Urbanisasi di Amerika

Kalau kita bicara Country Living kita harus melihat latar belakang sejarah dan urbanisasi di Amerika pada jaman itu sekitaran tahun 1800 an, yang mempengaruhi Gerakan CL di Gereja Advent.

Dalam sejarah urbanisasi Amerika, statistik orang yang tinggal dipedesaan mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

Pada sekitar tahun 1790, hampir 95 persen penduduk Amerika tinggal di desa dan hidup dari pertanian dan peternakan. Hanya 5 persen yang tinggal diperkotaan. ( Charles N. Glaab and A. Theodore Brown, A History of Urban America (New York: Macmillan Company, 1967), 25-26.)

Lalu 30 tahun kemudian tahun 1800an menjadi 6 persen, lalu tahun 1810 menjadi 7.3 persen.

Jadi perpindahan penduduk dari desa kekota bertahap, mulai tahun 1800an, kemudian setelah perang saudara berakhir meningkat terus.

Pada tahun 1890, dua puluh delapan persen orang Amerika tinggal di daerah perkotaan, dan pada tahun 1920 lebih banyak orang Amerika yang tinggal di kota daripada di daerah pedesaan. (https://www.khanacademy.org/humanities/us-history/the-gilded-age/gilded-age/a/america-moves-to-the-city)

Sensus AS tahun 1990 menunjukkan bahwa 77 persen penduduk tinggal di daerah metropolitan.

Sekitar 50 persen orang Advent tinggal di daerah metropolitan, dan 50 persen tinggal di kota-kota kecil dan daerah pedesaan.

Anti perkotaan di Amerika tahun 1790-1850.

1. Thomas Jefferson

Sekitar tahun 1784, kota-kota di Amerika kebanyakan kota-kota kecil. Kemudian muncul orang-orang yang pro kepada hidup di pedesaan seiring meningkatnya urbanisasi.

Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ketiga, menjadi tokoh yang sangat berpengaruh yang pro hidup di desa.

Dia sering secara eksplisit menyatakan bahwa mereka yang bekerja mengolah tanah adalah umat pilihan Allah.

Jefferson menganggap kota-kota itu sebagai ancaman bagi masa depan orang Amerika, demokrasi–ekonomi pertanian.

Pengalaman jefferson dengan epidemi demam kuning tahun 1793 memperkuat ketidaksukaannya terhadap kota. (https://www.governing.com/context/thomas-jefferson-epidemics-and-his-vision-for-american-cities.html)

Pada 1 September 1793, Jefferson menulis kepada teman terdekatnya Madison, “Setiap orang, yang bisa, terbang dari kota, dan kepanikan orang-orang pedesaan kemungkinan akan menambah kelaparan pada penyakit. Saya telah menarik putri saya dari kota, tetapi saya sendiri harus pergi ke sana setiap hari.”

Pandangan Thomas Jefferson tentang kota didasarkan pada asumsi tentang kemanusiaan “mengolah tanah adalah tujuan alami manusia.”

Dia dipengaruhi pandangan Georgies Virgil dan Adam Smith, bahwa kota “ketidakwajaran dan ketergantungan” sebagai sifat buruk penduduk kota.

Pemikiran orang Amerika awal abad 19 kota dipandang sebagai institusi buatan yang mungkin merusak laki-laki atau perempuan.

2. Tradisi Literatur Amerika

Tradisi sastra Amerika mewarisi prasangka lama terhadap kota. Menggambarkan kota sebagai rumah kesombongan, nafsu duniawi, dan persekongkolan. (Glaab and Brown, A History of Urban America. 55).

3. Pendangan Agama terhadap kota

Di Amerika kota dipandang sebagai tempat ujian iman bagi orang Kristen. Kota dapat memperkuat cita-cita Kristen, tetapi di Amerika ekploitasi antara kekayaan dan kemiskinan sangat ekstrim dan itu bertentangan dengan prinsip Kristen.

4. Konsep Ekologi Kota

Ada konsep bahwa kota pada dasarnya tidak sehat, jenis lingkungan berbahaya yang mengancam umat manusia secara fisik, karena sebagian besar penduduk kota saat itu dihantam oleh Penyakit wabah kolera, demam kuning, dan lain-lain yang sering ditakuti pada abad kesembilan belas.

Organisasi agama anti kota di Amerika

Pada tahun 1950an banyak organisasi agama melakukan penanaman gereja di desa-desa. Misalnya Gereja Katolik secara aktif mengirimkan keluarga-keluarga kedaerah pedesaan untuk menyebarkan keyakinan mereka. (esley Amundsen, review of The Christian Home in a Rural Setting, by C. R. McBride, in Ministry. April 1954, 45-46).

Pada tahun 1953, C. R. McBride, profesor pelatihan kepemimpinan pedesaan di Central Baptist Theological Seminary, mempromosikan kehidupan pedesaan dengan menulis sebuah buku, The Christian Home in a Rural Setting, yang dalam banyak hal selaras dengan nasihat yang diberikan oleh Ellen G. White.

Komunitas Amish di Amerika 1727-

Amish, adalah kelompok budaya yang telah berada di Amerika Serikat selama lebih dari dua abad, mereka masih mempertahankan identitas kelompok mereka secara kuat.

Nama Amish, diambil dari nama pemimpin mereka Jakob Ammaan, yang berasal dari Anabaptis Swiss antara 1693 dan 1697.

Keyakinan mereka bahwa kerajaan setan mendominasi dunia ini, maka harus memisahkan diri dari dunia. Mereka mengutip 2 ayat alkitab Roma 12:1 dan 2 Kor 6:12.

Intinya tugas orang Kristen adalah untuk menjaga diri mereka “tak ternoda dari dunia” dan terpisah dari keinginan, maksud, dan tujuan orang duniawi.

Karena keyakinan ini, meereka dilarang bekerja di kota atau pabrik, dan menggunakan listrik, telepon, sistem pemanas, dan mobil. Mereka menggunaan Kuda untuk bertani dan alat transportasi.

Komunitas Mennonite di Amerika (1646-)

Bagi banyak Mennonit, dunia dan segala godaan dosanya merupakan ancaman bagi iman mereka. karena itu mereka diharuskan menarik diri dari dunia.

Pandangan beragama Mennonites menganggap ekonomi pertanian sebagai pekerjaan yang ideal.

Selama tiga ratus tahun, bertani dianggap sebagai cara hidup Mennonite dan komunitas pedesaan adalah yang terbaik untuk mengatur kehidupan mereka bersama.

Dari sudut pandang rohani, kaum Mennonit menganggap ekonomi pertanian sebagai cara hidup yang ideal.

Menjadi seorang Mennonite hampir selalu berarti tumbuh dalam komunitas pertanian. Begitu kuatnya warisan ini sehingga banyak yang percaya bahwa Mennonites tidak dapat bertahan hidup di kota-kota. (Comelius J. Dyck, ed., An Introduction to Mennonite History (Scottdale, PA: Herald Press, 1967), 188-207.)

Namun, setelah Perang Dunia II, cara hidup yang unik ini mulai berubah untuk mengatasi urbanisasi yang cepat di Amerika Utara.

Pergerakan mereka ke kota-kota dan perubahan yang diakibatkan urbanisasi tersebut, memanggil kaum Mennonit untuk menguji iman mereka dan nilai moral mereka dengan cara baru dikota.

Warisan Anti-Perkotaan dan Ellen G. White

Sulit memastikan apakah warisan anti perkotaan ini berhubungan dengan pemikiran Ellen White. Boleh jadi pemikiran anti perkotaan ini tidak secara langsung ditransfer kepada orang advent mula-mula.

Gottfried Oosterwal Ph.D., is director of the Institute of World Mission, Andrews University, mengatakan bahwa sikap anti-kota orang Advent, khususnya di Amerika Utara, sebagian berakar pada warisan budaya abad kesembilan belas diperbatasan Amerika.

Tampaknya Ellen G. White dipengaruhi oleh moralistik “aliran-aliran agrarianisme Ibrani dalam pemikiran Kristen, yang menggambarkan kota sebagai rumah kesombongan, nafsu duniawi, dan persekongkolan.

Pembangunan kota-kota oleh keturunan Kain (Kej 4:17), panggilan Abram dari Ur (Kej 12:1), dan daya tarik Sodom bagi Lot dan istrinya (Kej 19) sering digunakan sebagai ilustrasi dan peringatan tentang hubungan langsung antara kehidupan kota dan kejahatan.

Ketika Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh diorganisir, sebagian besar anggotanya tinggal di pedesaan sampai awal tahun 1870-an ketika era pembangunan kota dimulai.

Ellen G. White (1827-1915), merupakan pendukung utama kehidupan pedesaan, dia lahir dan kemudian meninggal pada sebuah area peternakan.

Dalam tulisannya ada lebih dari enam puluh pernyataan terpisah tentang kota versus hidup desa. Dimulai sekitar tahun 1870 dan berlanjut hingga tahun 1910, dia penuh semangat mengecam kota, dan di sisi lain, kesaksianya mengenai hidup di desa positif, lebih mendesak dan dramatis.

Selanjutnya kita akan lihat Tulisan Ellen G. White tentang hidup di Pedesaan berikut ini. Ellen G. White dan Hidup di Pedesaan

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *