“keberadaan umat Tuhan yang diberkati dengan kekayaan sangat penting dalam gereja. Dalam pelayanan, saya bertemu 0rang-orang yang justru semakin rendah hati ketika Tuhan mempercayakan lebih banyak kepada mereka.”
KEMARIN saya telah menulis tentang seorang nenek sederhana yang setia mengembalikan perpuluhan, ditengah segala keterbatasannya.
Kali ini bukan tentang seseorang yang hidup dalam keterbatasan. Melainkan tentang orang-orang yang Tuhan percayakan berkat yang lebih banyak.
Namanya tidak disebutkann dan biarlah kisah ini menjadi penghormatan bagi mereka yang melayani tanpa ingin dikenal.
Berkat sebagai titipan
Saya masih ingat satu kalimat yang diucapkannya. “Pendeta, saya tidak menganggap ini milik saya. Tuhan hanya menitipkannya untuk sementara waktu saya kelola.”
Kalimat itu sederhana. Diucapkan dengan tulus, tetapi mengandung sebuah cara pandang yang sangat dalam tentang arti penatalayanan.
Ia tidak melihat harta sebagai tanda kehebatan dirinya. Sebaliknya sebagai sebuah tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan.
Baginya, memiliki harta yang banyak, bukanlah sebuah pencapaian yang harus dibanggakan.
Sebaliknya ia semakin sungguh-sungguh berdoa agar tidak menjadi sombong dan salah menggunakan kekayaannya..
Dan saya jadi ingat doa raja Daud kepada Tuhan, ketika telah menjadi kaya..
“Sebab segala-galanya berasal dari pada-Mu, dan dari tangan-Mulah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.” (1 Tawarikh 29:14)
Daud mengakui segala yang dia miliki berasal dari Tuhan. Bahkan persembahan yang dia berikan itu dari Tuhan..
Karena itu saya percaya bahwa penatalayanan dimulai dari cara kita memandang kepemilikan. Kalau semua yang kita miliki berasal dari Tuhan, maka kita hanyalah pengelola.
Memberi dalam diam
Tentu saya kagum bukan karena angka-angka yang diberikan, tetapi dari caranya memberi. Misalnya, ia tidak pernah meminta namanya diumumkan.
Tidak pernah meminta perlakuan istimewa. Tidak pernah ingin dipuji.
Beberapa kali saya bahkan baru mengetahui bahwa ada kebutuhan gereja telah terpenuhi setelah semuanya selesai.
Ketika saya berterima kasih, ia hanya tersenyum. “Puji Tuhan kalau bisa membantu.” Sesederhana itu.
Saya belajar bahwa pemberian yang paling indah sering kali dilakukan dalam diam.
Yesus berkata, “Janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Matius 6:3)
Kekayaan tidak menggantikan kerendahan hati
Ada anggapan yang mungkin kurang tepat bahwa semakin kaya seseorang, semakin sulit ia melayani. Semakin sulit ditemui. Bahkan semakin jauh dari persekutuan..
Saya kira itu tidak tepat. karena saya pernah melihat orang yang memiliki banyak, tetapi tetap mau menyusun kursi.
Memegang sapu. Bahkan menjadi seorang diakon yang berada dibelakang layar. Ada kerja bakti gereja, dia datang.
Ramah dan tetap menyapa setiap orang dengan hangat. Tetap duduk berdampingan dan berbincang-bincang dengan anggota jemaat yang sederhana.
Saya belajar bahwa kerendahan hati tidak ditentukan oleh isi rekening kita. Kerendahan hati ditentukan oleh isi hati.
Misi bertumbuh dengan kehadiran orang kaya
Sebagai pendeta, saya menyaksikan bahwa banyak pelayanan berjalan dengan baik karena kesetiaan mereka sebagai penatalayan Tuhan.
Misalnya, ketika ada pembangunan gereja, dengan murah hati mereka memberi sehingga pembangunan tidak sampai terhenti..
Mereka juga memberi untuk bantuan pendidikan, pelayanan sosial, penginjilan, bantuan bagi anggota jemaat yang mengalami musibah, sakit, kekurangan, dll
Sering kali Tuhan memakai orang-orang yang telah Dia berkati secara materi untuk membuka jalan bagi pelayanan itu dan hasilnya luar biasa..
Merekal melakukannya, bukan agar menjadi pusat perhatian banyak orang. Tetapi supaya lebih banyak orang yang merasakan kasih Kristus.
Rasul Paulus menulis kepada orang-orang kaya,
“Peringatkanlah orang-orang kaya di dunia ini … supaya mereka berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.” (1 Timotius 6:17-18)
Perhatikan, Paulus mengasihi orang-orang kaya. Karena itu, ia mengingatkan mereka agar harta yang mereka miliki, dipakai untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama.
Belajar menghargai semua orang
Karena itu, pelayanan ini memberikan pelajaran kepada saya bahwa kita tidak boleh menilai seseorang dari keadaan ekonominya.
Sebab saya telah belajar tentang iman dari seorang nenek yang hidupnya sangat sederhana. Saya juga telah belajar tentang penatalayanan dari seorang pengusaha yang murah hati.
Keduanya mengajarkan pelajaran yang sama, yaitu kesetiaan.
Yang satu memberi dari keterbatasannya. Yang lain memberi dari kelimpahannya. Tetapi keduanya memiliki hati yang sama, yaitu mengakui bahwa semua berasal dari Tuhan.
Bahaya yang perlu diwaspadai
Memang benar, Alkitab tidak menutup mata terhadap bahaya kekayaan. Itu sebabnya Yesus memberi peringatan kepada mereka.
Apa bahaya dari kekayaan bagi seorang yang bukan penatalayan yang setia?
Misalnya, harta dapat membuat seseorang merasa tidak membutuhkan Tuhan. karena apa pun yang dia perlukan semua tersedia dengan cepat.
Harta dapat melahirkan kesombongan. Harta juga dapat membuat hati melekat kepada dunia.
Karena itu, kekayaan bukanlah tujuan hidup. Itu hanya sarana yang Tuhan berikan untuk mencapai Tujuan Tuhan.
Kekayaan juga merupakan ujian penatalayanan. Apakah kita akan menjadikannya sebagai pemilik atau pengelola..
Maka pertanyaannya bukan, “Berapa banyak yang kita miliki?” Pertanyaannya adalah, “Apa yang kita lakukan dengan apa yang Tuhan percayakan?”
Pelajaran yang dibawa pulang
Dari anggota jemaat yang diberkati dengan harta ini, saya belajar bahwa berkat Tuhan bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagikan.
Saya juga belajar bahwa seseorang dapat berhasil dalam pekerjaannya dan tetap rendah hati di hadapan Tuhan.
Saya belajar bahwa kemurahan hati muncul sebagai buah dari hati yang dipenuhi rasa syukur kepada Tuhan.
Dan saya belajar bahwa gereja membutuhkan setiap orang. Baik mereka yang memiliki sedikit maupun mereka yang memiliki banyak.
Tuhan memakai mereka untuk membangun kerajaan-Nya di dunia ini. Intinya kolaborasi semua anggota jemaat dengan beragam situasi ekonomi mereka..
Penutup
Selama bertahun-tahun melayani, saya semakin yakin bahwa Tuhan tidak melihat berapa jumlah harta yang kita miliki. Dia melihat bagaimana cara kita mengelolanya berkat-Nya.
Ada orang yang memiliki sedikit, dan mereka tetapi sangat setia. Ada orang yang memiliki banyak, dan mereka pun tetap sangat setia.
Keduanya sama-sama indah di mata Tuhan. Saya bersyukur pernah bertemu orang-orang seperti ini.
Mereka mengajarkan kepada saya bahwa kekayaan bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan atau dibanggakan.
Kekayaan adalah kesempatan untuk melayani Tuhan lebih luas dan lebih banyak..
Dan ketika harta dipakai untuk memperluas Kerajaan Allah, seperti membantu mereka yang membutuhkan, menopang misi gereja, harta itu menjadi berkat yang mengalir kepada banyak orang.
Dan itu bernilai keselamatan. Karena pengaruh dari harta tersebut meluas, hingga banyak orang yang dijangkau injil.
Kiranya Tuhan menolong kita, apa pun keadaan ekonomi kita saat ini, mari memiliki hati yang sama, yaitu hati yang mengakui bahwa semua berasal dari Tuhan.
Hati yang setia mengelola setiap titipan-Nya. Dan hati yang selalu bertanya,
“Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan dengan berkat yang telah Engkau percayakan kepadaku?”
“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” Amsal 3:10-11





