“Selama bertahun-tahun menjadi Advent saya cukup sering mendapat pertanyaan ini: ‘Mengapa Bapak tetap memilih menjadi orang Advent?'”
PERTANYAAN seperti ini kadang datang dari teman. Kadang dari mahasiswa yang sedang mengadakan penelitian. Kadang dari anggota-anggota gereja.
Pertanyaan itu juga kadang datang dari orang-orang yang bukan Kristen.
Kadang tidak mudah menjawabnya dengan satu kalimat. Walau pun dapat dijawab dengan singkat, namun jawabannya bisa panjang.
Menjelaskan mengapa saya tetap menjadi Advent, jawaban untuk ini selalu sama.
Saya tetap menjadi orang Advent bukan karena gereja ini dipenuhi oleh orang-orang yang sempurna, tetapi karena saya yakin gereja ini masih mengajarkan kebenaran seluruh Alkitab..
Benar, gereja ini banyak kekurangan. Orang-orangnya tidak sempurna. Bahkan saya pernah dikecewakan.
Namun kalau saya mencari gereja yang sempurna, saya tidak akan pernah menemukannya di muka bumi ini. Kemana pun kita mencarinya, tidak akan menemukannya..
Mengapa? karena gereja terdiri dari manusia yang berdosa dan masih terus belajar bertumbuh dalam tabiat..
Dan saya pun termasuk di dalamnya. Saya penuh kelemahan. Namun saya belajar untuk bertumbuh. Dan pertumbuhan setiap orang tidaklah sama.
Karena itu kita harus bersabar terhadap semua orang dalam gereja..
Lagi pula, saya tetap menjadi orang Advent bukan karena saya ingin memenangkan sebuah perdebatan doktrin.
Saya juga bukan sedang membuktikan bahwa gereja saya lebih benar daripada orang lain diluar sana.
Karena semakin lama saya melayani, semakin saya menyadari bahwa tujuan hidup orang Kristen bukanlah memenangkan argumen dengan orang lain..
Tujuannya adalah agar saya semakin mengenal Kristus, yang telah mati untuk saya..
Lahir dengan iman yang belum dewasa
Saya bersyukur karena Tuhan mengizinkan saya lahir dan bertumbuh di lingkungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
Ayah dan ibu saya, bahkan kakek saya telah lebih dahulu menjadi Advent. Saya tidak tahu tahun berapa, kemungkinan sebelum Jepang datang, orang tua kekek saya telah menjadi Advent..
Di gereja ini kedua orang tua saya menyerahkan saya ke gereja sebagai bayi Advent dalam acara penyerahan anak.
Pertama kali belajar menyanyikan lagu rohani dikelas sekolah sabat anak-anak di gereja ini.
Di sanalah saya belajar menghafal ayat-ayat Alkitab. Di sanalah saya mengenal Sekolah Sabat. Di sanalah saya belajar berdoa.
Dan di sanalah saya mulai memahami bahwa Yesus bukan sekadar tokoh dalam Alkitab, melainkan Juruselamat yang hidup.
Disana juga saya belajar dari kecil sejarah gereja Advent dan misinya. Dan juga belajar doktrin gereja, waktu itu sepertinya masih 27 doktrin.
Namun saya juga menyadari bahwa menjadi anggota gereja tidak otomatis membuat seseorang mengenal Kristus dengan baik.
Untuk itu, saya harus membangun hubungan pribadi dengan-Nya. Karena iman tidak bisa diwariskan begitu saja. Iman harus dialami.
Memang saya menjadi Advent awalnya karena lahir dari orang tua yang Advent. Namun orang tua saya mengajarkan, menjadi Advent bukan sekedar karena kelahiran, tetapi harus datang dari pengalaman..
Apa kata Alkitab
Sebagai seorang pendeta, saya tentu pernah membaca buku dari berbagai penulis Kristen. Bahkan ratusan buku yang saya baca penulisnya bukan Advent..
Saya juga pernah berdiskusi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang gereja. Bahkan dari latar belakang non Kristen.
Saya bersyukur untuk semua itu. Karena dapat memperkaya wawasan saya tentang keragaman gereja dan agama..
Dan semua buku-buku, percakapan dan diskusi tersebut justru mendorong saya untuk terus kembali kepada Alkitab dan menemukan kebenaran.
Saya belajar untuk tidak menerima sesuatu hanya karena itu adalah tradisi yang telah berlangsung puluhan tahun.
Saya juga belajar untuk tidak menolak sesuatu hanya karena berbeda dengan saya.
Pertanyaan saya selalu adalah “Apa yang Firman Allah katakan?”
Saya percaya bahwa untuk memiliki iman yang sehat, kita tidak boleh takut untuk belajar, bahkan belajar sebuah tema diluar gereja kita.
Karena kebenaran tidak perlu takut diperiksa atau diselidiki. Alkitab katakan, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.” (1 Tesalonika 5:21).
Menemukan cara hidup
Semakin lama saya menjadi orang Advent, saya semakin menyadari bahwa menjadi Advent bukan hanya tentang memiliki 28 doktrin.
Bagi saya, menjadi Advent adalah sebuah cara hidup, yang mengajak saya mencintai Alkitab.
Menghargai hari Sabat sebagai anugerah. Menantikan kedatangan Yesus. Merawat tubuh sebagai bait Roh Kudus.
Membangun mezbah keluarga. Melayani sesama. Dan mengabarkan Injil kepada dunia.
Semua itu bukan sekadar identitas gereja kita. Semua itu adalah undangan untuk hidup semakin dekat kepada Kristus.
Masih terus belajar
Ada orang yang berpikir bahwa menjadi Advent berarti merasa sudah mengetahui semua Alkitab. Karena setiap hari ada pelajaran sekolah sabat.
Dikampung saya, orang Advent dikenal sebagai “Siboto surat” artinya orang yang ahli dalam Alkitab. Mereka bilang, “jangan berdebat dengan orang Advent..”
Saya merasa banyak yang belum saya ketahui. Semakin saya belajar Alkitab, semakin saya sadar bahwa saya masih harus banyak belajar.
Apa yang saya ketahui baru kulit-kulitnya..
Semakin saya berkhotbah, semakin saya menyadari bahwa firman Tuhan harus terlebih dahulu berbicara kepada saya.
Semakin lama saya menjadi pendeta, semakin saya menyadari bahwa saya membutuhkan kasih karunia Tuhan lebih banyak lagi setiap hari.
Saya sedang berusaha tetap berjalan bersama Yesus setiap hari.
Gereja yang tidak sempurna
Sebagai orang Advent, saya mengasihi Gereja ini. Saya tahu bahwa gereja ini tidak sempurna. Karena gereja terdiri dari manusia yang penuh dengan kelemahan.
Saya pernah melihat kesalahpahaman terjadi dalam gereja. Saya pernah melihat perbedaan pendapat.
Saya melihat sendiri perselisihan terjadi digereja, yang akhirnya gereja itu terbagi dua.
Saya juga pernah melihat keputusan yang menurut saya kurang bijaksana dibuat dalam gereja.
Anda mungkin dapat menyebutkannya lebih banyak lagi mengenai kekurangan dalam gereja.
Namun saya juga melihat ribuan orang sederhana yang tetap setia mengasihi Tuhan. Saya melihat para ibu yang tidak pernah berhenti mendoakan anak-anak mereka.
Saya melihat para lansia yang tetap datang beribadah meskipun langkah mereka sudah pelan.
Saya melihat guru Sekolah Sabat yang mempersiapkan pelajaran setiap minggu. Saya melihat para pemuda yang melayani tanpa mencari pujian.
Saya melihat pendeta-pendeta yang mengunjungi jemaat dengan penuh kasih.
Saya melihat Tuhan terus bekerja melalui orang-orang biasa. Dan itu membuat saya tetap berharap.
Apa yang membuat saya bertahan?
Kalau hari ini saya masih menjadi bagian dari Gereja Advent, alasannya bukan karena semua pertanyaan saya sudah terjawab.
Bukan pula karena semua anggota gereja baik-baik. Saya tetap di sini karena saya percaya Tuhan masih memimpin gereja-Nya.
Saya percaya firman Tuhan masih menjadi dasar yang kokoh dari gereja ini. Saya disini karena gereja ini masih mengajarkan seluruh kebenaran Alkitab.
Saya disini karena gereja ini kelanjutan dari reformasi yang belum tuntas dimasa lalu. Dan saya disini karena yakin inilah gereja yang sisa di akhir zaman.
Saya percaya pekabaran tentang kasih karunia, pengharapan akan kedatangan Yesus, dan panggilan untuk hidup setia tetap relevan bagi dunia saat ini.
Dan saya ingin terus menjadi bagian dari misi gereja Advent.
Sebuah kesaksian bukan untuk berdebat
Saya menulis seri ini bukan untuk mengajak siapa pun berdebat tentang gereja ini. Saya juga tidak sedang membandingkan gereja saya dengan gereja lain.
Saya tahu bagi kita yang mungkin pernah merasa diabaikan dan dikecewakani, yang membuat hati kita sakit, sehingga kita mempertanyakan kebenaran gereja ini..
Mari kita merenungkan Kolose 3:13,
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
Sebagai gereja Advent, mari kita menghidupkan cara hidup Advent. Mari kita bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus.
Mari kita mengasihi, bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan.
Tulisan ini hanyalah catatan perjalanan selama bertahun-tahun belajar mengenal Kristus melalui kehidupan di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh.
Kalau nanti ada pembaca yang tidak sependapat dengan saya, saya tetap menghormatinya.
Karena iman tidak tumbuh melalui paksaan. Iman bertumbuh ketika seseorang dengan jujur mencari Tuhan.
Penutup
Kalau suatu hari nanti seseorang kembali bertanya kepada saya, “Mengapa Bapak tetap Advent?”
Saya mungkin tidak akan langsung berbicara tentang 28 doktrin. Saya akan berkata,
“Karena melalui perjalanan hidup di gereja ini, saya belajar semakin mengenal Yesus lebih baik.”
Masih banyak yang harus saya pelajari. Dan itu tidak akan pernah tuntas seumur hidup. Masih banyak kelemahan yang harus Tuhan ubahkan dalam hidup saya.
Tetapi saya bersyukur karena Tuhan tidak pernah berhenti membimbing saya.
Saya tetap Advent bukan karena saya merasa sudah sampai pada puncak kebenaran. Saya tetap Advent karena saya masih berjalan bersama Kristus.
Sekalipun banyak kelemahan dalam gereja ini, saya tetap Advent, karena saya sadar, saya hidup untuk Kristus bukan untuk manusia.
Dan selama Dia tetap memimpin langkah saya, saya ingin tetap setia mengikuti-Nya seumur hidup saya.
“Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.” (Yohanes 6:68)


