Kapan terakhir kali Anda menyanyikan lagu ‘sabat hari perhentian?’
Setiap kali lagu sion, “Sabat hari perhentian” dinyanyikan, pikiran saya selalu kembali ke masa kecil dikampung.
Suara lagu itu, yang dinyanyikan ketika matahari mulai terbenam setiap hari Jumat sore, tidak pernah pudar oleh waktu. Selalu merdu ditelinga.
Saat itu, jaman masih serba manual. Belum banyak hiburan. TV hitam putih satu-satunya media hiburan yang ada.
Orang tua akan mematikan TV itu. Semua pekerjaan dibereskan. Suasana rumah berubah menjadi lebih tenang.
Keluarga berkumpul melingkar, duduk beralaskan tikar. Alkitab dibuka. Lagu sion dinyanyikan. Kami berdoa bersama.
Begitulah Sabat dimulai.
Kini, setelah bertahun-tahun melayani sebagai pendeta, saya menyadari bahwa momen itu bukan sekadar tradisi gereja dan keluarga.
Momen itu telah membentuk cara saya memandang hari Sabat.
Demikian pula ketika matahari terbenam pada Sabtu sore. Kami kembali berkumpul. Ada rasa syukur karena Tuhan telah memimpin kami melewati satu hari Sabat.
Ada doa penutup sebelum kembali menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari.
Saya mencintai tradisi buka Sabat dan tutup Sabat. Bukan karena sekadar kebiasaan yang diwariskan gereja, tetapi karena saya melihat makna rohani yang sangat dalam di baliknya.
Sabat Tidak Dimulai dengan Tergesa-gesa
Di era yang serba cepat sekarang ini, kita sering hidup serba terburu-buru. Waktu rasanya kurang. Ketika sabat tiba, kita masih menyelesaikan pekerjaan kita.
Kita masih memikirkan target yang belum tercapai..
Padahal ketika matahari mulai terbenam Jumat sore, Tuhan seolah berkata kepada kita
“Berhentilah sejenak.”
Buka Sabat mengajarkan kita untuk berhenti bekerja. Berhenti mengejar kesibukan yang tiada habisnya. Berhenti memikirkan keuntungan. Ada hal lain melebihi sekedar keuntungan..
Kemudian kita mengarahkan hati kepada Sang Pencipta dan pemilik hari Sabat.
Selain itu, sabat bukan sekadar perubahan hari di kalender. Sabat adalah perubahan irama kehidupan kita.
Dari irama kebisingan rutinitas kepada irama hidup yang hening. Tenang.
Sebuah Pengingat Bahwa Waktu Adalah Milik Tuhan
Ada sesuatu yang indah ketika keluarga atau jemaat berkumpul menjelang matahari terbenam.
Kita seakan berkata kepada Tuhan, “Jam-jam pertama hari Sabat ini kami persembahkan kepada-Mu.”
Bukankah ini sangat indah?
Karena sering kali kita memberikan sisa waktu kita kepada Tuhan. Tetapi melalui ibadah buka Sabat, kita belajar memberikan waktu yang pertama kepada Tuhan.
Prinsip ini mengingatkan kita pada persembahan sulung dalam Alkitab. Yang terbaik dan yang pertama diberikan kepada Tuhan.
Buka Sabat Menyatukan Keluarga
Salah satu kenangan paling hangat dan mengesankan dalam hidup saya adalah buka Sabat bersama keluarga.
Dilakukan dengan cara sederhana saja. Kadang hanya membaca satu pasal Alkitab. Menyanyikan dua atau tiga lagu. Lalu berdoa. Dan ditutup dengan makan bersama..
Dan momen-momen sederhana itulah yang melekat dalam ingatan sampai sekarang..
Saya percaya banyak orang Advent masih mengingat lagu-lagu buka Sabat yang dinyanyikan bersama orang tua mereka.
Seperti: Ingat hari sabat, sabat hari perhentian, enam hari sudah lalu, dll
Mungkin kita telah lupa menu makan buka sabat yang kita nikmati, tetapi kita tidak lupa suasana damainya sabat itu..
Tradisi sederhana itu sebenarnya kalau kita lestarikan, kita sedang menanamkan iman kepada generasi berikutnya.
Tutup Sabat Bukan Ucapan Selamat Tinggal
Seperti halnya buka sabat yang disambut dengan sukacita, lain halnya dengan tutup sabat, sebagian orang merasa sedih ketika Sabat berakhir. Saya juga pernah merasakan hal itu.
Namun saya kemudian belajar bahwa tutup Sabat bukan berarti meninggalkan Tuhan sampai Jumat berikutnya, lalu kita hidup bebas melakukan apa yang kita mau..
Sebaliknya, tutup Sabat adalah doa pengutusan untuk kita.
Setelah sehari penuh diisi dengan penyembahan, persekutuan, pelayanan, dan perenungan firman, kita kembali ke dunia pekerjaan kita untuk menjalani panggilan kita sebagai murid Kristus.
Karena itu, suasana sabat harus terus dibawa sepanjang minggu dalam pekerjaan kita..
Jadi, sabat memberi kekuatan. Hari-hari berikutnya dari Minggu – Jumat, menjadi ladang pelayanan. Pekerjaan pun adalah ladang pelayanan.
Tradisi yang Perlu Dijaga, Bukan Sekadar Diulang
Saya menyadari bahwa setiap tradisi bisa kehilangan maknanya jika dilakukan hanya karena kebiasaan semata.
Satu kebiasaan dapat menjadi formalitas semata, seperti tubuh tanya nyawa.
Kita bisa saja membuka Sabat tanpa benar-benar mempersiapkan hati untuk memasukinya.
Kita bisa menyanyikan lagu pembuka “ Ingat hari sabat ‘ sambil masih memikirkan pekerjaan. Kita bisa menutup Sabat hanya karena sabat akan berakhir..
Jika itu terjadi, maka tradisi sabat hanya menjadi rutinitas.
Yang Tuhan inginkan bukan sekadar upacaranya, melainkan hati yang sungguh-sungguh mencari-Nya.
Karena itu, buka sabat dan tutup sabat, perlu diwariskan kepada anak-anak kita bukan hanya tata cara buka dan tutup Sabat, tetapi alasan mengapa kita melakukannya.
Dunia Membutuhkan Ruang untuk Berhenti
Di zaman yang sebar sibuk hari ini, hidup terasa tidak pernah berhenti. Terus berputar. Tidak sedikit orang yang bekerja siang dan malam.
Ponsel selalu berbunyi. Media sosial terus bergerak. Pekerjaan pun ikut terbawa sampai ke rumah.
Justru dalam dunia seperti inilah saya semakin menghargai tradisi buka Sabat.
Setiap Jumat petang, saya diingatkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang bekerja, uang, dan mengejar prestasi.
Ada hal lain yang lebih penting dari sekedar bekerja dan cari uang, yaitu bersekutu dengan Tuhan.
Dan setiap Sabat sore, ketika matahari perlahan tenggelam diufuk barat, saya diingatkan bahwa penyembahan kepada Tuhan tidak berakhir bersama matahari yang tenggelam..
Penyembahan harus terus dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Mengapa saya mencintai ibadah buka Sabat dan tutup Sabat?
Karena keduanya menjadi tanda di tengah kesibukan hidup bahwa ada waktu yang dikuduskan bagi Tuhan.
Buka Sabat mengajak saya meletakkan segala beban di kaki Kristus.
Sementara, tutup Sabat mengutus saya kembali ke dunia untuk hidup sebagai saksi-Nya.
Saya berharap tradisi ini tidak hanya terus dipelihara di gereja-gereja Advent, tetapi juga kembali hidup di rumah-rumah kita.
Sebab sering kali, iman yang kuat tidak dibangun oleh peristiwa-peristiwa besar, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan penuh kasih dan kesetiaan.
Dan bagi saya, buka Sabat dan tutup Sabat adalah dua kebiasaan indah yang terus mengingatkan saya bahwa waktu terbaik dalam hidup ini selalu dimulai bersama Tuhan dan diakhiri dengan rasa syukur kepada-Nya.
Bagaimana menurut Anda?


