“..kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap..” Keluaran 19:21.
DALAM hitungan jam kita akan mendapatkan para pemimpin departemen Uni dan officers di daerah-daerah, Uni Kawasan Tengah dan Uni Kawasan Barat
Para anggota nominasi akan memilih orang-orang yang akan melayani diberbagai struktur organisasi gereja.
Kegiatan pemilihan ini rutin dilakukan setiap lima tahun, mengingat gereja kita menganut sistem kepemimpinan demokrasi.
Pemilihan para pemimpin secara berkala bertujuan untuk menjamin kepemimpinan yang akuntabel, segar, dan berfokus pada pelayanan jemaat.
Praktik ini membantu gereja untuk bertumbuh secara rohani dan beradaptasi dengan tantangan zaman.
Ada beberapa alasan mengapa pemilihan pemimpin dilakukan secara berkala:
Pertama mencegah penyalahgunaan ‘kekuasaan.’ Rotasi kepemimpinan secara berkala untuk mencegah kondolidasi kekuasaan ditangan satu orang atau segelintir orang dalam waktu yang lama.
Dalam kepemimpinan gereja pemimpin bukan penguasa, bos atau tuan, tetapi pelayan. Datang bukan dilayani tetapi melayani dan menjadi hamba.
Kedua, menjamin akuntabilitas dan transparansi. Pemilihan rutin memungkinkan jemaat untuk mengevaluasi kinerja pemimpin mereka.
Hal ini akan mendorong pemimpin untuk bertanggung jawab atas semua keputusan mereka kepada semua jemaat.
Ketiga, memberi karunia dan bakat baru. Digereja ada banyak bakat dan karunia termasuk diantara para hamba-hamba Tuhan.
Pemilihan berkala membuka peluang bagi orang baru yang berkualitas dan berjiwa melayani untuk memimpin, membawa perspektif dan energi segar.
Seseorang yang sudah terlalu lama dalam satu posisi, biasanya sudah kehabisan ide atau gagasan.
Keempat, Mendorong Pertumbuhan Rohani dan regenerasi kepemimpinan: Proses pemilihan dan rotasi mendorong adanya program pelatihan kepemimpinan yang berkelanjutan..
Memastikan bahwa selalu ada generasi pemimpin baru yang siap melayani dengan kualifikasi yang Alkitabiah.
Kita mungkin terdorong untuk mendapatkan sebanyak mungkin pengikut. Walau itu penting tetapi ada yang lebih penting, yaitu berapa banyak pemimpin yang telah dihasilkan?
Sebuah bencana bagi gereja bila para pemimpin tidak menciptakan dan mempersiapkan para pemimpin berikutnya.
Seorang pemimpin tidak boleh berpikir untuk menduduki posisinya dalam waktu yang lama.
Kelima dan seterusnya Anda bisa tambahkan sendiri karena daftarnya bisa sangat banyak..
Intinya, pemilihan berkala adalah mekanisme tata kelola yang sehat yang membantu gereja tetap dinamis, inklusif, dan setia pada misi utamanya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan membimbing jemaat dalam pertumbuhan iman.
Mengapa penting memilih pemimpin?
Penting karena Pemimpin membimbing jemaat, memberikan arahan rohani, memupuk persatuan, dan memperlengkapi anggota untuk pelayanan.
Pemimpin yang efektif sangat penting bagi kesehatan, pertumbuhan, dan kemampuan gereja untuk mencapai misinya, karena mereka menginspirasi, menawarkan dukungan, dan memastikan gereja tetap setia pada tujuannya.
Alkitab mengatakan, “Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada” (Amsal 11:14).
Kualifikasi yang dicari
Karena pentingnya memilih pemimpin maka Alkitab memberikan beberapa kualifikasi secara rohani dan moral.
Kualifikasi ini berlaku untuk semua struktur pelayanan dari bawah hingga keatas, misalnya dalam Keluaran 19:21,
“..kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap..”
Dari ayat ini kita melihat bahwa pemimpin itu dicari. Dalam bahasa Ibrani disebut chazah artinya memilih atau mencari.
Artinya, melihat dengan saksama, memeriksa, memikirkan terlebih dahulu..
Jadi, Yitro memerintahkan Musa untuk mencari dengan saksama orang-orang yang memenuhi syarat yang dapat membantu dalam tugas ini..
Mencari membutuhkan usaha, penyelidikan, pemeriksaan. Tidak terburu-buru menetapkan seseorang untuk sebuah tanggung jawab yang penting.
Kemudian beberapa syarat yang spesifik disebutkan:
• cakap dan
• takut akan Tuhan,
• dapat dipercaya,
• tidak bisa disuap (jujur). Ini merupakan syarat dasar.
Pertama, Orang yang cakap, dalam bahasa Ibrani disebut anshe khayil, artinya pria perkasa yang gagah berani.
Kata tersebut menggambarkan orang-orang yang dihormati, berpengaruh, dan kuat, mereka yang dihormati oleh masyarakat sebagai pemimpin, dan mereka yang akan memperhatikan kebutuhan masyarakat.
Kedua, orang yang takut akan Tuhan adalah hidup mereka saleh, taat beribadah.
Ketiga, dapat dipercaya adalah orang-orang yang perkataannya dapat diandalkan dan benar.
Keempat, benci kepada pengejaran suap. Artinya membenci keuntungan yang tidak adil berarti menolak dan menafikannya. Keputusan mereka tidak akan dipengaruhi oleh keserakahan.
Kualifikasi ini mengingatkan kita pada Kisah Para Rasul 6 di mana gereja yang baru dibentuk mencari orang-orang saleh untuk membantu para rasul, yaitu terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat.
Lebih jauh, Paulus mendaftarkan syarat yang lebih panjang dalam 1 Timotius 3:1-12. Walau syarat itu ditujukan untuk pemimpin jemaat lokal, namun prinsipnya berlaku untuk semua jenjang.
Bila dirangkumkan syarat tersebut menekankan para pemimpin yang akan dipilih harus memiliki kehidupan rumah tangga yang sehat. Ramah. Punya pengendalian diri yang baik.
Tidak materiallisme. Rendah hati. Reputasinya baik. dll.
Jadi ketika Musa dan Paulus mencari para pemimpin dia memilih orang-orang yang tidak hanya kompeten tetapi juga memiliki rasa takut yang kuat akan Tuhan, yang mengatakan kebenaran dan menghindari keserakahan.
Sayangnya, prinsip dasar pelayanan ini seringkali tidak dipatuhi dengan saksama. Baik di gereja maupun pemerintahan, sehingga orang-orang telah ditempatkan pada posisi kepemimpinan tanpa memperhatikan karakter mereka.
Maka tugas para panitia pemilih untuk mencari dan menemukan orang-orang dengan kualitas tersebut dengan doa dan penyerahan.
Melihat hati
Seperti ketika Samuel mencari pemimpin Israel, hampir saja dia tertipu dengan mata jasmaninya. Dia berpikir Eliab adalah pilihan Tuhan.
Tapi Tuhan bilang, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Sam 16:7b).
Hati dipandang sebagai pusat emosi, kehendak, motif (17:28), akal budi (21:12), dan hati nurani (25:31; 2 Sam. 24:10).
“Hati,” atau pikiran, seseorang relatif sulit dijangkau manusia, tetapi Tuhan mampu menyelidiki lubuk hati terdalam manusia dan menilai karakter sejati seseorang (Yer. 11:20; 20:12)
Ketika Israel memilih raja, mereka hanya melihat sisi luar yang mengesankan. Mereka gagal.
Manusia cenderung melihat penampilan luar ketika menilai kesesuaian seseorang untuk suatu tugas, tetapi Allah lebih memperhatikan apa yang ada di dalam..
Tetapi kita tidak tahu hati manusia, lalu bagaimana kita mencari seseorang berdasarkan padangan Tuhan yang bisa membaca hati?
Tentu saja dengan menelusuri rekam jejak, karakter, bakat, keterampilan seseorang akan terlihat.
Jadi prinsip utamanya adalah dengan fokuslah pada hati, bukan penampilan luar: Kriteria utamanya adalah watak batin pemimpin—karakter, niat, dan nilai-nilai mereka—bukan penampilan, kualitas dangkal lainnya.
Melihat seseorang dari hal-hal luar, bahkan termasuk soal primordialisme atau kesukuan, kita akan gagal melihat hati. Dan itu dangkal.
Membuat syarat diluar karakter dan profesionalisme, akan membuat mata kita hanya melihat yang dipermukaan. Bahkan berpotensi menghasilkan pemimpin yang tidak kualified.
Ilustrasi
Ketika Thomas Aquinas berkuliah di Universitas Paris pada abad ke-13, ia jarang berbicara di kelas.
Teman-teman kuliahnya menganggap sikap diamnya berarti ia tidak terlalu cerdas, sehingga mereka menjulukinya “si lembu bodoh”.
Namun mereka terkejut ketika ia unggul dalam studinya dan kemudian menulis karya-karya teologi hebat yang masih digunakan hingga saat ini.
Thomas Aquinas adalah seorang jenius yang salah kaprah.
Bagaimana mungkin teman-teman sekelasnya salah besar? Karena mereka hanya menilai dia dari penampilan luarnya. Mereka tidak benar-benar tahu seperti apa dia sebenarnya.
Ketika kita tergoda untuk menilai seseorang dari penampilan luarnya, ingatlah Thomas Aquinas dan Raja Daud. Hatilah yang terpenting bagi Tuhan.
Ukuran sejati seseorang adalah apa yang ada di dalam hatinya.
Karena itu pagi ini mari kita berdoa dan berpuasa agar Tuhan menuntun para anggota pemilih untuk memilih para pemimpin yang karakternya sesuai kualifikasi diatas.
Agar mereka dijauhkan dari melihat hal-hal yang hanya dipermukaan seperti suku, penampilan lahiriah.
Karena gereja saat ini membutuhkan pemimpin yang rendah hati, takut akan Tuhan dan yang visioner.
Kita juga perlu berdoa untuk diri kita sendiri. Agar hati kita siap menerima siapa pun pemimpin yang dipilih untuk kita, bahkan ketika pilihan itu tidak sesuai kehendak kita.
Rasul Paulus mengatakan,
“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,” 1 Timotius 2:1-2.
Inti dari ayat ini adalah prioritas untuk mendoakan semua orang, termasuk mereka yang memiliki kuasa dan otoritas..
Dan hasil dari doa tersebut adalah terciptanya kedamaian yang memungkinkan kehidupan yang saleh.
Jadi siapa pemimpin kita? Siapa pun mereka, dukung, beri hormat dan berdoa untuk mereka.





