Analisis Historis-Teologis atas Praktik Ellen G. White dan Implikasinya bagi GMAHK

Oleh Pdt. J.F. Manullang

Sedikit isu dalam kehidupan internal Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh yang menimbulkan perdebatan sepanas topik persepuluhan — khususnya ketika nama Ellen G. White sendiri diseret ke dalam diskursus sebagai “pembenaran” untuk mengalihkan persepuluhan dari saluran organisasi resmi gereja.

Klaim bahwa White pernah mengirimkan persepuluhannya langsung kepada para pendeta tertentu dan proyek misi tertentu, tidak ke konferens, memang memiliki basis historis yang dapat diverifikasi.

Namun, apakah fakta historis tersebut lantas menjadi norma teologis universal / permanen? Ataukah hanya tindakan situasional dan temporal, dan bukan berubah menjadi doktrin permanen / universal?

Di sinilah letak persoalan hermeneutis yang harus dipecahkan dengan kehati-hatian akademik yang tinggi.

Esai ini bertujuan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara komprehensif dengan menelusuri latar belakang historis-kultural, melakukan analisis gramatikal-eksegetis terhadap teks-teks Alkitab yang mendasari doktrin persepuluhan, memeriksa tulisan-tulisan Ellen G. White secara kontekstual, mengidentifikasi akar-akar “roh anti-persepuluhan” dalam komunitas Advent, dan menarik implikasi praktis bagi umat percaya di akhir zaman.

1. Persepuluhan dalam Perjanjian Lama

Konsep persepuluhan (maʿăśēr, מַעֲשֵׂר) bukan penemuan Israel. Praktik memberikan sepersepuluh dari pendapatan atau hasil bumi kepada otoritas keagamaan telah ditemukan dalam peradaban Mesopotamia kuno, termasuk di Ugarit dan Babilonia.¹

Namun, dalam konteks Alkitab, persepuluhan memperoleh makna teologis yang unik: ia adalah pengakuan bahwa Tuhan adalah Pemilik segala sesuatu (Mzm. 24:1; Hag. 2:8), dan manusia hanyalah penatalayan (steward ) yang mengelola apa yang dipercayakan kepadanya.

Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek, imam Allah Yang Mahatinggi (Kej. 14:18–20), jauh sebelum hukum Musa diberikan — sebuah fakta yang menegaskan bahwa prinsip persepuluhan bersifat pra-Sinai dan karenanya melampaui batas-batas dispensasi hukum seremoni.²

Yakub, di Betel, berjanji memberikan sepersepuluh dari segala yang Tuhan berikan kepadanya (Kej. 28:22). Kedua narasi ini menunjukkan bahwa persepuluhan berakar dalam respons iman dan syukur, bukan sekadar kewajiban legalisme kultis.

Dalam sistem Musa, persepuluhan diatur secara sistematis. Imamat 27:30–32 menegaskan: “Segala persepuluhan dari tanah, baik dari benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN.”

Kata kunci di sini adalah qōḏeš laYHWH (קֹ֥דֶשׁ לַיהוָ֖ה) — “kudus bagi TUHAN.” Bentuk qōḏeš dalam konstruksi status constructus dengan nama ilahi menegaskan bahwa persepuluhan bukan milik manusia yang kemudian “diberikan” kepada Tuhan, melainkan sudah menjadi milik Tuhan sejak semula dan oleh karena itu harus “dikembalikan” (hēšîḇ, bukan sekadar “diberikan”).³

Bilangan 18:21–24 menunjukkan bahwa persepuluhan dialokasikan secara spesifik kepada orang-orang Lewi sebagai topangan atas pelayanan mereka di Kemah Suci, karena mereka tidak memperoleh bagian tanah warisan di Kanaan.

Orang-orang Lewi sendiri kemudian memberikan “persepuluhan dari persepuluhan” kepada imam-imam keturunan Harun (Bil. 18:25–28).

Sistem ini menunjukkan adanya struktur organisasi yang baku dalam penyaluran persepuluhan — persepuluhan tidak diberikan secara sembarangan menurut kehendak si pemberi, melainkan mengalir melalui saluran yang telah Tuhan tetapkan.⁴

2. Persepuluhan dalam Konteks Maleakhi

Maleakhi 3:8–10 merupakan teks paling terkenal tentang persepuluhan. Kata kunci dalam ayat 10 adalah bêt hāʾôṣār (בֵּ֣ית הָאוֹצָ֗ר), yang diterjemahkan “rumah perbendaharaan.”

Dalam konteks historis pasca-pembuangan, ini merujuk kepada ruangan-ruangan penyimpanan (storage chambers ) di Bait Suci Yerusalem yang dikelola di bawah otoritas para imam dan Lewi (lih. Neh. 10:38–39; 12:44; 13:10–13; 2 Taw. 31:5–12).⁵

Frase perintah hāḇîʾû ʾet-kol-hammaʿăśēr ʾel-bêt hāʾôṣār — “Bawalah seluruh persepuluhan itu ke rumah perbendaharaan” — menggunakan bentuk imperatif hiphil dari akar bôʾ (בוא), yang menekankan tindakan membawa masuk secara sengaja ke tempat yang sudah ditentukan. Tuhan tidak berkata, “Bawalah persepuluhan ke mana saja yang kamu anggap tepat,” melainkan ke satu tempat spesifik: bêt hāʾôṣār.

Gerhard F. Hasel, dalam analisisnya terhadap Maleakhi 3, menegaskan bahwa prinsip “rumah perbendaharaan” menunjuk kepada suatu pusat administratif yang dikelola secara terorganisir di bawah otoritas religius yang sah.

Dalam konteks gereja masa kini, padanan fungsionalnya adalah organisasi daerah / konferens yang mengelola pelayanan pastoral dan misi.⁷

3. Persepuluhan dalam Perjanjian Baru

Meskipun Perjanjian Baru tidak memberikan perintah eksplisit yang memformulasikan ulang hukum persepuluhan secara rinci, prinsip-prinsipnya tetap dipertahankan. Yesus sendiri memvalidasi persepuluhan ketika menegur orang-orang Farisi: “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat. 23:23; Luk. 11:42).

Kata Yunani tauta edei poiēsai (ταῦτα ἔδει ποιῆσαι) menggunakan edei — bentuk imperfect dari dei (δεῖ), yang menunjukkan keharusan moral dan ilahi.⁸

Yesus tidak menghapus persepuluhan; Ia menempatkannya dalam proporsi yang benar bersama keadilan (krisin, κρίσιν), belas kasihan (eleos, ἔλεος), dan kesetiaan (pistin, πίστιν).

Ibrani 7:1–10 menarik garis teologis dari persepuluhan Abraham kepada Melkisedek ke arah keimamatan Kristus yang kekal. Fakta bahwa penulis Ibrani menggunakan narasi persepuluhan Abraham untuk mendukung supremasi keimamatan Kristus menunjukkan bahwa prinsip persepuluhan tidak dilenyapkan oleh Perjanjian Baru, tetapi justru ditransendensikan ke dalam kerangka Kristologis yang lebih tinggi.⁹

4. Genre Sastra dan Implikasinya

Teks-teks tentang persepuluhan melintasi beberapa genre sastra: naratif (Kej. 14; 28), hukum apodictic dan casuistic (Im. 27; Bil. 18; Ul. 14), orakel kenabian (Mal. 3), dan argumentasi teologis-epistolaris (Ibr. 7).

Keragaman genre ini penting secara hermeneutis karena menunjukkan bahwa persepuluhan bukan sekadar regulasi legal yang terikat pada satu periode tertentu, melainkan prinsip teologis yang diungkapkan dalam berbagai bentuk sastra dan konteks historis — dari era patriarkal, melewati Sinai, zaman nabi-nabi, hingga era apostolik.¹⁰

Implikasi hermeneutisnya jelas: ketika suatu prinsip muncul secara konsisten lintas genre, lintas zaman, dan lintas perjanjian, prinsip itu memiliki karakter normatif-transepokhal — bukan hanya lokal dan temporal.¹¹

5. Praktik Ellen G. White: Fakta Historis dan Konteks

a. Apakah Benar Ellen G. White Pernah Mengalihkan Persepuluhan?

Jawabannya: ya, benar, namun fakta ini memerlukan kontekstualisasi yang sangat cermat.

Dokumen primer yang menjadi rujukan utama adalah serangkaian surat yang ditulis Ellen G. White antara tahun 1901 dan 1908, yang kemudian dikompilasi dalam Manuscript Releases, vol. 1, serta dibahas dalam Spalding-Magan Collection. Dalam surat tertanggal 22 Januari 1905 kepada Watson, White menulis:

“Selama bertahun-tahun saya telah mencairkan persepuluhan saya kepada pendeta-pendeta berwarna dan putih yang terabaikan, yang tidak mendapat cukup dukungan untuk membiayai keluarga mereka secara layak.

Ketika perhatian saya tertuju pada kasus-kasus pendeta yang diabaikan atau tidak mendapat tunjangan yang adil, saya memasok kebutuhan mereka dari persepuluhan saya, seperti yang diperintahkan Tuhan kepada saya.”¹²

Surat ini autentik dan tidak dipersoalkan keasliannya. Namun, konteks historisnya sangat krusial.

b. Konteks Historis Spesifik

Tindakan White ini terjadi dalam konteks yang sangat spesifik:

i. Rasisme institusional dalam gereja. Pada pergantian abad ke-19 ke abad ke-20, beberapa konferens di wilayah Selatan Amerika Serikat (Southern states ) secara sistematis mendiskriminasi pendeta-pendeta kulit gelap (colored ministers ) — mereka tidak dibayar secara layak, bahkan kadang sama sekali tidak menerima tunjangan dari dana persepuluhan konferens.¹³ Ellen G. White menyaksikan ketidakadilan ini secara langsung selama tinggal di wilayah Selatan dan merasa terdorong secara profetis untuk bertindak.

ii. Kegagalan organisasi pada level spesifik. White tidak menuduh seluruh sistem gagal, tetapi mengidentifikasi kegagalan spesifik di konferens-konferens tertentu yang melalaikan tanggung jawab mereka terhadap pendeta-pendeta tertentu. Ini bukan pernyataan anti-organisasi, melainkan koreksi profetis terhadap penyimpangan lokal.¹⁴

iii. Otoritas profetis unik. White bertindak berdasarkan apa yang ia klaim sebagai petunjuk langsung dari Tuhan — “seperti yang diperintahkan Tuhan kepada saya.” Klaim ini menempatkan tindakannya dalam kategori tindakan profetis situasional, bukan preseden normatif untuk setiap anggota jemaat.¹⁵

c. Apakah Ini Merupakan Kebiasaan dan Prinsip Baku?

Ini bukan praktik kebiasaan (habitual practice ) Ellen G. White, dan ia sendiri tidak pernah merumuskannya sebagai doktrin universal. Beberapa bukti kuat mendukung kesimpulan ini:

Pertama, dalam surat yang sama kepada Watson, White secara eksplisit menyatakan bahwa tindakannya bersifat pengecualian darurat, bukan norma:
“Saya tidak menyarankan hal ini sebagai tugas… tetapi saya memberitahukan keadaan-keadaan yang menyebabkan saya melakukan apa yang saya lakukan.”¹⁶

Kedua, dalam puluhan ribu halaman tulisannya, White secara konsisten, berulang-ulang, dan tegas mengajarkan bahwa persepuluhan harus disalurkan melalui saluran organisasi gereja yang sah. Dalam Testimonies for the Church, vol. 9, ia menulis:
“Ada yang merasa bahwa persepuluhan mereka boleh digunakan untuk tujuan selain yang telah Tuhan nyatakan. Mereka menganggap diri mereka sebagai hakim terbaik dan menyalurkan persepuluhan sesuai pertimbangan mereka sendiri… Beberapa orang telah menyatakan ketidakpuasan dan berkata, ‘Saya tidak mau lagi membayar / mengembalikan persepuluhan saya; karena saya tidak percaya terhadap cara pengelolaannya.’ Apakah Anda akan menahan milik Allah karena Anda tidak setuju dengan cara pengelolaannya?”¹⁷

Kutipan ini menunjukkan dengan terang bahwa Ellen White justru menentang praktik pengalihan persepuluhan oleh anggota jemaat secara individual.

Ketiga, dalam Testimonies, vol. 9, White juga menulis:
“Persepuluhan itu kudus, dicadangkan oleh Allah bagi diri-Nya sendiri. Persepuluhan harus dibawa ke perbendaharaan-Nya untuk digunakan bagi pemeliharaan para pekerja Injil dalam pekerjaan mereka.”¹⁸

Kata “perbendaharaan-Nya” (His treasury ) jelas merujuk kepada sistem organisasi gereja, bukan individu atau proyek independen.

Keempat, pada tahun 1908, menjelang akhir hayatnya, White memberikan pernyataan klarifikasi yang sangat penting:
“Saya ingin mengatakan kepada Anda semua: Jangan gunakan pengaruh Anda melawan organisasi dan disiplin gereja ini. Selagi kita berjuang dengan banyak kesulitan, jangan biarkan siapa pun menggunakan surat-surat saya untuk membenarkan kecenderungan mereka sendiri.”¹⁹

Pernyataan ini merupakan antisipasi profetis bahwa tulisan-tulisannya akan disalahgunakan — tepat seperti yang terjadi hari ini.

6. Analisis Teologis: Prinsip Universal versus Tindakan Situasional

Dalam hermeneutika Adventist, terdapat pembedaan fundamental antara prinsip normatif (normative principle ) dan tindakan situasional (situational action ). Tidak semua yang dilakukan seorang jurukabar Tuhan bersifat preskriptif bagi seluruh umat di segala zaman. Nabi Hosea menikahi perempuan sundal atas perintah Tuhan (Hos. 1:2) — apakah ini menjadi norma pernikahan Kristen? Nabi Yesaya berjalan telanjang dan tanpa alas kaki selama tiga tahun (Yes. 20:2–3) — apakah ini menjadi standar berpakaian bagi hamba Tuhan? Tentu tidak.²⁰

Prinsip yang sama berlaku di sini. Tindakan Ellen G. White mengalihkan persepuluhannya dalam situasi darurat diskriminasi rasial adalah tindakan profetis korektif (prophetic corrective action ) yang merespons keadaan spesifik, bukan perumusan doktrin baru. Ángel Manuel Rodríguez, mantan direktur Biblical Research Institute, menegaskan bahwa tindakan Ellen White ini tidak pernah dimaksudkan sebagai model bagi anggota jemaat biasa dan tidak boleh digunakan untuk membenarkan praktik independent tithing. ²¹

7. Akar-Akar “Roh Anti-Persepuluhan” dalam Komunitas Adventist

Fenomena penolakan atau pengalihan persepuluhan dari saluran resmi gereja memiliki akar yang lebih kompleks dari sekadar kekecewaan terhadap pendeta atau organisasi. Berikut adalah analisis komprehensif mengenai faktor-faktor penyebabnya:

a. Faktor-Faktor yang Umum Dikenali

i. Kekecewaan terhadap kepemimpinan dan organisasi. Adanya skandal keuangan, gaya hidup pengerja gereja yang dianggap mewah, kurangnya transparansi, dan keputusan-keputusan administratif yang dipandang tidak adil memicu rasa frustrasi yang kemudian diterjemahkan ke dalam penolakan membayar persepuluhan ke konferens.²²

ii. Pengaruh independent ministries. Beberapa pelayanan independen secara aktif mengajarkan bahwa anggota berhak menyalurkan persepuluhan langsung kepada pelayanan yang mereka anggap “lebih setia” terhadap kebenaran. Ini menciptakan ekosistem finansial paralel yang melemahkan struktur organisasi gereja.²³

iii. Pengaruh gerakan sempalan. Kelompok-kelompok seperti Shepherd’s Rod (Davidian), yang didirikan oleh Victor Houteff, secara eksplisit mengajarkan pengalihan persepuluhan dari konferens kepada gerakan mereka sendiri, mengklaim bahwa gereja yang terorganisir telah murtad.²⁴

iv. Kekecewaan terhadap pelayanan pendeta lokal. Anggota yang merasa tidak dilayani dengan baik oleh gembala jemaatnya kadang mengekspresikan ketidakpuasan itu dengan menahan persepuluhan.

b. Faktor-Faktor yang Jarang Dibahas namun Signifikan

i. Individualisme Pascamodern. Budaya Barat kontemporer yang menekankan otonomi individu dan skeptisisme terhadap institusi secara luas telah meresap ke dalam mentalitas banyak anggota gereja. Persepuluhan, sebagai tindakan penyerahan diri kepada otoritas organisasi, bertabrakan langsung dengan etos individualisme ini.²⁵ Fenomena ini bukan unik Adventist — hampir semua denominasi mengalaminya — tetapi dalam konteks Adventist, ia mengambil bentuk khusus berupa klaim “hak” untuk menyalurkan persepuluhan secara mandiri.

ii. Kurangnya pendidikan teologis tentang eklesiologi (doctrine of the church ). Banyak anggota Adventist memahami persepuluhan semata-mata sebagai kewajiban finansial, bukan sebagai tindakan eklesiologis — yaitu, ekspresi keanggotaan dan partisipasi dalam tubuh Kristus yang terorganisir. Ketika pemahaman eklesiologis dangkal, persepuluhan mudah direduksi menjadi “donasi” yang dapat diarahkan sesuka hati.²⁶

iii. Ketidakpahaman hermeneutis terhadap tulisan Ellen G. White. Ironis namun nyata: banyak orang yang mengklaim mengikuti Ellen G. White justru membaca tulisan-tulisannya secara selektif dan di luar konteks. Surat-surat White tentang pengalihan persepuluhan dikutip tanpa memperhatikan konteks historis diskriminasi rasial dan tanpa mempertimbangkan korpus tulisannya yang jauh lebih besar dan konsisten tentang kesetiaan terhadap sistem persepuluhan organisasi.²⁷

iv. *Teologi konspiratif dan mentalitas remnant within the remnant*. ** Sebagian kecil anggota Adventist mengembangkan keyakinan bahwa kepemimpinan gereja telah sepenuhnya dikompromikan oleh kekuatan-kekuatan ekumenis atau sekuler. Dalam kerangka pikir ini, menyalurkan persepuluhan ke konferens dianggap “mendanai kemurtadan.” Meskipun kewaspadaan terhadap kompromi teologis adalah sehat, mentalitas ini sering kali dibangun di atas informasi yang tidak akurat, teori konspirasi, dan kegagalan membedakan antara individu-individu yang mungkin menyimpang dan sistem yang tetap diakui Tuhan sebagai instrumen-Nya. ²⁸

v. Kegagalan diferensiasi antara persepuluhan dan persembahan. Banyak anggota tidak memahami perbedaan mendasar antara persepuluhan (tithe ) dan persembahan (offering ). Persepuluhan memiliki peruntukan spesifik yang ditetapkan Tuhan — untuk penunjang pelayanan Injil — dan harus disalurkan melalui bêt hāʾôṣār. Persembahan, sebaliknya, lebih fleksibel dan dapat diarahkan kepada berbagai proyek misi, pelayanan kasih, dan kebutuhan lainnya.²⁹ Ketika perbedaan ini kabur, orang merasa bebas memperlakukan persepuluhan sebagai persembahan yang bisa diarahkan ke mana saja.

vi. Materialisme dan keserakahan terselubung. Alasan ini jarang diakui secara terbuka, tetapi realitas psikologis-spiritual tidak boleh diabaikan. Sebagian penolakan terhadap persepuluhan berakar bukan pada ketidakpuasan teologis yang tulus, melainkan pada keengganan melepaskan sepersepuluh dari pendapatan. Kekecewaan terhadap organisasi kadang berfungsi sebagai rasionalisasi untuk apa yang pada dasarnya adalah masalah iman dan keserakahan.³⁰ Ellen G. White memperingatkan: “Pencobaan yang paling berbahaya bagi umat Allah adalah pencobaan keserakahan.”³¹

vii. *Pengaruh media sosial dan budaya echo chamber*. ** Era digital telah memungkinkan penyebaran pandangan anti-persepuluhan secara viral tanpa filter akademik atau eklesiologis. Video-video YouTube, posting media sosial, dan situs web yang menyerang organisasi gereja sering kali menyajikan informasi yang sudah dicabut dari konteks dan dikemas secara emosional, menciptakan ruang gaung (echo chamber ) yang memperkuat sikap anti-institusional.³²

8. Nasihat Khusus dari Ellen G. White

Ellen G. White memberikan sejumlah nasihat yang sangat jelas dan tegas mengenai persepuluhan. Berikut adalah ringkasan prinsip-prinsip utamanya:

a. Persepuluhan adalah Milik Tuhan
“Persepuluhan disisihkan untuk kegunaan khusus. Persepuluhan tidak boleh dianggap sebagai dana untuk orang miskin. Persepuluhan harus secara khusus dikhususkan untuk penunjang mereka yang membawa pekabaran Allah ke dunia; dan persepuluhan tidak boleh dialihkan dari tujuan ini.”³³

b. Persepuluhan Harus Masuk ke “Rumah Perbendaharaan”
“Ada yang berkata, ‘Persepuluhan saya sendiri; saya akan menggunakannya menurut pertimbangan saya sendiri.’ Mereka boleh berpikir demikian, tetapi mereka tidak boleh berbuat demikian. Tidak ada yang berhak untuk menggunakan persepuluhan menurut pertimbangan mereka sendiri.”³⁴

c. Ketidakpuasan Bukan Alasan Menahan Persepuluhan
“Apakah Anda akan menahan milik Allah karena Anda tidak setuju dengan cara pengelolaannya? Berhati-hatilah agar Anda tidak menahan dan merintangi pekerjaan Allah — menunda pemberian dari tangan Anda — hanya karena Anda tidak menyetujui beberapa hal yang dilakukan dalam penatalayanan harta Allah.”³⁵

d. Tuhan yang Akan Menghakimi Penyalahgunaan
“Hendaknya tidak ada yang merasa bebas untuk menahan persepuluhan mereka, dan menggunakannya menurut pertimbangan mereka sendiri, karena seorang pendeta berbuat sesuatu yang tidak mereka setujui… Allah belum meninggalkan pekerjaan-Nya di tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Dan jika mereka yang memiliki tanggung jawab gagal, Dia sendiri yang akan memperbaikinya.”³⁶

Prinsip terakhir ini sangat penting secara teologis: tanggung jawab koreksi berada di tangan Tuhan, bukan di tangan anggota individu yang memilih untuk menahan persepuluhan. Menahan persepuluhan sebagai bentuk “protes” adalah usurpasi terhadap otoritas Tuhan atas perbendaharaan-Nya sendiri.

9. Sintesis Teologis: Perspektif Pertentangan Besar (Great Controversy)

Dalam kerangka teologi pertentangan besar, persepuluhan memiliki dimensi kosmis yang melampaui sekadar transaksi keuangan. Persepuluhan adalah ujian kesetiaan — mirip dengan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di Eden. Tuhan mencadangkan satu pohon dari seluruh taman sebagai ujian ketaatan. Demikian pula, Tuhan mencadangkan sepersepuluh dari seluruh pendapatan sebagai ujian pengakuan atas kepemilikan-Nya yang absolut.³⁷

Setan, yang mengawali pemberontakannya dengan mempertanyakan otoritas dan keadilan pemerintahan Allah (Yes. 14:13–14; Yeh. 28:15–17), secara konsisten berupaya melemahkan setiap institusi yang Allah tetapkan — termasuk sistem persepuluhan. “Roh anti-persepuluhan,” dilihat dari perspektif ini, bukan sekadar masalah finansial atau organisasional; ia adalah manifestasi dari roh pemberontakan yang sama yang menolak mengakui otoritas Tuhan atas apa yang menjadi milik-Nya.³⁸

Ellen G. White menulis: “Tindakan menyerahkan persepuluhan itu sederhana, dan meratakan jalan ketaatan sebagai suatu perbuatan yang adil dan benar… Apakah Anda akan mengingkari-Nya yang telah menebus Anda? Apakah Anda akan memeras Allah — bukan dalam sepersepuluh saja, tetapi dalam persembahan juga?”³⁹

Kata dalam Maleakhi 3:8, hăyiqbaʿ ʾāḏām ʾĕlōhîm (הֲיִקְבַּ֥ע אָדָ֖ם אֱלֹהִ֑ים), menggunakan akar kata qāḇaʿ (קבע) yang bermakna “merampas” atau “menipu.” HALOT mendefinisikannya sebagai to rob, to defraud. ⁴⁰ Ini bukan sekadar “menahan” — ini adalah perampokan terhadap Allah. Kekuatan bahasa profetik Maleakhi menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memandang isu ini.

10. Implikasi dan Aplikasi bagi Umat Percaya di Akhir Zaman

a. Kesetiaan dalam Hal Kecil Menentukan Kesetiaan dalam Hal Besar

Yesus berkata: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Kata Yunani pistos (πιστός) di sini menunjuk bukan hanya kepada keandalan, tetapi kepada karakter yang dapat dipercaya — karakter yang telah teruji. Persepuluhan, sebagai “perkara kecil” secara finansial (hanya sepersepuluh), menjadi termometer kesetiaan spiritual seseorang.⁴¹ Jika seorang Kristen tidak dapat mempercayakan sepersepuluh pendapatannya kepada Tuhan melalui saluran yang Tuhan tetapkan, bagaimana ia akan setia dalam ujian-ujian iman yang lebih besar di akhir zaman?

b. Persepuluhan sebagai Latihan Iman untuk Krisis Terakhir

Dalam konteks eskatologi Adventist, umat Tuhan akan menghadapi ujian kesetiaan tertinggi sehubungan dengan hari Sabat dan tanda binatang (Why. 13:15–17). Ujian itu akan menuntut kepercayaan mutlak kepada Tuhan bahkan ketika sistem dunia menolak mereka secara ekonomi. Jika umat percaya hari ini tidak mampu mempercayakan sepersepuluh pendapatannya kepada Tuhan — ketika mereka masih bisa membeli dan menjual secara bebas — bagaimana mereka akan bertahan dalam krisis ketika seluruh kehidupan ekonomi mereka terancam?⁴²

Ellen G. White menulis: “Mereka yang menolak untuk menyerahkan persepuluhan dan yang gagal mengembalikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik-Nya, tidak akan siap berdiri teguh di hari terakhir.”⁴³

c. Mempercayai Tuhan Melebihi Mempercayai Manusia

Argumen terkuat bagi kesetiaan dalam persepuluhan bukan terletak pada kesempurnaan organisasi gereja — yang memang tidak sempurna di dunia yang telah jatuh — melainkan pada kedaulatan Tuhan atas perbendaharaan-Nya. Ketika seseorang berkata, “Saya tidak mau menyetahkan persepuluhan karena organisasi korup,” ia sesungguhnya menempatkan kepercayaannya kepada manusia (atau ketiadaan kepercayaan kepada manusia ) di atas kepercayaannya kepada Tuhan yang mampu mengelola, mengoreksi, dan menghakimi perbendaharaan-Nya sendiri.⁴⁴

Prinsip alkitabiahnya jelas: “Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada percaya kepada manusia” (Mzm. 118:8). Mengembalikan persepuluhan ke rumah perbendaharaan adalah tindakan iman kepada Tuhan, bukan tindakan kepercayaan buta kepada manusia.

d. Panggilan kepada Reformasi dan Transparansi Organisasi

Pada saat yang sama, kesetiaan anggota jemaat dalam persepuluhan harus diimbangi oleh akuntabilitas dan transparansi dari pihak organisasi. Ellen G. White tidak hanya menasihati anggota untuk setia; ia juga menasihati para pemimpin untuk mengelola dana Tuhan dengan integritas tertinggi.⁴⁵ Organisasi gereja yang menuntut kesetiaan persepuluhan namun menolak transparansi keuangan sedang melemahkan fondasinya sendiri.

Kesimpulan dan Ajakan

Analisis historis, eksegetis, dan teologis dalam esai ini mengarah kepada beberapa kesimpulan yang kokoh:

Pertama, Ellen G. White memang pernah mengalihkan persepuluhannya dari saluran resmi konferens, tetapi tindakan ini dilakukan dalam konteks darurat diskriminasi rasial yang sangat spesifik, berdasarkan petunjuk profetis langsung, dan tidak pernah dimaksudkan sebagai preseden normatif bagi anggota jemaat.

Kedua, dalam korpus tulisannya yang jauh lebih besar dan konsisten, White secara tegas dan berulang-ulang mengajarkan bahwa persepuluhan harus disalurkan melalui saluran organisasi gereja yang sah — bêt hāʾôṣār — dan bahwa individu tidak memiliki hak untuk menjadi hakim atas penggunaan persepuluhan menurut pertimbangan mereka sendiri.

Ketiga, “roh anti-persepuluhan” berakar dalam kombinasi faktor yang kompleks — mulai dari kekecewaan terhadap kepemimpinan, pengaruh pelayanan independen dan gerakan sempalan (seperti Davidian), individualisme budaya, keserakahan terselubung, ketidakpahaman teologis, hingga budaya media sosial yang memperkuat sikap anti-institusional.

Keempat, dalam perspektif pertentangan besar, kesetiaan dalam persepuluhan merupakan ujian karakter yang mempersiapkan umat Tuhan untuk ujian kesetiaan yang lebih besar di akhir zaman.

Kepada setiap pembaca yang bergumul dengan isu ini — baik karena kekecewaan yang tulus terhadap organisasi maupun karena pengaruh ajaran yang menyesatkan — studi ini menawarkan sebuah undangan: kembalikanlah apa yang menjadi milik Tuhan kepada perbendaharaan-Nya, bukan karena organisasi itu sudah sempurna, melainkan karena Tuhan yang memerintahkannya itu sempurna. Ia mampu menjaga apa yang menjadi milik-Nya. Ia mampu mengoreksi apa yang salah. Dan Ia berjanji, “Ujilah Aku… apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Mal. 3:10).

Dalam terang salib Kalvari — di mana Kristus memberikan bukan sepersepuluh, bukan separuh, tetapi seluruhnya — persepuluhan bukan beban. Persepuluhan adalah hak istimewa untuk berpartisipasi dalam misi Allah yang sedang menuju klimaksnya.

Catatan Kaki:

¹ John H. Walton, Victor H. Matthews, Mark W. Chavalas, The IVP Bible Background Commentary: Old Testament (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2000), 49.

² Francis D. Nichol, ed., The Seventh-day Adventist Bible Commentary (SDABC), vol. 1 (Washington, DC: Review and Herald, 1953), 316–317.

³ R. Laird Harris, Gleason L. Archer Jr., Bruce K. Waltke, Theological Wordbook of the Old Testament (TWOT) (Chicago: Moody, 1980), s.v. “קֹדֶשׁ” (qōḏeš), 2:786–788.

⁴ Roy Gane, Leviticus, Numbers, New International Commentary on the Old Testament (Grand Rapids: Eerdmans, 2004), 492–494.

⁵ Ludwig Koehler dan Walter Baumgartner, The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament (HALOT) (Leiden: Brill, 2001), s.v. “אוֹצָר” (ʾôṣār), 1:25.

⁶ Gerhard F. Hasel, “Tithing in the Bible and the Contemporary Church,” Ministry Magazine, August 1988, 12–14.

Ibid., 14.

⁸ Walter Bauer, Frederick W. Danker, William F. Arndt, F. Wilbur Gingrich, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (BDAG), 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2000), s.v. “δεῖ” (dei), 214.

⁹ George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids: Eerdmans, 1993), 619–620.

¹⁰ Walter C. Kaiser Jr., Toward an Old Testament Theology (Grand Rapids: Zondervan, 1978), 165–168.

¹¹ Richard M. Davidson, “Biblical Interpretation,” in Handbook of Seventh-day Adventist Theology, ed. Raoul Dederen (Hagerstown, MD: Review and Herald, 2000), 85–87.

¹² Ellen G. White, “Letter to Watson,” January 22, 1905, in Manuscript Releases, vol. 1 (Silver Spring, MD: Ellen G. White Estate, 1981), 189.

¹³ Ronald D. Graybill, E. G. White and Church Race Relations (Washington, DC: Review and Herald, 1970), 42–56.

¹⁴ Ángel Manuel Rodríguez, “Tithing in the Writings of Ellen G. White,” Biblical Research Institute, 2001, 5–7.

¹⁵ Ibid., 8.

¹⁶ White, Manuscript Releases, vol. 1, 191.

¹⁷ Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 9 (Mountain View, CA: Pacific Press, 1909), 247.

¹⁸ Ibid., 249.

¹⁹ Ellen G. White, Spalding-Magan Collection (Payson, AZ: Leaves-of-Autumn Books, 1985), 215.

²⁰ Norman R. Gulley, Systematic Theology: Prolegomena (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2003), 495–497.

²¹ Rodríguez, “Tithing in the Writings of Ellen G. White,” 10–11.

²² George R. Knight, Organizing to Beat the Devil: The Development of Adventist Church Structure (Hagerstown, MD: Review and Herald, 2001), 147–150.

²³ Samuel Koranteng-Pipim, Must We Be Silent? (Ann Arbor, MI: Berean Books, 2001), 309–314.

²⁴ C. Mervyn Maxwell, Tell It to the World: The Story of Seventh-day Adventists, rev. ed. (Mountain View, CA: Pacific Press, 1977), 297–299.

²⁵ Alister McGrath, Christian Theology: An Introduction, 6th ed. (Oxford: Wiley-Blackwell, 2017), 98–101.

²⁶ Raoul Dederen, “The Church,” in Handbook of Seventh-day Adventist Theology, ed. Raoul Dederen (Hagerstown, MD: Review and Herald, 2000), 554–556.

²⁷ Alberto R. Timm, “Understanding Ellen White’s Use of Inspired Sources,” Ministry Magazine, June 2014, 18–20.

²⁸ Clifford Goldstein, Graffiti in the Holy of Holies: An Impassioned Response to Recent Attacks on the Sanctuary and Ellen White (Nampa, ID: Pacific Press, 2003), 102–105.

²⁹ Seventh-day Adventists Believe: A Biblical Exposition of Fundamental Doctrines, 2nd ed. (Silver Spring, MD: General Conference of Seventh-day Adventists, 2005), 304–306.

³⁰ Ellen G. White, Counsels on Stewardship (Washington, DC: Review and Herald, 1940), 77.

³¹ Ibid., 78.

³² Larry Lichtenwalter, “Digital Discipleship and Social Media Ethics,” Ministry Magazine, March 2019, 22–24.

³³ White, Counsels on Stewardship, 103.

³⁴ Ibid., 101.

³⁵ White, Testimonies for the Church, vol. 9, 247–248.

³⁶ Ibid., 249.

³⁷ Ellen G. White, Patriarchs and Prophets (Mountain View, CA: Pacific Press, 1890), 525–526.

³⁸ Norman R. Gulley, Systematic Theology: God as Trinity (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2011), 415–417.

³⁹ White, Counsels on Stewardship, 87.

⁴⁰ Koehler dan Baumgartner, HALOT, s.v. “קבע” (qāḇaʿ), 3:1063.

⁴¹ Spiros Zodhiates, The Complete Word Study Dictionary: New Testament (Chattanooga: AMG Publishers, 1992), s.v. “πιστός” (pistos), 1150.

⁴² Ellen G. White, The Great Controversy (Mountain View, CA: Pacific Press, 1911), 605–608.

⁴³ White, Counsels on Stewardship, 90.

⁴⁴ Jiří Moskala, “Tithing and Stewardship: A Theological Perspective,” Journal of the Adventist Theological Society 22, no. 2 (2011): 73–75.

⁴⁵ White, Testimonies for the Church, vol. 9, 250–251.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *