Teks: Kejadian 15

Intro:

Mari kita membuka Alkitab kita di Kejadian 15:1-6,

“Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.”

Kalimat kemudian, adalah penunjuk waktu setelah Abram mengalahkan Kedarleomer dan sekutunya. Bertemu raja Sodom dan Melkisedek. Kemudian Tuhan datang melawat Abram dalam suatu penglihatan.

Ini merupakan lawatan Tuhan yang ke 4 kali kepda Abram dan kali ini dalam bentuk Penglihatan. dan ini juga merupakan penyebutan pertama tentang penglihatan dalam teks Alkitab.

Artinya Abram adalah orang pertama yang mendapat penglihatan dalam Alkitab. Karena itu Abram adalah orang pertama yang disebut nabi dalam Alkitab (Kej 20:7).

Dia juga orang pertama yang menerima nubuatan, tentang keturunannya kelak Israel akan diperbudah di Mesir.

Firman Allah yang datang kepada Abram adalah “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.”

Kata Jangan takut, pertama kali disebut dalam Alkitab. Jangan takut, artinya berhenti takut.

Tersirat bahwa Abram takut. Setelah mengalahkan Kedarleomer. Takut dia dan sekutunya berbalik dan menyerang Abram.

Atau orang-orang Kanaan yang kafir, yang iri dengan kekuatannya yang semakin besar, mungkin akan menyerang. Jadi rasa takut mulai mengalahkan imannya.

Abram adalah orang yang penuh rasa takut sama seperti kita. Ketika Tuhan suruh dia meninggalkan Haran, ketakutan menahan dia untuk pergi ketempat yang dia tidak ketahui.

Ketika dia tiba ditanah Kanaan, dia juga merasa takut, karena sudah ada penghuninya. Ketika pergi ke Mesir ada rasa takut, sehingga berbohong tentang identitas istrinya.

Ia takut tidak memiliki keturunan. Takut warisannya akan jatuh kepada hambanya Elieser. Jadi dia adalah orang yang penuh rasa takut..

TUHAN berkata berhentilah takut, jangan biarkan ketakutan merusak iman mu.

Karena itu Tuhan datang menghibur dan berjanji akan melindunginya. “Aku lah PERISAIMU..” kata Tuhan. Dan disini pertama kali disebut kata Perisai dalam Alkitab.

Perisai adalah senjata pertahanan. Ada dua jenis perisai dalam teks Ibrani adalah מָגֵן, magen, yang merupakan perisai pendek. Berbentuk bulat, dilapisi kulit.

Kedua, tsinnāh, perisai yang lebih besar dan lonjong yang menutupi sebagian besar tubuh. Tuhan menggunakan perisai menjadi symbol untuk perlindungan-Nya..

Tuhan mengatakan kepada Abram, AKU lah Perisaimu..Tuhan adalah pelindungnya. Sebab itu dia tidak perlu takut.

Kemudian hari, penggunaan kata Tuhan perisai banyak digunakan. Misalnya Debora menggunakan kata perisai yang hilang.

Tidak seorang pun dapat menemukan satu perisai atau tombak di antara 40.000 orang di Israel ( Hak 5:8).

Maksud Debora adalah bahwa mereka tidak memiliki sumber perlindungan terhadap musuh-musuh mereka.

Daud mengatakan, “Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” Mzm 18:2.

Tuhan sendiri adalah jawaban terakhir terhadap setiap rasa takut di hati manusia. Itu sebabnya dia mengatakan AKULAH..kata aku berarti bahwa Tuhan ada secara kekal.

Dia telah ada, sudah ada dan akan terus ada. Alfa dan omega. Karena itu semua ciptaan bergantung pada-Nya. Tuhan berdiri sendiri.

Tuhan tidak membutuhkan kita tetapi kita sangat membutuhkan-Nya.

Tuhan berkata kepada kita, “Aku adalah apa pun yang kamu butuhkan, kapanpun kamu membutuhkan.” Dia adalah Tuhan yang Maha Mencukupi untuk setiap krisis.

Semua orang memiliki rasa takut, Bahkan orang yang tampak berani, jika mereka jujur, akan mengakui adanya ketakutan yang luar biasa pada saat itu.

Ada seorang Jenderal, namanya George Patton di Sisilia. Dia dikenal sebagai pemberani yang tak kenal takut pada perang dunia ke 2. Semua orang memuji dia..

Apa jawaban Paton? Sejujurnya saya penakut. sepanjang hidup saya, saya tidak pernah berada di dekat suara tembakan atau di dekat medan perang tanpa merasa takut sampai telapak tangan tangan saya berkeringat.

Jadi ketakutan manusiawi. Tetapi Tuhan menawarkan solusi terbaik untuk ketakutan kita. Abraham sama manusianya dengan kita.

Meskipun ia memiliki 318 prajurit yang tangguh dan baru saja mengalahkan empat raja yang perkasa, ia tetap mengalami masa-masa ketakutan.

Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Jangan takut.” Kemudian Allah memberi tahu Abraham mengapa ia tidak perlu takut:

“Akulah perisaimu [untuk melindungimu dari kejahatan], upahmu yang sangat besar [untuk memenuhi semua kebutuhanmu].”

Ketakutan kita sering berada pada dua kategori besar. Kita takut bahwa sesuatu akan mencelakai kita atau bahwa kita akan mengalami kekurangan dalam beberapa hal.

Allah berjanji bahwa Ia cukup untuk kedua masalah ini. Pemazmur berbicara tentang perlindungan Allah dari kejahatan ketika ia berkata,

“Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.” ( Mazmur 91:7

Dan dalam mazmur lain kita diyakinkan akan pemeliharaan Allah: ” Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik ” ( Mazmur 34:10

Apa yang mengganggu kita hari ini? Singkirkan ketakutan kita dan percayalah kepada Allah. Allah sanggup melindungi kita dan memenuhi semua kebutuhan kita. Di mana Allah berdiri, ketakutan pun jatuh.

“Janganlah takut, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” Kata lain untuk upah adalah pahala.

Orang beriman memiliki rasa takut, tetapi karena Tuhan perisai kita, kita berjalan terus bersama Tuhan. karena itu ada pahalanya.

Ada dua cara membaca kalimat ini: Allah sendiri adalah pahala. Kedua, Allah memberikan pahala. Jadi, Allah adalah pahala, dan Allah juga memberi pahala kepada Abram.

Kata-kata ini muncul karena Abram menolak pemberian raja Sodom.

Ketika Tuhan berkata, “Janganlah takut, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.”

Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.”

“Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.”

Abram mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi ketakutannya: Secara materi, Abram memiliki kemakmuran yang cukup; apa yang kurang dari dirinya bukanlah kemakmuran, melainkan keturunan.

Oleh karena itu, apalah artinya pahala yang besar ini jika tidak dapat diwariskan? Ahli waris yang dimiliki Abram adalah salah seorang hambanya: Eliezer dari Damsyik.

Perhatikan ketika Abram menjawab Tuhan, “Ya Tuhan ALLAH..” Ibrani: Adonai YHWH. kata Tuhan adalah Adonai yang berarti Tuhan, Tuan, Pemilik.

Dan disini untuk pertama kali kata Adonai dan nama tuhan terdiri dari 4 huruf – YHWH digabungkan/disebutkan.

Adonai menandakan penguasaan atau kepemilikan. Kata ini mengandung makna bahwa Tuhan adalah pemilik, pencipta, dan tuan kita, dan mengharapkan ketaatan kita kepada-Nya.

Abram berserah kepada Tuhan, mempercayai-Nya sepenuhnya, dan menaati perintah-perintah-Nya.

Apakah Tuhan adalah tuan atas hidup Anda? Sudahkah Anda menyerahkan segalanya kepada-Nya?

Apakah Dia Adonai Anda? Jika belum, jadikan Dia tuan Anda hari ini. Firman Tuhan mengatakan bahwa kita adalah milik Tuhan dan harus menyerahkan diri kita kepada-Nya .

Abraham tidak meragukan janji atau kuasa Allah untuk menggenapi perjanjian-Nya bersamanya, meskipun 10 tahun telah berlalu tanpa keturunan.

Dengan Merujuk kepada Eliezer (lahir di rumah Abraham, Kej 15:3 ), Abraham mengusulkan kepada Tuhan agar ia untuk mengangkat Eliezer sebagai ahli warisnya.

Pada zaman itu ada kebiasaan bagi pasangan kaya yang tidak memiliki anak untuk mengangkat seorang hamba dan menjadi ahli waris mereka.

Namun, Allah berjanji kepada Abraham bahwa ia akan memiliki anak sendiri ( Kej 15:4 ).

Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

Dengan meminta Abram melihat bintang dilangit, Abram diminta melihat kemahakuasaan Tuhan, melalui alam ciptaannya.

Salah satu pelajaran dasar dalam “sekolah iman” adalah: Kehendak Tuhan harus digenapi dengan cara Tuhan dan pada waktu Tuhan.

Tuhan tidak mengharapkan Abraham dan Sarah untuk mencari tahu bagaimana cara memiliki ahli waris; yang Ia minta hanyalah agar mereka siap sedia sehingga Ia dapat menggenapi tujuan-Nya di dalam dan melalui mereka.

Apa yang tidak disadari Abraham dan Sarah adalah bahwa Tuhan sedang menunggu mereka untuk “menjadi seperti orang mati” sehingga hanya Tuhan yang akan menerima kuasa-Nya dan menerima kemuliaan.

Adalah baik untuk menyampaikan kekhawatiran Anda kepada Tuhan, bahkan jika apa yang Anda katakan tampaknya menunjukkan ketidakpercayaan atau ketidaksabaran di hati Anda.

Tuhan tidak tuli terhadap pertanyaan-pertanyaan Anda atau tidak peduli dengan perasaan Anda. Ia tidak menegur Abraham; sebaliknya, Ia memberikan jaminan yang ia perlukan.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu (kecemasan) kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” ( 1 Pet 5:7).

Ketika Abram katakan, “apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, “aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak..”

Jelas dari pertanyaan ini betapa Abraham sangat tertekan. Penantian yang lama dan kesepian rohani telah meninggalkan bekas, dan sekarang dia hampir mengeluh ketika dia bertanya pahala apa yang bisa dia dapatkan.

Perhatikan harapannya yang mengecewakan. ‘Karena aku tidak punya anak.’ Sepuluh tahun telah berlalu sejak dia masuk ke Kanaan, dan, meskipun ada janji tentang benih, tidak ada tanda-tanda yang diberikan. Sarah dan dia jauh lebih tua, dan semuanya tampak bertentangan

Abram belum belajar bahwa buah bagi Tuhan tidak dapat dihasilkan melalui cara alami. Jadi disini, Abram menunjuk dirinya sendiri sebagai sumber masalah.

Dia tidak menyalahkan Tuhan, atau Sarai. Dia tidak berkata, “Sarai mandul.” Dia berkata, “Aku tidak punya anak.” Betapa mudahnya mengatasi kesalahan atas kekurangan buah rohani.

Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.

Kata percaya dari kata ibr AMAN. Artinya Menjadi mantap, kokoh. Aman berbicara tentang kepastian. Erti lengan kuat orang tua yang mendukung bayi yang tak berdaya.

Itu berarti bahwa Abraham “membuat dirinya teguh atau aman di dalam Yahveh.”

Abraham percaya kepada Tuhan, yang berarti, “Abraham berkata, ‘Amin, Tuhan!’” berarti “menyandarkan seluruh bebanmu pada-Nya.” Abraham bersandar sepenuhnya pada janji Tuhan dan Tuhan yang berjanji.

iman Alkitab adalah jaminan, kepastian, berbeda dengan konsep modern tentang iman sebagai sesuatu yang mungkin, mudah-mudahan benar, tetapi tidak pasti.

Abram menganggap Tuhan yang membuat janji ini dapat diandalkan dan sepenuhnya mampu mewujudkannya.

Jadi iman Abram adalah pecaya apa yang ia dengar dan pahami secara langsung dari Allah. Kepercayaan kepada janji-janji Allah.

Jadi Allah berjanji, Abram percaya, Tuhan memperhitungkan sebagai kebenaran. Dengan demikian, Abram diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, dan isi imannya adalah janji-janji Allah.

Abram dari ketakutan kepada Iman. Ada 4 prinsip empat yang akan menggerakkan kita dari ketakutan menuju iman.

1.Iman fokus pada Tuhan, bukan pada masalah Anda.

2. Iman bergantung pada waktu Tuhan, bukan waktu Anda sendiri.

3. Iman bertumbuh dengan memercaai Tuhan terlepas dari keadaan Anda.

4.Iman menaati Allah.

Bisakah Tuhan Dipercaya?

Semua yang telah kita pelajari bermuara pada satu pertanyaan sederhana: Dapatkah Tuhan dipercaya untuk melakukan apa yang benar?

Jika penjelasannya ya, maka kita dapat menghadapi hal terburuk yang ditawarkan kehidupan. Jika penjelasannya tidak, maka kita tidak lebih baik daripada orang-orang yang tidak beriman sama sekali.

Terlebih lagi, jika penjelasannya tidak atau jika kita tidak yakin, maka kita sebenarnya tidak beriman.

Saya telah memilih untuk percaya karena saya harus percaya.

Ketika ayah saya meninggal 38 tahun lalu, saya dihadapkan langsung dengan pertanyaan hidup yang paling tidak dapat dijawab.

Saat itu saya tidak tahu mengapa orang yang begitu baik harus meninggal pada usia 45 tahun atau mengapa ia meninggalkan ibu saya dan 7 anak tanpa seorang suami dan seorang ayah.

Saya tidak tahu apa yang sedang dilakukan Tuhan. Selama bertahun-tahun sejak saat itu saya telah belajar banyak hal tentang kehidupan, tetapi saya akui bahwa saya masih tidak mengerti mengapa ayah saya meninggal.

Bagi saya, hal itu tidak lebih masuk akal sekarang daripada sebelumnya. Saya lebih tua dan lebih bijaksana, tetapi dalam satu pertanyaan yang benar-benar penting, saya tidak memiliki jawaban.

Namun, saya telah belajar sejak saat itu bahwa iman adalah pilihan yang Anda buat. Terkadang Anda memilih untuk percaya karena apa yang Anda lihat; sering kali Anda percaya meskipun apa yang dapat Anda lihat.

Saat saya melihat dunia di sekitar saya, banyak hal tetap misterius dan tidak dapat dijawab. Namun, jika tidak ada Tuhan, dan jika Dia tidak baik, maka tidak ada yang masuk akal sama sekali.

Saya telah memilih untuk percaya karena saya harus percaya. Saya benar-benar tidak punya pilihan lain.

Misionaris perintis J. Hudson Taylor membangun China Inland Mission pada tahun 1865, dia ditangkap dan tertekan.

Dalam jurnalnya, ia meringkas kondisi rohaninya sebagai berikut: “Saya tidak dapat membaca. Saya tidak dapat berpikir. Saya tidak dapat berdoa. Tetapi saya dapat percaya.”

Akan ada saat-saat ketika kita tidak dapat membaca Alkitab. Terkadang kita sama sekali tidak dapat memfokuskan pikiran kita kepada Tuhan. Sering kali kita bahkan tidak dapat berdoa.

Namun, pada saat-saat ketika kita tidak dapat melakukan apa pun, kita masih dapat percaya pada tujuan-tujuan Bapa Surgawi kita yang penuh kasih.

Siapa yang tahu apakah kita semua akan berhasil melewati minggu ini? Jika jalan Anda gelap, teruslah percaya.

Kesimpulan dari semua pengalaman Abram terdiri dari 3 kalimat: AMAN IMAN AMIN.

Jika hidup mau aman milikilah iman. Apa yang tuhan katakan sambutlah dengan Amin. Itulah cara mengatasi rasa takut.

(Deddy Panjaitan, disampaikan sabtu 05 Oktober 2024)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *