“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu..” Amsal 22:6

Dari sebelelas orang pelaku pembunuhan, tiga diantaranya belum tertangkap. Setelah delapan tahun berlalu, pasti mereka merasa sudah aman karena kasus tersebut sudah terlupakan.

Namun kasus itu tidak sepenuhnya terlupakan. Ada yang masih mengingat dan penasaran. Peristiwa itu diangkat dalam sebuah film. Judulnya, Vina: Sebelum 7 hari.

Film ini digarap oleh Anggu Umbara. Ceritanya diangkat dari kisah nyata gadis Cirebon yang tewas mengenaskan bersama kekasihnya Eky pada tahun 2016 silam.

Film ini mendapat sambutan yang luar biasa dengan jumlah penonton terbanyak. Melalui film ini kasus kematian Vina Cirebon menjadi viral, sehingga kasusnya diangkat kembali untuk diselidiki.

Bagaimana tidak, tewasnya Vina dan pacarnya, awalnya dianggap karena kecelakaan tunggal. Namun kemudian terungkap kalau itu direkayasa oleh para pembunuh.

Yang benar adalah Vina dan Eky dibunuh oleh sekumpulan geng motor anak-anak muda yang masih belia. Mereka dikeroyok, dipukuli dengan kayu dan bambu.

Latar belakangnya persoalan asmara. Egi, naksir sama Vina, tetapi bertepuk sebelah tangan. Tetapi yang membuat sampai terjadi pembunuhan karena ada persaingan lain antar sesama geng motor.

Sebelum terjadi pembunuhan, Vina dan Eki sempat berkeliling bersama dengan rekan klub motornya keliling kota Cirebon.

Saat yang sama ada geng motor lainnya melalukan pelemparan kepada mereka. Vina. Eki dan teman-temannya tancap gas melarikan diri.

Mereka dikejar dan menendang motor yang dikendari Eki dan Vina. Terjatuh. Mereka berdua dipukuli, bahkan Vina diperkosa. Keduanya akhirnya meninggal dunia.

Kematiannya direkayasa seolah-olah kecelakaan. Namun terungkap, bukan karena itu. Terjadi penangkapan kepada delapan orang sebagai tersangka.

Namun tiga orang lainnya hingga delapan tahun berlalu tidak tertangkap. Setelah viral kembali, Polisi kembali mengusut hingga menangkap satu orang dari tiga DPO.

Tindakan orang-orang muda yang menganiaya, memperkosa, membunuh orang lain yang dianggap bukan bagian dirinya tergolong sadisme.

Sadisme sendiri merupakan gangguan kepribadian dimana seseorang merasa menikmati dan puas melihat orang lain kesakitan atau dia puas menyakiti orang lain.

Perilaku sadisme merasa kepuasan ketika menyakiti atau melukai orang lain, bahkan ketika korbanya merasakan sakit, luka, dia sangat menikmatinya.

Para ahli mengatakan, perilaku ini bisa muncul sejak anak-anak. Itu bisa bermula saat anak-anak yang masih kecil terbiasa melihat adengan sadis.

Adegan sadis, biasanya banyak dilihat anak-anak dari tontonan film atau games yang berisi kekerasan.

Apa yang terbiasa mereka lihat perlahan-lahan merusak otak mereka.

Dalam percobaan yang dilakukan terhadap fungsi otak frontal lobe, mereka yang bermain video games kekerasan, mengalami pengecilan fungsi otak secara drastis.

Hal ini menunjukkan bahwa video games kekerasan membahayakan fungsi otak, hal itu memberikan efek buruk jangka panjang yang mengubah perilaku menjadi agresif, merusak fungsi otak pengontrol emosi.

Akibatnya mereka tidak dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan kekerasan atau sadisme terhadap orang lain.

Selain itu, perasaan empati dan simpati juga tidak ada dalam diri mereka. Rasa kasih dan belas kasihan terhadap orang lain menjadi tipis.

Itu sebabnya orang-orang seperti ini mudah menyakiti orang lain, bahkan menyakiti orang lain tanpa sebab yang jelas.

Itu terjadi karena otak frontal lobe nya sudah tidak berfungsi dengan baik, sehingga mereka tidak dapat membuat pilihan yang benar untuk bertindak.

Pada 1950-an seorang psikolog, Stanton Samenow, dan seorang psikiater, Samuel Yochelson, memiliki pandangan bahwa kejahatan seseorang disebabkan oleh lingkungan.

Kemudian mereka mengadakan penelitian untuk membuktikan pendapat mereka.

Mereka memulai penelitian selama 17 tahun yang melibatkan ribuan jam uji klinis terhadap 250 narapidana di Distrik Columbia.

Yang membuat heran adalah mereka menemukan bahwa penyebab kejahatan bukan karena faktor lingkungan, kemiskinan, atau penindasan.

Sebaliknya, kejahatan adalah hasil dari perbuatan individu, yaitu pilihan moral yang salah.

Dalam sebuah karya yang diterbitkan tahun 1977 oleh The Criminal Personality, mereka menyimpulkan bahwa jawaban atas kejahatan adalah “perubahan perilaku dari orang yang bersalah ke pada gaya hidup yang tidak bertanggung jawab.”

Pada tahun 1987, profesor Harvard James Q. Wilson dan Richard J. Herrnstein sampai pada kesimpulan serupa dalam buku mereka Crime and Human Nature.

Mereka menentukan bahwa penyebab kejahatan adalah kurangnya pelatihan moral di antara orang-orang muda selama tahun-tahun pada saat pembentukan moral, terutama usia satu sampai enam tahun.

Membangun kebiasaan baik atau mengembangkan kebiasaan buruk adalah seperti timun di dalam botol.

Jika kebiasaan itu diulangi saat anak masih kecil, maka akan sulit untuk menghilangkannya saat anak sudah besar.

Poinnya, orang tua adalah pemegang kunci utama terhadap pembentukan tabiat anak. Apakah anak itu akan menjadi anak yang sadis dimasa depan atau anak berempati dan simpati?

Kita dapat menerapkan prinsip Alkitab di Ulangan 6:4-7, yaitu mengajar anak berulang-ulang mengasihi Tuhan dan melakukan yang benar..

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *