“Kalau ada satu kegiatan di gereja yang jaman dulu paling digemari setiap hari Sabat, mungkin jawabannya adalah Sekolah Sabat.”

Sudah sejak lama, Sekolah Sabat dianggap hanyalah acara pendahuluan sebelum kebaktian utama. Khotbah.

Karena itu, ada yang datang hanya menjelang kotbah. Sekolah sabat dilewatkan.

Sebagaian merasa tidak perlu hadir di Sekolah Sabat, karena kegiatannya kurang menarik dibanding ibadah utama.

Lagi pula pelajaran sekolah sabat sudah dipelajari dirumah. Saya kira sudah cukup. Demikian Sebagian berpikir..

Namun bagi saya, justru di Sekolah Sabatlah kita menemukan salah satu keindahan terbesar dalam kehidupan bergereja sebagai seorang Advent.

Saya mencintai Sekolah Sabat. Bukan karena itu adalah tradisi gereja, tetapi karena di sanalah saya belajar bertumbuh bersama.

Sekolah Sabat Bukan Sekadar Kelas

Nama “Sekolah Sabat” kadang membuat orang membayangkan suasana belajar yang kaku, penuh teori, dan membosankan.

Padahal pengalaman saya justru sebaliknya.

Sekolah Sabat bukan ruang kuliah. Itu adalah tempat kita duduk melingkar (digereja yang kursinya panjang tidak bisa melingkar), membuka Alkitab, saling bertanya, saling mendengarkan, bahkan terkadang saling berbeda pendapat.

Di situlah kits belajar bahwa memahami firman Tuhan tidak selalu berarti mendengar satu orang berbicara.

Disana kita mendengar pengalaman seorang pedagang, kesaksian seorang ibu rumah tangga, atau pertanyaan polos seorang anak muda untuk membuka pemahaman yang baru.

Saya sering mendapatkan di Sekolah Sabat pelajaran yang tidak saya temukan ketika mempersiapkan khotbah.

Sekolah Sabat Tempat kita Belajar

Di jam Kotbah, biasanya hanya satu orang yang berbicara. Satu arah. Tidak ada interaksi.

Tetapi di Sekolah Sabat, semua orang dapat berpartisipasi. Dan saya menyukai suasana itu.

Suatu kali seorang lansia membagikan pengalamannya, bagaimana dia berjalan bersama Tuhan selama puluhan tahun, disana saya belajar tentang kesetiaan..

Suatu ketika juga di kelas Sekolah sabat, seorang pemuda bertanya dengan jujur tentang pergumulannya, saya belajar bahwa iman harus terus berdialog dengan kehidupan.

Ketika seorang anak menghafalkan ayat emas dengan penuh semangat, saya diingatkan bahwa firman Tuhan harus ditanamkan sejak dini.

Sekolah Sabat mengajarkan bahwa setiap anggota jemaat memiliki sesuatu untuk dibagikan.

Sekolah Sabat Kita Belajar Mendengar

Sebagai pendeta, umumnya saya lebih sering berbicara daripada mendengar. Saya berkhotbah. Memimpin rapat. Memberikan nasihat. Namun di kelas Sekolah Sabat, saya belajar menjadi pendengar.

terkadang ada anggota jemaat yang memberikan sudut pandang Alkitab, yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya..

Ada yang menceritakan bagaimana pelajaran minggu itu menolongnya menghadapi masalah keluarganya..

Ada yang menghubungkan ayat Alkitab dengan pengalaman hidupnya.

Semua itu memperkaya iman saya.

Saya semakin yakin bahwa Roh Kudus tidak hanya bekerja di balik mimbar, tetapi juga di tengah diskusi yang sederhana.

Sekolah Sabat Menghubungkan Alkitab dengan Kehidupan

Hal yang paling saya sukai dari pelajaran Sekolah Sabat adalah pembahasannya yang sistematis. Setiap minggu ada tema.

Setiap hari ada bahan pelajaran untuk dipelajari dan direnungkan. Seluruh dunia mempelajari topik yang sama.

Ketika saya mengetahui bahwa jutaan anggota Gereja Advent di berbagai negara sedang merenungkan ayat yang sama, saya merasakan indahnya persatuan dalam tubuh Kristus.

Firman Tuhan menjadi benang yang menghubungkan kita dengan gereja sedunia, meskipun berbeda bahasa, budaya, dan benua.

Sekolah Sabat Tempat Persahabatan Bertumbuh

Ada hal lain yang sering terlupakan dalam sekolah sabat, yaitu membangun persahabatan. Di sanalah kita mengenal anggota jemaat lebih dekat..

Kita mengetahui pergumulan mereka. Mendengar kabar sukacita dari mereka. Dan kita ikut mendoakan kebutuhan mereka.

Kadang sebuah doa sederhana yang dipanjatkan di kelas Sekolah Sabat menjadi awal dari pemulihan hidup seseorang.

Bukankah gereja memang seharusnya seperti itu? Tempat di mana kita saling menguatkan.

Sekolah Sabat Mengingatkan Saya untuk Tetap Rendah Hati

Semakin lama saya melayani, semakin saya sadar bahwa saya belum mengetahui semuanya. Masih banyak ayat dan topik yang perlu saya pelajari.

Masih banyak pertanyaan yang jawabannya belum sepenuhnya saya mengerti. Karena itu, sekolah Sabat mengingatkan saya untuk tetap menjadi murid.

Sebab seorang pendeta, penatua, guru sekolah sabat, anggota gereja, harus terus belajar. Tidak ada tamatnya. Selama kita hidup, kita tetap menjadi murid Kristus.

Tantangan yang Harus Kita Perbaiki di Sekolah Sabat

Kita menyadari bahwa tidak semua kelas Sekolah Sabat berjalan dengan ideal. Masih banyak kekurangan.

Kadang diskusi didominasi oleh satu orang. Kadang pembahasan melebar keluar topik diskusi. Kadang peserta kelas enggan berbicara.

Kadang guru lebih banyak berkhotbah daripada mengajak berdiskusi. Saya percaya kita perlu terus memperbaiki cara kita belajar bersama.

Sekolah Sabat akan menjadi semakin hidup jika setiap orang merasa diterima, dihargai, dan didorong untuk berpartisipasi. Terlebih bila setiap orang belajar..

Tujuannya untuk bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Kristus.

Mengapa Saya Akan Terus Datang ke Sekolah Sabat?

Saya berharap akan terus hadir di bangku sekolah sabat untuk belajar. Membuka Alkitab. Mendengarkan pengalaman orang lain.

Karena saya percaya, menjadi murid Kristus tidak pernah mengenal kata tamat. Kecuali kita sudah beristirahat.

Penutup

Mengapa saya mencintai Sekolah Sabat? Karena di sanalah kita diingatkan bahwa iman tidak bertumbuh sendirian. Kita perlu Alkitab dan kuasa Roh yang menuntun.

Dan kita juga membutuhkan saudara-saudari seiman, dimana kita berjalan bersama menuju kerajaan Allah..

Sekolah Sabat bukan sekadar kegiatan sebelum kebaktian utama. Ia adalah ruang belajar, ruang berbagi, ruang bertumbuh, dan ruang di mana kasih Kristus dinyatakan melalui percakapan yang sederhana.

Ruang dimana kita dapat mengetahui misi sedunia..

Mungkin itulah sebabnya, setiap hari Sabat, saya selalu merasa ada sesuatu yang kurang jika tidak mengikuti Sekolah Sabat.

Sebab bagi saya, Sekolah Sabat bukan hanya sebuah program gereja. Sekolah Sabat adalah rumah tempat kita terus belajar menjadi murid Yesus.

Akhirnya mari kita sebutkan Yel-yel Sekolah Sabat: Sekolah sabat..bersahabat..bersemangat..semua terlibat..jangan terlambat..

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *