Menikah, harapan yang ditunggu-tunggu sejak lama. Terutama ibu saya. Semenjak saya berumur 30 tahun. Dia mulai cerewet. Tidak pernah dia secerewet itu.
Hampir tiap hari dia bertelepon dan mendesak agar segera menikah. Saya hanya menjawab, “ Sabar, Belanda masih jauh.”
Sebenarnya, saya pun tidak ingin berlama-lama. Sejak tamat kuliah, sudah punya target, menikah maksimal umur 30 tahun.
Usia itu pun tiba, belum juga menikah. Calon ada, tetapi belum bisa diajak menikah. Tunggu. Masih kuliah. Empat tahun lagi. Rasanya lama.
Empat tahun berlalu. Tidak jadi menikah. Dia memang menikah. Tapi bukan dengan saya. Rasanya kesal. Empat tahun jagain jodoh orang lain.
Namun tidak mengapa. Itu bagian dari irama hidup agar menarik.
Kecewa! Pasti. Putus harapan tidak. Berpikir positif, iya. Mungkin bukan dia orang yang tepat untuk saya. Yang terbaik masih akan datang.
Putus cinta itu biasa. Tidak bahaya. Kadang ada baiknya. Yang bahaya itu, putus rem. Bisa celaka. Bahkan mati.
Belajar dari pengalaman, kalau anak-anak muda putus cinta. Maka santai saja. Tidak perlu panik. Histeris. Apalagi sampai merugikan diri sendiri. Intinya, dia bukan yang terbaik untuk mu.
Yang terbaik akan datang. Bawakan saja dalam doa dan temukanlah seseorang yang takut akan Tuhan. Itu syarat utama.
Menginjak umur 34 tahun. Ibu saya katakan, ini sudah lampu kuning. Saya katakan, “tidak ada lampu kuning. Lampu saya putih warnanya..”
“Tidak terima guyonan..jangan kamu tertawa..” serunya dengan suara meninggi dari balik telepon. “
“Kalau kamu tidak segera menikah, saya akan bawa gadis dari kampung sini..” katanya dengan nada ketus..
Saya terangkan kepadanya, bukan tidak mau menikah. Saya sudah ingin menikah sejak tamat kuliah. Tapi siapa yang mau di nikahi? Belum ada lagi..
Jadi, setiap telepon, isinya perdebatan kapan menikah. sampai bosan. Pernah suatu kali, ibu telepon, saya tidak angkat. Pikir saya, pasti tanya kapan menikah..
Ternyata bukan. Dia sms. Mengabarkan ada keluarga yang sakit. Kemudian saya telepon balik. Tanya siapa yang sakit. Eh, dijawab, kapan kamu menikah…!
Saya tertawa terbahak-bahak. Ibu juga tertawa. Menertawakan kata sandinya: Kapan kamu menikah..!
Terkadang pertanyaan kapan kamu menikah menjadi pertanyaan yang lucu. Namun dilain waktu menjadi pertanyaan yang menjengkelkan..
Suatu kali, saya telepon ibu saya. Sekarang giliran saya yang bertanya. “Apa pertanyaanya,” katanya,
“Mengapa ibu setiap kali telepon yang ditanya kapan menikah? Apa pentingnya pertanyaan itu?”
Dia jawab, “Saya sudah tua, teman-teman sebayaku anak-anaknya sudah pada menikah semua. Mereka sudah punya banyak cucu..”
“Terus apa hubungannya dengan saya?” balik bertanya..
“Teman-teman saya dan keluarga setiap bertemu selalu bertanya, kapan anakmu menikah..? Katanya..
“Lagi pula, sudah waktunya kamu menikah. Sudah 35 tahun. Mumpung saya masih hidup. Ayo buruan menikah..!” Katanya memotivasi..
Dengan nada rendah, saya katakan, “ Iya ibu, doakan saja..” Mulai saat itu, saya tidak mau lagi berdebat.
Omelan dan ocehanya ditelepon tidak saya debat lagi. saya dengarkan dengan seksama dan merenungkannya dengan baik..
Dari pada mendebat, lebih baik saya aminkan dan berdoa untuk harapan ibu. Saya harus menikah.
Menikah memang tidak harus. Tapi itu pilihan. Memang benar, ada orang yang tidak bisa menikah.
Mungkin karena memiliki karunia selibat. Tidak menikah demi pekerjaan Tuhan. Ada juga orang tidak bisa menikah karena orang lain membuat dia untuk tidak bisa menikah. seperti orang kasim.
Ada juga karena sejak lahir ada kelainan secara fisik, yang membuat dia tidak bisa menikah.
Tapi saya tidak termasuk dalam kategori tersebut. Saya tidak punya karunia selibat. Saya normal secara fisik dan psikis. Bukan orang kasim (Kebiri).
Maka tidak ada alasan untuk hidup melajang selamanya. Apalagi bagi seorang pemuka agama Kristen (Pendeta), yang mengharuskan untuk menikah.
Tetapi kemana harus mencari pendamping? Cari dikampung? Terlalu jauh. Pencarian itu harus dimulai dalam doa, begitu saran seorang ibu yang baru saya kenal.
Pencarianmu akan sia-sia jika hanya mengandalkan tampang dan dompet, katanya lagi. saya katakan, tampang dan dompet saya pas-pasan ibu. Tidak bisa diandalkan..
Nah, apalagi seperti itu..jawabnya sambil tertawa..
Karena itu harus mengandalkan doa dan puasa..! Begitu dia menasehati sambil berdiri, tangan dipinggang..
Nasehat yang baik. itu memang benar. Apa pun yang dicari, bila disertai dengan doa dalam iman, akan menemukan.
Seperti janji Yesus di Matius 7:7-8..
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Boleh jadi selama ini belum meminta jodoh dengan serius. Memang kelihatanya belum. Memang di doakan, tetapi tidak intens dan penuh.
Pasangan hidup memang sangat urgent saat itu. Tapi seseorang kembali mengingatkan, jangan karena mendesak, lalu asal pilih..
Beli baju saja teliti. Lama. Apalagi milih istri, katanya lagi. Dia bukan baju, yang bisa ditukar kalau tidak cocok dan dibuang kalau sudah kusut.
Jadi walau mendesak, tapi harus selektif. Dengan doa maka Roh Kudus akan menuntun kepada seseorang yang tepat. Begitu nasehatnya..
Nasehat yang baik tentu dilakukan. Berdoa. Puasa. Setelah itu mengerjakan apa yang didoakan dan mendoakan apa yang dikerjakan.
Hasilnya, bertemu dengang seorang gadis. Diperkemahan. Empat bulan kenal. Empat kali bertemu. Tidak ada kata-kata cinta. Tidak ada kata pacaranan.
Langsung ajak menikah. Secepat itu kah? tidak perlu pacaran? Setelah dipertimbagkan tidak perlu. Terlalu banyak waktu yang akan dihabiskan jika menggunakan cara normal..
Cara biasa: Kenalan satu sampai tiga bulan. Nyatakan cinta. Kalau diterima lanjut. Jadi pacar. Perlu enam sampai satu tahun untuk pacaran. Baru menikah.
Cara yang abnormal, hanya perlu dua langkah. Kenalan empat bulan. Langsung ajak menikah. tapi ini pertaruhan. Karena belum tentu dia mau. Tapi sudah menjadi tekat. Kalau tidak mau, tinggalkan..
Kalau dia mau, lanjutkan. Dia bilang, “Tunggu dulu..beri saya waktu untuk berdoa selama 2 minggu..”
Dua minggu berlalu, saya datang lagi. “Bagaimana? Apakah sudah berdoa, apakah bersedia menikah dengan saya?” tanya saya..
Dengan wajah tersipu. Tertunduk malu. Ia diam sejenak. Saya seperti menunggu nomor undian, penasaran apa kira-kira jawabnya.
Ia menjawab, “Iya, saya mau menikah dengang abang..” spontan saya berteriak Yess…
Segera setelah itu, saya telepon ibu saya. Saya ceritakan bahwa saya akan menikah. Calon menantu sudah ditemukan. Ibu saya sangat Bahagia mendengarnya. Terbayang dia akan mengadakan pesta.
Sejak saat itu, telepon dari ibu menjadi jarang berdering. Karena pertanyaanya, kapan menikah? sudah terkabul.
“Dan inilah keyakinan kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jika kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jika kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya” 1 Yohanes 5:14-15





