BUKANNYA meragukan kemampun dokter menangani virus CMV. Hanya ingin mencari alternatif
Dapat dorongan untuk searching di mbah Goolge, mesin pengetahuan yang tahu segalanya. Ketik kata kunci, “Obat alami CMV.” Deretan informasi muncul sangat banyak.
Satu-satu dibuka dan dibaca. Tidak ada yang dapat meyakinkan pikiran saya. Berhari-hari cari dan mencari dengan menggunakan puluhan kata kunci.
Akhirnya, menemukan satu situs web yang mengulas pengobatan CMV. Lengkap dengan kesaksian orang-orang yang telah sembuh. Ada videonya.
Seminar dan konsultasi juga disiarkan di salah satu televisi pemerintah. Rutin setiap minggu. Praktek dan konsultasi juga dibuka dihampir semua kota besar di Indonesia.
Saya coba menghubungi salah seorang yang mengaku telah sembuh. Seorang ibu. Dua kali keguguran. Setelah pengobatan dia sembuh. Sampai punya anak tiga. Sehat semua.
Kesaksiannya menyakinkan saya untuk mencoba pengobatan ini. Cari lokasi konsultasi dan seminarnya. Ada disebuah hotel. Di Semarang. Tiba disana sudah banyak orang menanti.
Untuk berobat wajib menyerahkan hasil cek darah. Agar dikasih obat wajib ikut seminar selama 3 jam. Seminar edukasi. Topiknya tentang Torch. Penyebab keguguran dan sulit punya anak.
Dikasih obat. Herbal. Ramuan dari 5 jenis tanaman. Satu botol air mineral besar. Harganya cukup mahal. Satu jeti.
Diminum setiap pagi. 120 ml. Sebelum makan. Selama 3 bulan. Wajib cek darah setelah 3 bulan. Untuk melihat jumlah virusnya.
Kehamilan aman bila virusnya dibawah 5. Tiga bulan minum ramuan. Cek lab. Virus dibawah 5. Konsultan torch katakan aman untuk hamil. Tapi ramuan harus diminum terus.
Tiga bulan berikutnya, istri hamil. Gembira campur cemas. Terbayang pengalaman sebelumnya. Berharap aman.
Usia kandungan sekitar dua bulan. Periksa ke dokter kandungan. Di USG. Tidak terlihat dilayar monitor. Tapi positif hamil. Apa yang terjadi? Mulai cemas. Jangan-jangan..
Dokter lakukan USG transvaginal. Terlihat jelas. Tapi tidak menempel didalam rahim. Ada diluar kandungan. Tubafallopi. “Ibu hamil diluar kandungan..” Kata dokter, seraya menjelaskan.
Ini masalah. Kehamilan yang tidak normal. “Ini harus segera ditangani bu..malam ini juga kita lakukan operasi mengambil embrionya..” Kata dokter.
Berat resikonya bila dibiarkan. Embrio akan berkembang bukan pada tempatnya. Pendarahan hebat dapat terjadi dan mengancam keselamatan jiwa.
Lemas. Sedih. Takut. Mengetahui keadaan ini. Tapi mau bagaimana lagi..
Ikut saran dokter saja. Operasi dilakukan. Malam hari. Sementara terbaring dikamar operasi, terbanyang semua pengalaman sebelumnya. Lampu-lampu kamar operasi yang menyala terang menakutkannya.
Sambil menunggu para dokter datang. Ada waktu untuk menangis sejenak. Merenung dengan hikmat diruangan yang sepi.
“Mengapa ya Tuhan, begitu berat jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan seorang anak..?” Serunya, sambil terisak.
Para medis masuk. Dia lekas menyeka air matanya. “Operasi kita akan mulai..” Seru dokter memberi aba-aba.. Operasi berjalan dengan lancar. Selama satu jam.
Dokter memberi penjelasan bahwa embrio dari tubafallopi telah diangkat. “ Setelah ini bisa program hamil lagi..” Canda dokter sambil tertawa..
Istri saya menatap dokter dengan wajah datar. Tanpa ekspresi. “ Enak saja nyuruh orang hamil lagi, tiga kali kehamilan saya bermasalah mau suruh hamil lagi. Tidaaak!” Serunya dalam hati..
Berdasarkan pengalaman ini, kami memutuskan untuk menghentikan program hamil. Entah sampai kapan. Sudah trauma. Tidak ingin terulang kembali.
Satu setengah bulan berlalu paska operasi, tanda-tanda orang hamil dirasakan istri saya. Mual-mual setiap pagi, campur masuk angin.
Dikira masuk masuk angin. Dikerok pake koin. Diipijat setiap hari. Minum tolak angin, dll. Mual-mual dan rasa masuk angin tidak sembuh. Hampir dua minggu. Aneh.
Anehnya saya beli tes pack. Iseng doang. Urinnya dites. Dua menit. Keluar hasilnya. Strip dua. Artinya positif hamil. Bukannya senang, malah bingung dan cemas.
“Ha..Bagaimana bisa hamil..” Tanyanya setengah tidak percaya. Saya menggeleng juga tidak percaya. Tidak ada program untuk itu.
Sebab baru saja operasi hamil diluar kandungan. Tidak mungkin ada kehamilan..
Demi kejelasan. Chek in dokter kandungan saja. Di USG. Ada embrio didalam rahim. Terlihat jelas dilayar monitor.
“Selamat ya, janinnya sudah tiga bulan dan bagus..” Kata dokter, menerangkan. Janin ini sama umurnya dengan embrio yang diangkat dari tuba fallopi bulan sebelumnya.
Dokter memperhatikan kami tidak senang. Diliputi kebingungan.
“Istri saya baru menjalani operasi kehamilan ektopik, bagaimana bisa ada embrio didalam rahimnya?” Tanya saya.
Ekspresi dokternya terlihat heran juga. “Saya tidak tahu” Jawabnya. “ Tapi kemungkinan ada dua embrio, satu berhasil menempel dirahim, satunya nyangkut diluar..” Katanya.
“Tapi kenapa tidak terlihat waktu USG?” Tanya saya lagi. “ Saya tidak tahu..” Jawabnya lagi. Tanya jawab saya akhiri. Kembali kerumah.
“Ini mujizat Tuhan..” Saya katakan. “Ini diluar penalaran kita. Tapi ini terjadi. Kita Imani sebagai karunia Tuhan..”
Sembilan bulan kemudian, lahir seorang bayi perempuan dengan operasi sesar. Sehat. Sempurna. Sungguh luar biasa Tuhan.
Seringkali Tuhan menginjinkan kita sulit mendapatkan sesuatu. Kita harus berjuang antara hidup dan mati. Tujuannya untuk membawa kita dalam proses pemurnian iman.
Agar kita tunduk pada kedaulatan Tuhan dan percaya pada-Nya ada mujizat. Agar kita juga menghargai pemberian Tuhan sebagai bernilai tinggi.
Agar dimasa depan, kita tidak melupakan Tuhan. Agar melalui “Bekas luka” yang kita terima dimasa lalu berguna sebagai tanda kebaikan Tuhan, yang tidak akan dilupakan di masa depan.
Betapa mudahnya kita melupakan kebaikan Tuhan, Apalagi pada saat hidup kita sudah Makmur. Ketika segala sesuatu kita bisa capai.
Itu sebabnya, tanda atau bekas luka derita dimasa lampau, penting jadi pengingat, agar kita tidak tinggi hati terhadap Tuhan.
Mengapa Tuhan mengijinkan kita menderita?
1. Penderitaan menjaga kita dari Penarikan dunia.
“Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.” Ibrani 13:14.
Jika tidak ada penderitaan, maka Tidak ada yang ingin meninggalkan dunia sementara ini. Tidak ada yang menginginkan rumah “abadi”, dan tidak ada yang bersedia kesana.
2. Penderitaan dapat memberikan yang terbaik kepada kita.
Paulus mengatakan dalam Roma 5:3-4
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Roma 5:3-4.
3. Penderitaan Memberikan Kesempatan Untuk Membungkam Setan.
Ingat cerita Ayub?
Setan ingin membuktikan bahwa Tuhan salah tentang Ayub, bahwa dia melayani Tuhan hanya karena Tuhan telah memberkati dia.
Tetapi kesabaran Ayub di bawah penderitaan membungkam Setan!
4. Penderitaan membuat kita menghargai.
Misalnya, menghargai Kesehatan yang baik, Teman baik, anak dan keluarga yang penuh kasih.
Contoh yang baik tentang bagaimana penderitaan dapat membuat seseorang lebih menghargai adalah rasul Paulus ketika dia berada di penjara – lih. Filemon 1:3-8.
5. Penderitaan membuat kita lebih bergantung kepada Tuhan.
Terlalu sering kita bergantung pada diri dan kesanggupan sendiri. Ada banyak hal diluar kendali kita, itu adalah bagian Tuhan. Biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya.
Kita bergantung pada Tuhan untuk nafas kita! Seperti yang dinyatakan Paulus: “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak dan ada” – Kis 17:28.
6. Penderitaan membantu memurnikan kita.
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. 1 Petrus 1:6-7.
7. Penderitaan membuat kita memiliki simpati dan empati.
Ini membantu kita untuk lebih mampu menghibur orang lain dalam penderitaan mereka. Mengalami penderitaan, membuat kita lebih mungkin untuk “menangis dengan mereka yang menangis” – Rom 12:15
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12:15. Penderitaan membuat kita untuk melayani orang lain yang menderita dengan lebih baik.
Dapatkah kita mulai melihat mengapa Allah yang adil dan penuh belas kasihan mengizinkan penderitaan, bahkan bagi orang yang tidak bersalah?
Ingat apa yang Tuhan katakan kepada Yesaya?
Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. Yesaya 55:8-9.
Ketika kita melihat penderitaan dari sudut pandang Tuhan, dari sudut pandang rencana-Nya bagi kita di persiapan kekekalan, maka kita dapat mulai mengerti mengapa Dia membiarkan penderitaan terjadi…





