Namanya Aqueline. Anak kami yang kedua. Lahir tanggl 14 April 2020. Seharusnya dia lahir tanggal 13 April. Tapi mundur satu hari.

Lantaran istri saya tidak srek dengan angka 13. Baginya angka itu tidak cantik. Dia percaya mitos angka 13 sebagai angka keramat.

Angka 13 itu memang saran dokter. Dari hasil USG, dokter kandungan menyarankan agar operasi sesar tanggal 13 April. Mengapa harus operasi sesar?

Karena kelahiran anak pertama operasi sesar, kelahiran kedua disarankan sama. Sesar.

Keluar dari ruangan dokter, istri saya berhenti..

“tunggu dulu..’ katanya..ada apa?

“Saya tidak mau tanggal 13..” Jawabnya. “Kenapa dengan tanggal 13?” Tanya saya..

“Itu angka tidak cantik, angka sial” jawabnya. Saya tidak setuju. Saya keberatan..

Saya terangkan bahwa semua hari sama. Tidak ada hari sial atau buruk.

Namun dia segera mengeluarkan jurus pamungkasnya. Ngambek, sambil berseru, “Yang mau melahirkan kan saya..terserah saya..!”

Ya sudah..saya pun mengikuti kemauannya..

Lalu segera kembali keruangan dokter. Ubah jadwal. Dokter setuju. Operasi sesar, tanggal 14 April, pukul 15.00 wib.

Pulang kerumah dengan wajah sumringah..

Tengah malam dini hari. Pukul 03.00 wib. Dia terbangun. Perutnya mengeras. Sakit sekali. Dia mengerang. Berteriak. “sakit..sakit..”

Saya terbangun. Melihat ia memegang perutnya sambil membungkuk…

Saya coba cek perutnya. Mengeras sekali. Tanya mbah google. Katanya itu kontraksi sebagai tanda-tanda akan melahirkan.

Tidak tahan dengan rasa sakit, dia segera berdiri. Mondar mandir dirumah. Dari kamar ke dapur. Dari dapur keruang depan. Begitu, entah berapa puluh kali dari pukul 03.00 hingga pukul 06.00

Muncul rasa panik, karena operasi baru akan dilakukan pukul 15.00 wib. Masih lama.

Takut terjadi sesuatu, maka segera bergegas kerumah sakit. Tiba disana. Para bidan sigap menangani.

“Wah ini sudah bukaan dua bu..” Kata bidan. Dia segera menghubungi dokter. Dokter memajukan jadwal operasi pukul 11.00 wib.

Untuk menangani rasa sakit yang semakin sakit, kembali dia mondar mandir di ruangan bersalin yang sempit. Dari sudut ke sudut. Entah berapa puluh kali..

Bidan telah mengingatkan untuk diam diatas Kasur. Jangan banyak bergerak. Tapi dia tidak mau ikuti.

Namun tindakannya yang mondar mandir itu, justru mempercepat proses pembukaan.

Pada pukul 09.30, satu jam setengah sebelum jadwal operasi, ketuban sudah pecah. Sontak, para bidan segera berlarian keruangan bersalin.

Satu orang bidan segera lapor ke dokter. Dokter masih sibuk dengan pasien lain. Tidak mungkin lagi diadakan operasi.

Dalam pikiran para bidan, ini pasien operasi. Tapi tidak mungkin dilakukan. Akhirnya dipersiapkan untuk kelahiran normal.

Saat itu tahun 2020, covid sedang mewabah. Lagi parah-parahnya. Semua orang takut. Para bidan takut. Dokter juga. Pada masa itu, banyak petugas medis yang meninggal karena covid.

Saya pun takut. Istri saya tidak takut. Berani. Rasa sakitnya mengalahkan ketakutannya.

Tidak semua orang bisa masuk rumah sakit. Pasien dan penunggu harus menjalani swab. Istri saya di swab. Saya juga. Hidung saya dikorek dalam sekali. Sakit sekali. Hasilnya negative. Tidak ada covid.

Semua orang harus pakai masker. Bidan pakai masker. Saya dan istri juga pakai. Saya menemani istri diruang bersalin.

Saat persalinan normal diusahakan, istri harus tetap pakai masker. Para bidan memberi pelatihan singkat teknik mengejan dan menarik nafas serta mengeluarkannya.

Setelah itu bidan memberi aba-aba untuk memulai persalinan. Tarik nafas dan mengejan dimulai. Tidak berhasil. Kurang tenaga.

Istri saya belum makan. Memang dilarang untuk makan. Harus puasa, karena mau menjalani operasi sesar. Tapi sesar tidak jadi.

Lalu terjadi drama.

Selain tidak bertenaga, istri saya juga kesulitan tarik dan buang nafas. Malah menjadi sesak karena masker. Karena itu dia copot maskernya. Dia tarik dan buang nafas dengan suara yang keras..

Bidan menegur untuk jangan pernah melepaskan masker. Istri saya kesal. “Saya tidak bisa bernafas kalau begini..saya bisa mati..!” Serunya..

Bidan memaksa harus tetap pakai masker. Terjadi diskusi alot tentang masker. Saling ngotot pakai atau lepas masker.

Saya menengahi perdebatan mereka. Saya pakai kan istri saya masker, tapi saya longgarkan dengan jari saya agar istri saya mudah tafik nafas dan buang nafas..

Akhirnya, tepat pukul 10 sekian, istri saya melahirkan dengan spontan normal. Seorang bayi meluncur. Perempuan. Menangis dengan suara keras.

Senang sekali melihatnya. Tapi tiba-tiba saya melihat darah cukup banyak keluar dari tubuh istri saya. Geli dan ngeri. Tidak tahan melihat darah. Saya pusing. Puyeng.

Merasa mau ambruk. Saya segera keluar dari ruangan bersalin ke ruang tunggu. Saya ambruk dilantai. Hampir pingsan. Orang-orang melihat penuh tanda tanya.

Mengetahui saya ambruk, para bidan tertawa. Istri saya apalagi. Tertawanya paling lepas. Saya pun tertawa sambil berupaya untuk bangun dan kembali keruang bersalin.

Satu jam kemudian istri saya bangun dari tempat tidur. Sudah bisa berdiri dan jalan-jalan. Dia bersyukur bisa melahirkan normal karena pemulihannya lebih cepat.

Dia bersyukur, melahirkan tanggal 14. Bukan 13. Kalau tanggal 13, pasti operasi sesar. Lebih lama pemulihan..

Terkadang menunda sesuatu tidak selalu jelek. Memang tidak semua bisa ditunda, apalagi menyangkut nyawa. Satu detik sangat berharga.

Intinya, ada yang bisa ditunda. Ada yang tidak bisa ditunda. Jangan kembangkan sifat menunda. Jangan menunda melakukan pekerjaan yang baik.

Jika rencana kita harus tertunda oleh karena sesuatu, akan ada hal yang baik dibalik penundaan itu.

Menunda boleh saja, asal jangan karena malas. Pemalas biasanya selalu menunda melakukan pekerjaannya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *