan orang. Sebagian wajah mulai samar dalam ingatan saya. Namun ada banyak orang yang sampai hari ini tidak pernah benar-benar pergi dari hati saya.”

SEBAGAI seorang pendeta, saya sering berpindah tempat pelayanan. Saya mengawalinya di bagian selatan jawa tengah. Kabutapten Cilacap, tepatnya kota Kroya. Tahun 2004.

Berlanjut kebagian tengah. sebelah barat daya: Banyumas, Kalidikang, Purwokerto sekitar tahun 2005-2009.

Setelah itu bergerak ke wilayah timur laut atau pesisir utara jawa tengah: Kudus, Pati, Jepara. Sekitar tahun 2010-2013.

Kemudian turun lagi kebagian tengah, dilereng timur gunung Merbabu: Salatiga dan Patemon sekitar tahun 2014-pertengahan 2016.

Lalu bergerak lagi ke utara, ke ibu kota jawa tengah, Semarang. Sekitar tahun 2016-2020: Puri Anjasmoro dan Ngaliyan.

Empat setengah tahun kemudian berpindah kebagian selatan jawa, yaitu Propinsi Yogyakarta. Kota yang dikenal sebagai kota pelajar dan budaya. Sekitar tahun 2021-2024: Timoho dan Imanuel Casagrande.

Dan saat ini sementara melayani di kota Solo, dibagian tenggara jawa tengah, yaitu Ngemingan dari tahun 2025 – sekarang.

Setiap daerah memperkenalkan saya kepada orang-orang baru. Ada anak-anak yang dulu masih bayi, kemudian tumbuh menjadi orang dewasa saat ini.

Ada pasangan muda, setelah bertahun-tahun, kini telah menjadi orang-orang tua. Anak-anak mereka telah besar dan sudah bekerja.

Ada orang-orang tua yang dulu masih gagah perkasa sekarang sudah menua. Saya pun ikut menua bersama dengan mereka..

Ada orang-orang yang dulu berjuang memperbaiki taraf hidup, sekarang telah menikmati hasil perjuangan mereka.

Ada anggota jemaat yang dulu rajin duduk di bangku depan, tetapi kini mereka telah beristirahat dalam kematian menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali..

Pelayanan ini membuat saya bertemu dengan begitu banyak orang. Tidak terkecuali dari berbagai daerah lainnya.

Namun di antara ribuan wajah itu, ada banyak orang yang tidak pernah saya lupakan.

Bukan karena mereka terkenal. Bukan karena mereka kaya. Bukan pula karena mereka memegang jabatan penting.

Malahan banyak diantara mereka orang yang sederhana. Tidak ada posisi dan tidak pernah menjadi pembicara. Tidak pernah melalukan pekerjaan besar yang menonjol..

Nama mereka bahkan tidak muncul dalam laporan gereja. Tetapi hidup mereka menjadi khotbah yang terus saya ingat.

Ia Selalu Datang Lebih Awal

Ada seorang ibu yang sudah lanjut usia. Umurnya sekitar 70 tahun. Rumahnya sangat jauh. 70 km. Setiap sabat naik bis. Sampai semua supir dan kernet hafal dengan wajahnya.

Setiap hari Sabat, hampir selalu ia datang lebih awal, ketika sebagian besar jemaat masih dalam perjalanan. Ia sudah duduk tenang di dalam gereja.

Kadang dia datang lebih awal dari saya. Dan saya sering melihatnya sedang berdoa dan membuka Alkitab.

Kadang ia hanya duduk dalam keheningan. Tidak ada yang istimewa darinya.

Tetapi pemandangan itu selalu berbicara kepada saya setiap sabat. Ia seolah berkata tanpa suara,

“Rumah Tuhan layak mendapat waktu terbaik.”

Saya tidak pernah mendengar ia berkhotbah atau memberi komentar dalam sekolah sabat.

Namun kesetiaannya telah mengajarkan kepada saya tentang penghormatan kepada Tuhan.

Ibu yang pendiam

Ada juga seorang ibu yang jarang berbicara. Dalam rapat gereja, ia lebih banyak diam dan mendengarkan.

Namun setiap ada program gereja, ia sigap membantu. Kalau ada anggota yang sakit, ia diam-diam mengunjunginya dan membawa bingkisan.

Ia selalu memperhatikan keperluan orang-orang yang membutuhkan..

Tidak pernah meminta namanya disebut dalam setiap sumbangan dan kegiatan gereja. Tidak pernah meminta difoto. Tidak pernah mencari pujian.

Dan saya baru menyadari betapa besar pelayanannya kepada Tuhan, ketika suatu hari banyak orang berkata,

“Kami merasa kehilangan ibu itu.” Ibu tersebut telah beristirahat dalam Yesus.

Saat itulah saya belajar bahwa orang yang paling berpengaruh sering kali bukan orang yang paling banyak berbicara.

Melainkan mereka yang paling banyak melakukan tindakan kasih diam-diam..

Tentu kita perlu orang yang bisa berkata-kata..

Alkitab berkata, “Janganlah kita mengasihi dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18)

Orang yang selalu bersyukur

Saya pernah mengunjungi seorang jemaat yang hidupnya sangat sederhana. Kalau dilihat dari ukuran dunia, ia memiliki banyak alasan untuk mengeluhkan kehidupannya..

Namun setiap kali saya bertanya, “Bagaimana kabarnya?” Jawabannya selalu sama. Dengan semangat ia selalu berkata..

“Puji Tuhan, Tuhan itu baik.”

Saya sering pulang dari rumahnya dengan hati yang ditegur.

Mengapa orang yang memiliki sedikit justru lebih mudah bersyukur daripada mereka yang memiliki banyak?

Mungkin karena ia tidak menghitung hidup ini dari apa yang dimilikinya. Tetapi dari siapa yang menyertainya, sekalipun dalam kesederhanaan..

Ia mengajarkan saya tentang kesetiaan

Dalam gereja, tidak semua jemaat memiliki talenta yang menonjol. Karena memang ada talenta yang diberikan untuk berada dibelakang layar..

Tidak semua orang fasih berkata-kata. Tidak semua orang diberi kesanggupan untuk memimpin.

Tetapi saya menemukan begitu banyak orang yang memiliki satu kualitas ketekunan yang sangat langka yaitu kesetiaan.

Mereka tetap datang beribadah sekali pun hujan turun. Cuaca tidak menghalangi mereka untuk hadir. Mereka tetap melayani sekali pun tidak ada yang melihat. Bahkan pelayanan mereka tidak dihargai.

Mereka tetap memberi sekali pun hidup mereka terbatas. Bahkan dalam kekurangan mereka terus memberi..

Mereka tetap berdoa ketika jawaban doa mereka belum datang. Bahkan dalam situasi yang buruk mereka terus setia berdoa..

Saya percaya bahwa gereja bertahan sampai hari ini, bukan hanya karena para pengkhotbah dan penginjil.

Gereja bertahan karena ada orang-orang yang sederhana yang diam-diam tetap setia. Mereka Tidak Pernah Menyadari Bahwa Mereka Sedang Mengajar Pendeta

Ketika saya datang kepada mereka, mungkin mereka mengira saya datang untuk menggembalakan mereka. Mengajar dan memotivasi mereka..

Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Sering kali justru saya lah yang belajar dan termotivasi dari mereka.

Saya belajar kesabaran dari mereka. Saya belajar kerendahan hati. Belajar iman. Belajar pengharapan dari mereka. Belajar bersyukur dari mereka.

Saya iadi belajar bagaimana tetap percaya kepada Tuhan bahkan ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.

Ironisnya, pelajaran-pelajaran itu saya tidak dapatkan dari ruang kuliah di sekolah teologia.

Saya mendapatkannya dari ruang tamu mereka, dari bangku gereja, dari rumah sakit dimana mereka dirawat..

Dari rumah-rumah yang sederhana yang saya kunjungi, dan dari percakapan singkat setelah ibadah.

Banyak hal yang disesali

Ada satu penyesalan yang kadang muncul dalam pikiran saya. Beberapa dari mereka telah meninggal dunia.

Dan saya tidak sempat menyampaikan betapa besar pengaruh mereka terhadap hidup dan pelayanan saya.

Mungkin mereka tidak pernah tahu bahwa kesetiaan mereka sedang membentuk seorang pendeta, yang melayani merkea.

Mungkin mereka tidak pernah sadar bahwa senyum mereka, doa mereka, atau kata-kata sederhana mereka telah menguatkan saya dalam pergumulan, bahkan ketika saya hampir menyerah..

Sekarang saya semakin berusaha untuk lebih sering mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang melayani dengan setia.

Karena kita tidak pernah tahu, betapa besar dampak seseorang sampai suatu hari ia tidak lagi ada bersama dengan kita.

Yesus melihat orang yang terlupakan

Saya teringat kisah janda miskin yang memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan. Banyak orang mungkin tidak memperhatikannya.

Tetapi Yesus melihatnya. Bahkan Yesus menjadikan perempuan miskin itu sebagai teladan iman kepada banyak orang.

DIa berkata kepada semua orang.. “Janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang lain.” (Markus 12:43)

Disini kita melihat cara Tuhan memandang janda miskin ini. Bukan karena dia memiliki banyak atau sedikit, namun karena dia setia walau dia sendiri sedang sulit..

Tuhan tertarik kepada orang yang melakukan sebuah tindakan yang dilakukan dengan kasih dan pengorbanan.

Pelajaran yang didapatkan

Setelah bertahun-tahun melayani, saya sadar bahwa ukuran kebesaran di mata Tuhan tidak sama dengan dunia..

Karena Tuhan senantiasa mengingat orang-orang yang setia. Dia melihat doa yang dipanjatkan dalam kesunyian. Dia menghargai pelayanan yang dilakukan tanpa sorotan.

Suatu hari nanti, kita akan terkejut melihat siapa saja yang disebut Tuhan sebagai orang-orang besar dalam Kerajaan-Nya.

Penutup

Suatu kali seseorang pernah bertanya kepada saya, “Pendeta, siapa jemaat yang paling Anda ingat?”

Saya tidak bisa menyebut satu persatu, bukan karena saya lupa. Tetapi karena mereka terlalu banyak.

Mereka adalah para ibu yang tekun berdoa untuk anak-anaknya. Agar anak mereka setia dan takut akan Tuhan..

Para bapak yang diam-diam memperhatikan keperluan gereja. Para lansia yang tetap datang beribadah meski langkahnya sudah tertatih-tatih.

Para guru Sekolah Sabat yang bertahun-tahun melayani orang dewasa dan anak-anak. Para diaken dan diakones yang melayani tanpa banyak dikenal.

Para penatua dan majelis yang setia mengurus gereja bertahun tahun sekalipun mereka sangat sibuk.

Para koster gereja yang setia merawat gereja, yang menganggap pelayanan itu sebagai kehormatan.

Para ibu-ibu dan setiap keluarga yang dengan setiap setiap sabat membawa makanan untuk jamuan makan bersama..

Masih banyak yang lainnya. Anda bisa sebutkan satu persatu..

Mereka semua mungkin tidak pernah menulis buku. Mereka juga mungkin tidak pernah berdiri di mimbar gereja.

Namun mereka telah menulis sesuatu yang jauh lebih indah dan mengesankan lebih dari sekedar menulis dan berkotbah..

Mereka menulis kesaksian melalui kehidupan mereka.

Dan tanpa mereka sadari, mereka telah ikut membentuk perjalanan pelayanan saya.

Maka kalau sampai hari ini saya masih bertahan melayani, salah satu alasannya adalah karena saya telah bertemu dengan orang-orang yang sebutkan diatas..

Dimana mereka telah menunjukkan kepada saya bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak harus selalu dilakukan di tempat yang besar.

Cukup dilakukan setiap hari. Walau pun hal kecil, namun bila dilakukan dengan kasih dan ketulusan, Tuhan akan berkenan dan namanya dimuliakan..

Maka, setiap kali saya mengingat wajah-wajah mereka, doa saya hanya satu,

“Tuhan, kiranya saya dapat memiliki kesetiaan yang sama seperti mereka—setia sampai akhir.”

Kita dapat belajar dari pengalaman iman setiap anggota gereja dimana saja. Dari kehdupan seorang anak hingga lansia. Mereka semua daoat memperkaya hidup untuk setia kepada Tuhan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *