Teks: Kej. 15:16; Im. 18:24-30; 2 Tim. 4:1, 8; Kel. 23:28-30; Ul. 20:10, 15-18; Yes. 9:6

SABTU: Pendahuluan

Para teroris yang melakukan bom bunuh diri, menghancurkan kelompok yang tidak sepaham dengan mereka, mengaku mendapat perintah dari Tuhan. Dan mereka menganggap sedang melakukan perang suci.

Dalam kitab Yosua kita menemukan adegan dengan konsep perang suci atau Ilahi. Disana ditampilkan TUHAN memerintahkan Israel untuk menghancurkan bangsa lain.

Membunuh dan melakukan genosida..

Timbul pertanyaan, “Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih mengizinkan hal-hal seperti itu?”

Banyak orang mengenal Allah perjanjian lama sebagai sosok yang kejam tanpa belas kasihan.

Allah muncul dalam Perjanjian Lama sebagai Tuhan yang berdaulat atas alam semesta. Maka, segala sesuatu yang terjadi, pasti berkaitan dengan kehendak-Nya, baik langsung maupun tidak langsung.

Termasuk ketika dia memerintahkan untuk menghancurkan bangsa lain.

Nah minggu lalu, kita melihat Allah terlibat dalam konflik yang jauh lebih besar daripada perang yang pernah terjadi dalam sejarah manusia..

Maka, perintah Tuhan untuk menghancurkan kelompok tertentu, hanya dapat dipahami sepenuhnya dalam terang konflik semesta antara TUHAN dan Setan. Kebenaran dan kejahatan.

Minggu ini, kita akan menyelidiki rumitnya perang yang disetujui secara ilahi, batasan dan ketentuan perang ilahi, visi akhir perdamaian yang ditawarkan oleh para nabi Perjanjian Lama, dan implikasi spiritual dari perang semacam itu.

MINGGU: Kejahatan orang Kanaan

Teks: Kejadian 15:16 , Imamat 18:24-30 , Ulangan 18:9-14 , dan Ezra 9:11

TUHAN itu berdaulat atas manusia. Rencana-Nya harus tercapai untuk dunia ini. Tidak ada kuasa yang dapat menghalangi rencana keselamatan-Nya.

Salahs satu rencana-Nya adalah memberikan tanah Kanaan kepada keturunan Abraham, seperti yang telah dijanjikan, maka itu harus tercapai.

Dalam Kejadian 15:16, Allah mengatakan, keturunan keempat akan kembali ke Kanaan. Negeri ini bukan tanah kosong. Ada penduduknya. Banyak. Terdiri dari bangsa-bangsa.

Dalam imamat 18:24-30, Tuhan menyebut mereka orang-orang najis. Karena hidup mereka tidak sesuai hukum TUHAN. Maka Tuhan memanggil Israel untuk tidak meniru kejahatan mereka.

Karena jika mereka meniru praktik-praktik keji dari orang-orang Kanaan, Tuhan akan mengusir mereka dari tanah itu.

Terbukti terjadi pada tahun 722 SM, 10 suku di Utara dibawa ke Asyur dan tahun 586 SM, 2 suku di Yudea dibawa ke Babilonia.

Jadi, mereka harus sadar dan taat hukum. Karena Tuhan mereka adalah Yahweh.

Di Ulangan 18:9-14, diterangkan beberapa perbuatan najis dan keji dari penduduk Kanaan, negeri tujuan mereka sebagai berikut:

  1. Mempersembahkan anak-anak mereka untuk dikorbankan sebagai korban. Ini merujuk pada penyembahan dewa kesuburan, Molokh. Molokh adalah gelar untuk berbagai dewa Kanaan. Imamat 20:2-5 menyebut pengorbanan anak sebagai sesuatu yang sangat menjijikkan.
  2. Petenung. Berusaha menentukan masa depan melalui tanda, firasat, atau kekuatan supernatural.
  3. Peramal. Menentukan masa depan melalui tanda-tanda, pertanda, dan kekuatan supernatural. Nabi-nabi palsu menggunakan ramalan untuk bernubuat atas nama Tuhan.
  4. Sihir. Suatu bentuk ilmu hitam yang berkaitan dengan para penyihir dan setidaknya satu kelas ahli ramalan lainnya
  5. Pemantra. Seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengikat seseorang dengan mantra.
  6. Medium. Berkonsultasi dengan roh orang mati. Orang yang bertanya adalah seorang medium yang mampu berkomunikasi dengan roh orang yang telah meninggal (lih. 1 Sam. 28:3, 8; Yes. 8:19).
  7. Meminta petunjuk kepada orang mati. Mereka mengira orang yang telah meninggal masih memiliki pengaruh terhadap kehidupan orang yang masih hidup.

Ironisnya semua tindakan diatas dibenarkan dalam agama orang Kanaan dan dipraktekkan. Allah memperingatkan umat-Nya, Israel, agar tidak terlibat dalam dunia okultisme.

Semua kegiatan yang berkaitan dengan demonisme harus dihindari.

Peringatan ini berlaku bagi orang percaya saat ini sama seperti di Perjanjian Lama.

Agama Kanaan didasarkan pada kepercayaan bahwa fenomena alam, yang menjamin kesuburan, dikendalikan oleh hubungan seksual antara dewa dan dewi.

Oleh karena itu, mereka melakukan praktik seksual ritual untuk mendorong para dewa dan dewi melakukan hal yang sama.

Konsep ini menghasilkan institusi prostitusi “sakral”, yang melibatkan pelacur pria dan wanita yang terlibat dalam ritual orgiastic.

Jadi, orang Kanaan adalah penyembah seks dan penyembah uang dan kesuksesan.

Maka kalau dewa yang disembah amoral, maka penyembahnya pun demikian. Karena itu semua tidakan mereka sifatnya amoral.

Bukti arkeologis menegaskan bahwa penduduk Kanaan secara teratur mengorbankan anak sulung mereka kepada para dewa, yang sebenarnya adalah setan, yang mereka sembah.

Kerangka-kerangka kecil yang ditemukan hancur dalam guci-guci besar berisi tulisan-tulisan nazar menjadi bukti betapa kejinya agama mereka dan apa artinya bagi banyak anak mereka.

Karena semua hal tersebut Allah mengobarkan ‘perang suci’ untuk memusnahkan penduduk Kanaan.

Namun sebelum mereka dihancurkan, mereka diberi masa percobaan, masa belas kasihan tambahan agar mereka punya waktu untuk menemukan Allah dan karakter-Nya melalui kesaksian para leluhur yang tinggal di antara mereka.

Mereka memiliki kesempatan itu, namun mereka menyia-nyiakannya, dan terus melakukan praktik-praktik keji tersebut, hingga akhirnya Tuhan harus menghentikan mereka.

SENIN: Hakim Agung

Teks: Kejadian 18:25 ; Mazmur 7:11 ; Mazmur 50:6 ; Mazmur 82:1 ; Mazmur 96:10 ; dan 2 Timotius 4:1 , 8.

Apakah perbedaan mencolok antara dewa-dewa Kanaan dengan Yahweh?

Dewa-dewa Kanaan sifatnya amoral. Membenarkan dan menoleransi dosa serta mempraktekkannya. Sedangkan Allah Israel itu kudus dan tidak toleran dengan dosa.

Karena itu, Tuhan menyatakan perang dengan dosa. Apakah dosa Israel atau bukan. Karena mereka tidak kudus hanya karena mereka umat pilihan.

Berikut catatan tentang karakter moral Allah:

  1. Adil (Kej 18:25; Maz 50:6)
  2. Adil dan murka kapan saja (Maz 7:11)
  3. Menghakimi (Maz 82:1)
  4. Mengadili (Maz 96:10)
  5. Hakim yang adil, menghakimi (2 Tim 4:1,8)

Dari ayat diatas kita dapat melihat bahwa Allah disebut sebagai ‘hakim adil yang akan menghakimi,’ dalam konteks perang melawan dosa.

Apakah dosa umat-Nya atau bangsa lain, Allah akan menghakimi. Dia tidak memihak. Tidak pandang bulu.

Bangsa Israel sering menjadi objek penghakiman Tuhan. Sering kali Tuhan tidak berperang untuk mereka, tapi berbalik memerangi mereka dan membiarkan musuh menindas mereka.

Bagaimana cara kita memahami konsep perang suci Ilahi? Memahaminya dalam terang tindakan Allah sebagai hakim.

Apa yang membedakan perang penaklukan Israel dengan perang pada umumnya?

Perang pada umumnya adalah untuk menjajah. Memperluas kekuasaan.

Tujuannya untuk mengendalikan negara lain demi keuntungan ekonomi, eksploitasi sumber daya alam untuk memperkaya diri.

Perang Israel bukan untuk tujuan kekuasaan, kekayaan dan penjahan, melainkan untuk menegakkan keadilan dan perdamaian Allah di negeri itu.

Jadi perang suci Ilahi dapat dipahami dalam konsep Dia sebagai pemerintah dan berdaulat atas alam semesta. Disana Allah digambarkan sebagai pejuang, raja dan hakim.

Apakah komitmen Yahweh sebagai pejuang dan hakim?

Dia bermomitmen untuk menerapkan, menstabilkan, dan memelihara hukum Taurat, yang merupakan cerminan karakter-Nya.

Apakah yang ingin ditegaskan dari gambaran Allah sebagai pejuang, hakim, raja?

Menegaskan bahwa Yahweh tidak akan menoleransi pemberontakan terhadap tatanan yang telah ditetapkan-Nya selamanya.

Apa poin utama dari perang suci Ilahi?

Untuk penegakan kembali keadilan dan perdamaian, yang telah rusak oleh karena dosa dan kejahatan.

Pada akhirnya, menghakimi dan berperang, atau menegakkan keadilan, adalah hal yang sama jika Allah adalah subjek tindakan tersebut.

SELASA: Perampasan atau Pemusnahan?

Teks: Keluaran 23:28-30 ; Keluaran 33:2 ; Keluaran 34:11 ; Bilangan 33:52 ; dan Ulangan 7:20 dengan Keluaran 34:13 ; Ulangan 7:5 ; Ulangan 9:3 ; Ulangan 12:2-3 ; dan Ulangan 31:3-4 .

Apakah tujuan awal Allah terhadap orang Kanaan?

Tujuan awal adalah menghalau mereka, bukan memusnahkan. Mencabut hak milik mereka atas Kanaan. Itu diungkapkan dibeberapa ayat berikut ini:

Kel 23:28 – Menghalau orang Hewi, orang Kanaan dan orang Het.

Keluaran 33:2; Kel 34:11 – Menghalau orang Kanaan, orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus.

Bilangan 33:52 – menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu.

Ulangan 9:3 – Menghalau dan membinasakan mereka dengan segera

Apa yang digambarkan dalam ayat-ayat diatas?

Israel terlibat dalam pertempuran untuk menaklukan Kanaan. Itu terlihat dari istilah-istilah yang digunakan: perampasan, pengusiran, dan pelepasan yang dilakukan terhadap penduduk Tanah Perjanjian.

Istilah kedua yang digunakan adalah penghancuran. Mereka diperintahkan menghancurkan benda mati, seperti benda-benda penyembahan berhala dan benda-benda yang dikhususkan untuk dihancurkan.

Ulangan 7:5 – mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis.

Ulangan 12:2-3 – Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan..

Mengapa semua tempat dan barang-barang itu harus dihancurkan?

Karena tempat-tempat penyembahan berhala dan altar-altar merupakan pusat utama agama orang Kanaan.

Jadi perang suci fokusnya kepada budaya dan masyarakat Kanaan yang rusak.

Apa tujuannya semua orang dan tempat penyembahan mereka dihancurkan? Agar mereka tidak tercemar dengan budaya rusak orang Kanaan.

Apakah ada yang selamat dari kehancuran? Ada, mereka yang mengakui kedaulatan Allah sebelum atau selama penaklukan. Misalnya keluarga Rahab (Yosua 2:9-14) dan orang Hewi di Gibeon (Yos 11:19-20).

Jika tujuan awal penaklukan adalah untuk mengusir atau menghalau penduduk Kanaan, mengapa rang Israel harus membunuh begitu banyak orang?

Karena mereka mengeraskan hati mereka seperti Firaun. Menolak kasih karunia Tuhan yang ditawarkan kepada mereka.

Maka mereka dihancurkan dengan budaya mereka, yang telah menyatu dengan mereka. Jadi ini bukan kehancuran yang sewenang-wenang.

Aplikasi:

Kita mungkin memiliki karakter dan kebiasaan yang buruk, mari kita mencabut dan memusnahkannya. Jika tidak, kita akan binasa sendiri karenanya.

RABU: Pilihan Bebas

Teks: Ulangan 20:10 , 15-18 ; Ulangan 13:12-18 ; dan Yosua 10:40.

Apakah ada Batasan kehancuran dalam perang yang melibatkan Israel? Ada, dibatasi oleh hukum perang.

Kita bisa lihat dari kata Ibrani cḥerem, untuk menggambarka umat manusia dalam perang. Istilah ini merujuk pada apa yang “dilarang”, “dikutuk”, atau “dipersembahkan untuk pemusnahan”.

Istilah ini sering merujuk pada penempatan manusia, hewan, atau benda mati secara menyeluruh, yang dalam peperangan mereka ikut hancur.

Konsep dan praktik cḥerem sebagai pemusnahan total suatu umat dalam perang perlu dipahami dalam terang konflik Yahweh dengan kekuatan jahat kosmik, di mana karakter dan reputasi-Nya dipertaruhkan.

Dalam perang Tuhan melawab orang-orang jahat, tidak ada posisi netral. Kita hraus memihak salah satu. TUHAN atau Setan.

Memihak Tuhan menuju hidup kekal. Memihak Iblis menuju kematian kekal.

Apakah yang digambarkan melalui pemusnahan total bangsa lain? Penghakiman Allah yang adil terhadap dosa dan kejahatan.

Apakah semua tindakan pemusnahan dilakukan oleh Tuhan sendiri? tidak

Allah secara unik mendelegasikan pelaksanaan sebagian penghakiman-Nya kepada bangsa pilihan-Nya, Israel kuno.

Namun pemusnahanya berada dibawah kendalai Tuhan. Terbatas pada priode tertentu.

Dan kebinasaan orang-orang Kanaan karena mereka konsisten memberontak kepada Tuhan tujuan Allah. Tidak pernah bertobat.

Jadi, keputusan Allah untuk membinasakan mereka bukanlah keputusan yang sewenang-wenang maupun nasionalistis.

Tapi karena pilihan bebas mereka.

Bagaimana kalau orang Israel sendiri memutuskan untuk menjalani gaya hidup yang sama dengan orang Kanaan?

Mereka pun juga akan dihancurkan. Mereka dapat kehilangan status istimewa mereka melalui pemberontakan.

KAMIS: Pangeran Perdamaian

Teks: Yes. 9:6 , Yes. 11:1-5 , Yes. 60:17 , Hos. 2:18 , Mikha 4:3 .

Selain perang yang melibatkan Israel, apakah tema lain selain tema perang? Ya ada, yaitu visi masa depan dari era Mesianik yang damai.

Tema itu dicatat dalam beberapa referensi Alkitab berikut:

  1. Mesias digambarkan sebagai “Raja Damai” ( Yes. 9:6 ). Ia akan mengantar masuk kerajaan yang didominasi oleh kedamaian..
  2. Disana singa dan domba akan merumput bersama ( Yes. 11:1-8 ),
  3. Tidak akan ada kehancuran atau kerusakan ( Yes. 11:9 ), dan
  4. Di mana kedamaian akan berkuasa ( Yes. 60:17 ) dan
  5. Mengalir seperti sungai ( Yes. 66:12 ).

Dalam 2 Raja-raja 6:16-23, apakah tujuan Allah bagi Umat-Nya dan manusia? Makan dan minum bersama. Artinya akur dan berdamai. Tidak ada konflik.

Elisa sebenarnya bisa membunuh tentara Aram. Namun dia tidak melakukannya. Ia memperlihatkan kepada mereka cita-cita tertinggi, perdamaian, yang selalu menjadi keinginan Tuhan bagi umat-Nya.

Elisa sepenuhnya menyadari keunggulan tentara tak terlihat yang mengelilingi musuh ( 2 Raja-raja 6:17 ).

Perang kosmik yang mempengaruhi planet kita tujuan akhirnya adalah penebusan. Bukan konflik abadi tetapi perdamaian abadi.

Karena kekerasan melahirkan kekerasan ( Matius 26:52 ), perdamaian melahirkan perdamaian.

Kisah itu diakhiri dengan menyatakan bahwa “orang Aram tidak datang lagi untuk menyerbu tanah Israel” ( 2 Raja-raja 6:23 , ESV).

Apakah Anda ingin menjadi agen perdamaian? Kalau ya, apa pun konflik yang kita hadapi mari kita menjadi agen perdamaian. Jangan menjadi agen konflik.

JUMAT: Kesimpulan

Perbuatan bangsa Kanaan adalah kekejian yang telah menajiskan tanah dan penduduknya ( Im. 18:27, 9-30 ).

Allah membenci dosa karena dosa menghancurkan kehidupan orang berdosa. Hal ini menjadi dasar penghakiman Allah terhadap bangsa-bangsa ini.

Murka Allah ditujukan terhadap dosa, bukan terhadap orang berdosa (lihat Roma 1:18 ).

Dosa itu menular dan merajalela. Dosa tidak hanya memengaruhi orang yang berdosa, tetapi juga semua orang yang bersentuhan dengannya ( Bil. 33:55, 56; Kel. 23:33; 34:11, 15, 16 ).

Yahweh menyatakan perang melawan dosa, di mana pun dosa itu ditemukan, baik di Israel maupun di antara orang Kanaan.”

Karena penghakiman ini, Tuhan sering dituduh melakukan genosida. Namun, ada beberapa perbedaan utama:

Penghakiman ini dilaksanakan di bawah pengawasan langsung Tuhan.

Tuhan mengetahui hasil akhirnya.

Tuhan mengasihi mereka yang dihancurkan-Nya.

Tujuan awal Tuhan bagi orang Kanaan bukanlah pemusnahan, melainkan penghalauan/mengusir ( Bilangan 33:51-53 ).

Namun Allah masih memberikan bangsa-bangsa dan individu-individu kesempatan untuk bertobat (lihat Kej. 15:16; Ul. 2:4, 5; Yos. 2:12-19 )

Tuhan tidak memulai kontroversi di surga, tetapi Dia berkomitmen untuk menyelesaikannya.

Dalam dunia yang penuh dosa, kebebasan tidak datang tanpa perjuangan.

Namun, tujuan utama Tuhan dalam peperangan adalah perdamaian, bukan kehancuran (bandingkan Yoel 3:10 dengan Mikha 4:3 ).

Allah lambat murka. Ia memberikan bangsa-bangsa yang jahat masa percobaan agar mereka dapat mengenal-Nya dan karakter-Nya.… Semua bangsa memiliki masa percobaan.

Mereka yang melanggar hukum Allah akan semakin jahat. Anak-anak akan mewarisi semangat pemberontakan orang tua mereka dan berbuat lebih buruk daripada ayah mereka sebelum mereka sampai murka Allah menimpa mereka. Hukuman itu tidak ringan karena ditangguhkan. 2 SM 1005.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *