TERKUNCI didalam kamar. Panik. Menangis histeris. Tidak bisa keluar. Tidak tahu bagaimana cara memutar kunci agar pintu terbuka kembali.

Deluna putri saya, saat berumur 2 tahun. Penasaran terhadap apa saja dirumah. Dia ingin mainin apa pun yang bisa diputar dan digerakkan.

Dia lagi senang bermain buka tutup pintu. Pintu kamar ada kuncinya. Dari dalam. Kunci itu dia mainin. Putar kiri dan kanan berkali-kali.

Menarik bagi dia melihat engsel pintu keluar masuk saat kunci diputar kekiri dan kanan. Dia seperti sedang meneliti bagaimana proses engsel ini bisa keluar masuk.

Tidak puas memutar kunci disaat pintu terbuka. Dia melakukan percobaan yang lebih jauh. Dia tutup pintu. Lalu dia putar kunci kekanan. Pintu terkunci.

Dia panik. Dia coba tarik gagang pintu untuk membuka. Tidak bisa. Dia coba memutar-mutar kunci tidak bekerja. Sekarang dia dalam masalah.

Dia menangis histeris. Berteriak kencang. Memberitahu dia terkunci. Mendengar tangisasnnya, sontak saya berlari menuju kamar. Saya tidak bisa masuk.

Mencoba dari jendela kamar. Di tralis. Tidak ada jalan masuk. Cara satu-satunya, bongkar pintu. Tapi sayang. Repot perbaikinya. Tidak jadi bongkar.

Deluna masih terus histeris. Terpenjara dikamar sendiri. tidak bisa keluar. Sambil mengangkat kedua tangannya dia memanggil-manggil, “papi..papi..!!!”

Tidak ingin merusak apa pun, saya ingin masalah ini dia bisa tangani sendiri dengan panduan dari saya.

Pertama, saya minta dia tenang. Tidak panik. Berhenti menangis. Tarik nafas. Percaya sama papi. Selama dia panik, akan sulit mencari jalan keluarnya.

Tidak mudah menenangkan anak umur dua tahun. Semua instruksi dia lakukan. Jangan panik. Tidak menangis. Tarik nafas. Percaya kepada papinya.

Saat dia sudah tenang. Saya minta dia pergi kepintu dan perlahan memutar kunci kekiri. Gagal. Panik lagi. “ Deluna tenang, jangan menangis, coba lagi..” kata saya.

Coba. Gagal lagi. kembali saya berikan instruksi dengan pelan. “Kuncinya putar kekiri dengan kuat,..” sambil saya peragakan cara memutar kekiri.

Akhirnya berhasil. Pintu terbuka. Dia keluar dengan bangga dan berteriak, “Yea..saya berhasil..” Dia begitu gembira merayakan kemenangan. Lepas dari “penjara.”

Sejak saat itu dia belajar satu hal, ketika ada masalah kita harus tenang. Tidak panik. Fokus pada solusi dan percaya kepada Tuhan.

Kenyataannya, selama kita hidup masalah tidak akan berhenti. Dia akan datang silih berganti. Kita akan terjebak dalam satu area. Terjebak karena ulah sendiri atau terjebak dari luar.

Ketika berada dalam kondisi seperti itu, pertama kita harus tenang atau jangan panik. Fokus pada solusi. Bersandar pada hikmat Tuhan.

Masalah adalah bagian penting dalam hidup. Karena itu pemahaman bagaimana menyelesaikan masalah hidup menjadi penting.

Bagaimana mengatasi permasalah hidup? Anda tentu punya rumus-rumusnya, karena sudah ditempa dan telah berpengalaman.

Walau setiap masalah kadang tidak sama solusinya, namun tujuh langkah berikut dapat membantu.

1. Bertanggung jawab atas masalah Anda.

Terkadang ada orang yang menyeret orang lain kedalam masalahnya dengan mengalihkan tanggung jawab penyelesainnya kepada orang lain.

Bukan tidak bisa melibatkan orang lain. Kecuali Anda telah berusaha dan tidak mampu lagi, bolehlah meminta bantuan kepada orang lain.

Bertanggung jawa artinya tidak mengeluh, menyalahkan orang lain, namun memikul masalah itu hingga menemukan solusinya.

2. Hindari Membuat Asumsi.

Setelah mengambuil tanggung jawab penuh atas masalah tersebut, selanjutnya membuat kerangka berpikir untuk mulai menyelesaikan.

Cara terbaik adalah dengan belajar dari pengalaman masa lalu ketika memecahkan masalah dan menerapkannya pada kesulitan sekarang ini.

Tetapi harus diingat, pemecahan masalah masa lalu, belum tentu cocok pada masa kini. Karena itu diperlukan hikmat dan kebijaksanaan Tuhan menghadapinya.

3. Menyelesaikan masalah dengan menghilangkan penyebab masalah.

Menghilangkan masalah hanya bersifat sementara, yang terbaik adalah memperbaiki penyebab masalahnya.

Berfokus pada masalah tanpa memahami penyebab masalah bukanlah solusi jangka panjang. sebab masalah yang sama akan kembali terulang.

4. Carilah pendapat orang lain.

Terkadang sulit untuk menerima bahwa Anda membutuhkan bantuan, namun dengan mencari pendapat orang lain, Anda mungkin mendapatkan perspektif yang belum Anda pertimbangkan.

Mendapatkan pendapat orang lain dapat membantu menghilangkan emosi dari suatu masalah.

5. Sadarilah bahwa sering kali ada banyak solusi untuk suatu permasalahan.

Kebanyakan masalah mempunyai banyak solusi. Langsung memikirkan solusi pertama, dapat membantu Anda menghindari banyak kecemasan, biaya, dan frustrasi.

Bertukar pikiran dengan orang-orang kredibel lainnya, dan merancang berbagai solusi, sering kali bermanfaat.

6 Sadarilah bahwa tidak semua masalah layak untuk diselesaikan.

7. Mulai bekerja memecahkan masalah.

Setelah Anda memiliki rencana yang masuk akal, lakukanlah. Ingat, Anda mungkin tidak selalu mencari solusi terbaik atau rencana terbaik – tetapi mencari rencana terbaik yang tersedia.

Diatas semuanya, mintalah bimbingan Roh Kudus. Bahwa tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya.

Kita perlu berserah sepenuhnya kepada Tuhan, yang memberika kekuatan kepada kita.

Paulus katakan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Filipi 4:13.

Lebih lanjut dikatakan, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” 1 Korintus 10:13.

Bila Anda punya poin yang lain tentang solusi menghadapi masalah, silahkan ditambahkan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *