“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Filipi 4:19

PAK SAPARDI mengambil piring. Pergi ke dapur. Mau makan. Saya tahu tidak ada makanan. Dia masuk kembali kerumah dengan piring kosong.

“Mas, tidak ada makanan. Nasi habis..” tanyanya. “Ia pak sejak siang kita tidak punya makan..” jawab saya. Dengan jalan yang tertatih, dia pergi kesudut ruangan memeriksa karung tempat penyimpanan beras.

“Beras juga habis mas..” Sahutnya. “ Iya pak, beras yang kita masak tadi pagi, itulah beras terakhir..” jawab saya. Dengan wajah lusuh dia mengembalikan piring keatas meja dan duduk dikursi.

Saya menghampiri Pak Sapardi. “Pak, saya tidak punya uang, jadi tidak bisa beli makanan malam ini..”

“Kita minur air saja pak, yang banyak untuk menahan lapar..” Jawab saya. Lalu kami berdua minum banyak air malam itu.

Pak Sapardi memang sedang kurang sehat. Sudah dua hari dia tidak berangkat jual buku. Badannya demam dan batuk-batuk. Dia juga tidak punya uang.

Tanggal gajian masih dua minggu lagi. Masih lama untuk orang yang sedang kelaparan. Tumben hari-hari itu tidak ada warga yang syukuran.

Syukuran warga biasanya menjadi penyelamat dari kelaparan. Pernah sepanjang satu minggu, kami mendapat berkat yang berlimpah. Besek terus berdatangan kerumah.

Satu minggu tidak masak. Berhasil menghemat beras dan uang belanja lauk pauk. Namun kali ini ko sepi ya!. Disaat besek sangat diperlukan. Dia tidak datang.

Tapi mau gimana lagi. Jurus terakhir mengatasi rasa lapar adalah minum air sebanyak mungkin. Malam itu, kami pergi tidur dengan perut keroncongan.

Saya kuatir dengan pak Sapardi. Jangan sampai sakitnya tambah parah. Tidak ada asupan makanan. Tapi ada juga berkatnya, demamnya turun karena minum banyak air.

Saya memang sudah terbiasa kelaparan. Sejak kuliah dulu. Saat kuliah musim lapar datang pas liburan. Rumah makan kampus tutup.

Kalau musim libur saya tidak pernah pulang. Memilih kerja dikampus sebagai jaga malam.

Soal makan, biasanya mengharapkan ajakan teman atau dosen. Tapi itu kadang-kadang saja. Untuk mengatasi rasa lapar, solusinya, minum air yang banyak. Kenyang juga. Kenyang air.

Bila dikampus sedang musim buah, seperti Apokat dan jambu, kita cukup beruntung. Rata-rata dibelakang rumah dosen ada pohon apokatnya.

Pada tengah malam, kita para kru jaga malam akan mengadakan operasi apokat.

Sembari kontrol keamanan rumah dosen, kita juga mengontrol peredaran apokat yang berjatuhan dengan memasukkan kedalam karung yang sudah kita siapkan.

Semalam kita bisa dapat setengah karung ukuran 25 kilo. Kita bagi-bagi. Lumayan menjadi tambahan makanan mengatasi rasa lapar.

Beberapa komplain kalau apokat mereka terus berkurang dipohon, tetapi mereka tidak pernah melihat buah itu jatuh ditanah.

Kita menampung saja laporan itu. Ya, iyalah..yang ambil para penjaga malam yang kelaparan setiap malam.

Sampai dosen dari Afrika marah-marah di pos jaga. Dia menuduh kami yang ambil apokatnya. Yah, memang kami yang ambil..

Dia melapor ke PR 3. Alm. Pdt. Paringan Tambunan memanggil kami dan berpesan.

“Kalau apokat yang sudah jatuh silahkan kalian ambil. Tapi kalau masih diatas pohon jangan diambil..” “Iya pak..” menjawab kompak..

Bukan penjaga malam kalau tidak kehilangan akal. Bagaimana caranya supaya apokat yang diatas pohon jatuh ketanah? Ya, kita goyang-goyang itu dahan pohonnya..

Buah apokatnya pun berjatuhan. Begitulah bila orang sudah kelaparan. Muncul Kreatifitasnya.

Namun, lagi-lagi dosen dari Afrika tambah marah, karena apokat, baik yang diatas pohon dan ditanah tidak ada sama sekali..

Di Kroya tidak ada pohon yang berbuah. Ada pohon. Sengon. Tidak ada buahnya. Ada juga pohon mangga. Punya tetangga. Tapi sudah tobat mengambil buah orang tanpa ijin.

Untuk melupakan rasa lapar. Saya cepat-cepat tidur. Berdoa agar mimpi makan sampai kenyang. Namun mimpinya bukan mimpi makan. Mimpi dikejar anjing galak..

Bangun pagi, perut seperti mengisap. Sadar tadi malam belum makan. Tidak ada makanan. Perut harus diisi. Kalau tidak tidak bisa kena asam lambung.

Pak Sapardi belum bangun. Atau sudah bangun tapi pura-pura masih tidur. Untuk apa bangun tidur kalau tidak ada yang bisa dimasak.

Saya beranjak kedapur. Periksa meja makan mbah Parta. Tidak ada makanan. Dia memang jarang masak pagi. Tapi saya tahu dia punya banyak beras. Ada satu karung.

Kepikiran untuk meminjam berasnya. Tapi tidak jadi. Malu. Gengsi. Masa pinjam beras. Cerita pula nanti dia sama orang. Saya pinjam berasnya.

Saya cek pak Sapardi. Oh, puji Tuhan dia sudah bangung dan panasnya sudah turun. Saya ajak berdoa. “Pak mari kita berdoa, agar Tuhan mengirimkan beras untuk kita..” Kata saya..

Kami berdoa, pak Sapardi mengawali lebih dahulu. Suaranya bergetar saat berdoa. Terbata-bata. Dia seperti mau menangis saat berdoa itu.

Giliran saya berdoa. Nada suara saya tinggi. Tapi saya ingat lagi, berdoa memohon kepada Tuhan tidak boleh marah-marah..

Saya pelankan suara saya. Memelas. “ Tuhan, tadi malam kami tidak makan. Kami lapar. Kami tidak punya beras. Berikanlah kami makanan hari ini..” Amin

Setelah amin, saya pamit ke Pak Sapardi untuk kunjungan kemasyarakat dan kenalan. Sambil jalan menggunakan sepeda, pikiran saya tertuju kepada seorang simpatisan.

Namanya mbah Karsem. Umur 82 tahun. hidup sebatang kara tanpa anak dan saudara, di gubuk yang mulai reot. Lantainya tanah. Dindingnya gedek.

Saya mampir dan duduk mengobrol. Setengah jam disana, saya berdoa dan pamit pulang. Saat kaki melangkat keluar dari gubuk, dia mencengah saya untuk tidak pulang dulu..

“Tunggu mas, jangan pulang dulu..” sahutnya dengan lirih. “ Oh iya mbah, ada apa..” tanya saya. Memberi isyarat dengan jarinya, dia masuk kedalam kamarnya.

Dia keluar sambil menenteng bungkusan plastik warna hitam. Dia berkata, “Ini untuk mu bawa pulang..” saya cek, isinya beras. Cukup banyak.

Saya tolak pemberian itu. “ Nek, lebih membutuhkan ini dari pada saya..saya masih muda, masih bisa beli beras..” Kata saya, sambil mengembalikan beras itu kepadanya..

Dia menolak juga, “ Tidak, kamu bawa ini pulang..” Terjadi tolak tolakan. Lalu dia katakan lagi, “Saya punya banyak beras..” sambil menunjuk dengan jarinya tiga karung beras dikamarnya..

Saya heran dan bertanya, “Dapat dari mana nek beras itu?” “saya dikasih warga, minggu lalu disini petani sedang panen padi, jadi saya dikasih 3 karung..” katanya..

Akhirnya saya terima pemberiannya. Saya bawa pulang. Dan saya kasih ke pak Sapardi. “Pak, ini beras dari Tuhan, monggo dimasak..”

Wajahnya sumringah. Dia segera memasak. Tapi kepikiran lagi. tidak mungkin hanya makan nasi. Harus ada lauknya. Tidak ada uang beli lauk.

Muncul ide. Saya ingat dibelakang rumah ada pagar-pagar kebun dari batang singkong. Pas lagi banyak daun singkongya. Saya petik. Saya masak.

Airnya saya buat banyak. Kasih garam. Dan pagi itu kami makan nasi, lauknya daun singkong rebus. Dua minggu kami makan seperti itu. Nasi dengan daun singkong.

Setelah gajian. Saya beli beras 15 kilo. Persediaan bila terjadi lagi kelaparan. Pendeta Hutauruk selalu berpesan, “Beli beras yang banyak. Kalau tidak ada uang, masih bisa makan nasi..”

Saya juga beli daging ayam dan ikan. Kami dapat makan enak. Membalas kelaparan selama dua minggu. Syukur kepada Tuhan. Kelaparan mengajarkan banyak hal.

Tuhan dapat menggunakan seorang yang paling lemah. Miskin. Untuk menolong seorang yang kuat dan muda.

Dan ini mengajarkan apa artinya kelaparan. Bagaimana rasanya menjadi orang lapar. Tujuannya agar saya dapat memahami perasaan orang miskin yang kelaparan.

Tujuan lainnya untuk melatih ketahanan diri menghadapi kesusahan. Agar mengerti betapa berharganya makanan.

Saya sedang kelaparan. Tuhan memberi makan dengan cara yang ajaib. Tuhan berkati panen orang-orang kampung yang saya tidak kenal.

Mereka memberikan Sebagian hasil penen mereka kepada nenek tua Karsem. Lalu dia menyalurkan berkat itu kepada saya. Sesungguhnya Tuhan yang memberi berkat kepada semua orang.

Saat kita memberi diri melayani Tuhan, jangan pusingkan dengan kebutuhan hidup. Termasuk yang paling dasar. Makanan. Keperluan utama kita adalah beriman kepada Tuhan.

Yesus mengatakan, “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.” Matius 6:25.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *