“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Mazmur 103:1-2

KROYA, ladang misi pertama saya. Februari tiba disana. Diantar pendeta Hutauruk dan Alm Bapak Dadang. Disambut oleh Alm, Bpk Sapardi, TSPM yang saya gantikan.

Tempat tinggal saya rumah joglo. Luas. Satu rumah dengan pemilik. Dipisah dinding kayu. Saya bagian depan. Dia dibagian belakang.

Pemilik rumah nenek tua. Hidup sendiri. Tidak punya anak. Umur sekitar 70 tahun. Mbah Parta namanya. Mungkin sekarang sudah meninggal.

Bagian rumah yang saya tinggali cukup luas. Ada kursi dan lemari pemilik rumah. Hanya ada 1 kamar. Kamar itu ditempati bapak Sapardi.

Beliau aslinya penginjil literatur. Umur sekitar 63 tahun. Duda anak satu. Anak angkat. Sudah menikah.

Diruang depan ada tempat tidurnya. Tapi tidak ada Kasur. Cuma papan beralas tikar. Saya tidur disana.

Untuk dapur satu dengan pemilik. Cukup luas. Lantai tanah. Ada dua meja. Satu untuk pemilik. Satu untuk saya. Masing-masing meja tempat menaruh makanan.

Sederet dengan dapur ada ruang terbuka, masih lantai tanah, bersebelahan dengan ruang tempat tinggal saya. Disini biasa orang nongkrong.

Hal pertama yang membuat saya terkejut tinggal dirumah itu, pemilik rumah, mbah Parta suka meludah dilantai dari tanah itu.

Pun waktu saya sedang duduk didapur dengan dia sambil ngobrol, tidak sungkan meludah. Ditambah lagi kalau dia makan sirih, meludahnya semakin sering.

Saya jijik awalnya. Lama-lama jadi terbiasa. Ternyata bukan hanya dia yang seperti itu. Simbah putri dan kakung, yang sering dolan kerumahnya, punya kebiasaan yang sama.

Bahkan ibu-ibu yang terlihat masih muda juga seperti itu. Meludah dilantai tanah. Suatu kali waktu duduk sama-sama, saya bertanya, “ Mbah mengapa meludah dilantai?”

“Wes biasa, rapapa..” jawabnya dalam bahasa jawa banyumasan. “Tapi itu tidak sehat mbah..”Itukan menurutmu..” Jawabnya lagi..

Wess, saya tidak mau ajak simbah berdebat. Wes ben..biarin saja. Nampak itu kebiasaan banyak orang disana.

Hal kedua yang membuat saya terkejut, simbah tiap sore membakar kemenyan. Apalagi kalau jumat kliwon, dia bakar lebih banyak. Wanginya terasa diseluruh rumah.

Ternyata desa dimana saya tinggal. Namanya desa Pekuncen, dihuni mayoritas aliran kejawen. Mirip Hindu. Setiap hari bakar kemenyan dan membuat sesajen.

Uniknya lagi didesa itu, hampir setiap hari ada saja orang yang mengantar makanan kerumah. Walau tidak kenal mereka datang dan mengantarkan besek. Isinya nasi, ayam, tempe, sayur.

Saya akhirnya paham, orang-orang kejawen itu senang bersyukur. Mereka wujudkan dengan pemberian makanan kepada orang-orang sekampung.

Untuk apa saja mereka bersyukur. Beli motor ada syukuran. Membuat fondasi rumah ada syukuran. Rumah sudah jadi, bersyukur. Anak tamat sekolah bersyukur.

Anak berangkat keluar negeri jadi TKW bersyukur. Panen apalagi. Dapat beras. Dan yang paling spektakuler adalah bila tiba hari sedekah bumi.

Sedekah bumi adalah perayaan ucapan syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang telah mereka tuai. Biasanya perayaan itu berlangsung hampir seminggu.

Saya ikut dua kali. Setiap keluarga membuat tumpeng. Semua tumpeng dikumpulkan jadi satu. Warga berkumpul dihalaman rumah yang paling luas. Membentuk lingkaran.

Diatas daun pisang, tumpeng-tumpeng dijejer dengan lauk-pauknya. Sebelum makan, tua-tua kampung akan menyampaikan kata-kata ucapan syukur. Setelah itu makan bersama.

Makanan yang tidak habis dapat dibawa pulang. Saya juga bawa pulang. Lumayan untuk sarapan pagi.

Minggu pertama di Kroya, berkenalan dengan orang-orang kampung. Kiri-kanan. Depan-belakang.

Saya punya tetangga yang unik. Persis sebelah rumah. Ada salonnya. Dia perkenalkan dirinya bernama Salamah. Itu nama perempuan. Tapi dia bukan perempuan.

Dia laki-laki transgender. Tapi dia lebih senang dipanggil sebagai mba (Panggilan untuk perempuan).

Waktu Salaman, dia mengerdipkan matanya kepada saya dan dengan jari tengahnya dia glitik telapak tangan saya. Kanget, saya buru-buru pulang. Seperti tidak beres ini orang..

“Baru kenalan, ko cepet-cepet pulang mas..” Sahutnya dengan suara tenor..” Anu mba, saya ada acara..” Sahut saya..

Belakangan saya tahu, bahwa “mba” ini senang dengan laki-laki. Apalagi dengan pria berbadan kekar dan tegap.

Badan saya memang sedikit tegap dan kekar saat itu. Apalagi dengan potongan rambut cepak ala tentara. Saya bisa melihat dari matanya bagaimana dia menyukai saya..

Setiap hari dia suka mengintip dari balik jendela kaca rumahnya. Saya tahu, karena saya juga sering melihatnya. Bila saya ada didepan rumah. Dia akan panggil-panggil dengan senyuman yang manja..

Saya merinding melihatnya. Tak terbayang, disukai laki-laki. Harus sabar ini cobaan. Merasa terganggu, saya akhirnya beranikan diri menegur. Gangguan berkurang sedikit.

Aneh memang dirumah itu. Dia punya keponakan. Namanya Acong. Saya kira laki-laki. Karena tampilannya laki-laki. Rambutnya cepak. Suaranya juga suara laki-laki.

Saya dan dia sering ngobrol ngalor-ngidul diteras rumah. Belakangan saya tahu, kalau dia perempuan.

Ada seorang bernama pak Kadar, datang kerumah menenui saya. “ Hati-hati dengan orang itu..” katanya. “Kenapa dengan orang itu pak..?” Tanya saya

“Dia itu perempuan. Dia bukan laki-laki. Dia senang dengan perempuan. Istri saya telah diambil sama dia..” sahutnya..” Sekarang saya dan istri sudah pisah karena dia..” Lanjutnya..

Saya tanyakan tetangga lainnya, mereka meng-iya-kan kalau Acong aslinya perempuan. Cerita pak Kadar itu benar.

Semakin lama dan dalam saya mengenal kampung itu, semakin banyak memang keunikan. Rata-rata disana pemilik Salon adalah transgender.

Selain itu banyak orang-orang, pria dan wanita yang bekerja jadi TKI keluar negeri. Karena alasan ekonomi. Maka tidak heran, disana rumah-rumah banyak yang mewah.

Namun kosekuensi dari semuanya, banyak hubungan suami istri kandas. Tingkat perceraian tinggi. Saat istri bekerja diluar negeri, suami main gila dengan perempuan lain.

Atau sebaliknya saat suami kerja keluar negeri, istri yang main gila dengan laki-laki lain. Akibatnya disana banyak duda dan janda kembang. Kebanyakan masih muda-muda.

Bahkan tidak sedikit TKW pulang dengan perut membuncit. Hamil dari majikan atau orang-orang disana. Maka tidak sulit menemukan anak-anak berwajah timur tengah disana.

Suatu kali seorang ibu datang kerumah. Membawa tiga anaknya. Masih kecil-kecil. Yang paling besar SMP kelas 1. Paling kecil TK. Suaminnya orang batak. Mereka sudah pisah.

Dia curhat. 4 tahun yang lalu dia pergi ke Singapura untuk kerja. Dia tinggalkan anak bungsunya yang masih bayi.

Semua demi perbaikan ekonomi untuk masa depan anak-anaknya. Setiap bulan dia kirimi uang. Harapannya dapat ditabung untuk beli tanah dan uang sekolah anak-anak.

Namun selama 4 tahun itu, suaminya main gila dengan perempuan lain dengan uang kiriman istrinya dari Singapura.

Saat dia kembali dari Singapura, dia sudah senang bakal beli tanah hasil tabungan selama 4 tahun. Namun begitu tiba dirumah. Tidak ada apa-apa. Semua uang lenyap buat foya-foya suaminya.

Anak-anaknya pun terlantar. Tidak terurus. Kurus-kurus dengan baju kumal. Dia menangis meraung-raung. Karena jerih payahnya 4 tahun tidak jadi apa-apa. Akhirnya dia ceraikan suaminya.

Banyak perempuan bernasib sama. Mereka datang kerumah. Minta petunjuk. Jadilah saya konsultan pernikahan dadakan.

Untungnya mereka percaya sama saya, sehingga mereka senang didoakan dan beberapa belajar Alkitab.

Namun yang menarik seorang perempuan lain, yang dibawa ibu Tasyah untuk konsultasi, akhirnya belajar Alkitab dan tiap sabat ikut kebaktian. Hampir dibaptis. Namun tidak jadi karena takut keluarga.

Perlawatan saya kemasyarakat sekitar akhirnya banyak kepada orang-orang yang bercerai. Dan rupanya itu adalah Latihan/persiapan untuk menghadapi masalah rumah tangga dikemudian hari dijemaat Banyumas, Kalikidang dan Purwokerto.

Oh ya, ibu yang datang membawa tiga anaknya kerumah, akhirnya menitipkan anaknya kepada saya, karena dia mau kerja lagi keluar negeri. Mereka tinggal dirumah neneknya.

Tapi saya memantau mereka hampir tiap hari. Namun anaknya yang besar tinggal sama saya. Dia belajar dan akhirnya dibaptis saat saya sudah di Banyumas.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *