Ayah saya bernubuat bahwa saya akan menjadi seorang pendeta suatu saat nanti. Waktu itu saya masih SD. Tidak ingat persisnya kelas berapa.
Saya anak ingusan yang pemalu dan cengeng. Suka bertukang. Membuat sendiri mainan apa saja yang sedang tren saat itu.
Ayah saya seorang tua-tua gereja. Jabatannya selalu bendahara. Aktif dalam pelayanan. Bagi saya dia setia dalam iman dan pelayanannya.
Dia sering kontak dengan para pendeta bahkan dengan para petinggi sinode gereja. Sering terlibat pelayanan dengan mereka, sampai timbul kerinduannya agar anaknya menjadi pendeta.
Ada tujuh orang anaknya. Masih kecil-kecil. Sore-sore saat nongkrong dengan ibu di dapur, ditengah cuaca dingin sambil berdiang dekat api, mereka berdua terlibat obrolan ngalor-ngidul..
Cukup lama, obrolan terhenti sejenak..habis bahan..hening..
Ayah menerawang keatap seng dapur, yang sudah mulai karatan dan berlubang, sambil menghela nafas dalam-dalam..
Dia memencahkan keheningan sambil nyeletuk, “ Saya sangat rindu salah seorang anak kita menjadi pendeta..”
Ibu saya terhenyak dari lamunannya seperti tersedak, kaget mendengar celetukan ayah saya, “siapa kira-kira yang akan menjadi pendeta diantara anak-anak ini?” tanya ibu saya penasaran..
Ayah menunjuk dan menyebut nama saya…”tuh Deddy..dia akan menjadi pendeta..”
Ibu saya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Saat itu saya sementara ada disamping rumah bermain drum yang saya buat sendiri dari kaleng-kaleng bekas susu..
Bunyi drum kaleng yang saya pukul-pukul sore itu menjadi musik mengiringi sore hari mereka..
“Mana bisa dia jadi pendeta, pemalu dan cengeng begitu..” sahut ibu saya..” Ga ada tampang..” sambungnya..
Bapak saya keukeuh, “ tidak, dia akan jadi pendeta..” ibu saya terdiam, tidak ingin berdebat soal itu dan merasa ini cuma obrolan ngalor ngidul. Tidak serius dan berlalu tanpa bekas..
Waktu berlalu dengan cepat. Ayah saya meninggal dunia karena sakit. Usia sekitar 45 tahun. sekitar tahun 1994. ibu menjadi janda. Kami menjadi anak yatim.
Abang saya pergi sekolah keluar kota. Tinggal di Asrama. Saya dirumah menjaga adik-adik saya 6 orang. Ibu tiap hari pergi jualan. Berangkat pagi. Pulang malam.
Ayah meninggalkan kebiasaan ibadah pagi dan petang. Sempat tidak berjalan kebiasaan ini. tidak ada yang memimpin lagi. ibu berkata, “ Kamu gantikan ayahmu. Pimpin adik-adikmu renungan pagi dan malam.”
Saya lakukan setiap hari mandat ibu saya..
Entah bagaimana saat usia SMP-SMA, saya menjadi sangat tertarik dalam dunia pelayanan. Berawal dari ajakan para pendeta untuk menemani mereka melawat dan KKR.
Karena sering diajak, saya menjadi aktifis gereja. Saya menjadi tekun belajar Alkitab.
Sampai akhirnya saya merasakan didalam diri saya sebuah panggilan untuk menjadi pendeta. Panggilan itu mengganggu pikiran saya.
Setiap sore saya berdoa untuk panggilan itu. “Jika Tuhan memanggil saya menjadi pendeta, saya siap..” Doa seperti itu berulang kali saya sebutkan..
Setelah saya menamatkan SMA, panggilan itu semakin kuat. Dorongan dihati tidak dapat dibendung. Waktunya masuk perguruan tinggi dan pergi ke sekolah kependetaan.
Namun ada masalah. “Maaf anakku, ibu mendukung mu untuk menjadi pendeta, tetapi ibu tidak punya uang menyekolahkan mu..” kata ibu dengan wajah sedih sekali..
“Adik-adikmu banyak dan mereka semua sedang sekolah..” lanjutnya
“ Tidak apa-apa ibu, saya mengerti. Ibu tidak perlu memikirkan saya. saya akan pergi merantau, saya percaya Tuhan akan sekolahkan saya..” kata saya kepada ibu..
Saya pergi merantau ke Jakarta. Dua tahun bekerja. Kemudian saya pergi universitas Advent Bandung. Mendaftar di fakulstas filsafat. Seseorang membawa saya kesana dan membantu saya.
Selama 4 tahun berkuliah, mujizat banyak terjadi. Banyak yang terlihat berkontribusi membantu dana perkuliahan saya. Bahkan Sebagian saya tidak ketahui siapa mereka.
Akhirnya saya menyelesaikan kuliah kependetaan dengan baik. Tahun 2003.
Setelah menjadi pendeta, ibu kembali mengingat obrolannya dengan ayah puluhan tahun silam saat saya masih kecil, bahwa suatu saat saya akan menjadi pendeta..
“Nubuatannya” terbukti benar. saya menjadi seorang pendeta. Namun sayang, ayah saya tidak dapat melihat bukti dari “nubuatannya..”
Kerinduan orang tua bagi anak-anaknya dapat terwujud bila mereka menyesuaikan kehendak itu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Cita-cita orang tua bagi anak-anaknya tentu mereka menjadi yang terbaik dari diri mereka sendiri. Tidak salah bila orang tua mempunyai cita-cita tinggi bagi anak-anaknya.
Bahkan menginginkan anak-anaknya menjadi bupati, gubernur, menteri hingga presiden tidaklah berlebihan.
Namun apakah cita-cita itu akan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan dan amanah dengan tanggung jawab mereka? Itu perlu perenungan.
Bila kita saat ini sebagai orang tua, yang memiliki cita-cita bagi anak-anak kita, maka tidak ada cita-cita tertinggi kita bagi mereka seperti harapan dari Yohanes,
“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” 3 Yohanes 1:4.
Anak-anak kita hidup dalam kebenaran Tuhan itulah kerinduan terbesar kita. Maka apa pun nantinya cita-cita mereka, entah itu aparat dan pejabat negara: PNS, Polisi, TNI, atau pengusaha, Pendeta, dll..
Mereka melakukan kebenaran dan keadilan..
Bila saat ini kita sebagai seorang anak, dan mempunyai cita-cita ingin menjadi apa, doakan dan gumuli setiap hari.
Dan jadilah versi terbaik dari diri Anda. Hiduplah dalam kebenaran, karena itulah sukacita terbesar orang tua bagi kita.






Terpujilah Tuhan
Suara dan doa Orangtua selalu membuka Langit
Tuhan akan memelihara setiap Anak yg di anugerahkan dan dipercayakan kepada Ayah Ibu yang setia taat pada perintah Tuhan
Dimanapun Anak saat berada jauh dari Orangtua pasti Tuhan pelihara dengan kekuatan NYA yang Maha Ajaib
Baca Yesaya 41:10
Dan setiap Rahim Ibu yg dipercaya Tuhan melahirkan Anak anak adalah berkat yg kekal yg dibawa ke Surga
Baca Mazmur 22 : 9
Ya Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan
Engkau yg membuatku aman dalam dada Ibuku, Kepada MU aku diserahkan sejak aku lahir , sejak dalam kandungan Ibuku Engkaulah Allahku
Bersyukur lah kita menjadi anak kandung Orangtua kita
Ayah Ibu yang sudah Tuhan pilihkan buat Anak-anak
Pdt Deddy luar biasa pengalaman berjalan bersama Tuhan
Dan pertolongan NYA tak pernah terlambat
Selamat menyongsong kelahiran Putera lelaki yg akan meneruskan marga leluhur Panjaitan
Itu rejeki yg hakiki harta terindah dan dua Puteri permata yang bercahaya sangat indah dan berharga dihati Yesus
Selamanya bercahaya di kerajaan NYA
Haleluyah
Praise the LORD
Salatiga, March 28.2025
Amin terimakasih bu atas responya..Tuhan kiranya memberkati keluarga sejua
Terimakasih uti, sehat selalu bersama dgn keluarga