INFORMASI harus melalui orang lain. Pun orang itu harus datang jauh-jauh ke kroya untuk menyampaikan info tentang apa saja, baik dari daerah dan jemaat induk.

Tidak ada telepon. Hape. Jaman ketika tahun 2004, era telepon genggam baru dimulai. Sebetulnya sejak tahun 2000 an.

Jaman itu yang Berjaya adalah wartel. Warung telepon. Dimana-mana ada. Namun ketika era telepon genggam dimulai. Satu persatu wartel berguguran. Hingga akhirnya kiamat.

Jaman itu merek hape yang merajai pasaran adalah Nokia. Bentuknya besar melengkung. Seperti pisang. Sehingga dijuluki telepon pisang.

Lalu muncul yang lebih kecil. Diawali seri 3310. Layarnya hitam putih. Fungsinya hanya untuk telepn dan sms. Dan bermain game, ular.

Itu pun sudah dianggap canggih pada jamannya. Tidak banyak orang yang memiliki hape masa itu. Harganya masih cukup mahal. Diatas 1 jutaan. Saya pun tidak mampu beli hape itu.

Suatu kali, pendeta Hutauruk bilang, “ Menabunglah supaya dapat membeli hape. Yang bekas pun tidak apa-apa..”

Dari gaji 500 ribu. Setelah perpuluhan dan persembahan diasingkan 100 ribu. Tinggal 400 ribu. Lalu ditabung 100 ribu. Tinggal 300 ribu.

Untuk dapat uang 1 jutaan, perlu waktu hampir setahun. Sekarang 300 ribu harus cukup 1 bulan. Bagaimana cara mencukupinya? Ganti strategi.

Karena makanan adalah porsi terbesar dari anggaran, maka mulai memikirkan cara makan irit. Jaman itu ada jual makanan nasi kuning. Bisa beli 2000. Lauknya tempe.

Memang tidak kenyang. Tapi lumayan. Siangnya tidak makan. Minum air bening saja. Malam masak nasi. Lauknya tahu tempe.

Terkadang beli dua porsi nasi kuning untuk nanti makan malam. Sesekali berkat dari warga masih berdatangan. Itu cukup membantu.

Apakah uang satu jutaan dapat terkumpul dari menabung 100 ribu setiap bulan? Ternyata tidak bisa. Selalu ada kebutuhan mendadak. Sehingga tabungan itu terkuras juga.

Pak Sapardi sering sakit. Tidak ada jaminan Kesehatan jaman itu. Akhirnya uang tabungan, yang sudah mencapai 600 ribu digunakan beli obat dan periksa kedokter.

Mau bagaimana lagi. Nyawa lebih penting dari hape. Tidak punya hape bisa hidup. Tidak mengapa. Belum lagi kabar datang dari kampung. Adik saya sakit. Berat sakitnya. Harus rutin berobat.

Ibu saya tahu saya tidak punya uang. Dia cuma minta didoakan. Oh ya dari mana ibu bisa menghubungi saya?

Saya kalau pindah kesatu tempat, saya akan cari tetangga yang punya telepon dirumahnya. Saya ijin untuk dapat menerima telepon dari keluarga dikampung.

Selain membeli obat untuk Pak Sapardi, saya juga kirimkan sedikit uang membantu pengobatan adik dikampung.

Akhirnya tidak bisa menabung untuk beli hape. Saya urungkan niat beli hape. Biarlah komunikasi lewat manual. Surat menyurat.

Suatu kali, om dan tante saya menghubungi melalui telepon tetangga. Menanyakan kabar. Karena berbulan-bulan saya tidak ada berita. Mereka mengkuatirkan saya.

“Mohon maaf saya tidak menghubungi om dan tante. Saya tidak punya alat komunikasi..” Kata saya. “Coba tanya-tanya disana, berapa harga hape, nanti saya kirim uangnya..” jawab om saya..

Mendengar itu saya girang sekali. Malam itu juga langsung tancap pedal sepeda ke konter hape. Mas konter memperkenalkan seri terbaru dari Nokia 3315. Generasi dari 3310.

Harganya 1.100.000. Saya tawar 900 ribu. Tidak bisa. Deal 1 juta. Tapi saya belum punya uangnya! Mas nya nampak bingung, nawar tapi belum punya uang.

“ Maaf mas, saya tawar dulu sekarang, besok saya beli..” kata saya. Malam itu saya kabari om saya dari wartel. Dan besoknya dikirim ke rekening tetangga. Saya tidak punya rekening bank.

Kalau gajian melalui gembala pamong. Tiap bulan menghadap untuk terima gaji.

Saya kembali ke konter tersebut. Deal harga 1 juta. Saya bawa pulang hape itu. Hape pertama. Senangnya bukan main. Tak perlu lagi menabung untuk beli hape.

Tapi hape itu akhirnya terabaikan. Sering tidak digunakan. Tidak ada yang telepon. Dan tidak tahu mau telepon siapa. Kalau pun ada yang mau ditelepon tidak ada pulsa.

Sesekali hape itu dipakai bermain game ular dikala santai. Bosan, simpan lagi hapenya dilaci meja. Kadang seminggu dibiarkan. Mati. Tidak dicharge.

Tidak punya hape susah. Punya hape lebih susah lagi. Karena perlu pulsa untuk menggunakannnya. Uang tidak ada beli pulsa. Pernah satu bulan hape itu dilaci. Hampir dilupakan.

Suatu kali saya hidupkan hape itu. Ada beberapa sms masuk. Ada Sms dari Indosat. “Selamat anda mendapatkan hadiah 15 juta rupiah. Untuk informasi lebih lanjut hubungi no berikut..”

Saya lupa nomor hapenya. Saya kira sms itu betulan. Saya yang tidak pernah isi pulsa, segera isi pulsa. 20 ribu.

Saya telepon nomor itu. Dari balik telepn menjawab, “ Halo indosat selamat pagi..apa yang bisa kami bantu..”

Lalu saya jelaskan saya dapat sms tentang hadiah 15 juta. “Oh ya itu benar pak. Nomor hape bapak terpilih menjadi pemenang undian Indosat..” jawabnya..

Saya percaya dan girang sekali. Terbayang saya akan memiliki uang banyak. “Bagaimana cara saya mendapat uang itu..?” Tanya saya penuh penasaran..

“Apakah bapak punya nomor rekening dan ATM? Kalau ada saya tuntun bapak untuk klaim hadiahnya..” Jawab operator gadungan itu..

“ saya tidak punya..” Jawab saya. “Silahkan bapak dapat meminjam rekening dan atm keluarga atau teman bapak. Kalau tidak ada hadiahnya akan hangus…” Terangnya..

Saya tidak mau hadiah itu lepas. Saya berpikir keras ATM siapa yang mau dipinjam. Apakah ada orang yang mau meminjamkan ATM nya?

Ada. Teman saya. Tapi dia di Jakarta. Saya pergi ke Jakarta. Memang sudah rencana. Mau cari dana untuk peternakan bebek. Sekalian saja. pikira saya.

Indosat gadungan kembali telepon, “Kapan kami bisa kirim hadiah bapak..?” Tanyanya..” “Besok ya..” Jawab saya.

Tiba di Jakarta. Bertemu teman saya di Gelael MT.Haryono. Dia ijinkan menggunakan ATMnya. Dia sama percayanya dengan saya.

“Saya sudah di ATM..” kata saya melalui sambungan telepon. “ Silahkahn bapak masukkan ATM dan tekan pin..” Demikian dia memandu.

Begitu PIN ditekan. Tiba-tiba uang di ATM tersebut hilang. Saldo 0. Saya jadi panik. Gementar. Saya telepon balik. “Kenapa uang tiba-tiba hilang..?” tanya saya.

Dia jawab, “Silahkan bapak isi pulsa 300 ribu ke nomor ini nanti hadiahnya kami kirim..” saya mulai merasa ada yang janggal..

Lalu saya ke konter mau beli pulsa. Masih penasaran dengan hadiah 15 juta. Saya tanya mas-mas konter tentang undian 15 juta dari Indosat.

Dia terangkan kemungkinan itu penipuan. Dia telepon CS Indosat betulan. Mereka menjawab bahwa Indosat tidak mengadakan undian. Itu penipuan.

Saya lemas. Bersalah. Tidak enak sama teman. Uangnya lenyap 500 ribu. Saya minta maaf. Saya janji akan kembalikan uangnya.

“Tidak perlu dikembalkan..” Katanya. “Biarlah ini pelajaran untuk kita..” Lanjutnya. Saya pulang ke Kroya dengan tangan kosong. Cari dana tidak dapat. Sedih. Tapi mau bagaimana lagi..

Saya kesal berminggu-minggu karena penipuan itu. tapi akhirnya saya bersyukur bukan saya penipunya. Kata orang lebih baik ditipu dari pada menipu.

Sebenarnya tidak ada yang lebih baik. Ditipu tidak baik apalagi menipu. Cuma buat pelajaran saja untuk tidak lekas percaya.

Namun melalui pengalaman itu saya banyak menyelamatkan orang-orang dari penipuan yang sama. Sebab semakin banyak orang punya hape saat itu. dan penipu model yang sama juga makin banyak.

Ada anggota dapat pemberitahuan hadiah 100 juta. Untuk klaim harus kirim 5 juta untuk pajak dan administrasi. Dia hampir akan pergi ke Bank untuk kirim.

Saat yang sama saya melawat kerumahnya. Dia cerita akan kirim uang untuk klaim hadiah. Saya cek isi beritanya. “Fix ini penipuan bu, jangan kirim uangnya. Saya sudah mengalaminya..” Kata saya..

Selamat dari penipuan. Dia berterimakasih. Tidak terbayang jika uangnya hilang 5 juta. Bisa bekelahi sama suaminya, yang tidak tahu menahu soal itu.

Karena tidak jadi uangnya hilang 5 juta, maka dia menyelipkan dikantong baju saya sejumlah uang. Ucapan syukur. Cukup untuk satu bulan. Beli beras, beli pulsa dan beli obat pak Sapardi.

Selalu ada berkat dalam segala keadaan. Jadi, ‘Stay Confident’ seperti kata pak Sutarji Matola.

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5: 16-18

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *