“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ratapan 3:22-23.

SETIAP anak memiliki cerita. Pun sebelum dia lahir. Masih dikandungan. Kehadirannya sudah membuat jantungan.

Bagaimana tidak, dari usia kandungan lima bulan, diagnosa dokter sudah mengkuatirkan. Masalahnya selalu dibagian plasenta.

Terkadang melilit dan konsisten plasenta selalu dibawah. Lengket kedalam dinding rahim dipembuluh darah.

Setiap kali diperiksa, bagian itu menjadi perhatian.

Kami kuatir. Dokter pun demikian. Analisis dokter, kondisi pelengketan plasenta seperti itu membahayakan nyawa si ibu. Resikonnya bisa pendarahan hebat.

Kondisi ini kata dokter, terjadi kepada ibu yang memiliki Riwayat opeasi sesar dan pernah kuret. Istri saya pernah menjalani keduanya.

Melihat kondisi tersebut, dokter kandungan ini pun menyerah. Dengan rendah hati dia mengakui, bahwa dia tidak dapat menangani untuk kondisi kehamilan yang kurang normal.

Dengan rendah hati pula, dia merekomendasikan untuk pergi ke dokter kandungan lainnya, dengan keahlian sub spesialis fetomaternal. Berarti ini pertemuan terakhir..

Dia pun pamit dan memohon maaf, bila dia tidak bisa menangani hingga nanti melahirkan. “tolong kabari bila nanti sudah melahirkan..” katanya..

Kami pun pamit dari ruangan dokter. Berterimakasih atas pelayanannya kepada kami selama beberapa bulan.

Dia dokter kandungan yang baik. Ramah. Humoris. Selalu membuat pasien tertawa. Anak-anak kami senang kalau datang keruangannya. Selalu ada permen unik.

Oh ya, namanya dokter Danny. Praktek di RS Siloam Yogyakarta.

Sebagai tanda perpisahan dengan kami, dia pun menggratiskan biaya konsultasi dokter. Tahunya, ketika pembayaran di kasir. Tidak ada tagihan. Nol.

Dua hari berikutnya, kami datang ke dokter kandungan sub spesialis fetomaternal. Dokternya perempuan. Sudah cukup senior.

Dari hasil pemeriksaan awal, sama seperti dokter sebelumnya, plasenta dibawah dan diduga lengket dipembuluh darah. Dia menerangkan dengan pelan sambil menunjukkan dilayar monitor USG.

Namun dia meminta untuk datang kembali pada usia kehamilan 7 atau 8 bulan. Pada usia kehamilan tersebut kami datang..

Hasilnya, tidak ada perubahan. Sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Dokter memperingatkan bahwa kehamilan ini sangat beresiko.

Jika tidak ada mujizat hingga hari persalinan, maka persalinan akan dilakukan secara sesar dan hanya dapat dilakukan dirumah sakit besar. Sarjito.

Disamping itu, diperlukan sekitar 30 kantong darah. Akan ditangani oleh beberapa orang dokter spesialis lainnya. Dia juga menceritakan pernah menangani kasus serupa..

Keluar dari ruangan dokter, wajah saya pucat. Istri saya apalagi. Mengerikan rasanya mengingat penjelasan dokter.

Istri saya menangis. Dia membayangkan beratnya situasi yang akan dia hadapi.

Setiap hari berdoa untuk pergumulan ini. Berharap ada mujizat. Berharap analisis dokter tidak terjadi.

Tapi tidak boleh takut. Percaya akan ada mujizat. Kemudian saya mengingat ayat Alkitab yang mengatakan, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Lukas 1:37).

Saya juga mengingat perkataan Rasul Paulus, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan…” 2 Timotius 1:7.

Saya katakan kepada istri saya bahwa engkau akan aman dalam lindungan Tuhan. Kami meng-aminkan Firman Allah.

Dari pada susah hati karenannya, kami memilih bersukacita. Hari-hari dilalui dengan ceria. Persoalan itu tidak lagi dibicarakan. Hanya disebutkan setiap kali berdoa.

Kemudian pada bulan februari 2025, saya pindah tugas ke kota Solo. Jaraknya sekitar dua jam dari Yogyakarta.

Karena merasa jauh, saya mencari dokter di Solo dengan keahlian yang sama.

Saya temukan. Dokter Ari Wibawa. Praktek di RS Muhammadyah Surakarta. Saya cek profilnya cukup menarik. Pernah praktek di RSCM Jakarta. Cukup lama.

Para pasien yang pernah ditanganinya memuji pelayanannya. Saya pilih dokter ini. saya daftar online. Besoknya datang. Sore hari. Antri. Lama menunggu. Pasienya baru tiga. Istri saya urutan ketiga.

Lima belas menit. Pasien pertama keluar. Dokter Ari juga ikut keluar. Perawakannya cukup tinggi. Ramping. Jenggot didagunya lumayan panjang.

Pakai Celana cingkrang. Baju koko. Kopiah. Sekilas tidak tampak sebagai dokter. Lebih cocok sebagai ustad. Melihat penampilannya sempat ragu. Hampir tidak jadi periksa.

Tapi sudah terlanjur menunggu lama. Ingat pepatah yang mengatakan, “Jangan menilai orang dari penampilannya.”

Akhirnya duduk kembali. Menunggu giliran. Sekitar lima belas menit, pasien kedua keluar. Kami pun masuk. Dengan senyum ramah dia menyapa dan mengucapkan salam.

Seketika penilaian sebagai ustad hilang. Memang tidak sedikit dokter, saat yang sama berperan sebagai ustad. Dimana dia mengintegrasikan nilai-nilai rohani dalam prakteknya.

Kemungkinan dokter Ari juga ustad..

Dengan sopan dan suara yang lembut, dia meminta maaf karena telah membuat kami menunggu lama. Dia cerita kalau dua pasien sebelumnya ada masalah dalam kandungannya. cukup serius.

Itu sebabnya dia mengambil waktu banyak untuk memeriksa dengan teliti dan konsultasi.

Segera kami memberitahukan hasil pemeriksaan sebelumnya. Bahwa kehamilan istri saya juga tidak baik-baik saja. Plasenta dibawah dan diduga lengket dengan pembuluh darah.

Segera dia meminta istri saya berbaring untuk di USG. Monitor USG nya layar datar. Cukup besar. Kelihatanya masih baru. Satu lagi monitor besar ukurang 35 inci.

Harap-harap cemas. Hati tidak tenang menjalani pemeriksaan ini. Dokter Ari segera mengarahkan transduser (probe) ke perut istri saya. Diputar-putar untuk mengecek bagian plasenta.

Dia menatap layar dengan seksama. Saya juga menatap layat dengan seksama. Tapi tidak mengerti apa yang saya lihat.

Seketika dokter Ari menerangkan bahwa plasenta normal. Diatas. Tidak ada lilitan. Tidak ada pelengketan.

Seakan tidak percaya, istri saya berseru dengan suara nyaring, “Yang benar dokter..!!!”

Dokter meyakinkan bahwa hasil USG tidak salah. Agar lebih meyakinkan, kemudian dia menggunakan USG 4D. Hasilnya sama. Bahkan jebih jelas.

Dia juga menyorot bagian lainnya. Jenis kelamin. Lingkar kepala. Berat janin, dll..

“Janinnya normal..sempurna..” katanya. “Selamat ya, karena si ucok akan lahir..” lanjutnya..

Dia tahu saya orang Tapanuli. Mungkin dari logat bicara saya.

Baca Juga: Persalinan Kilat

Lalu saya bertanya, apakah hasil pemeriksaan oleh dokter sebelumnya bisa salah?

Dengan bijak dia menjawab, “Itu karena doa-doa bapak dan ibu, sehingga terjadi mujizat..ini mujizat Tuhan..” terangnya dengan semangat..

Kami pun tidak ingin mempertanyakan lebih lanjut. Seperti kata dokter, ini mujizat Tuhan. kami telah mendoakannya setiap hari. Tuhan menjawab doa. Kehamilan istri saya kembali normal.

Kami keluar dari ruangan dokter dengan gembira. Kekuatiran telah hilang. Kami berdoa dengan ucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Baik.

Menuju ruang kasir untuk pembayaran. Kaget. Bukan karena mahal. Tapi harganya yang terjangkau untuk sekelas rumah sakit swasta ternama.

Seharga berobat ke dokter umum. Seratus ribuan. Sudah dapat obat dan beberapa vitamin.

“Rasanya kalau dokter dan rumah sakit seperti ini, hamil beberakali kali pun tidak masalah..” Saya nyeletuk..

“..dikasih gratis pun saya tidak mau hamil lagi. Pabrik tutup..ini terakhir..!!!” Jawab istri saya dengan nada kesal.

Sambil berjalan menuruni anak tangga rumah sakit, kami pulang karena sudah magrib dan berlabuh di Warteg Bahari. Menunya banyak. Harga murah. Pelayannya pun murah senyum.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *