Benarlah perkataan ini: “Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.” 1 Timotius 3:1

Bagi yang sedang menjabat sebagai pemimpin saat ini apa pun posisinya, lima tahun itu cepat sekali. Jabatan akan berakhir. Akan ada pemilihan kembali.

Demikian pula bagi yang tidak menjabat dan ingin jabatan pemimpin, lima tahun itu terasa lama sekali. Berharap pemilihan tiba dan terpilih pada posisi tertentu.

Bagi yang sedang menjabat, sementara menunggu, (mungkin dengan cemas dan gundah) apakah akan dipilih kembali pada posisi yang sama atau dipilih pada posisi lain yang setara atau lebih tinggi,

Sebagian mungkin masih berharap posisinya tetap aman. Atau naik lebih tinggi. Berharap jangan sampai turun.

Bagi yang masih menjabat dan ingin menjabat lagi, punya persamaan dengan mereka yang belum menjabat tapi ingin jabatan. Sama-sama punya keinginan. Jabatan.

Mereka yang menginginkan dan masih ingin, mungkin ada (tidak semua) yang mulai “kampanye” mempromosikan diri agar dikenal lebih luas dalam berbagai cara. Bisa lobi-lobi atau menggalang tim sukses. Tetapi ada juga yang tidak peduli apakah dia dipilih lagi atau tidak.

Menginginkan jabatan atau posisi tidak salah. Bukan dosa. Ingin menjadi ketua, direktur atau pemimpin dilembaga itu keinginan yang mulia.

Keinginan akan menjadi dosa bila menginginkan jabatan milik orang lain. Tuhan katakan, “Jangan mengingini.” (kel 20:17).

Bila keinginan jabatan adalah untuk berkontribusi lebih luas, lebih banyak, lebih besar dan berkorban lebih banyak, bahkan ingin rugi lebih banyak itu sangat mulia sekali.

Tapi bila keinginan jabatan itu hanya untuk mendapat prestis, keuntungan, tunjangan, kenyamanan dan fasilitas yang lebih banyak, nampaknya keinginan itu perlu dievaluasi.

Sebab jangan sampai nanti, jabatan itu justru membawa kita semakin menjauh dari Sorga dan menjadi kesusahan buat kita. Kita ingin untung malah buntung.

Bahkan setelah menjabat tidak banyak kontribusi yang dapat dilakukan. Bahkan untuk bagian yang menjadi posisinya tidak ada sumbangsih yang signifikan dan tidak ada perubahan..

Ingin jabatan dan tunjangannya, tapi tidak ingin pekerjaannya. Ini berbahaya bagi pekerjaan itu sendiri dan pertumbuhan iman pemimpin tersebut.

Sebab keinginan tanpa komitmen itu seperti perahu tanpa jangkar, ia mengapung ke mana pun angin bertiup, tanpa stabilitas, arah, dan tujuan yang sebenarnya.

Itu juga seperti, menikmati buah tanpa menanam pohonnya. Anda menginginkan hasilnya (buahnya) tetapi tidak bersedia melakukan pekerjaan mendasar (menanam dan menyiram) untuk membuatnya tumbuh.

Akibat yang terjadi dari keinginan tanpa komitmen tersebut adalah ketidakstabilan, baik bagi posisi jabatan tersebut dan bidang pekerjaan yang menjadi bagiannya, terlebih bagi karakternya.

Karena itu, bagi yang ingin menjadi pemimpin kenali alasan yang benar mengapa Anda ingin menjadi pemimpin. Saya akan berikan alasan yang baik keinginan menjadi pemimpin.

Namun kita akan mulai dari alasan yang buruk untuk ingin menjadi pemimpin

1. Untuk mendapat gelar. Tidak sedikit orang yang ingin jadi pemimpin agar mendapat gelar pemimpin. Mereka akan merasa bangga dan puas dengan panggilan sebagai pak ketua atau pak direktur dll.

Fakta bahwa untuk menjadi pemimpin tidak diperlukan gelar. Karena kepemimpinan adalah pengaruh. Kita dapat mempengaruhi tanpa jabatan resmi pemimpin.

Walau pun kita tidak memerlukan gelar untuk menjadi seorang pemimpin, ada orang-orang yang mengejar kepemimpinan karena mereka menginginkan gelar itu.

Mereka berasumsi bahwa dengan memiliki gelar pemimpin, maka menjadikan mereka seorang pemimpin. Faktanya, banyak orang yang memiliki gelar kepemimpinan, namun mereka pemimpin yang buruk.

Jadi diperlukan lebih dari sekadar memiliki gelar kepemimpinan untuk menjadi pemimpin yang efektif. Gelar seharusnya bukan alasan utama untuk ingin menjadi seorang pemimpin.

2. Untuk Jabatan. Ini mirip dengan nomor satu. Ingin jadi pemimpin untuk mendapat jabatan. Fokus utamanya adalah kedudukan.

Menduduki posisi kepemimpinan tidak menjadi kita sebagai pemimpin yang baik. Jabatan bukan alasan untuk ingin menjadi pemimpin yang baik.

Dan mereka yang ingin jabatan akan berupaya mempertahankan jabatan itu, bahkan dengan cara-cara yang tidak sopan.

3. Kekuasaan. Beberapa orang ingin menjadi pemimpin karena mereka ingin kekuasaan. Kekuasaan untuk mengendalikan organisasi dan kekuasaan atas orang lain.

Mereka akan cenderung melakukan kewenangan mereka dengan sewenang-wenang. Apa yang menurut mereka baik harus diikuti tanpa ada ruang diskusi dan negosiasi.

Dan karakter seseorang dapat terlihat jelas saat mereka memegang kekuasaan.

Memiliki kekuasaan mungkin membuat Anda merasa penting, tetapi kekuasaan tidak sama dengan pengaruh. Maka kekuasaan bukan alasan yang tepat untuk keinginan menjadi pemimpin.

4. Uang. Kita semua ingin uang lebih banyak. Siapa yang tidak ingin mendapat tunjangan lebih tinggi? Posisi kepemimpinan biasanya akan mendapat gaji dan tunjangan lebih besar.

Walaupun tidak selalu. Apalagi di organisasi gereja, orientasinya bukan profit. Uang bukan alasan yang baik untuk keinginan menjadi seorang pemimpin.

5. Kebanggaan. Merasa bangga dalam pekerjaan dan tanggung jawab tidak salah. Dan memang kita harus bangga dengan pekerjaan dan pencapaian kita.

Yang saya maksud adalah rasa arogansi atau perasaan bahwa kita lebih baik dari orang lain karena kita terpilih menjadi pemimpin. Sehingga tidak mau mendengar orang lain.

Mendapat jabatan pemimpin tidak membuat kita lebih baik dari orang lain. Kebanggaan bukan alasan yang baik keinginan menjadi pemimpin.

Berikut ini alasan yang baik keinginan untuk menjadi pemimpin.

1. Pengaruh: Kita tahu bahwa kepemimpinan adalah pengaruh. Untuk mempengaruhi tidak perlu jabatan resmi pemimpin.

Namun, dengan jabatan resmi sebagai pemimpin, Anda dapat memiliki pengaruh yang lebih besar, baik untuk organisasi dan orang-orang disekitarnya.

Menginginkan pengaruh yang lebih besar adalah alasan yang baik untuk ingin menjadi seorang pemimpin.

Dampak positifnya adalah Anda dapat membuat terobosan dan perubahan yang besar dalam organisasi dan orang-orang Anda, yang mana dampak itu hanya akan kecil bila anda tidak menjadi pemimpin resmi.

Keinginan untuk mendapatkan dampak yang lebih positif adalah alasan yang kuat untuk ingin menjadi seorang pemimpin.

2. Pertumbuhan: Melangkah ke peran kepemimpinan adalah kesempatan yang baik bagi Anda untuk belajar dan mengembangkan keterampilan baru sambil mengasah keterampilan yang sudah Anda miliki.

Kesempatan untuk pertumbuhan profesional itu penting. Dan kesempatan untuk tumbuh sebagai pribadi sangat berharga.

Pertumbuhan profesional dan pribadi adalah alasan yang kuat untuk ingin menjadi seorang pemimpin.

3. Kemajuan karir: Walau jabatan pelayanan diorganisasi kita bukan jabatan karir, namun melangkah maju dalam karier hingga memiliki kesempatan untuk mengisi peran kepemimpinan di organisasi Anda adalah hal yang menyenangkan.

Memajukan karier adalah alasan yang baik untuk ingin menjadi seorang pemimpin.

4. Tantangan: Anda mungkin menemukan diri Anda mencapai titik dalam pelayanan dan tidak lagi merasa tertantang.

Anda telah melakukan pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun dan, meskipun Anda ahli dalam bidang yang Anda tekuni, Anda menginginkan lebih.

Kepemimpinan sangat menantang dan memberikan kesempatan yang baik untuk mendorong diri Anda. Dan itu bisa sangat bermanfaat.

Menginginkan lebih banyak tantangan adalah alasan yang baik untuk ingin menjadi seorang pemimpin.

Jadi, keinginan menjadi pemimpin adalah cita-cita yang mulia. Rasul Paulus katakan itu adalah pekerjaan yang indah (1 Tim 3:1). Kalau Anda punya alasan lain, mengapa ingin menjadi pemimpin, tambahkan.

Biasanya, kebanyakan orang memiliki lebih dari satu alasan untuk ingin menduduki peran kepemimpinan.

Karena itu milikilah alasan yang baik keinginan untuk menjadi pemimpin.

Bila nanti keinginan Anda belum tercapai. Anda belum terpilih jadi pemimpin resmi, bersyukur lah. Jangan berkecil hati dan patah semangat. Siapa tahu periode berikutnya Anda terpilih.

Bagaimana pun Tuhan punya rencana yang lain bagi Anda ditempat sekarang ini.

Dan bila keinginan Anda tercapai, terpilih menjadi pemimpin, bahkan ditingkat yang lebih tinggi, bersyukurlah, tetapi jangan menjadi sombong. Rendah hatilah..

Matius 20:26-28: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu…”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *