Teks: 1 Korintus 9:13, 14; Ibrani 7
Selamat sabat untuk kita semua, kotbah sabat ini tentang persepuluhan yang mana dimedia sosial sangat ramai dibahas. Mereka terbagi dua kubu. Pro persepuluhan dan kontra perpuluhan.
Yang kontra mengatakan, perpuluhan tidak relevan lagi sekarang ini, alasannya karena keimamatan lewi sudah tidak ada lagi.
Karena perdebatan ini terjadi diluar gereja kita, saya dapat maklumi. Namun karena beberapa anggota gereja dibuat bingung oleh pemahaman dari luar gereja, tentu kita perlu terangkan kembali.
Saya sendiri tidak pernah bingung dan bimbang dengan perdebatan doktrin, Alkitab yang terjadi diluar gereja kita.
Karena gereja kita memiliki ajaran dalam 28 ajaran gereja, yang bersumber dari Alkitab, yang sudah melalui ujian panjang dan itulah dasar-dasar keyakinan kita, yang kita terima.
Jadi kalau ada perdebatan tentang topik yang menyangkut ajaran dasar gereja, saya lebih memilih apa yang diajarkan gereja ini tentang topik itu.
Waktu saya kecil, ayah saya mengajarkan kepada saya, kita kegereja pada hari sabat karena Tuhan yang memerintahkan, itu kebenaran Alkitab yang diterima gereja kita..
Lalu, disekolah, guru agama saya mengataka kepada saya bahwa semua hari sama. Bahkan hari minggu dipilih sebagai hari ibadah karena kebangkitan Yesus. jadi, kamu (kata guru) boleh sekolah hari sabat, itu tidak salah..
Saya masih kecil, tidak mengerti banyak tentang Alkitab. Saya hampir percaya guru itu, tetapi saya memilih percaya perkataan ayah saya..
Jika kita tidak mengerti banyak tentang topik yang sedang diperdebatkan, apalagi digereja luar, pertama: Baca kembali ajaran dasar gereja kita. Kedua, tanyakan kepada pdt atau pimpinan gereja kita..supaya kita tidak salah dan disusupi ajaran asing..
Ajaran tentang pengkultusan nama Tuhan YHWH, yang datang dari luar, diterima beberapa anggota bahkan pdt kita, mereka lbh percaya pdt luar tersebut, akhirnya membawa perpecahan dalam gereja..
Ajaran One True God, dwinitas, country living, dll, ada beberapa yang lebih percaya dengan orang luar, membawa perpecahan dalam gereja..
Ketika Hawa lebih percaya Ular dari pada Tuhan yang mengajarkan kebenaran kepadanya, dia jatuh dalam dosa..
Poinnya, apa pun yang diajarkan dan diperdebatkan diluar sana, yang mungkin bagi saudara keliatan masuk akal, baca kembali ajaran dasar gereja kita dan tanyakan kepada pdt dan pimpinan gereja.
Persepuluhan dari Ilmu Keselamatan
Maka ketika perdebatan soal perpuluhan diluar, yang membuat bingung Sebagian kita didalam, saya memilih membaca kembali membaca Alkitab dan doktrin dasar gereja kita dan keterang Roh Nubuat.
Persepuluhan dan persembahan, harus dilihat dari ilmu keselamatan, bukan dari ilmu keuangan. Sebab persembahan dan persepuluhan itu kaitannya dengan rencana keselamatan Tuhan.
Persembahan dan persepuluhan bukan tentang imam dan orang lewi, bukan tentang pendeta. Itu tentang Tuhan yang menyelamatkan orang-orang berdosa.
Memahami persembahan dan persepuluhan harus kita mulai dari Tuhan. Tuhan pemilik dunia ini atas dasar Dia yang menciptakan (kej 1:1).
TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Maz 24:1
sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya. Maz 50:10.
Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. Hagai 2:9.
Kejadian 1:26, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” Kita milik Tuhan atas dasar penciptaan..
Kejadian 3:1-8 Manusia jatuh dalam dosa. Ayat 15, Allah mencanangkan rencana keselamatan, melalui benih perempuan (Gereja) yaitu Yesus,
“..keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Kejadian 3:21 Allah memperagakan rencana keselamatan dengan pengorbanan…
Rencana Keselamatan diperagakan
Maka rencana keselamatan diperagakan melalui: Pertama, Keluarga Pilihan (Adam-Abraham) alat peraganya adalah mezbah dan korban. Fokusnya adalah Yesus yang akan datang sebagai sebagai korban untuk menyelamatkan kita.
Disana ada imam Melkisedek yang kepadanya Abraham memberikan persepuluhan..
Kedua, bangsa pilihan (Israel) alat peraganya adalah bait suci). Fokusnya Yesus yang akan datang sebagai korban untuk menyelamatkan kita..
Disana ada Imam-imam dan orang Lewi yang bekerja penuh waktu di bait Allah, yang kepada mereka Israel memberikan persepuluhan untuk menopang hidup mereka dalam pelayanan.
Tiga, umat pilihan (orang-orang beriman) alat peraganya adalah kehidupan mereka. Fokusnya Yesus akan datang sebagai Raja segala raja membawa kita ke Sorga.
Disana ada pekerja-pekerja yang melayani penuh waktu, kepada mereka jemaat memberikan persepuluhan untuk menopang hidup mereka dalam pelayanan..
3 Jenis Persepuluhan di Perjanjian Lama
Dalam PL ada 3 jenis perpuluhan:
- Persepuluhan pertama (Sakral) untuk mendukung orang-orang Lewi, (Ibr. ma’aser ; Im. 27:30-34 , dan Bil. 18:19-28 ) – Ma’asher rishon – dibawa setiap mereka panen/ sepanjang tahun.
- Persepuluhan kedua untuk amal dan perayaan tahunan di Yerusalem ( Ul. 14:22-29 ) – Ma’asher sheni – dibawa selama 2 tahun
- Persepuluhan ketiga (bagian persepuluhan kedua) untuk menjamu orang lewi dan orang miskin – ma’aser ani. (Ulangan 26:12) . Persepuluhan ini akan menyediakan dana untuk penggunaan amal dan keramahtamahan.
Tujuan persepuluhan kedua yang dipraktikkan di Israel yaitu perhatian untuk mengurus orang miskin, anak yatim, janda, dan orang asing. Ini diberikan setiap tahun ketiga.
Jadi poinnya, Sistem persepuluhan dan persembahan Israel yang dirancang oleh Allah mencakup tiga komponen:
(1) Persepuluhan pertama diberikan untuk pemeliharaan orang Lewi dan dikelola oleh orang Lewi.
(2) Persepuluhan kedua untuk mendukung perayaan tahunan dan amal pribadi dikelola oleh keluarga Ibrani.
(3) Persembahan merupakan bagian dari penyembahan dan dukungan terhadap pengoperasian tempat kudus.
Persepuluhan di Perjanjian Baru
Sekarang di PB. Di PB tidak banyak teks yang secara langsung menyebut persepuluhan. Dalam injil Yesus menyebut satu kali, Matius 23:23.
Orang Farisi sangat teliti mengikuti perintah ini bahkan mereka juga memperluas perintah ini dengan memberikan persepuluhan dari tanaman kebun yang paling kecil seperti selasih, adas manis dan jintan.
Selasih, adas, manis dan jintan adalah tanaman herbal yang digunakan sebagai bumbu dapur, dan pada umumnya tidak dianggap sebagai hasil pertanian..
Karena ini bukan hasil pertanian, sebenarnya tidak perlu mereka memberikan persepuluhan dari tanaman ini. Namun karena ketelitian mereka, mereka juga memberikan persepuluhannya..
Tidak ada yang salah teliti terhadap hal-hal yang paling kecil. Namun yang menjadi masalah disini adalah hal-hal yang tidak penting mereka besar-besarkan dan mengecilkan hal yang penting..
Mereka mengabaikan nafas hukum Allah yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan..
Mereka terobsesi menghitung daun dan biji namun mereka acuh tak acuh terhadap etika dan moral dari Hukum Taurat. Kasih.
Poinnya, Yesus tidak mencela persepuluhan mereka dari herbal. Itu pun diterima jika dilakukan dengan tulus dan iman..
Kalau mereka memberikan persepuluhan dari hal-hal yang tidak terlalu penting, tetapi jangan juga mengabaikan hal yang justru sangat penting. Nafas hukum itu. Kasih.
Itu sebabnya Yesus mengatakan, “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan..”
Pada era murid-murid, yang mana mereka menjadi kelompok tersendiri, yang terpisah dari sistem agama Yahudi, Paulus menerangkan tentang dukungan untuk pelayanan para pekerja injil..
“Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma? Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!” 2 Kor 11:7-8.
Dalam terjemahan bahasa inggris KJV, kata tunjangan disebut “upah”. Gereja tersebut telah mendukungnya secara finansial, atas dasar sukarela, sebuah kemitraan Kristen.
Selanjutnya, Paulus membahas dukungan kepada pekerja injil dalam 1 Korintus 9:13, 14. Dengan mengacu pada tatanan Perjanjian Lama, dan pelayanan di Bait Suci.
“Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?
Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”
Perhatikan, ketetapan ini, didasarkan pada ketetapan PL sebagai perbandian dan acuan.
Jadi dikatakan, “Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” yaitu dari gereja-gereja.
Ada bukti Alkitabiah lebih lanjut yang menetapkan atau mendukung prinsip persepuluhan dalam Perjanjian Baru.
Ibrani 7:1-26..
Surat Ibrani sebuah perbandingan yang ringkas dan lengkap antara ibadah/ritual PL dengan penggenapannya dalam pelayanan Kristus.
Tujuannya adalah untuk mempersiapkan orang-orang percaya Yahudi-Kristen menghadapi goncangan yang akan menimpa mereka melalui penghancuran Yerusalem, Bait Suci dan ibadah-ibadahnya..
Setelah berhentinya keimamatan dan pengorbanan pada tahun 70 M, Rasul menguraikan makna sebenarnya dari ibadah Perjanjian Lama.
Paulus mengalihkan pikiran mereka, dari kemuliaan Bait Allah Yerusalem, kepada kemuliaan tempat kudus di Sorga.
Rasul menjelaskan pertanyaan mengenai imamat Perjanjian Baru. Mungkinkah ada yang lebih baik daripada Harun?
Dan, siapakah Imam Besar Perjanjian Baru? Dalam Ibrani pasal tujuh masalah ini terpecahkan.
Allah telah menyediakan keimamatan yang lebih baik, dan untuk mengubah keimamatan, Dia juga harus mengubah hukum yang menetapkan, bahwa hanya orang-orang dari suku Lewi dan keluarga Harun yang dapat melayani di tempat kudus (Ibrani 7:12).
Perubahan ini didasarkan pada dua faktor: sejarah dan janji dari Allah. (Kej 14:17-20). Diayat ini Abraham bertemu dgn Melkisedek, Imam Allah, yang memberkati Abram..
Ibrani 7, Rasul menekankan hubungan Melkisedek dengan Yesus. Melkisedek adalah raja Salem dan juga seorang imam dari Allah yang mahatinggi. Dan sementara ia adalah raja kebenaran dan raja damai, ia juga memikul jabatan imam.
Saat Paulus mengatakan tentang Melkisedek, “Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah., harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan.”
Dia menjelaskan tentang hubungan bukan secara biologis.. orang Israel sangat memperhatikan silsilahnya..
Hal ini penting karena beberapa alasan, terutama dalam persoalan warisan. Tidak memiliki ayah berarti tidak memiliki ayah orang Israel .
Jadi arti teks itu, “[Melkisedek] tidak mempunyai ayah [imam], atau ibu [imam] atau silsilah [imam].” Tetapi Ia seorang imam yang diakui oleh Tuhan.
Seperti Melkisedek, demikian pula Yesus, Ia juga tidak mempunyai Bapa dan ibu imam, tidak mempunyai silsilah imam, karena “Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam.” ( Ibr. 7:14 ).
Artinya bahwa ada imam-imam di luar keimamatan Harun dan bahkan sebelum imamat Harun.
Apa yang terjadi ketika Abraham Bapa kita bertemu Melkisedek, Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek dan diberkati oleh Imam Melkisedek..
Rasul menyimpulkan, “Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah (Abraham) diberkati oleh yang lebih tinggi (Melkisedek).“ ( Ibr. 7:7 ) sehingga menegaskan bahwa imamat Kristus lebih besar daripada imamat Harun.
Kita kembali ke topik persepuluhan dalam Perjanjian Baru.
“Camkanlah betapa besarnya orang itu (Melkisedek), yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepulu….” (Ibrani 7:4).
Jadi, pemberian persepuluhan oleh Abraham kepada Melkisedek, berfungsi sebagai konfirmasi atas kebenaran rohani yang tidak hanya mengakui Melkisedek sebagai imam yang lebih tinggi daripada Harun, tetapi juga bahwa dalam tatanan keimamatan ini, persepuluhan merupakan sebuah institusi yang diterima.
Disini kita lihat, kekekalan persepuluhan di dalam kekekalan imamat Melkisedek:
“Dan di sini (Dibawah keimamatan Harun) manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia (Keimamatan Melkisedek), yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa Ia hidup.”(Ibrani 7:8).
Dan karena keimamatan Melkisedek diabadikan di dalam Yesus, maka Kristus yang menerima persepuluhan-persepuluhan ini selama keimamatan-Nya masih ada.
Melalui Kristus keimamatan ini menjadi kekal dan jabatan Melkisedek serta lembaga-lembaganya hidup melalui Dia..
Ibrani 7:24 : ” Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain.”
Dengan keabadian Kristus dan kelanggengan imamat Kristus serta kedudukan-Nya yang kekal sebagai raja, harapan semua orang beriman akan terpenuhi.
Paulus menunjukkan bahwa institusi pelayanan Bait Suci menemukan pemenuhannya dalam pelayanan Kristus yang sempurna
Dan sama seperti Abraham memberikan persepuluhan kepada seorang imam yang lebih tinggi daripada imam Yahudi, demikian pula semua orang yang menerima Kristus sebagai imam besar mereka harus memberikan persepuluhan kepada Kristus, karena Dialah yang “diberi kesaksian bahwa Dia hidup”.
Jadi kitab Ibrani pasal tujuh memberikan cukup bukti untuk menetapkan sistem persepuluhan sebagai bagian dari ajaran Perjanjian Baru.
Artinya persepuluhan itu masih berlaku dibawah keimamatan Kristus, sebagai imam besar kita.
Tulisan Hamba Allah utk zaman akhir, Nasehat bagi sidang, 67
“Sistem khusus persepuluhan didirikan atas suatu prinsip yang tahan lama sebagaimana halnya dengan hukum Allah. Sistem persepuluhan ini menjadi suatu berkat bagi orang Yahudi, kalau tidak Allah tidak akan memberikannya kepada mereka. Demikian juga hal itu akan menjadi suatu berkat bagi orang-orang yang melaksanakannya sampai kesudahan.”
Jadi persepuluhan bertahan hingga kedatangan Yesus yang kedua kali.
“Sistem pembayaran persepuluhan bukannya menjadi suatu beban bagi mereka yang tidak meninggalkan rencana itu. Sistem yang diperintahkan kepada orang Ibrani tidak dibatalkan atau dikurangi oleh Dia yang memulainya. Gantinya tidak berlaku lagi sekarang, sistem itu malah harus dilaksanakan lebih banyak dan lebih luas lagi, karena keselamatan melalui Kristus saja harus dimasyhurkan lebih luas pada zaman Kristen”
Injil, yang kian meluas, menuntut persediaan yang lebih besar untuk menyokong pertempuran sesudah kematian Kristus, dan hal ini menjadikan peraturan memberi derma jauh lebih mendesak daripada di bawah pemerintahan Ibrani. NBS, 64.
(Pdt. Deddy Panjaitan. Dikotbahkan, Sabtu tanggal 13 Juli 2024)





