HANYA butuh waktu 2 jam dari bukaan 3, sudah tuntas melahirkan. Cepat dan mengejutkan. Sakit bersalinnya tidak lama. Tentu bagi yang merasakan sakitnya, satu menit saja terasa lama.

Tapi ini termasuk melahirkan paket cepat. Isteri saya setiap mendapat kontraksi, dia tidak bisa diam. Dia memilih jalan-jalan. Mondar-mandir didalam rumah sejak pukul 8 pagi.

Usia kandungan memang sudah memasuki HPL. Tetapi masih akhir bulan. 1 minggu lagi. Tapi kontraksi sudah mulai terasa.

Jam 2 siang ke dokter kandungan. Belum waktunya periksa. Masih 1 minggu lagi jadwalnya. Tapi karena ingin memastikan. Apakah ini kontraksi betulan atau palsu.

Bidan katakan, “sudah bukaan tiga bu..” Lalu disuruh segera masuk ruang bersalin. Tapi istri saya tidak ingin cepat-cepat masuk keruang bersalin.

Dia masih mondar mandir dirumah sakit. Naik turun tangga. Pergi keluar cari makanan. Antar anak-anak ketempat “pengungsian” sementara..

Karena kontraksi semakin lebih sering, dia segera masuk keruang bersalin. Pukul 16. 30 wib. Perawat memberi infus. Disuruh tiduran. Tidak betah tiduran. Turun dari Kasur.

Kembali mondar-mandir diruangan bersalin…

Saat mondar mandir, tiba-tiba keluar cairan bening. Air ketuban pecah. Segera naik ketempat tidur. Tiduran. Semakin kuat kontraksinya. Semakin sakit rasanya..

Bidan datang. Dua orang. Memberi aba-aba. Kedua paha dipegang. Tarik nafas dan mengejan tanpa suara.

Cukup 5 kali mengejan dengan teknik pernafasan yang baik, dengan cepat kepala bayi keluar dan meluncur kepermukaan. Tangisan bayi memecah ruangan bersalin..

Erangan kesakitan, omelan, keluhan, tidak terdengar lagi. Sekarang berganti dengan tertawa. Manusia baru telah dilahirkan.

Pergulatan hidup dan mati telah berlalu bagi sang ibu. Sekarang perjuangan untuk survive bagi bayi baru saja dimulai..

Dengan berat 3,5 kg dan panjang 48 cm, semua jari-jari tangan dan kaki lengkap, pendengaran dan mata bagus. Bayinya sempurna.

Bagi kami ini adalah anak yang ketiga. Sebelumnya kami sudah memiliki dua. Perempuan. Deluna umur 8 tahun. Aqueline umur 5 tahun.

Isteri saya tidak berharap anak ketiga. Bagi dia dua anak cukup. Tidak ingin hamil lagi. Saya masih ingin satu lagi. Jika Tuhan berkenaan anak ketiga laki-laki.

Saya berdoa untuk anak ketiga laki-laki. Istri saya berdoa tidak ada lagi anak ketiga. Dia pakai KB.

Mengejutkan, tiba-tiba dia hamil. Bukanya senang. Dia marah. Menangis. Komplain kepada Tuhan. “saya tidak ingin hamil lagi..! teriaknya..

Saya bersimpati dengan kesedihannya. Tapi dalam hati saya senang sekali..

Untuk beberapa minggu lamannya, dia belum dapat terima. Tetapi seiring waktu berjalan, dia akhirnya dapat terima. Dia terhibur karena berpikir, siapa tahu anak ini laki-laki..

Memang sejak awal dia menginginkan anak laki-laki. Sebelum pernikahan pun dia telah berdoa untuk anak laki-laki. Setelah menikah pun dia terus mendoakannya..

Kehamilan yang pertama usia 1 bulan keguguran. Lalu hamil lagi. keguguran lagi usia 3 bulan. Hamil lagi untuk ketiga kalinya. Hamil luar kandungan. Operasi angkat embrio.

Lalu hamil lagi. kali ini kehamilannya baik-baik saja. Pada usia 7 bulan USG 4 D. Jenis kelaminya perempuan. Dia tidak terima. Alatnya USGnya yang disalahkan..

Pergi kedokter lainnya, USG 4 D. Hasilnya sama. Perempuan. Tidak terima. “Alatnya salah..” katanya dengan kesal..

“Sudah dua kali USG tidak mungkin alatnya salah..” jawab saya..

“Saya susah dan menderita untuk memiliki anak, saya minta kepada Tuhan untuk anak laki-laki, tapi kenapa dia memberikan anak perempuan..?” tanyanya dengan nada marah..

“Tuhan tahu yang terbaik, yang atur laki-laki atau perempuan Tuhan. Dia ingin kita memiliki anak perempuan untuk satu maksud yang sekarang kita tidak tahu..” Jawab saya..

Dia pun akhirnya menerima dan menikmati kehamilannya dengan senang hati.

“Mungkin nanti anak kedua baru Tuhan memberi laki-laki..” Katanya..

“Semoga saja, apa pun itu biarlah Tuhan yang atur.” Kata saya..

Dia berdoa untuk anak laki-laki. Namun dikehamilan berikutnya, tidak sesuai dengan yang didoakan. Jenis kelaminnya perempuan lagi.

Kembali alat USG yang disalahkan. Ganti-ganti dokter hingga tiga kali. Pada akhirnya dia pasrah. Jenis kelamin tidak dapat diatur. Diminta boleh. Namun realisasinya terserah Tuhan.

Ayat-ayat Alkitab di Roma 8:28 dan Yesaya menyadarkannya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk memberi kebaikan..

Selanjutnya Yesaya 55:8-9, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu..”

Sejak hari itu dia belajar menerima pemberian Tuhan tanpa komplain. Perempuan dan laki-laki sama saja. Masing-masing akan memainkan peran yang penting dalam hidup dimasa depan..

Dari pengalaman itu, dia berhenti berdoa untuk meminta sesuatu yang manusia tidak bisa atur. Berserah dan menerima apa saja menenangkan jiwa..

Karena itu dia puas telah memiliki dua anak perempuan. Itu sudah cukup. Tidak mengharap anak laki-laki. Dua anak cukup. Laki-laki atau perempaun sama baiknya..

Program memiliki anak pun ditutup. Fokus membersarkan dua anak perempuan.

Namun suatu kali dia terkejut menemukan dirinya hamil lagi. Sempat tidak menerima kehamilann ini. Selain faktor umur, juga tidak ingin lagi berurusan dengan bayi..

Tapi apa boleh buat. Sudah terjadi. Janin sudah menancap dalam rahim. Tidak mungkin dibuang. Dalam batinnya dia berbicara, “Siapa tahu ini anak laki-laki..”

Akhirnya kehamilan ini pun dinikmati. Tidak sabar menunggu usia 7 bulan agar jenis kelaminnya dapat dideteksi..

Tujuh bulan pun tiba. USG. “ Wah selamat ya ada monasnya..ini laki-laki..” Seru dokter Danny..

“Ah yang benar dokter..?” Tanyanya serasa tidak percaya..

Dokter meyakinkan bahwa ini laki-laki. Serasa terbang diawan, dia begitu girang. Badannya terasa enteng.

Semakin sadar dan tercerahkan bahwa jawaban doa dari yang kita minta sering kali tidak terjadi saat itu juga.

Tuhan sering kali memberikannya saat kita tidak berharap lagi dan kita sudah melupakannya, bahkan saat kita tidak menginginkannya lagi..

Pemberian Tuhan melampaui harapan kita.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *