Saya bersyukur pernah belajar di sekolah teologi selama beberapa tahun.

Di sana saya belajar bahasa asli Alkitab: Ibrani dan Yunani. Bahkan saat itu saya bisa membaca bahasa ibrani dan Yunani seperti halnya bahasa Indonesia.

Saya belajar doktrin, homiletika, hermeneutika, sejarah gereja, penginjilan, konseling, kepemimpinan, dan masih banyak lagi.

Semua itu menjadi bekal yang sangat berharga ketika saya mulai melayani sebagai pendeta muda.

Tetapi setelah bertahun-tahun berada di ladang misi pelayanan, saya kemudian menyadari satu hal..

Yaitu, ada banyak pelajaran yang tidak pernah tertulis di silabus dan buku teks pelajaran. Tidak juga pernah disampaikan dosen pengajar..

Tidak ada dimata kuliah. Tidak dipelajari diruang kelas. Tidak ada ujiannya. Namun justru pelajaran-pelajaran itulah yang paling sering saya jumpai dalam pelayanan.

Di sekolah teologi saya belajar bagaimana cara menjadi pendeta. Tetapi bagaimana cara menjadi seorang gembala saya dapatkan di ladang pelayanan.

Tidak Semua Masalah Memiliki Jawaban yang Cepat

Di sekolah teologi, banyak persoalan ada jawabannya. Ada ayat pendukung, ada prinsip, ada kesimpulan. Ada dosen yang membantu menjelaskan.

Namun diladang pelayanan, kenyataannya sangat berbeda. Antara teori dan praktek tidak sama.

Diladang pelayanan, ada suami-istri yang hubungan mereka telah retak selama bertahun-tahun.

Ada anggota jemaat yang kehilangan anak satu-satunya karena kematian.

Ada pasangan yang terus berjuang mempertahankan pernikahan mereka, yang diambang perceraian.

Ada orang yang bertanya, “Pendeta, mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi kepada saya?”

Pak Pendeta, anak saya tidak pulang kerumah berhari-hari. Pak pendeta, suami saya di PHK. Anak saya tidak bisa sekolah..pak pendeta kami tidak mampu bayar kontrakan..

Saya pernah berharap memiliki jawaban yang selalu memuaskan untuk mereka. Namun saya belajar bahwa kadang-kadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah penjelasan yang panjang, melainkan kehadiran yang tulus.

Terkadang, duduk dalam keheningan bersama orang yang sedang berduka jauh lebih berarti daripada seribu kata.

Sering yang dibutuhkan bukan sekedar doa, tetapi dana. Sering dana yang terbatas kita miliki harus berbagi dengan mereka..

Bukan sekedar beli beras dan membantu uang sekolah, bahkan membayar kontrakan sampai bayar air dan token listrik..

Berkhotbah Lebih Mudah daripada Menjadi Teladan

Sebagai seorang pendeta, tugas berkotbah tidak lah mudah. Saya harus belajar berjam-jam untuk menyusun sebuah khotbah.

Saya juga berlatih untuk menyampaikan firman dengan baik. Saya belajar berbicara agar pesan yang disampaikan jelas kepada jemaat.

Tetapi saya segera menyadari bahwa jemaat lebih banyak memperhatikan kehidupan pendetanya daripada kotbah itu sendiri..

Mereka melihat bagaimana cara kita memperlakukan pasangan kita. Cara kita berbicara kepada anak-anak kita.

Cara kita menyikapi kritik yang datang. Cara kita bersikap ketika tidak ada di mimbar.

Semuanya sedang “dibaca” oleh jemaat.

Saya belajar bahwa khotbah terbaik sering kali bukan yang disampaikan melalui mikrofon mimbar, melainkan melalui kehidupan sehari-hari.

Tidak Semua Orang Akan Menyukai Keputusan Kita

Ketika pertama kali melayani sebagai pendeta, saya ingin membuat semua orang senang. Saya ingin menjadi pendeta yang disukai semua orang, bahkan saya membaca buku untuk itu..

Namun pada akhirnya saya sadar, bahwa itu mustahil. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Mencoba melakukannya kita akan frustrasi..

Karena dalam pelayanan, terkadang kita harus mengambil keputusan yang tidak popular, tetapi benar.

Akan ada yang setuju. Ada pula yang kecewa. Ada yang mengkritik. Ada pula yang salah paham. Bahkan ada yang menjauh..

Saya belajar bahwa tujuan seorang gembala bukan mencari popularitas, melainkan tetap setia kepada Kristus sambil memperlakukan semua orang dengan kasih.

Mendengar Adalah Bentuk Pelayanan Terbesar

Dulu saya pikir tugas utama pendeta adalah berkotbah. Ternyata itu hanya bagian kecil dalam tugas pelayanan.

Saya meyakini bahwa salah satu pelayanan terbesar seorang gembala adalah mendengar.

Mendengar seorang lansia yang merasa kesepian ditinggal pergi anak-anaknya bekerja.

Mendengar pemuda yang sedang bingung menentukan masa depannya.

Mendengar pasangan yang sedang mengalami konflik rumah tangga.

Mendengar anak yang merasa tidak dipahami oleh orang tuanya.

Mendengar orang yang jatuh dalam pencobaan, dll..

Sering kali, orang tidak membutuhkan solusi instan. Mereka hanya membutuhkan ada seseorang yang mau mendengarkan mereka tanpa dihakimi atau dipersalahkan..

Pelayanan Tidak Selalu Terlihat di Permukaan

Dalam pelayanan, apa yang terlihat dari luar bukan itu bagian yang paling sulit.

Mungkin khotbah yang kita sampaikan mendapat banyak pujian. Ada program yang berjalan sukses.

Tetapi sebagian besar pelayanan justru terjadi dalam hal-hal yang tidak terlihat. Seperti Doa sebelum tidur untuk anggota-anggota jemaat.

Kunjungan kepada anggota yang sedang sakit. Telepon singkat kepada seseorang yang sedang kehilangan motivasi.

Mempersiapkan khotbah ketika semua orang masih terlelap. Tidak ada tepuk tangan atau apresiasi untuk semua itu.

Namun saya percaya Tuhan melihat setiap pelayanan yang dilakukan dengan setia.

Jemaat Akan Mengajarkan Banyak Hal kepada Pendeta

Salah satu kejutan terbesar dalam pelayanan adalah menyadari bahwa saya tidak hanya mengajar jemaat. Saya juga belajar dari mereka.

Saya belajar kesabaran dari seorang ibu yang setia merawat suaminya yang sakit selama bertahun-tahun.

Saya belajar kesetiaan dari seorang anggota jemaat yang tetap datang beribadah meski harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan ongkos yang cukup mahal..

Saya belajar kemurahan hati dari mereka yang memberi dalam keterbatasan finansial mereka.

Kadang-kadang, khotbah terbaik yang saya dengar justru apa yang disampaikan jemaat melalui kehidupan mereka sehari-hari.

Keberhasilan Pelayanan Tidak Selalu Bisa Diukur dengan Angka

Kita mungkin sering menghitung keberhasilan pelayanan dengan jumlah baptisan, jumlah kehadiran, atau jumlah persembahan dan persepuluhan..

Semua itu penting untuk melihat pertumbuhan rohani jemaat.. Namun tidak semua pertumbuhan itu bisa diukur dengan angka-angka.

Bagaimana cara kita mengukur seorang anak yang tadinya malas ke gereja, tetapi sekarang dia mulai senang membaca Alkitab?

Bagaimana kita mengukur pasangan suami-isteri, yang akhirnya berdamai dan saling mengampuni?

Bagaimana mengukur seseorang yang diam-diam kembali berdoa dan rajin ibadah setelah bertahun-tahun menjauh dari Tuhan?

Semua itu tidak dapat diukur dengan angka-angka.

Tapi sering kita melihat hal seperti bukan sebagai kemajuan hanya karena tidak dapat diukur dengan angka..

Kita harus ingat bahwa, kerajaan Allah sering bertumbuh secara perlahan, seperti benih yang berkembang di dalam tanah sebelum akhirnya terlihat di permukaan tanah.

Seorang Pendeta Membutuhkan Tuhan Setiap Hari

Salah satu pelajaran terbesar yang saya pelajari adalah ini: menjadi pendeta tidak membuat saya kebal terhadap kelelahan, kekecewaan, pergumulan, bahkan dosa.

Ada hari-hari ketika saya merasa lelah, baik fisik maupun jiwa. Ada saat-saat ketika doa terasa berat. Ada masa ketika pelayanan tidak berjalan seperti yang saya harapkan.

Pada saat-saat seperti itu, saya diingatkan bahwa sebelum menjadi pendeta, saya ini adalah seorang murid Kristus.

Saya tidak hidup dari pengalaman pelayanan. Saya hidup dari anugerah Tuhan, yang tercurah setiap hari.

Dan setiap pagi saya tetap membutuhkan kasih karunia-Nya yang baru untuk mendapat kekuatan yang baru..

Penutup

Sekolah teologi dapat memberikan saya dasar yang kokoh untuk melayani dan itu baik. Namun ladang pelayananlah yang membentuk hati seorang gembala..

Disetiap kunjungan, percakapan, air mata, doa, keberhasilan, dan kegagalan, itu menjadi ruang kelas yang baru.

Saya masih terus belajar. Karena masih sering melakukan kesalahan. Dan saya harus banyak bertumbuh didalam pelayanan, karena masih banyak kekurangan diberbagai sisi.

Mungkin itulah indahnya menjadi seorang gembala.

Bukan karena kita sudah mengetahui semuanya, melainkan karena setiap hari Tuhan masih mengajar kita melalui orang-orang yang Dia percayakan untuk kita dilayani.

Dan saya berharap, selagi Tuhan masih memberi nafas kehidupan, saya tidak pernah berhenti menjadi murid yang terus belajar—baik dari firman-Nya maupun dari kehidupan umat-Nya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *