“Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”Wahyu 14:13

Alkitab mengajarkan bahwa hidup tidak berakhir di kuburan. Kematian hanyalah peristirahatan sementara. Yohanes pasti memikirkan kebenaran ini ketika dia menulis Wahyu 14:13.

“Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Dalam ayat ini, Yohanes melihat kematian dari sisi lain. Karena kalau dari sudut pandang kita, kematian tampak mengerikan, mengalahkan, dan menghancurkan.

Tapi dari sudut pandang Tuhan, kematian itu sama sekali berbeda. Dia menyebut orang mati, yang percaya sebagai “berbahagia.”

Kata itu secara harfiah berarti “diberkati”, “diberi selamat”, “beruntung”. Kata itu jauh dari perngertian kita sebagai “menyedihkan” “sangat malang” dll..

Disini Tuhan memberi tahu kita bahwa mereka yang mati dengan iman kepada Tuhan sebagai diberkati atau berbahagia.

Ada tiga alasan mengapa kematian orang percaya itu disebut berbahagia:

1. SUPAYA MEREKA DAPAT BERISTIRAHAT

1) Kematian adalah sarana dimana kita dapat beristirahat dari kerja keras kita. Karena selama kita masih hidup, kita tidak akan mendapat istirahat yang damai.

Kata “Jerih lelah” menggambarkan kelelahan dari pekerjaan, kerja keras yang melelahkan. Ini menunjukkan kepada kita bahwa hidup itu keras.

Istirahat sangat manis setelah kerja keras yang melelahkan.

“Kerja keras” dalam Wahyu 14:13 mengacu pada pengabdian Orang-orang percaya akhir zaman untuk pelayanan dan untuk proklamasi Injil, dimana mereka menderita kesulitan dan penganiayaan sampai mati (lih. Wahyu 12:11).

Karena hidup Itu penuh dengan kesulitan, kekecewaan, dan penyakit. Maka Tuhan menjanjikan kita istirahat dari semua itu.

2) Kematian adalah sarana bagi umat Allah untuk mendapat perhentian. Kita perlu berterima kasih kepada Tuhan atas kematian. Ada saatnya kita perlu meletakkan beban kita dan beristirahat.

Kata “istirahat” yang muncul dalam ayat ini adalah kata yang indah. Artinya menjadi nyaman, disegarkan. Ini menunjukkan akhir dari kerja keras dan kesengsaraan hidup.

Inilah yang Yesus janjikan kepada kita ketika Dia berkata:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Matius 11:28-29.

Di dunia yang penuh masalah ini, kita sekarang tahu bahwa pentinya istirahat. Tapi ada istirahat yang lebih besar dan lebih banyak lagi, sebuah istirahat total yang tersedia bagi kita.

Istirahat itu adalah Ketika Yesus datang kedua kali, membangkitkan orang benar dari kematian dan tinggal bersama Tuhan di Sorga.

2. SUPAYA MEREKA MENDAPATKAN UPAH

Yohanes menuliskan dalam Wahyu 14:13, “karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Semua perbuatan kita tercatat dalam kitab peringatan Tuhan. Catatan itu akan membawa kita selamat atau tidak.

Dengan kehidupan yang kita jalani, dengan perkataan yang kita ucapkan, dan dengan perbuatan yang kita lakukan, baik atau buruk, kita telah mengumpulkan harta di surga bagi diri kita sendiri. Dan semua tercatat dalam kita Tuhan.

Yesus berkata, “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Mat. 10:42).

Alkitab memberi tahu kita bahwa Tuhan tidak akan melupakan pekerjaan dan jerih payah yang telah kita lakukan dalam nama-Nya saat kita melayani orang lain (Ibr. 6:10).

Perbuatan kita akan menyertai kita. Mereka menemani kita sampai ke penghakiman Allah.

Jika kita telah hidup dengan setia dan melayani Tuhan kita dengan penuh kasih maka mahkota kehidupan akan menanti kita.

Dan mereka yang mendapatkan pahala yang baik beruntung. Mereka harus diberi selamat.

3. MEREKA AKAN DIBANGKITKAN

Dalam ayat ini memang kebangkitan tidak disebutkan, tetapi hal itu ditegaskan dalam 1 Korintus 15:20-22:

“Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.”

Paulus menegaskan, kebangkitan orang percaya nanti, karena kebangkitan Yesus dari kematian. Seperti Yesus telah bangkita dari kematian, demikian orang benar akan bangkit.

Sebagaimana tubuh-Nya dapat dikenali, maka teman dan orang yang kita kasihi juga dapat dikenali. Sebagaimana tubuh-Nya melampaui batasan ruang dan waktu, demikian pula tubuh kita tidak akan tunduk pada batasan kehidupan ini.

Sebagaimana tubuh-Nya tidak lagi tunduk pada penyakit dan pembusukan, demikian pula tubuh kita akan menjadi tubuh yang baka.

Dan kita akab hidup selamanya.

(Renungan Penghiburan kematian oma Frederik, 31 Juli 2024)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *