Saya Tetap Advent Karena Saya Mencintai Alkitab

“Kalau suatu hari saya harus memilih antara tradisi dan Alkitab, saya berharap saya memiliki keberanian untuk memilih Alkitab.”

SETIAP kali saya ditanya dengan pertanyaan ini, “Pendeta, mengapa Bapak tetap menjadi orang Advent?”

Saya tidak pernah memulai jawaban saya dengan organisasi. Saya juga tidak memulai dengan sejarah gereja Advent dan 28 doktrin.

Jawaban saya untuk pertanyaan tersebut cukup sederhana. saya tetap menjadi Advent, karena saya mencintai Alkitab.

Walau pun saya belum memahami seluruh Alkitab, karena masih banyak bagian yang terus saya pelajari. Dan belajar Alkitab itu tidak ada tamatnya..

Masih banyak pertanyaan yang belum saya mengerti sepenuhnya. Dan mungkin banyak yang akan tidak terjawab..

Tetapi semakin saya mempelajari firman Tuhan, saya semakin diyakinkan bahwa hidup kita harus dibangun di atas dasar yang tidak berubah, yaitu Firman Tuhan.

Kembali kepada Alkitab

Sebagai seorang pendeta, saya tentu harus membaca banyak buku. Itu bisa buku teologi. Buku Roh Nubuat. Buku tentang kepemimpinan.

Saya juga membaca artikel-artikel, jurnal, dan berbagai tulisan rohani lainnya.

Semua bacaan itu tentu sangat membantu saya. Saya jadi banyak tahu. Wawasan bertambah.

Namun saya sadari bahwa, tidak ada satu pun dari buku itu yang memiliki otoritas seperti Alkitab.

Buku-buku yang saya baca itu, bisa direvisi. Ditambah dan dikurangi sesuai dengan keinginan penulis.

Namun Alkitab tidak demikian. Dia benar. dan memiliki kuasa menuntun orang kepada keselamatan dan mengubahkan hidup yang membacanya.

Rasul Paulus mengingatkan,

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

Nah, berdasarkan ayat ini, setiap kali saya mendapat pertanyaan tentang iman, saya akan memulai dari Alkitab.

Karena Alkitab itu mengajar. Mengoreksi, memperbaiki dan mendidik. Maka sangat tepat, semua pertanyaan tentang iman harus dimulai dari Alkitab.

Bukan dimulai dari pendapat saya. Bukan dari tradisi yang sudah turun-temurun ribuan tahun. Melainkan dari firman Tuhan.

Tradisi mungkin penting, tapi bukan ukuran

Saya menghargai sebuah tradisi, karena itu dapat menjadi pengingat akan perjalanan iman generasi sebelumnya.

Tradisi misalnya dapat menjadi sarana untuk mempererat kebersamaan. Tradisi juga dapat mengajarkan nilai-nilai yang baik.

Namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa tradisi bukan ukuran terakhir kebenaran.

Yesus pernah menegur para pemimpin agama pada zaman-Nya. Bukan tradisinya yang dia tegur. Tetapi karena mereka menempatkan tradisi lebih tinggi daripada firman Allah.

Itu sebabnya Yesus berkata, “Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.” (Markus 7:13)

Jadi, mengesampingkan Firman Allah untuk menempatkan tradisi diatas, ditentang oleh Yesus. Yesus sendiri selalu menempatkan segala sesuatu diatas Firman Allah.

Kepada Iblis dia berkata, “Ada tertulis…”

Apa yang disampaikan Yesus, tentu menjadi peringatan bagi kita semua, agar tidak memposisikan tradis, kebiasaan, adat diatas kebenaran Firman Allah..

Kita harus bertanya lebih dahulu, “Apakah ini sejalan dengan firman Tuhan?”

Artinya tradisi dan budaya tidak salah, sepanjang tradisi atau budaya tidak bertentangan dengan Alkitab.

Budaya yang terus berubah

Kemudian, budaya juga bisa berubah sesuai perkembangan jaman. Misalnya, apa yang dianggap biasa hari ini, mungkin tidak lagi dianggap biasa beberapa puluh tahun kemudian.

Misalnya lagi, cara berpakaian berubah. Cara berkomunikasi berubah. Teknologi berubah. Pola hidup berubah.

Yang tidak bisa berubah itu adalah prinsip kebenaran Firman Tuhan.

Nabi Yesaya menulis, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” (Yesaya 40:8)

Ayat ini memberi kepastian bahwa sekalipun dunia beruba-ubah, tetapi Firman Allah tidak berubah. Dia tetap. Kokoh untuk selama-lamanya.

Maka Alkitab, harus menjadi dasar kita dalam beriman. Dasar-dasar kepercayaan kita juga harus dibangun diatas dasar Firman Allah, bukan tradisi.

Kita punya semacam slogan: Biarkan Alkitab menafsirkan diri-Nya sendiri.

Alasan saya bersyukur menjadi Advent

Salah satu hal yang mungkin paling saya syukuri sebagai orang Advent adalah dorongan untuk terus mempelajari Alkitab.

Sejak kecil saya mengenal Sekolah Sabat. Disana saya diajak membaca Alkitab setiap hari.

Disana saya belajar bahwa iman bukan hanya soal mendengar khotbah seminggu sekali. Iman akan bertumbuh ketika firman Tuhan menjadi makanan kita setiap hari.

Saya tidak mengatakan bahwa orang-orang Advent selalu berhasil melakukannya. Kadang banyak yang belum berhasil melakukannya..

Tetapi saya bersyukur gereja ini terus menerus mengingatkan saya untuk kembali kepada Alkitab.

Tidak takut bertanya..

Selanjutnya, sebagai pelajar Alkitab, saya tentu banyak mengajukan pertanyaan. Bukan sebagai tanda kurang percaya.

Dan saya tidak takut mempertanyakan iman kita. Bahkan mempertanyakan 28 doktrin.

Bagi saya bertanya itu penting. Agar kita tidak menjadi pengikut yang hanya asal ikut saja. Agar kita tidak menjadi orang Advent yang hanya sekedar saja..

Banyak tokoh Alkitab bertanya kepada Tuhan. Misalnya, Daud bertanya. Habakuk bertanya. Yeremia bertanya. Bahkan murid-murid Yesus sering bertanya.

Saya bertanya dengan pertanyaan yang jujur untuk mencari kebenaran bukan untuk meragukan atau mencari kesalahan.

Justru pertanyaan sering menjadi jalan menuju pengertian yang lebih dalam.

Itu sebabnya, saya tidak takut membuka Alkitab dan berkata, “Tuhan, ajarlah aku. Tunjukkan apa yang benar menurut firman-Mu.”

Alkitab mengoreksi

Dan semakin lama saya mempelajari Alkitab, saya kemudian sadar bahwa saya belajar Alkitab bukan mengoreksi firman Tuhan. Sebailknya, Firman Tuhanlah yang mengoreksi saya.

Disana saya menemukan ayat yang memberi penghiburan, ayat yang menegur. Alkitab merubah cara berpikir saya..

Dan dalam Alkitab saya melihat kasih Tuhan begitu nyata. Yesus mengorbankan hidup-Nya agar kita selamat.

Dia menuntun saya untuk menjadi orang yang tidak sama lagi. Firman-Nya terus membentuk karakter saya.

Dan benar apa kata pemazmur, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)

Pelita tidak hanya menerangi jalan. Tetapi menunjukkan jika kita mulai melangkah ke arah yang salah.

Menjadi Advent berarti terus belajar

Saya merasa belum memahami Alkitab sepenuhnya. Masih banyak yang perlu dipelajari. Masih banyak yang perlu direnungkan.

Itulah sebabnya saya senang membaca, berdiskusi, dan terus menggali firman Tuhan. Menjadi Advent, bagi saya, berarti terus belajar Alkitab.

Karena semakin mengenal firman Tuhan, semakin saya menyadari betapa luas dan dalamnya hikmat Tuhan.

Semakin sadar, betapa tak selami jalan-jalanya..

Alkitab membawa kepada Yesus

Pada akhirnya, tujuan utama membaca Alkitab bukanlah menambah pengetahuan. Tujuan utamanya adalah mengenal Yesus lebih baik.

Mengenal siapa Dia agar kita dapat mengasihi Dia dengan menuruti seluruh perintah-perintahnya (Yohanes 14:15).

Yesus berkata, “Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku.” (Yohanes 5:39)

Kalau saya membaca Alkitab tetapi tidak semakin mengasihi Kristus, berarti saya kehilangan inti dari firman itu sendiri.

Karena seluruh Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, menunjuk kepada Kisah kasih Allah yang Maha besar kepada manusia yang maha besar dosanya..

Penutup

Kalau suatu hari nanti seseorang kembali bertanya kepada saya “Mengapa Bapak tetap Advent?”

Saya akan menjawab, “Karena saya ingin terus membangun hidup di atas firman Tuhan.”

Saya mencintai gereja ini karena gereja ini terus mengajak saya membuka Alkitab dan gereja ini secara organisasi mendasarkan kepercayaannya kepada Firman Allah..

Itu sebabnya kepercayaan nomor satu gereja Advent adalah Alkitab sebagai berikut:

Kitab Suci yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah Firman Allah yang tertulis, yang diberikan oleh inspirasi llahi melalui orang-orang kudus Allah yang bericara dan menulis karena mereka digerakkan oleh Roh Kudus.

Dalam Firman tertulis ini, Allah telah memberikan kepada manusia pengetahuan yang perlu untuk keselamatan. Kitab Suci adalah pemyataan tentang kehendak Allah yang tidak mungkin salah. Itu merupakan ukuran tabiat, ujian pengalaman, pengungkap doktrin yang sah, dan catatan yang terpercaya perihal tindakan-tindakan Allah dalam sejarah. (2 Ptr. 1:20,21; 2 Tim. 3:16,17; Mzm. 119:105; Ams. 30:5,6; Yes. 8:20; Yoh. 17:17; 1 Tes. 2:13; Ibr. 4:12.)

Dari kepercayaan dasar tersebut, saya melihat gereja ini menjadi sarana yang tepat untuk mengenal Kristus lebih dalam.

Saya sadar, saya masih jauh dari sempurna. Masih banyak bagian firman Tuhan yang harus saya hidupi.

Namun saya berdoa agar selama saya masih diberi kesempatan melayani, saya tidak pernah berhenti menjadi seorang murid yang terus belajar.

Karena pada akhirnya, bukan tradisi yang akan menuntun kita kepada hidup yang kekal. Tidak juga budaya.

Melainkan firman Tuhan yang membawa kita kepada Yesus Kristus, Sang Firman yang hidup.

Dan selama firman itu tetap menjadi pelita bagi langkah saya, saya percaya saya sedang berjalan di jalan yang benar.

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” 2 Timotius 3:15

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *