“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” Mazmur 32:8
TAHUN ini (2024) genap 20 tahun. Baru sadar. Memang sering tidak sadar kalau usia sudah tua. Mendekati masa pensiun.
Seseorang menyadarkan saya. Tamu. Dia datang sekedar untuk cerita. Dia ujung cerita dia tanya.
“Tahun berapa mulai melayani penuh waktu..?” tanyanya..
“Mulai januari tahun 2004..” Jawab saya. Lalu dia berpikir seperti menghitung.
“Berarti Anda sudah melayani 20 tahun..” katanya. Saya berpikir sejenak mencocokkan perhitungannya. “ Persis 20 tahun..” Jawab saya..
Saya memang tidak pernah menghitung tahun pelayanan. Umur saja terkadang lupa. Kalau bukan orang-orang yang mengingatkan setiap 12 November. Saya pun lupa umur.
Ya begitulah, orang-orang sering menjadi pengingat dan alarm bagi kita untuk mengingat hal-hal penting dalam hidup.
Dari hitung-hitung tahun pelayanan tersebut, saya jadi sadar dan tercerahkan bahwa waktu ku tidak lama lagi. Sudah dua dasawarsa.
Artinya tahun depan saya akan memasuki dasawarsa yang ketiga. Atau 10 tahun yang ketiga. Karena 1 dasawarsa sama dengan 10 tahun. Rata-rata pensiun 35 atau 40 tahun pelayanan.
Jadi Anda dapat menghitung untuk mencapai 35-40 tahun, tinggal 1,5 dasawarsa atau 2 dasawarsa.
Waktu memang berlari begitu cepat. 20 tahun tidak terasa lama. Seperti baru kemarin.
Itu di mulai tahun 2003. Tamat dari unai. Tamatan tahun itu tidak ada jaminan diterima bekerja. Organisasi lagi krisis keuangan. Rasanya sial.
Ada 50 orang yang tamat. Dari PTASN dan UNAI. Jaman itu untuk pertama kali, semua tamatan akan diseleksi. Uni hanya perlu kuota 16 orang.
Seleksinya tidak terlalu jelas. Rasanya tidak ada. Ada ujian tertulis, tapi rasanya itu bukan ujian.
Tamatan UNAI Zaman itu memang ketiban sial. Lantaran salah satu dosen dianggap “sesat’ ajarannya. Karena kami adalah muridnya, diduga kami juga terpapar ajaran ‘sesat”sang dosen.
Maka kami dibuat ujian tertulis. Pertanyaanya seputar kontroversi pengajaran sang dosen. Apakah neraka itu api atau bukan? Apakah di sorga ada Bait Suci atau tidak?
Yah, pertanyaan-pertanyaan seputar doktrin..
Seminggu kemudian hasilnya keluar. Ada 16 orang diterima. Kebanyak dari PTASN. Nama saya tidak ada. Mereka yang diterima langsung jadi pendeta muda. Intern.
Untuk yang tidak diterima, tidak ada opsi untuk mereka. Bahkan tidak diurusi lagi. Pelamar kerja yang tidak diterima bukan urusan perusahaan.
Sedih. Menangis itu yang mereka rasakan. Tapi mereka tidak menyerah. Mereka menggunakan berbagai cara. Lobi-lobi, pendekatan keluarga, dll, kepada pimpinan.
Karena tidak punya tulang darah dan daging (Istilah pdt J. Rantung), saya pasrah dengan keadaan. Tidak diterima tidak apa-apa. Tapi tidak tahu harus kemana setelah ini.
Beberapa orang menawari saya kerja sales. Agen asuransi. Debt collector. Literatur dan guru. Saya tolak. Tujuan saya hanya satu. Jadi pendeta.
Enam bulan luntang-lantung antara Bandung dan Jakarta. Mencari peluang. Berharap para pemimpin organisasi memberikan kesempatan jadi apa saja. Tapi tidak ada.
Diam diam. Sebenarnya saya menemui beberapa pemimpin daerah/konferens. Mereka juga tampak bingung dengan keadaan yang ada. “Tidak ada tempat..” Kata mereka.
Saya merasa tidak ada lagi usaha yang dapat dilakukan. Saya pulang kerumah paman saya di Blora. Akhir tahun bertemu dengan ass. Kependetaan DJKT. Pdt. E. Hutauruk.
“ Kamu sudah kerja..” Tanyanya. “Belum pak Pendeta..” Jawab saya. “ Kamu mau kerja ga.” Tanyanya lagi..”Kerja apa pak” saya tanya balik..
“Kamu mau jadi TSPM ga”? Saya tidak langsung jawab. Saya diam saja. Pikiran saya menerawang. Seorang Sarjana Teologi, menjadi TSPM! Rasanya tidak terima.
Untuk menjadi TSPM tidak perlu Sarjana Teologi. Gengsi gelar mencuat.
“Saya pikirkan dulu pendeta..beri saya waktu seminggu..” kata saya.
Saya dinasehati paman saya untuk menerima tawaran jadi TSPM. “Terima saja dulu..siapa tahu ini menjadi jalan bagimu untuk menjadi pendeta..” katanya..
Saya terdiam. Menghela nafas begitu panjang. saya menutup mata. Membayangkan seorang sarjana teologi jadi TSPM.
Saya merenung cukup lama. Bergumul. Tidak mudah saat itu menerima. Karena belum pernah dalam sejarah Gereja Advent di UIKB. Tamatan kependetaan jadi TSPM.
Saya berusaha mematikan gengsi “Aku ini tamatan Sarjana Teologi..!” Bagi Anda tidak pernah mengalami menjadi TSPM, tidak mengerti perasaan itu.
Akhirnya saya berdoa. “Jika TSPM ini adalah panggilan Mu Tuhan. saya akan berangkat.” Setelah berdoa, hati saya lega. Gengsi Sarjana Teologi jadi TSPM tiba-tiba hilang.
Besoknya saya telepon pendeta Hutauruk. “Saya siap berangkat pendeta..” kata saya. “Ok, besok datang kekantor, bawa lamaran mu..” katanya.
Saya janjian dengan Pendeta Samuel Mangunsong. Teman senasib. Kami membuat lamaran.
Kemudian, saya ditempatkan di Kroya Cilacap dan Pdt. Samuel Mangungsong di Banyumanik Semarang. Menjadi TSPM. Gaji lima ratus ribu.
Kemudian hari, tamatan kependetaan unai menjadi TSPM, jadi polemik dikalangan mahasiswa teologi dan anggota jemaat. Menjadi bahan keprihatinan dan guyonan.
Bahkan kantor dekan Fakulstas Filsafat Unai sempat ditempel tulisan kertas: Kantor dekan fakultas filsafat jurusan TSPM. Pdt, Jonny Rantung marah dan mencopot tulisan tersebut.
Untuk menjaga marwah tamatan kependetaan unai, ketua daerah DJKT saat itu, pendeta Suranto, membuat nama untuk kami. Membedakan dengan TSPM, yaitu Evangelis Muda.
Sejak saat itu kami tidak lagi dipanggil TSPM. Sedikit bangga. Sebetulnya, soal nama tidak lagi menjadi masalah. Saya sudah bertobat. Tidak ada lagi gengsi.
Kemudian tahun, nama itu berganti menjadi PS – Penginjil Sukarela. Saya merasa nama ini kurang keren. sudahlah, soal nama penting tidak penting.
Selama satu tahun menjadi TSPM di Kroya. Melayani di cabang. Dapat berkah. Dipindahkan melayani jemaat Banyumas dan Kalikidang.
Ini berkat dua pendeta senior pensiun. Kosong. Belum ada pengganti. Untuk mengisi jadilah saya dan pendeta Samuel Mangunsong ditempatkan di jemaat.
Berkat kesabaran selama 4 tahun. kami berdua diangkat menjadi intern. Tahun 2008. Tidak menyangka bisa tiba pada tahap tersebut.
Pelajarannnya, alur cerita hidup kita seringkali diawali dengan kondisi susah. Namun bila kita sabar dan bersandar pada pimpinan Tuhan, kita akan diarahkan kepada rencanan-Nya.
Terkadang kita akan menghadapi masa sulit, sampai rasanya masa depan kita tidak menentu. Kita tidak tahu bagaimana kehendak Tuhan bagi hidup kita.
Nyatanya, kita akan melihat rencana Tuhan indah bagi kita.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29:11
(Mengenang 20 tahun pelayanan)





