Analisis Eksegetis-Teologis terhadap Maleakhi 3:10 dan Implikasinya bagi Pengelolaan Persepuluhan
Oleh Pdt. J.F. Manullang
Maleakhi 3:10 adalah salah satu ayat yang paling sering dikutip dalam perbincangan mengenai persepuluhan. Nabi Maleakhi menulis, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”¹
Perintah ini mengandung beberapa elemen yang menimbulkan pertanyaan teologis di era Kristen: Ke manakah persepuluhan harus dibawa? Apakah “rumah perbendaharaan” itu merujuk kepada gereja lokal, organisasi daerah / konferens, atau entitas lain?
Bagaimana persepuluhan harus dialokasikan — apakah seluruhnya untuk pelayanan pendeta dan misi, ataukah sebagian harus dipakai untuk menolong yatim piatu, janda, dan fakir miskin? Lebih spesifik lagi, apakah praktik Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) yang menyalurkan seluruh persepuluhan ke kantor daerah / konferens dapat dipertanggungjawabkan secara biblika?
Esai ini berargumen bahwa “rumah perbendaharaan” (bêt hā’ôṣār ) dalam Maleakhi 3:10 merujuk kepada pusat penyimpanan terpusat yang dikelola secara terorganisasi untuk menopang pelayanan para hamba Tuhan, dan bahwa prinsip ini secara sah diterapkan dalam sistem daerah / konferens GMAHK.
Namun, esai ini juga akan menunjukkan bahwa Alkitab mengenal dana-dana tambahan — khususnya persepuluhan kedua dan ketiga serta persembahan sukarela — yang secara khusus ditujukan untuk kaum miskin, janda, dan yatim piatu, sehingga persepuluhan pertama tidak boleh dicampuradukkan fungsinya.
1. Konteks Kitab Maleakhi
Maleakhi menulis pada periode pascapembuangan, kemungkinan besar sekitar 450–430 SM, pada masa pemerintahan Persia atas Yehuda.²
Bait Suci kedua telah dibangun kembali di bawah Zerubabel (sekitar 516 SM), tetapi semangat rohani bangsa Israel telah merosot tajam. Para imam melakukan tugas-tugas ibadat dengan asal-asalan, mempersembahkan binatang yang cacat (Mal. 1:6–8), dan umat secara luas mengabaikan kewajiban persepuluhan mereka.³
Konteks historis ini penting: nabi Maleakhi tidak sedang memperkenalkan konsep baru, melainkan mengingatkan bangsa Israel kepada kewajiban yang sudah lama ada namun diabaikan.
Nehemia 13:10–12 memberikan gambaran paralel yang sangat mencerahkan. Nehemia menemukan bahwa “bagian-bagian untuk orang-orang Lewi tidak diberikan kepada mereka, sehingga orang-orang Lewi dan para penyanyi yang bertugas masing-masing pulang ke ladangnya.”⁴
Akibat kelalaian umat membawa persepuluhan ke rumah perbendaharaan, pelayanan ibadah di Bait Suci nyaris lumpuh total. Nehemia lalu menegur para penguasa, mengumpulkan kembali persepuluhan, dan “menunjuk orang-orang yang dipercaya sebagai pengurus perbendaharaan” (Neh. 13:13).
Konteks Nehemia ini membuktikan bahwa ada sistem pengelolaan persepuluhan yang terpusat dan terorganisasi.
2. Sistem Persepuluhan dalam Pentateukh
Untuk memahami Maleakhi 3:10 secara utuh, kita harus menelusuri akar sistem persepuluhan dalam Torah. Terdapat tiga jenis persepuluhan yang diakui oleh para ahli:
Pertama, persepuluhan Lewi (Levitical tithe ) dalam Bilangan 18:21–24. Seluruh persepuluhan dari bangsa Israel diberikan kepada suku Lewi sebagai imbalan atas pelayanan mereka di Kemah Suci, karena mereka tidak mendapat bagian tanah warisan.⁵ Orang Lewi kemudian memberikan sepersepuluh dari persepuluhan itu kepada imam-imam keturunan Harun (Bil. 18:26–28).
Kedua, persepuluhan perayaan (festival tithe ) dalam Ulangan 14:22–27. Persepuluhan ini dimakan oleh pemberi dan keluarganya “di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya” — yaitu di tempat pusat ibadah. Orang Lewi setempat juga diikutsertakan.⁶
Ketiga, persepuluhan untuk kaum miskin (charity tithe ) dalam Ulangan 14:28–29. Setiap tahun ketiga, persepuluhan ini disimpan di kota-kota untuk orang Lewi, orang asing, yatim piatu, dan janda.⁷
Flavius Yosefus dalam Antiquitates Judaicae 4.8.22 secara eksplisit menyebutkan tiga persepuluhan ini sebagai praktik yang berlaku dalam tradisi Yahudi.⁸ Kitab Tobit 1:7–8 juga menyaksikan praktik pemberian tiga persepuluhan ini.⁹
Identifikasi tiga persepuluhan ini penting secara hermeneutis karena membuktikan bahwa sistem biblika sudah sejak awal memisahkan dana untuk pelayanan imam/Lewi dan dana untuk kesejahteraan sosial.
3. Genre Sastra
Kitab Maleakhi menggunakan genre yang unik, yaitu oracle disputasi (disputation oracle ).¹⁰ Struktur ini terdiri dari: (1) pernyataan ilahi, (2) pertanyaan atau sanggahan dari umat, dan (3) respons atau elaborasi ilahi. Dalam Maleakhi 3:7–12, strukturnya jelas:
- Pernyataan ilahi: “Kembalilah kepada-Ku” (ay. 7a).
- Sanggahan umat: “Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?” (ay. 7b).
- Tuduhan ilahi: “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau? Mengenai persepuluhan dan persembahan khusus!” (ay. 8).
- Imperatif ilahi: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan ke dalam rumah perbendaharaan…” (ay. 10).
Genre disputasi ini menunjukkan bahwa Maleakhi 3:10 bukan sekadar nasihat pastoral. Ini adalah tuntutan perjanjian (covenant lawsuit ) — Allah, sebagai Pihak yang berdaulat dalam perjanjian, menuntut kesetiaan umat-Nya.¹¹ Implikasi hermeneutis dari genre ini: perintah membawa persepuluhan ke rumah perbendaharaan bersifat normatif, bukan situasional.
4. Eksegesis dan Analisis Maleakhi 3:10
a. Analisis Frasa Kunci: bêt hā’ôṣār (בֵּית הָאוֹצָר)
Frasa Ibrani yang diterjemahkan “rumah perbendaharaan” adalah bêt hā’ôṣār. Kata ‘ôṣār (אוֹצָר) berasal dari akar kata ‘āṣar yang berarti “menyimpan, menimbun.”¹²
Dalam Theological Dictionary of the Old Testament (TDOT), Botterweck dan Ringgren menjelaskan bahwa kata ini merujuk kepada gudang penyimpanan, khususnya gudang yang berada di bawah pengelolaan otoritas pusat — entah istana raja maupun Bait Suci.¹³
Kata ‘ôṣār muncul 79 kali dalam Perjanjian Lama dan digunakan dalam beberapa konteks: perbendaharaan Bait Suci (1 Raj. 7:51; 2 Taw. 5:1), perbendaharaan kerajaan (1 Raj. 14:26; 15:18), dan perbendaharaan alam milik TUHAN (Ul. 28:12; Yer. 10:13).¹⁴
Yang paling relevan adalah penggunaan dalam konteks Bait Suci. Dalam 1 Tawarikh 26:20, kita membaca tentang “orang-orang Lewi yang mengurus perbendaharaan rumah Allah dan perbendaharaan barang-barang kudus.” Kata yang digunakan adalah ‘ôṣĕrôt bêt hā’ĕlōhîm — identik secara semantik dengan bêt hā’ôṣār dalam Maleakhi 3:10.¹⁵
Dalam NIDOTTE, VanGemeren menegaskan bahwa bêt hā’ôṣār dalam konteks Israel selalu merujuk kepada fasilitas penyimpanan yang terkait dengan pusat ibadah yang sah dan dikelola oleh personel yang ditunjuk secara resmi.¹⁶ Ini bukan gudang pribadi, bukan rumah orang miskin, dan bukan rekening individu. Ini adalah repositori terpusat di bawah otoritas rohani yang diakui.
b. Analisis Frasa: kol-hamma’ăśēr (כָּל־הַמַּעֲשֵׂר)
Kata kol (כֹּל) berarti “seluruh, semua” — bersifat inklusif total. ¹⁷ Kata ma’ăśēr (מַעֲשֵׂר) berasal dari akar kata ‘āśar yang berarti “sepersepuluh.”¹⁸ Dalam HALOT, Koehler dan Baumgartner mendefinisikan ma’ăśēr sebagai “sepersepuluh bagian yang diserahkan sebagai pajak suci.”¹⁹ Penggunaan kol di depan ma’ăśēr menunjukkan bahwa Allah menuntut keseluruhan persepuluhan — bukan sebagian, bukan seenaknya — dibawa ke rumah perbendaharaan. Perintah ini mengandaikan bahwa ada umat yang menahan sebagian atau mengalihkan persepuluhan ke tujuan lain.
c. Analisis Frasa: wîhî-ṭereḇ bĕbêtî (וִיהִי־טֶ֖רֶף בְּבֵיתִ֑י)
Frasa ini secara literal berarti “supaya ada makanan [ṭereḇ] di rumah-Ku.”²⁰ Kata ṭereḇ (טֶרֶף) dalam BDB bermakna “mangsa, makanan,” sering digunakan untuk menggambarkan makanan yang disediakan bagi seseorang.²¹ Dalam konteks ini, “makanan di rumah-Ku” merujuk kepada provisi bagi para imam dan orang Lewi yang melayani di Bait Suci. Tujuan persepuluhan, dengan demikian, secara eksplisit adalah menopang pelayanan para hamba Tuhan yang mengabdikan hidup mereka untuk pelayanan rohani.
5. Sintesis Teologis: Di Manakah Rumah Perbendaharaan Tuhan Sekarang?
a. Dari Bait Suci ke Gereja Kristus
Dengan runtuhnya Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 M, pertanyaan mengenai lokasi “rumah perbendaharaan” menjadi krusial. Perjanjian Baru tidak pernah secara eksplisit menyebutkan bêt hā’ôṣār dalam konteks gereja Kristen, namun prinsip-prinsip yang mendasarinya ditransfer dengan jelas.
Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:13–14 menulis: “Tidakkah kamu tahu, bahwa mereka yang melayani dalam Bait Suci mendapat penghidupan dari Bait Suci, dan bahwa mereka yang melayani mezbah mendapat bagian dari mezbah?
Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”²² Paulus dengan sengaja menggunakan analogi Lewitis untuk melegitimasi dukungan finansial bagi pelayan Injil.
Kata kerja dietaxen (διέταξεν, dari diatassō ) adalah aorist aktif indikatif yang berarti “memerintahkan, menetapkan secara berwibawa.”²³ Ini bukan saran — ini adalah ketetapan Tuhan (ho Kyrios ).
Dalam Galatia 6:6, Paulus menambahkan: “Hendaklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang mengajarnya.”²⁴
Kata koinōneitō (κοινωνείτω) dalam TDNT menunjukkan partisipasi aktif dan resiprokal dalam berbagi sumber daya material.²⁵
b. Gereja sebagai “Rumah Allah”
Perjanjian Baru secara konsisten menyebut gereja sebagai “rumah Allah” (oikos Theou, οἶκος Θεοῦ). Paulus menulis kepada Timotius: “Supaya engkau tahu, bagaimana orang harus hidup dalam rumah Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1 Tim. 3:15).²⁶
Istilah oikos Theou secara semantis paralel dengan bêt YHWH (בֵּית יהוה) dalam Perjanjian Lama. Jika Bait Suci adalah “rumah Allah” di bawah perjanjian lama, maka gereja — sebagai tubuh Kristus yang terorganisasi — adalah “rumah Allah” di bawah perjanjian baru.²⁷
Namun, “rumah Allah” di sini tidak identik dengan satu gedung gereja lokal saja. Dalam teologi Perjanjian Baru, ekklēsia (ἐκκλησία) digunakan baik dalam arti lokal (Mat. 18:17; 1 Kor. 1:2) maupun universal (Ef. 1:22–23; 5:25–27).²⁸
Ini membuka ruang teologis bagi pemahaman bahwa “rumah perbendaharaan” tidak terbatas pada satu gereja lokal, melainkan mencakup organisasi gereja secara keseluruhan yang mengemban misi ilahi.
c. Bukti dari Gereja Mula-Mula
Kisah Para Rasul 4:34–37 mencatat bahwa hasil penjualan harta benda “diletakkan di depan kaki para rasul” — bukan disimpan oleh masing-masing jemaat untuk keperluan mereka sendiri.²⁹
Pengelolaan dilakukan secara terpusat oleh para rasul, yang kemudian mendistribusikannya sesuai kebutuhan (Kis. 4:35). Ketika distribusi menjadi terlalu besar, tujuh orang diaken diangkat untuk tugas administratif ini (Kis. 6:1–6).³⁰
Rasul Paulus juga mengorganisasi pengumpulan dana dari gereja-gereja di Makedonia dan Akhaya untuk gereja di Yerusalem (Rom. 15:25–27; 2 Kor. 8–9), menunjukkan prinsip solidaritas antar-jemaat dan pengelolaan terpusat untuk distribusi yang adil. ³¹
6. Persepuluhan dan Keperluan Sosial: Apakah Persepuluhan untuk Yatim Piatu dan Fakir Miskin?
a. Pemisahan Fungsi dalam Perjanjian Lama
Seperti telah diuraikan di atas, sistem persepuluhan dalam Torah membedakan secara jelas antara persepuluhan pertama (untuk orang Lewi/imam) dan persepuluhan ketiga (untuk kaum miskin).
Roy Gane dalam kajiannya yang mendalam tentang sistem imamat Lewitis menegaskan bahwa persepuluhan pertama (Levitical tithe ) memiliki tujuan yang sangat spesifik dan tidak boleh dialihkan untuk keperluan lain.³²
Ulangan 14:28–29 secara eksplisit menyediakan mekanisme terpisah: “Pada akhir tiga tahun haruslah engkau mengeluarkan segala persepuluhan hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu.
Maka orang Lewi, karena ia tidak mempunyai bagian milik pusaka bersama-sama dengan engkau — dan juga orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam kotamu — boleh datang, lalu makan dan menjadi kenyang.”³³
Jiří Moskala, dalam studinya mengenai persepuluhan di Andrews University Seminary Studies, mengatakan bahwa perbedaan fungsional antara persepuluhan pertama dan persepuluhan ketiga bersifat preskriptif, bukan aksidental.³⁴
Persepuluhan pertama (ma’ăśēr rī’šôn ) adalah milik TUHAN yang didedikasikan untuk pelayanan sakral; persepuluhan ketiga (ma’ăśēr ‘ānî, “persepuluhan orang miskin”) adalah provisi sosial yang Allah tetapkan agar kebutuhan kaum rentan terpenuhi. Mencampuradukkan keduanya berarti merusak tatanan ilahi.
7. Implikasi bagi Gereja Kristen
Prinsip ini memiliki implikasi langsung bagi gereja modern. Persepuluhan pertama (10% dari pendapatan) yang dibawa ke “rumah perbendaharaan” bukan dana untuk program kesejahteraan sosial.
Dana untuk menolong yatim piatu, janda, dan fakir miskin harus berasal dari sumber lain — baik berupa persembahan sukarela, persepuluhan kedua/ketiga (yang diadopsi secara prinsip), maupun dana diakonia khusus.
Paulus sendiri membedakan antara dukungan bagi pelayan Injil (1 Kor. 9:13–14) dan pengumpulan dana untuk orang miskin (1 Kor. 16:1–4; 2 Kor. 8–9).³⁵
8. Praktik GMAHK: Apakah Dapat Dipertanggungjawabkan secara Biblika?
a. Sistem “Storehouse Tithing” dalam GMAHK
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh menerapkan sistem yang dikenal sebagai Storehouse Tithing Plan. ³⁶ Dalam sistem ini, seluruh persepuluhan yang dikumpulkan oleh jemaat lokal diteruskan ke kantor konferens (atau Daerah/Uni). Konferens kemudian menggunakan dana tersebut untuk membayar gaji para pendeta, misionaris, dan biaya penginjilan. Jemaat lokal membiayai operasional mereka dari persembahan sukarela, bukan dari persepuluhan.³⁷
b. Evaluasi Biblika
Berdasarkan eksegesis yang telah dilakukan, sistem ini memiliki dasar biblika yang kuat:
Pertama, bêt hā’ôṣār dalam Maleakhi 3:10 merujuk kepada repositori terpusat, bukan gudang lokal masing-masing kota. Analogi terdekatnya dalam konteks organisasi gereja modern adalah kantor daerah / konferens, yang berfungsi sebagai pengelola pusat untuk mendistribusikan dana secara adil kepada seluruh pelayan Injil di wilayahnya.³⁸
Kedua, tujuan persepuluhan — “supaya ada makanan di rumah-Ku” — secara spesifik merujuk kepada penopangan pelayanan para hamba Tuhan. Paulus menegaskan prinsip ini: “Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1 Kor. 9:14). Konferens, sebagai entitas yang mengelola penempatan dan penggajian pendeta, menjalankan fungsi ini.
Ketiga, prinsip keadilan distribusi. Jika persepuluhan dikelola hanya di tingkat lokal, jemaat yang besar dan kaya akan berlimpah, sementara jemaat yang kecil dan miskin — mungkin di daerah terpencil atau ladang misi yang baru — tidak mampu menopang seorang pendeta pun.³⁹ Sistem terpusat memungkinkan distribusi yang adil, persis seperti prinsip dalam 2 Korintus 8:14: “Supaya terjadi keseimbangan.”
Keempat, Ángel Manuel Rodríguez dari Biblical Research Institute (BRI) menjelaskan bahwa istilah “rumah perbendaharaan” dalam Maleakhi 3:10 merujuk kepada “tempat atau sistem terpusat yang ditetapkan oleh Allah di mana persepuluhan dikumpulkan dan didistribusikan untuk mendukung mereka yang melayani penuh waktu dalam pelayanan rohani.”⁴⁰ BRI secara resmi mendukung posisi bahwa “rumah perbendaharaan” dalam konteks GMAHK adalah daerah / konferens/misi lokal.
c. Apakah Salah Jika Tidak Ada yang Disisakan di Jemaat?
Jawabannya terletak pada pemahaman yang tepat tentang fungsi persepuluhan. Persepuluhan pertama memang tidak pernah dimaksudkan untuk operasional gedung gereja lokal, program sosial lokal, atau keperluan administrasi jemaat.
Dalam sistem Lewitis, persepuluhan diberikan kepada orang Lewi, bukan untuk pemeliharaan Bait Suci (yang dibiayai dari sumber lain, bandingkan 2 Raj. 12:4–16).⁴¹
Dengan demikian, praktik GMAHK yang menyalurkan seluruh persepuluhan ke daerah / konferens tidaklah salah — justru sesuai dengan pola biblika.
Yang perlu dipastikan adalah bahwa jemaat lokal memiliki sumber dana lain (persembahan sukarela, persembahan ucapan syukur, dana diakonia, dan sebagainya) untuk memenuhi kebutuhan operasional dan pelayanan sosialnya.
8. Nasihat Ellen G. White mengenai Persepuluhan dan Rumah Perbendaharaan
Ellen G. White memberikan pernyataan-pernyataan yang sangat jelas dan konsisten mengenai topik ini.
a. Persepuluhan Adalah Milik Tuhan
Ellen White menegaskan: “Persepuluhan itu dikuduskan bagi Allah, dan barangsiapa yang menggunakan persepuluhan bagi dirinya sendiri, dia merampok Allah. … Persepuluhan telah disisihkan oleh Allah untuk tujuan tertentu. Persepuluhan itu bukan milik kita untuk digunakan bagi tujuan kita sendiri.”⁴² Dalam Testimonies for the Church, jilid 9, ia menulis: “Persepuluhan itu kudus, dicadangkan oleh Allah bagi diri-Nya sendiri. Persepuluhan itu harus dibawa ke dalam perbendaharaan-Nya untuk digunakan bagi penopangan para pelayan Injil dalam pekerjaan mereka.”⁴³
b. Rumah Perbendaharaan Adalah Daerah / Konferens
Ellen White secara eksplisit mengidentifikasi “rumah perbendaharaan” dengan organisasi daerah / konferens: “Ada orang-orang yang mau mengirimkan persepuluhan mereka ke sana ke mari, kepada siapa saja yang mereka pilih. Dengan demikian mereka merampas pelayan-pelayan kebenaran dari bagian yang seharusnya menjadi hak mereka.” Ia menambahkan: “Persepuluhan harus diberikan kepada mereka yang bekerja dalam pengajaran dan doktrin, dan itu harus disalurkan melalui saluran yang telah ditetapkan Allah — yaitu konferens.”⁴⁴
Dalam Testimonies for the Church, jilid 9, halaman 247–248, White memberikan pernyataan yang sangat tegas: “Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak perlu memberikan persepuluhan mereka ke konferens melainkan langsung kepada seseorang yang menurut mereka memerlukan, atau langsung mendukung pelayanan tertentu. Tetapi dengan melakukan hal ini mereka gagal menghormati prinsip yang telah ditetapkan Allah.”⁴⁵
c. Persepuluhan Bukan untuk Kaum Miskin
White membedakan dengan tegas antara persepuluhan dan dana untuk kaum miskin: “Persepuluhan disisihkan untuk penggunaan khusus. Persepuluhan itu tidak boleh dianggap sebagai dana untuk orang miskin. Persepuluhan itu harus secara khusus didedikasikan untuk penopangan mereka yang membawa pekabaran Allah kepada dunia; dan persepuluhan itu tidak boleh dialihkan dari tujuan ini.”⁴⁶ Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap kaum miskin harus dipenuhi dari persembahan sukarela dan dana khusus lainnya, bukan dari persepuluhan.
d. Dana Terpisah untuk Kaum Miskin
Ellen White menulis: “Di samping persepuluhan, Tuhan menuntut persembahan dari buah pertama. … Dan selain semua itu, Dia menuntut persembahan-persembahan sukarela dan persembahan-persembahan untuk kaum miskin.”⁴⁷ Ia merujuk secara eksplisit kepada sistem persepuluhan kedua dan ketiga dalam Pentateukh sebagai preseden ilahi untuk menyediakan dana bagi kaum rentan secara terpisah dari persepuluhan pertama.⁴⁸
9. Kritik Teks dan Catatan Tambahan
Dari perspektif kritik teks (textual criticism ), Maleakhi 3:10 memiliki transmisi yang sangat stabil. Teks Masoret (MT) dan Septuaginta (LXX) secara substansial sepakat. LXX menerjemahkan bêt hā’ôṣār sebagai eis to gazophylakion (εἰς τὸ γαζοφυλάκιον), yang bermakna “ke dalam tempat perbendaharaan.”⁴⁹
Kata gazophylakion inilah yang kemudian muncul dalam Perjanjian Baru ketika Yesus mengamati para pemberi persembahan di Bait Suci (Mrk. 12:41; Luk. 21:1), menunjukkan kesinambungan konseptual antara rumah perbendaharaan PL dan tempat pengumpulan persembahan di PB.⁵⁰ Tidak ada varian teks yang signifikan yang mengubah makna inti dari ayat ini.
Beberapa gulungan kecil dari Qumran (4QXIIᵃ) memuat fragmen kitab Dua Belas Nabi Kecil, dan sejauh fragmen Maleakhi dapat direkonstruksi, pembacaannya konsisten dengan MT.⁵¹ Dengan demikian, kita memiliki tingkat keyakinan teks yang sangat tinggi untuk Maleakhi 3:10.
10. Perspektif Great Controversy dan Eskatologis
Dalam kerangka teologi Adventist, isu persepuluhan bukan sekadar persoalan keuangan — ia adalah bagian dari pertentangan besar (Great Controversy ) antara Kristus dan Setan. Ellen G. White memandang kesetiaan dalam persepuluhan sebagai ujian kesetiaan dan pengakuan kedaulatan Allah.⁵² Setan, yang selalu berusaha merusak pekerjaan Allah, tentu ingin memotong sumber dana yang menopang pekabaran tiga malaikat (Why. 14:6–12).⁵³
Di akhir zaman, ketika pekabaran Injil kekal harus diberitakan “kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum” (Why. 14:6), kebutuhan dana untuk misi global menjadi semakin mendesak.
Sistem persepuluhan yang terorganisasi memungkinkan gereja menjangkau wilayah-wilayah yang belum terjangkau. Jika setiap jemaat lokal menahan persepuluhan untuk keperluan sendiri, misi global akan lumpuh — dan inilah yang diinginkan musuh jiwa-jiwa manusia.⁵⁴
Norman Gulley dalam Systematic Theology menegaskan bahwa kesetiaan finansial, termasuk dalam persepuluhan, merupakan ekspresi dari kesetiaan perjanjian yang lebih dalam — kesetiaan yang akan diuji secara semakin tajam menjelang kedatangan Kristus.⁵⁵
11. Implikasi dan Aplikasi bagi Pembaca di Akhir Zaman
a. Persepuluhan Adalah Tindakan Iman dan Ibadah
Membawa persepuluhan ke rumah perbendaharaan bukan transaksi ekonomi. Ini adalah tindakan iman yang menyatakan bahwa kita mengakui Allah sebagai Pemilik segala sesuatu (Mzm. 24:1; Hag. 2:8) dan mempercayai janji-Nya untuk mencukupkan kebutuhan kita.⁵⁶ Dalam dunia yang semakin tidak pasti secara ekonomi, kesetiaan dalam persepuluhan menjadi saksi yang kuat tentang iman yang hidup.
b. Menghormati Saluran yang Ditetapkan Allah
Godaan untuk mengalihkan persepuluhan ke proyek pribadi, pelayanan independen, atau bahkan program sosial yang mulia tetaplah godaan untuk mengambil alih otoritas Allah atas milik-Nya.
White memperingatkan: “Pikiran manusia mungkin menganggap bahwa persepuluhan dapat digunakan dengan lebih baik secara langsung untuk sekolah atau rumah sakit daripada untuk pekerjaan pelayanan dan pemberitaan Injil.
Tetapi jika semua orang mau mengikuti pendapat mereka sendiri, rencana Allah tidak akan dijalankan.”⁵⁷ Ini tidak berarti kita buta terhadap kelemahan organisasi — transparansi dan akuntabilitas harus dituntut — tetapi prinsip dasar penyaluran melalui daerah / konferens tetap sah secara biblika.
c. Dana Terpisah untuk Pelayanan Sosial
Gereja lokal harus secara aktif dan kreatif menyediakan dana terpisah untuk melayani kaum miskin, yatim piatu, dan janda. Ini bukan opsional; ini perintah ilahi (Ul. 14:28–29; Yak. 1:27; Gal. 2:10).
Persembahan sukarela, dana diakonia, dan proyek-proyek kesejahteraan jemaat harus digalakkan secara terencana dan konsisten. Kegagalan melakukan ini tidak bisa dijadikan alasan untuk mengalihkan persepuluhan dari tujuan utamanya; sebaliknya, ia harus menjadi motivasi untuk memberikan lebih di luar persepuluhan.
d. Transparansi dan Akuntabilitas Organisasi
Prinsip “rumah perbendaharaan” mengandaikan harus ada pengelolaan yang bertanggung jawab. Nehemia menunjuk “orang-orang yang dipercaya” (Neh. 13:13) — kata Ibrani ne’ĕmānîm (נֶאֱמָנִים), yang berarti “orang-orang yang setia, dapat diandalkan.”⁵⁸
Organisasi gereja memikul tanggung jawab besar untuk mengelola persepuluhan dengan integritas, transparansi, dan efisiensi. Setiap penyalahgunaan atau ketidaktransparanan adalah pelanggaran terhadap amanat suci ini.
e. Bersiap untuk Kedatangan Kristus
Maleakhi 3:10 berada dalam konteks eskatologis yang lebih luas — kitab Maleakhi berakhir dengan janji kedatangan Elia sebelum “hari TUHAN yang besar dan dahsyat” (Mal. 4:5).⁵⁹
Yesus sendiri mengidentifikasi nubuatan ini sebagai merujuk kepada pekerjaan pembaruan menjelang kedatangan-Nya (Mat. 17:11–13).⁶⁰
Kesetiaan dalam persepuluhan, dengan demikian, bukan sekadar kewajiban rutin — ia adalah bagian dari persiapan umat menjelang kedatangan Kristus kedua kali. Umat yang setia dalam hal-hal kecil akan dinyatakan setia oleh Tuannya (Mat. 25:21).
12. Kesimpulan dan Ajakan
Rumah perbendaharaan Tuhan di era Kristen bukanlah sebuah gedung fisik di Yerusalem. Ia adalah sistem yang ditetapkan Allah di mana persepuluhan dikumpulkan, dikelola, dan didistribusikan secara terorganisasi untuk menopang pelayanan Injil. Dalam konteks GMAHK, konferens menjalankan fungsi ini dengan dasar biblika yang sah dan konsisten.
Persepuluhan pertama secara eksklusif diperuntukkan bagi pelayanan rohani — gaji pendeta, misionaris, dan pekerjaan penginjilan.
Ia bukan dana untuk keperluan bangunan gereja lokal, bukan dana untuk yatim piatu dan fakir miskin, dan bukan dana yang boleh kita alokasikan sesuai keinginan pribadi.
Untuk keperluan sosial dan kemanusiaan, Allah telah menyediakan saluran lain: persembahan sukarela, persepuluhan kedua dan ketiga secara prinsipiel, serta dana diakonia.
Ellen G. White, dengan tegas dan konsisten, menegaskan prinsip-prinsip ini — bukan sebagai pengganti Kitab Suci, melainkan sebagai saksi yang memperkuat dan mengaplikasikan kebenaran biblika bagi gereja di akhir zaman.
Kita hidup di ambang kekekalan. Pekabaran tiga malaikat harus diberitakan ke seluruh dunia sebelum Kristus datang. Kesetiaan dalam persepuluhan adalah salah satu cara konkret kita berpartisipasi dalam misi agung ini. Bukan karena Allah membutuhkan uang kita — Ia yang memiliki “perak dan emas” (Hag. 2:8).
Melainkan karena dalam memberi, kita menyatakan iman kita, melepaskan diri dari cengkeraman keserakahan, dan mengikatkan hati kita pada pekerjaan kerajaan-Nya.
“Ujilah Aku,” firman TUHAN. Ini adalah satu-satunya bidang di mana Allah mengundang umat-Nya untuk menguji-Nya. Dan janji-Nya tidak pernah gagal.
Catatan Kaki:
¹ Maleakhi 3:10.
² Pieter A. Verhoef, The Books of Haggai and Malachi, New International Commentary on the Old Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 1987), 156–159.
³ Andrew E. Hill, Malachi: A New Translation with Introduction and Commentary, Anchor Yale Bible 25D (New York: Doubleday, 1998), 46–50.
⁴ Nehemia 13:10.
⁵ Bilangan 18:21–24. Lihat juga Roy Gane, Leviticus, Numbers, NIV Application Commentary (Grand Rapids: Zondervan, 2004), 659–663.
⁶ Ulangan 14:22–27.
⁷ Ulangan 14:28–29.
⁸ Flavius Yosefus, Antiquitates Judaicae 4.8.22. Lihat juga SDA Bible Commentary (SDABC), ed. F. D. Nichol (Washington, DC: Review and Herald, 1953–1957), 1:1013.
⁹ Tobit 1:7–8, dalam terjemahan RSV Apocrypha. Referensi ini digunakan sebagai sumber historis, bukan kanonik.
¹⁰ Claus Westermann, Basic Forms of Prophetic Speech, trans. Hugh C. White (Louisville: Westminster John Knox, 1991), 199–201.
¹¹ Jiří Moskala, “The Laws of Clean and Unclean Animals of Leviticus 11: Their Nature, Theology, and Rationale (An Intertextual Study),” Andrews University Seminary Studies (AUSS) 46, no. 1 (2008): 8. Moskala menerapkan prinsip serupa tentang otoritas perjanjian dalam konteks Lewitis.
¹² Ludwig Koehler dan Walter Baumgartner, The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament (HALOT) (Leiden: Brill, 2001), s.v. “אוֹצָר.”
¹³ G. Johannes Botterweck dan Helmer Ringgren, eds., Theological Dictionary of the Old Testament (TDOT) (Grand Rapids: Eerdmans, 1974–2006), 1:389–391.
¹⁴ Francis Brown, S. R. Driver, dan Charles A. Briggs, A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament (BDB) (Oxford: Clarendon, 1907), s.v. “אוֹצָר.”
¹⁵ 1 Tawarikh 26:20, TB. Cf. SDABC, 3:209.
¹⁶ Willem A. VanGemeren, ed., New International Dictionary of Old Testament Theology and Exegesis (NIDOTTE) (Grand Rapids: Zondervan, 1997), 1:416–418.
¹⁷ BDB, s.v. “כֹּל.”
¹⁸ R. Laird Harris, Gleason L. Archer Jr., dan Bruce K. Waltke, Theological Wordbook of the Old Testament (TWOT) (Chicago: Moody, 1980), s.v. “עָשַׂר.”
¹⁹ HALOT, s.v. “מַעֲשֵׂר.”
²⁰ Maleakhi 3:10b.
²¹ BDB, s.v. “טֶרֶף.”
²² 1 Korintus 9:13–14.
²³ Walter Bauer et al., A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (BDAG), 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2000), s.v. “διατάσσω.”
²⁴ Galatia 6:6.
²⁵ Gerhard Kittel dan Gerhard Friedrich, eds., Theological Dictionary of the New Testament (TDNT) (Grand Rapids: Eerdmans, 1964–1976), 3:804–809, s.v. “κοινωνέω.”
²⁶ 1 Timotius 3:15.
²⁷ Raoul Dederen, ed., Handbook of Seventh-day Adventist Theology, Commentary Reference Series, vol. 12 (Hagerstown, MD: Review and Herald, 2000), 814–816.
²⁸ BDAG, s.v. “ἐκκλησία.”
²⁹ Kisah Para Rasul 4:34–37.
³⁰ Kisah Para Rasul 6:1–6.
³¹ George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1993), 537–538.
³² Roy Gane, Cult and Character: Purification Offerings, Day of Atonement, and Theodicy (Winona Lake, IN: Eisenbrauns, 2005), 310–312.
³³ Ulangan 14:28–29.
³⁴ Jiří Moskala, “Tithing in the Old Testament and Its Implications for Today” (Makalah dipresentasikan di Biblical Research Institute, General Conference of Seventh-day Adventists, 2007), 12–15. Lihat juga Ángel Manuel Rodríguez, Stewardship Roots: Toward a Theology of Stewardship, Tithe, Offerings (Silver Spring, MD: Stewardship Department, General Conference of SDA, 1994), 97–106.
³⁵ Cf. Thomas R. Schreiner, New Testament Theology: Magnifying God in Christ (Grand Rapids: Baker Academic, 2008), 737–739.
³⁶ Seventh-day Adventists Believe: An Exposition of the Fundamental Beliefs of the Seventh-day Adventist Church, 2nd ed. (Silver Spring, MD: Ministerial Association, General Conference of SDA, 2005), 306–315.
³⁷ Seventh-day Adventist Church Manual, 19th ed. (Silver Spring, MD: Secretariat, General Conference of SDA, 2016), 201–207.
³⁸ Ángel Manuel Rodríguez, “Tithing in the Adventist Church,” Biblical Research Institute (BRI), accessed 2024, https://adventistbiblicalresearch.org. Lihat juga G. Edward Reid, It’s Your Money! Isn’t It? (Hagerstown, MD: Review and Herald, 1993), 73–91.
³⁹ Dederen, Handbook of Seventh-day Adventist Theology, 819.
⁴⁰ Rodríguez, Stewardship Roots, 108.
⁴¹ 2 Raja-Raja 12:4–16. Cf. SDABC, 2:891–892.
⁴² Ellen G. White, Counsels on Stewardship (Washington, DC: Review and Herald, 1940), 101.
⁴³ Ellen G. White, Testimonies for the Church (Mountain View, CA: Pacific Press, 1909), 9:249.
⁴⁴ Ellen G. White, Testimonies for the Church, 9:247–248.
⁴⁵ Ibid., 248.
⁴⁶ White, Counsels on Stewardship, 103.
⁴⁷ Ellen G. White, Patriarchs and Prophets (Washington, DC: Review and Herald, 1890), 530.
⁴⁸ Ellen G. White, Welfare Ministry (Washington, DC: Review and Herald, 1952), 275–277.
⁴⁹ Alfred Rahlfs, ed., Septuaginta (Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 2006), Maleakhi 3:10.
⁵⁰ Markus 12:41; Lukas 21:1. Cf. BDAG, s.v. “γαζοφυλάκιον.”
⁵¹ Russell Fuller dan Kyoungshik Shin, The Twelve Minor Prophets, Qumran Cave 4, Discoveries in the Judaean Desert XV (Oxford: Clarendon, 1997), 221–226.
⁵² Ellen G. White, The Great Controversy (Mountain View, CA: Pacific Press, 1911), 584–585.
⁵³ Wahyu 14:6–12, TB. Cf. Ranko Stefanovic, Revelation of Jesus Christ: Commentary on the Book of Revelation, 2nd ed. (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2009), 443–456.
⁵⁴ Norman R. Gulley, Systematic Theology: The Church and the Last Things (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2016), 4:252–255.
⁵⁵ Ibid., 4:253.
⁵⁶ Mazmur 24:1; Hagai 2:8.
⁵⁷ White, Testimonies for the Church, 9:248.
⁵⁸ BDB, s.v. “נֶאֱמָן.”
⁵⁹ Maleakhi 4:5.
⁶⁰ Matius 17:11–13, TB. Cf. Jacques Doukhan, Secrets of Daniel (Hagerstown, MD: Review and Herald, 2000), 171.










