Jawaban terhadap Klaim “One True God” (OTG) dan Implikasinya bagi Umat Akhir Zaman
Oleh Pdt. J.F. Manullang
Di tengah lanskap teologis akhir zaman yang kompleks, muncul berbagai tantangan terhadap pilar-pilar iman Kristen yang telah lama berdiri kokoh.
Salah satu tantangan yang signifikan datang dari gerakan yang dapat diidentifikasi sebagai “One True God” (OTG).
Gerakan ini, meskipun sering kali mengklaim berpegang pada Alkitab semata, mengajukan sebuah klaim yang secara fundamental menata ulang natur Keallahan: bahwa hanya Allah Bapa yang adalah Allah sejati, sementara Yesus Kristus hanyalah utusan yang keluar dari Bapa yang lebih rendah, dan Roh Kudus adalah sekadar kuasa atau pengaruh impersonal yang berasal dari Bapa dan Anak.¹
Klaim ini seringkali berpusat pada penafsiran literal atas Yohanes 17:3.
Esai ini akan menyajikan sebuah argumen induktif yang logis dan tidak terbantahkan, berdasarkan analisis-sintesis dari sumber-sumber teologis, biblika, dan disiplin ilmu terkait yang luas, untuk meneguhkan doktrin Trinitas yang ortodoks.
Lebih dari sekadar perdebatan doktrinal, esai ini akan menunjukkan bahwa pemahaman yang benar tentang Keallahan—sebagai satu Allah dalam tiga Pribadi yang setara, kekal, dan esa—memiliki implikasi soteriologis, etis, dan eskatologis yang mendalam dan tak terhindarkan bagi umat Tuhan yang hidup di akhir zaman.
Analisis Kritis terhadap Klaim OTG: Yohanes 17:3
Ayat kunci yang menjadi benteng utama bagi teologi OTG adalah Yohanes 17:3:
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar (ton monon alēthinon Theon), dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus (hon apesteilas Iēsoun Christon).”²
Pada pandangan pertama, ayat ini seolah-olah menciptakan sebuah dikotomi yang jelas: Bapa adalah “satu-satunya Allah yang benar,” dan Yesus adalah “yang diutus.”
Namun, sebuah penafsiran yang dangkal dan terisolasi dari konteks kanoniknya mengabaikan kedalaman teologi Yohanes dan keseluruhan kesaksian Alkitab.
Pertama, konteks kalimat tersebut adalah sebuah doa agung dari Anak kepada Bapa dalam peranan-Nya sebagai Imam Besar dan Penebus.
Dalam ekonomi keselamatan, Anak secara sukarela mengambil peran sebagai “yang diutus” (subordinasi fungsional), namun ini tidak meniadakan kesetaraan-Nya dalam natur dan esensi (kesetaraan ontologis).³ Seperti yang dicatat oleh D.A. Carson, subordinasi dalam peran tidak pernah berarti inferioritas dalam natur.⁴
Kedua, penggunaan kata “satu-satunya” (monon) di sini berfungsi untuk membedakan Allah yang benar dari ilah-ilah palsu dalam politeisme dunia Yunani-Romawi, bukan untuk membedakan Bapa dari Anak di dalam Keallahan itu sendiri.⁵ Ini adalah penegasan monoteisme alkitabiah, bukan unitarianisme.
Ketiga, dan yang paling krusial, ayat ini menempatkan pengenalan akan Bapa dan pengenalan akan Yesus Kristus pada level yang sama sebagai syarat untuk memperoleh hidup kekal.
Tidak ada nabi atau malaikat, betapapun agungnya, yang pernah ditempatkan pada posisi sejajar dengan Yahweh sebagai sumber kehidupan kekal.⁶
Penempatan ini sendiri merupakan sebuah klaim Kristologis yang sangat tinggi.
Injil Yohanes harus dibaca secara keseluruhan. Klaim dalam Yohanes 17:3 tidak dapat diadu atau dibenturkan dengan proklamasi Tomas dalam Yohanes 20:28, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Ho Kyrios mou kai ho Theos mou), atau dengan prolog agung dalam Yohanes 1:1, “Firman itu adalah Allah” (kai Theos ēn ho Logos).⁷
Sebaliknya, ayat-ayat ini bersama-sama melukiskan misteri Keallahan yang berusaha dijelaskan oleh doktrin Trinitas.
Kesaksian Alkitab yang Tak Terbantahkan
Kesaksian Alkitab tentang keilahian penuh Yesus Kristus begitu luas dan mendalam sehingga menolak klaim OTG secara komprehensif.
1. *Kesaksian Perjanjian Lama:
Jauh sebelum inkarnasi, Perjanjian Lama memberikan bayangan tentang pluralitas di dalam Keallahan. Frasa seperti “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kejadian 1:26) dipahami oleh banyak teolog, termasuk Gerhard F. Hasel, bukan sekadar sebagai *plural of majesty, tetapi sebagai indikasi awal dari dialog internal di dalam Keallahan.⁸
Sosok misterius “Malaikat TUHAN” (mal’ak YHWH), yang berbicara sebagai Allah, menerima penyembahan, dan memiliki nama TUHAN di dalam-Nya (Keluaran 23:21), sering kali dipahami sebagai penampakan pra-inkarnasi Kristus (Kristofani).⁹
Nubuat-nubuat Mesianik secara eksplisit mengatribusikan gelar ilahi kepada Mesias yang akan datang, seperti “Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal” (‘El Gibbor, ‘Avi-‘Ad) dalam Yesaya 9:5, dan asal-usul-Nya yang “sejak purbakala, sejak dahulu kala” (miqqedem mime ‘olam) dalam Mikha 5:1.¹⁰
2. *Kesaksian Perjanjian Baru:
Perjanjian Baru secara terang-terangan dan berulang kali menegaskan keilahian Kristus. Ia disebut “Allah” secara langsung (Yohanes 1:1, 18; Roma 9:5; Titus 2:13; Ibrani 1:8; 2 Petrus 1:1).¹¹
Dalam Titus 2:13, konstruksi tata bahasa Yunani yang dikenal sebagai *Granville Sharp Rule menyatukan “Allah yang Mahabesar” dan “Juruselamat kita” sebagai satu Pribadi yang sama, yaitu Yesus Kristus.¹²
Ia memiliki atribut-atribut ilahi yang tak dapat dialihkan: kekekalan (Yohanes 1:1; Wahyu 22:13), kemahatahuan (Yohanes 21:17), kemahahadiran (Matius 28:20), dan kemahakuasaan (Matius 28:18).
Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah: menciptakan (Yohanes 1:3; Kolose 1:16), menopang alam semesta (Ibrani 1:3), mengampuni dosa (Markus 2:5-7), dan akan menghakimi dunia (Yohanes 5:22).
Yang terpenting, Ia menerima penyembahan (proskuneō), suatu tindakan yang dalam konteks Yahudi-Kristen secara ketat hanya diperuntukkan bagi Allah (Matius 14:33; 28:9, 17; Yohanes 9:38; Wahyu 5:12-14).¹³
Kesaksian Alkitab tentang Keilahian Roh Kudus
Teologi OTG yang mereduksi Roh Kudus menjadi sekadar “kuasa” atau “pengaruh” impersonal juga bertentangan dengan kesaksian Alkitab yang melimpah.
1. Kepribadian Roh Kudus:
Alkitab secara konsisten menggambarkan Roh Kudus dengan atribut dan tindakan personal. Ia memiliki akal budi (1 Korintus 2:10-11), perasaan (Ia dapat “berdukacita,” Efesus 4:30), dan kehendak (1 Korintus 12:11). Sebuah kekuatan impersonal tidak dapat berdukacita atau memiliki kehendak.
Ia melakukan tindakan-tindakan personal: Ia mengajar (Yohanes 14:26), bersaksi (Yohanes 15:26), memimpin (Roma 8:14), memerintah (Kisah Para Rasul 13:2), dan bersyafaat (Roma 8:26). Ia dapat didustai (Kisah Para Rasul 5:3), dihujat (Matius 12:31), dan ditentang (Kisah Para Rasul 7:51).¹⁴
Ellen G. White dengan tegas menyatakan, “Roh Kudus adalah Pribadi, karena Ia bersaksi dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah… Ia haruslah Pribadi ilahi, kalau tidak Ia tidak dapat menyelidiki rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam pikiran Allah.”¹⁵
2. Keilahian Roh Kudus:
Roh Kudus tidak hanya Pribadi, tetapi Pribadi ilahi. Dalam Kisah Para Rasul 5:3-4, Petrus menyamakan tindakan mendustai Roh Kudus dengan mendustai Allah.
Ia ditempatkan dalam kesetaraan mutlak dengan Bapa dan Anak dalam formula baptisan agung: “baptislah mereka dalam nama [tunggal, *eis to onoma] Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19).
Penggunaan “nama” tunggal untuk tiga Pribadi adalah salah satu argumen terkuat untuk kesatuan dan kesetaraan di dalam Keallahan.¹⁶
Demikian pula dalam berkat rasuli di 2 Korintus 13:13. Roh Kudus juga memiliki atribut-atribut ilahi seperti kekekalan (Ibrani 9:14) dan kemahahadiran (Mazmur 139:7-10).
Implikasi bagi Umat Akhir Zaman
Menerima atau menolak doktrin Trinitas bukanlah sekadar latihan intelektual; ia memiliki konsekuensi yang sangat besar dan praktis bagi iman, kehidupan, dan misi gereja di akhir zaman.
1. Implikasi Soteriologis (Keselamatan):
Jika Yesus bukan Allah yang sejati, maka pengorbanan-Nya di kayu salib tidaklah cukup untuk menebus dosa umat manusia. Pelanggaran terhadap hukum Allah yang tak terbatas menuntut sebuah pendamaian yang tak terbatas pula.
Hanya Pribadi yang Ilahi yang dapat memberikan korban yang nilainya tak terhingga untuk memuaskan tuntutan keadilan Allah dan mendamaikan dunia dengan diri-Nya.¹⁷
Jika Kristus hanya utusan Bapa yang bukan Ilahi tetapi hanya ciptaan, kematian-Nya hanyalah kematian seorang martir, bukan pengorbanan Penebus. Injil kehilangan kuasanya. Keselamatan itu sendiri menjadi goyah.
2. Implikasi Etis dan Sosiologis:
Doktrin Trinitas menyediakan fondasi tertinggi bagi etika Kristen. Allah dalam diri-Nya adalah sebuah komunitas kasih yang saling memberi (perichoresis).¹⁸
Keallahan adalah persekutuan sempurna antara kesatuan dan keragaman. Model ilahi ini menjadi cetak biru bagi relasi manusia: dalam gereja, keluarga, dan masyarakat.
Ia mengajarkan kesetaraan, saling menghormati, dan kasih yang berkorban. Sebaliknya, model OTG tentang Allah yang monarkis dan soliter dapat secara tidak sadar mendorong struktur yang hierarkis, otoriter, dan individualistis.
Gambar Allah (Imago Dei) di dalam diri kita adalah gambar dari Allah yang relasional, yang menjelaskan kerinduan mendalam kita akan komunitas.¹⁹
3. Implikasi Psikologis dan Eksperiensial:
Allah Trinitas bukanlah sebuah Monad yang jauh dan tak terjangkau, melainkan Allah yang dalam natur-Nya adalah kasih dan persekutuan.
Kita tidak hanya diselamatkan *oleh Dia, tetapi kita diundang ke dalam persekutuan-Nya (1 Yohanes 1:3). Ini memberikan penghiburan dan keamanan psikologis yang luar biasa.
Roh Kudus bukanlah “sesuatu,” melainkan “Seseorang”—Sang Penghibur (Parakletos) yang dijanjikan, yang tinggal di dalam kita, menuntun kita, dan menguatkan kita dalam perjuangan sehari-hari.²⁰
Mengalami Roh Kudus sebagai kekuatan impersonal akan merampas keintiman dan bimbingan pribadi yang sangat dibutuhkan oleh umat percaya.
4. Implikasi Eskatologis (Akhir Zaman):
Ini adalah implikasi yang paling genting. Kitab Wahyu menggambarkan konflik terakhir berpusat pada masalah penyembahan (Wahyu 13-14).
Pertanyaannya adalah: siapa yang kita sembah? Doktrin Trinitas mendefinisikan objek penyembahan yang benar: Allah Sang Pencipta, yang adalah Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Menolak keilahian Kristus dan Roh Kudus pada hakikatnya adalah mengubah objek penyembahan dan membuka pintu bagi penipuan rohani.
Tulisan-tulisan kenabian memperingatkan tentang “teori-teori baru yang palsu” dan “ajaran-ajaran sesat” yang akan muncul pada akhir zaman untuk merongrong pilar-pilar iman yang paling fundamental.²¹
Klaim OTG, dengan serangannya terhadap natur Allah, sangat cocok dengan deskripsi penipuan omega yang akan mengguncang gereja sisa.
Kuasa untuk memberitakan Pekabaran Tiga Malaikat dengan efektif tidak datang dari kekuatan manusia, tetapi dari baptisan Roh Kudus (Kisah 1:8), Pribadi Ilahi yang dijanjikan.
Kesimpulan
Klaim kaum “One True God” yang menyatakan bahwa hanya Bapa adalah Allah, sementara Yesus adalah utusan dan Roh Kudus adalah kuasa, meskipun tampak sederhana dan didasarkan pada ayat-ayat tertentu, pada akhirnya merupakan sebuah dekonstruksi iman Kristen yang gagal memahami bobot dan luasnya kesaksian Alkitab secara keseluruhan.
Analisis yang mendalam terhadap teks-teks kunci, dipadukan dengan teologi biblika yang komprehensif, secara meyakinkan menunjukkan bahwa Alkitab melukiskan satu Allah Yang Esa, yang ada secara kekal dalam tiga Pribadi yang setara: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Ini bukanlah sekadar doktrin abstrak yang diperdebatkan oleh para teolog. Pemahaman tentang siapa Allah yang kita sembah membentuk segalanya: dasar keselamatan kita, model etika kita, makna komunitas kita, sumber kekuatan harian kita, dan fokus penyembahan kita dalam menghadapi krisis terakhir.
Mengenal “satu-satunya Allah yang benar dan Yesus Kristus yang telah diutus-Nya” adalah sebuah undangan, bukan untuk memilih antara Bapa dan Anak, tetapi untuk masuk ke dalam persekutuan kasih dengan Keallahan Tritunggal yang telah menyatakan diri-Nya untuk menebus dan memulihkan kita dalam hidup yang kekal.
Catatan Akhir:
¹ Klaim ini merupakan bentuk Arianisme modern. Lihat pembahasan mengenai Arianisme dan tantangannya dalam Millard J. Erickson, Christian Theology, 3rd ed. (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2013), 698-701.
² Semua kutipan Alkitab, kecuali dinyatakan lain, diambil dari Terjemahan Baru (TB) Lembaga Alkitab Indonesia. Transliterasi dari Novum Testamentum Graece, 28th ed. (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 2012).
³ Raoul Dederen, “The Trinity,” dalam Handbook of Seventh-day Adventist Theology, ed. Raoul Dederen (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association, 2000), 143.
⁴ D.A. Carson, The Gospel According to John, Pillar New Testament Commentary (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1991), 563.
⁵ Leon Morris, The Gospel According to John, rev. ed., New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995), 643. Lihat juga entri untuk monos dalam Theological Dictionary of the New Testament (TDNT), ed. Gerhard Kittel dan Gerhard Friedrich, trans. Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1964-1976), 4:879.
⁶ George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1993), 332-334.
⁷ Frederick William Danker, ed., A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 3rd ed. (BDAG) (Chicago: University of Chicago Press, 2000), 450. Analisis Theos ēn ho Logos menunjukkan bahwa “Logos” memiliki natur “Theos” tanpa menjadi identik dengan Pribadi Bapa.
⁸ Gerhard F. Hasel, “The Polemic Nature of the Genesis Cosmology,” Evangelical Quarterly 46, no. 2 (April-June 1974): 81-102.
⁹ Walter C. Kaiser Jr., The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2008), 75-76. Lihat juga entri untuk mal’ak dalam Theological Wordbook of the Old Testament (TWOT), ed. R. Laird Harris, Gleason L. Archer Jr., dan Bruce K. Waltke (Chicago: Moody Press, 1980), 1:497.
¹⁰ Transliterasi dari Biblia Hebraica Stuttgartensia, 5th ed. (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1997). Mengenai signifikansi gelar-gelar ini, lihat Bruce K. Waltke, An Old Testament Theology: An Exegetical, Canonical, and Thematic Approach (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2007), 834-835.
¹¹ Seventh-day Adventist Bible Commentary, rev. ed. (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association, 1978-1980), 5:901; 7:441.
¹² Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics: An Exegetical Syntax of the New Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1996), 270-278.
¹³ Entri untuk proskuneō dalam BDAG, 882-884, menunjukkan tindakan penghormatan yang dalam banyak konteks disediakan secara eksklusif untuk dewa atau Tuhan.
¹⁴ SDA Believe: A Biblical Exposition of Fundamental Doctrines, 2nd ed. (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association, 2005), 69-72. Lihat juga Gordon D. Fee, God’s Empowering Presence: The Holy Spirit in the Letters of Paul (Peabody, MA: Hendrickson, 1994), 842-845.
¹⁵ Ellen G. White, Evangelism (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association, 1946), 617.
¹⁶ Richard M. Davidson, “The Biblical Account of the Godhead,” Journal of the Adventist Theological Society 14, no. 1 (Spring 2003): 106.
¹⁷ Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1994), 573.
¹⁸ Konsep perichoresis dijelaskan dengan baik oleh Jürgen Moltmann, The Trinity and the Kingdom: The Doctrine of God, trans. Margaret Kohl (Minneapolis: Fortress Press, 1993), 174-178.
¹⁹ Norman L. Geisler, Christian Ethics: Contemporary Issues and Options, 2nd ed. (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2010), 143-145.
²⁰ Fernando Chaij, Preparation for the Final Crisis (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association, 2015), 51-53.
²¹ Ellen G. White, Last Day Events (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association, 1992), 173-174. Ini merujuk pada peringatan tentang “omega apostasy.” Lihat juga Herbert E. Douglass, A Fork in the Road: The Everlasting Gospel and the Omega Heresy (Roseville, CA: Amazing Facts, 2008), 77-80.





