Oleh Pdt. J.F. Manullang, D.Th.

Debu-debu gurun menari di udara, melukis cakrawala dengan warna tembaga di bawah mentari yang rebah ke peraduannya.

Selama berminggu-minggu, hanya ada irama langkah unta yang monoton, goyangan pelana yang meninabobokan, dan bisik angin padang pasir yang menjadi sahabat perjalanan.

Ribka, gadis dari Aram-Mesopotamia, merasakan ujung perjalanannya sudah di ambang mata.

Matanya, yang telah melihat sumur-sumur kering dan cakrawala tak bertepi, kini menyipit, mencoba menembus keremangan senja yang mulai turun di tanah Kanaan.

Di sanalah, di antara bayang-bayang panjang pepohonan zaitun, sesosok tubuh berjalan. Bukan berjalan biasa, melainkan sebuah pergerakan penuh perenungan, seolah setiap langkahnya adalah sebait doa yang tak terucap.

Hatinya berdesir. Siapakah dia? Pertanyaan itu lahir bukan dari benak, melainkan dari kedalaman jiwa. Sebuah getaran purba, penanda suatu perjumpaan yang telah ditakdirkan surga.

Ia mencondongkan tubuhnya ke arah hamba tua Abraham, orang kepercayaan yang telah menjemputnya dari negerinya yang jauh, yang matanya memancarkan kesetiaan seorang abdi dan hikmat seorang nabi.

“Siapakah orang yang berjalan di padang ke arah kita itu?”¹ suaranya bergetar, lebih lembut dari gemerisik daun.

Pertanyaan ini, mî-hāʾîš hallāzeh (מִי־הָאִ֤ישׁ הַלָּזֶה֙), bukan sekadar pertanyaan identitas. Ini adalah napas penantian, puncak dari sebuah iman yang telah membuatnya meninggalkan segalanya—keluarga, rumah, masa lalu—untuk sebuah janji yang belum pernah ia lihat wujudnya.²

Jawaban sang hamba, singkat namun menggetarkan jagat kecil Ribka: “Dialah tuanku itu” (hûʾ ʾăḏōnî, הוּא אֲדֹנִֽי).³ Tuanku. ʾĀḏôn (אָדוֹן).

Sebuah kata yang melampaui sekadar “tuan”. Di dalamnya terkandung makna kepemilikan, otoritas, kehormatan, dan perlindungan.⁴

Dalam budaya patriarkal kuno, kata ini mendefinisikan sebuah tatanan, sebuah relasi.⁵

Namun di sini, di ambang senja ini, kata itu menjadi sauh bagi jiwa Ribka yang telah lama berlayar di lautan ketidakpastian.

Inilah dia. Ishak. Anak perjanjian. Ahli waris dari janji ilahi yang diikrarkan kepada Abraham.⁶

Seketika, sebuah gerakan naluriah yang anggun dan sarat makna terjadi. Tanpa perintah, tanpa paksaan.

Tangannya meraih selubung, haṣṣāʿîp̄ (הַצָּעִיף). Bukan sekadar selembar kain. Ṣāʿîp̄ adalah penanda. Di Kejadian 38, Tamar menggunakannya untuk menyamarkan identitas,⁷ namun di sini, Ribka menggunakannya untuk menyatakan identitas barunya.

Dengan mengambil dan menutupi dirinya (wattiqqaḥ haṣṣāʿîp̄ wattitkas, וַתִּתְכָּס וַתִּקַּח הַצָּעִיף ), ia melakukan sebuah ritual sunyi.

Ini adalah tindakan penyerahan diri yang terhormat, sebuah deklarasi visual bahwa ia kini berada di bawah otoritas dan perlindungan suaminya.⁸

Charles Spurgeon melihat dalam tindakan ini “keanggunan kesopanan yang indah, kerendahan hati yang menghiasi dirinya lebih dari semua perhiasannya.”⁹

Ini bukanlah tindakan pengekangan atau inferioritas yang dipaksakan, seperti yang mungkin ditafsirkan oleh kacamata modern yang sempit.

Dalam antropologi budaya Semit, selubung adalah simbol peralihan status. Ribka sedang bertransisi dari seorang perawan di bawah otoritas ayahnya, menjadi seorang istri di bawah naungan suaminya.¹⁰ Ini adalah sebuah tarian psikologis yang indah.

Seperti yang diamati oleh para psikolog keluarga seperti Virginia Satir atau Murray Bowen, setiap keluarga memiliki aturan dan peran yang tak terucapkan; Ribka, dengan satu gerakan, sedang mengadopsi peran barunya, menunjukkan kesiapannya untuk masuk ke dalam sistem keluarga yang baru dengan penuh hormat.¹¹

Brené Brown mungkin akan menyebutnya sebagai tindakan kerentanan yang luar biasa—menutupi wajahnya, bagian paling personal dari identitasnya, sebagai tanda kepercayaan total kepada orang yang akan menjadi suaminya.¹²

Sementara itu, Ishak sedang “berjalan-jalan untuk merenung” (lāśûaḥ baśśāḏeh, לָשׂוּחַ בַּשָּׂדֶה).

Kata kerja śûaḥ (שׂוּחַ) adalah sebuah hapax legomenon (kata yang hanya muncul sekali dalam Alkitab), membuatnya kaya akan spekulasi makna. Para rabi menafsirkannya sebagai doa, khususnya doa sore (minchah).¹³

Ia tidak sedang menunggu dengan pasif. Ia sedang mempersiapkan hatinya secara spiritual untuk perjumpaan ilahi ini.

John Calvin berkomentar bahwa Ishak sedang “melatih kesalehannya melalui meditasi suci.”¹⁴

Ia adalah seorang mempelai pria yang berdoa, menantikan kedatangan mempelai wanitanya. Pemandangan ini menggemakan gambaran yang jauh lebih agung.

Di sinilah teologi biblika membukakan tirainya. Kisah ini, sebagaimana dicatat oleh para teolog seperti Walter C. Kaiser, Jr. dan Bruce K. Waltke, adalah mata rantai krusial dalam “Rencana Janji Allah” (Promise Plan of God).¹⁵

Perkawinan Ishak dan Ribka memastikan kelanjutan garis keturunan yang darinya Sang Mesias akan datang.

Namun lebih dari itu, kisah ini adalah sebuah tipologi yang megah, sebuah drama profetik. Ellen G. White menulis, “Hamba itu mewakili Roh Kudus, yang diutus untuk mencari mempelai bagi Kristus…

Ishak adalah representasi dari Anak Allah, yang… menantikan mempelai yang telah Bapa pilihkan bagi-Nya—yaitu jemaat.”¹⁶

Dari sudut pandang ini, perjalanan Ribka adalah perjalanan setiap jiwa yang dipanggil keluar dari “Ur Kasdim” spiritual kita, dunia yang fana.

Hamba yang setia—Roh Kudus—membimbing kita dalam perjalanan iman, membawa serta “perhiasan” dan “hadiah” berupa karunia-karunia rohani.¹⁷

Kita berjalan dalam iman, bukan dalam penglihatan, percaya pada janji tentang seorang Mempelai Pria yang belum pernah kita temui muka dengan muka.

Dan kemudian, di senja sejarah kehidupan kita, kita melihat-Nya. Mungkin melalui lembaran Kitab Suci, melalui keindahan alam, melalui persekutuan dengan sesama orang percaya, atau melalui bisikan Roh di dalam hati.

Kita melihat Yesus, Sang Mempelai Pria surgawi, berjalan di “ladang” dunia ini, menantikan kita. Pertanyaan Ribka menjadi pertanyaan kita yang paling mendalam:

“Siapakah Dia?” Dan jawaban Roh Kudus selalu sama: “Dialah Tuhanmu.”

Bagaimana respons kita? Kisah Ribka menawarkan sebuah pola ilahi. “Mengambil selubung” adalah tindakan kita menanggalkan kebenaran diri sendiri, kesombongan, dan ego kita.

Itu adalah tindakan menyadari kekudusan-Nya dan ketidaklayakan kita. Itu adalah kerendahan hati yang lahir dari kekaguman, bukan ketakutan.

Psikolog Kristen Larry Crabb akan menggambarkannya sebagai pergerakan dari kemandirian yang egois menuju ketergantungan yang membebaskan kepada Allah.¹⁸

Kita “menyelubungi diri” kita dengan jubah kebenaran Kristus, satu-satunya pakaian yang layak untuk dikenakan di hadapan-Nya.¹⁹

Ini adalah sebuah tindakan iman yang aktif, sebuah pilihan sadar untuk menempatkan Dia sebagai Adonai—Tuhan dan Tuan—atas hidup kita.

Tindakan Ribka adalah sebuah khotbah tanpa kata. Dalam dunia yang memuja ekspresi diri tanpa batas dan penolakan terhadap otoritas, kerendahan hatinya yang anggun terasa radikal.

Namun, inilah inti dari kehidupan Kristen. Sebagaimana dikatakan Henri Nouwen, “Jalan spiritual adalah jalan turun, jalan kerendahan hati, di mana kita melepaskan kebutuhan untuk menjadi penting.”²⁰

Dalam mempersiapkan diri untuk kedatangan Kristus yang kedua kali, kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama: melepaskan keakuan kita dan mengenakan kerendahan hati, menantikan perjumpaan terakhir dengan Tuhan kita dengan penantian yang penuh doa dan pengharapan.

Senja di padang Kanaan itu telah lama berlalu. Unta-unta telah berhenti melangkah, dan debu telah kembali mengendap.

Namun, pertanyaan Ribka dan tindakannya yang sunyi terus bergema melintasi milenium. Itu adalah sebuah undangan abadi yang ditujukan kepada setiap hati yang mencari.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan kita, di senja zaman ini, kita melihat sekilas sosok-Nya yang sedang berjalan ke arah kita.

Jiwa kita pun bertanya, “Siapakah Dia?” Dan gema jawaban dari sang Hamba Abadi terdengar jelas: “Dialah Tuhanmu.”

Pertanyaannya kini beralih kepada kita: Akankah kita meraih “selubung” kerendahan hati?

Akankah kita menutupi diri kita dengan kebenaran-Nya, siap untuk menyambut-Nya, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai Mempelai Pria yang telah lama kita nantikan? Di dalam gerakan sunyi itulah, takdir abadi kita tersingkap.

Pdt. J. F. Manullang, seorang pendeta yang telah melayani selama 40 tahun lebih. Aktif menulis topik-topik teologi

Referensi:

¹ Kejadian 24:65a.

² Victor P. Hamilton, The Book of Genesis, Chapters 18-50, The New International Commentary on the Old Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995), 163.

³ Kejadian 24:65b.Teks Ibrani dari Biblia Hebraica Stuttgartensia.

⁴ R. Laird Harris, Gleason L. Archer Jr., dan Bruce K. Waltke, Theological Wordbook of the Old Testament (Chicago: Moody Press, 1980), s.v. אָדוֹן 1:18-19.

⁵ John H. Walton, Victor H. Matthews, dan Mark W. Chavalas, The IVP Bible Background Commentary: Old Testament (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2000), 55.

⁶ Walter C. Kaiser, Jr., The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2008), 75-77.

⁷ Gordon J. Wenham, Genesis 16-50, Word Biblical Commentary, vol. 2 (Dallas, TX: Word Books, 1994), 149. Wenham membedakan penggunaan selubung oleh Ribka (penghormatan) dengan Tamar (penipuan).

⁸ Kenneth A. Mathews, Genesis 11:27-50:26, The New American Commentary, vol. 1B (Nashville, TN: Broadman & Holman, 2005), 346.

⁹ Charles H. Spurgeon, “A Free Grace Promise,” dalam The Metropolitan Tabernacle Pulpit Sermons, vol. 55 (London: Passmore & Alabaster, 1909), 311.

¹⁰ Carol L. Meyers, Discovering Eve: Ancient Israelite Women in Context (New York: Oxford University Press, 1988), 158-160.

¹¹ Lihat konsep “aturan keluarga” dalam Virginia Satir, The New Peoplemaking (Palo Alto, CA: Science and Behavior Books, 1988) dan “sistem emosional keluarga” dalam Murray Bowen, Family Therapy in Clinical Practice (New York: Jason Aronson, 1978).

¹² Brené Brown, Daring Greatly: How the Courage to Be Vulnerable Transforms the Way We Live, Love, Parent, and Lead (New York: Gotham Books, 2012), 33-34.

¹³ Nahum M. Sarna, Genesis, The JPS Torah Commentary (Philadelphia, PA: Jewish Publication Society, 1989), 169.

¹⁴ John Calvin, Commentaries on the First Book of Moses Called Genesis, terj. John King (Edinburgh: Calvin Translation Society, 1847; repr., Grand Rapids, MI: Baker Books, 2005), 2:43.

¹⁵ Bruce K. Waltke dengan Charles Yu, An Old Testament Theology: An Exegetical, Canonical, and Thematic Approach (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2007), 269-271.

¹⁶ Ellen G. White, Patriarchs and Prophets (Mountain View, CA: Pacific Press Publishing Association, 1890), 171.

¹⁷ SDA Bible Commentary, ed. Francis D. Nichol, vol. 1 (Washington, D.C.: Review and Herald Publishing Association, 1953), 365.

¹⁸ Larry Crabb, Inside Out (Colorado Springs, CO: NavPress, 1988), 65-68.

¹⁹ Jon Paulien, “The End of Historicism? Reflections on the Adventist Approach to Biblical Interpretation,” Journal of the Adventist Theological Society 14, no. 2 (Autumn 2003): 15-43.

²⁰ Henri J. M. Nouwen, The Way of the Heart: Desert Spirituality and Contemporary Ministry (New York: Seabury Press, 1981), 30.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *