Oleh Deddy Panjaitan
Pendahuluan
Salam sejahtera untuk kita semua. Melalui media ini saya rindu kita boleh mempelajari tentang hidup dipedesaan atau dalam bahasa inggris kita kenal dengan Country Living.
Topik ini telah disampaikan tahun 2020 yang silam, sebagai tanggapan atas maraknya isu country living yang penyampaiannya tidak seimbang bahkan cenderung menyesatkan.
Karena topik ini akan selalu ada dan akan muncul kembali, maka saya tuliskan di media ini sebagai arsip, bila dibutuhkan dimasa mendatang.
Saya akan awali dengan sebuah cerita sekitar tahun 1990an, waktu itu saya masih kecil. Saat itu di gereja kami muncul satu kehebohan pada satu sabat, Ketika seorang tua-tua gereja membacakan satu selebaran mengenai UUHM akan segera diberlakukan.
Entah dari mana selebaran itu datang, saya tidak tau siapa yang membawanya. Di era saat itu belum ada telpn, internet, media sosial, sulit untuk mengkomfirmasi. Dan kami sebagai orang desa yang polos terima saja itu selebaran dan tidak berusaha untuk menyelidiki dan percaya begitu saja.
Saat itu kami tinggal dikota kecil, lebih cocok disebut sebagai desa, dan tentu semua anggotanya tingga didesa.
Maka yang terjadi sebagai dampak dari selebaran itu beberapa anggota mulai berpikir untuk mencari lahan ditempat yang lebih desa lagi (hutan) untuk membuat tempat tinggal, karena narasi yang dibangun bahwa kita akan dikerja-kejar, maka kita akan lari ke hutan dan ke gunung-gunung.
Kemudian beberapa orang menolak pembangunan dan perbaikan gereja, karena mereka berpendapat Yesus sudah mau datang, UUHM sudah mau diberlakukan, maka tidak ada lagi gunannya membangun, dll.
Namun seiring waktu berlalu, heboh-heboh isu UUHM dan kita akan lagi ke hutan dan gunung, hilang bak lenyap ditelan bumi. Isu itupun menguap begitu saja.
Namun pada satu waktu isu-isu seperti itu akan muncul lagi bila disertai dengan sebuah peristiwa yang menghebohkan dunia.
Jadi heboh heboh UUHM yang mana Gerakan Country Living akan mengikutinya, hanya kehebohan yang di daur ulang dari waktu ke waktu.
Tahun 2015 heboh heboh UUHM juga merebak di gereja kita, dimana-mana topik tentang itu dikotbahkan dan diseminarkan, namun lebih banyak tentang prediksi dan teori konspirasi.
Waktu itu negara-negara sedang membahas dan membuat kesepakatan mengenai perubahan iklim. Dan Paus dan gereja katolik aktif mendorong untuk semua negara membuat kesepatakan. Kemudian, heboh lagi bahwa perubahan iklim akan menjadi pemicu disahkannya UUHM.
Kemudian 2020, Ketika covid menguasai dunia, dimana hampir semua negara merasakannya. Kemudian heboh UUHM dan Country Living. Banyak orang yang berduit kemudian pergi cari lahan untuk country living.
Muncul Gerakan country living, ada yang sudah bagus usaha dan pekerjaannya ditinggalkan. Jual rumah dan tanahnya untuk beli lahan dipedesaan.
Mereka mulai prediksi bulan oktober 2020 akan ditanda tangani UUHM. Dan banyak bermunculan para spekulan-spekulan akhir jaman dan banyak orang yang mendadak Ahli nubuatan.
Bahkan muncul orang-orang yang ekstrim, yaitu mereka yang meninggalkan atau memisahkan diri dari organisasi GMAHK. Katanya gereja advent sudah jadi Babilon sudah tidak benar lagi, Gereja sudah disusupi Jesuit, dll.
Jadi kita tidak perlu lagi organisasi gereja. Mereka mulai memburuk-burukkan gereja ini. Mulai menceritakan kelemahan-kelemahan gereja dan para pemimpin gereja. Karena gereja ini tidak benar lagi kita harus keluar..
Kita Sekarang berada ditahun 2024, tahun dimana covid 19 sudah reda, seiring redanya covid maka spekulasi UUHM, Country Living pun akan reda juga.
Tapi mereka yang terlanjur mempercayainya dan sudah melakukanya, mungkin mereka akan tetap seperti itu atau menyadari kesalahan mereka dikemudian hari.
Tetapi spekulasi ini tidak akan berhenti, dikemudian hari akan muncul lagi dan membuat heboh-heboh lagi. Kembali akan di daur ulang. Jadi ini hanya produk heboh yang didaur ulang dari waktu ke waktu.
Karena itulah maka sebagai gembala jemaat saya bertanggung jawab untuk membentengi saudara-saudara dari heboh-heboh seperti ini. Membentengi kita dari salah paham dan dari paham yang salah tentang topik country Living dan UUHM.
Beberapa orang yang heboh country living itu, yang mana katanya mereka sedang mengikuti anjuran EG White untuk meninggalkan kota, tetapi saat yang sama mereka kemudian memisahkan diri dari organisasi gereja.
Sementara EG White tidak pernah mengajurkan kita keluar dari Gereja ini. Ini adalah cacat pikir/logika.
Karena itu topik pertama yang akan kita bahas adalah County Living. Salah satu muaranya ada di sini, karena orang-orang yang pergi country living punya kecendurangan menjadi oposisi atau keluar dari organisasi gereja advet.
Karena itu kita akan meninjau pemahaman country living dan praktenya di gereja kita.
Mari kita mulai dengan doa.
Latar belakang masalah.
Digereja kita ada pekabaran untuk hidup dipedesaan yang berulang kali ditekankan dalam beberapa kutipan buku Roh Nubuat, yang kemudian hari kutipan-kutipan itu dikompilasi dalam satu buku yang diberi judul country living, setebal kurang lebih 30-40 halaman.
Dimana dalam kutipan-kutipan itu dikatakan, bahwa orang-orang Masehi Advent Hari Ketujuh untuk pindah dari kota-kota ke desa-desa di mana mereka dapat menjalani kehidupan yang sederhana dan memuaskan yang dekat dengan alam dan Tuhan.
Beberapa kutipan itu sebagai berikut:
Hanya sedikit yang menyadari pentingnya menghindari, sejauh mungkin, semuanya pergaulan yang tidak bersahabat dengan kehidupan rohani. Dalam memilih lingkungan mereka, hanya sedikit yang menjadikan kemakmuran rohani mereka sebagai pertimbangan pertama. (Country Living, hal 6)
Orang tua berbondong-bondong dengan keluarga mereka ke kota, karena mereka menganggap lebih mudah untuk mendapatkan mata pencaharian di sana daripada di pedesaan. Anak-anak, yang tidak punya kegiatan diluar sekolah, memperoleh pendidikan jalanan. Dari rekan yang jahat, mereka memperoleh kebiasaan buruk dan pemborosan. Orang tua melihat semua ini, tetapi akan membutuhkan pengorbanan untuk memperbaikinya kesalahan, dan mereka tetap di tempat mereka, sampai Setan memperoleh kendali penuh atas anak-anak mereka. (Country Living, hal 6)
Di seluruh dunia, kota-kota menjadi sarang kejahatan. Pada setiap tangan adalah pemandangan dan suara kejahatan. Di mana-mana ada bujukan untuk sensualitas dan foya-foya. Gelombang korupsi dan kejahatan terus merajalela. Setiap hari membawa tercata kekerasan, perampokan, pembunuhan, bunuh diri, dan kejahatan yang tidak dapat disebutkan namanya. (hal 7)
Kota yang Akan Dikunjungi oleh Penghakiman Tuhan
Waktunya sudah dekat ketika kota-kota besar akan dikunjungi oleh penghakiman Tuhan. Dalam beberapa saat, kota-kota ini akan sangat terguncang. Tidak peduli seberapa besar atau seberapa kuat bangunan mereka, tidak peduli berapa banyak perlindungan terhadap kebakaran mungkin telah disediakan, biarkan Tuhan menyentuh bangunan ini, dan dalam beberapa menit atau beberapa jam mereka menjadi reruntuhan. (Country Living, hal 8)
Salah satu pernyataan paling luas, yang digunakan untuk mendukung panggilan hidup pedesaan terdapat dalam buku Pendidikan, Hal. 34, sebagai berikut:
“Orang yang memisahkan diri dari Allah, membangun kota-kota bagi dirinya dan berhimpun di dalamnya, bermegah dalam kecemerlangan, kemewahan dan kejahatan yang menjadikan kota-kota zaman ini kebanggaan dunia dan kutukannya. Tetapi orang yang memegang teguh prinsip kehidupan Allah berdiam di ladang dan lembah. Mereka adalah orang yang bercocok tanam dan gembala hewan, dan di dalam kehidupan yang bebas, merdeka, dengan kesempatannya untuk bekerja dan belajar serta merenung, mereka belajar tentang Allah dan mengajarkan kepada anaknya mengenai pekerjaan-Nya serta cara-cara-Nya.”
Kutipan ini hanya diambil sepenggal ini, tanpa melihat tulisan sebelumnya dan sesudahnya. Judul perikop kutipan ini adalah Pendidikan bagi bangsa Israel.
Ellen White sedang bicara tentang Pendidikan yang berpusat pada keluarga, yang dipraktekkan jaman bapa-bapa, dimana orang tua menjadi gurunya.
Kutipan setelahnya, “Inilah metode pendidikan yang dirindukan Allah, yang akan didirikan di tengah bangsa Israel.”
Nah, Oleh karena itu, banyak orang Advent menanggapi pesan ini secara serius sebagai tema yang menonjol supaya dapat hidup saleh dan juga sebagai doktrin bagi mereka.
Kemudian mereka memulai gerakan hidup dipedesaan lewat gerakan reformasi pendidikan seperti sekolah Madison yang dimulai pada 1904.
Bermula antara tahun 1895 dan 1896 ketika Ellen White mendesak orang advent untuk bekerja dinegara bagian selatan Amerika yang dilanda perang.
Kemudian Shutterland menanggapi seruan itu dan pergi keselatan dan mendirikan sekolah Madison dilahan pertanian seluas 412 hektar, ditumbuhi semak belukar, penuh dengan batu dan selokan, usang dan kumuh.
Kemudian menyusul pendirian sanitarium Wildwood Institute tahun 1941. Bermula ketika Neil Martin sedang mencari properti untuk mendirikan sanitarium pedesaan dan lembaga misionaris medis untuk pelatihan pekerja awam. (https://wildwoodhealth.org/about/history/)
Lalu pada tahun 1977 didirikan Wimar Institute dilahan seluas 457 hektar.
Kita lihat Lembaga sekolah dan Kesehatan didirikan di daerah pedesaan, sebagai tempat belajar dan sekolah pelatihan penginjilan.
Kemudian sekitaran tahun 60an di Korea dan tahun 70an di Atlanta Georgia AS, banyak keluarga keluarga meninggalkan gereja-gereja lokal dan pergi tinggal dipegunungan dan ini mengganggu pertumbuhan gereja di Korea dan Amerika. Tetapi tidak lama kemudian kelompok-kelompok CL ini bubar.
Ada satu kelompok lain di Athens Georgia, kelompok ini dibentuk oleh seorang pensiunan pendeta pada tahun 1988. Kemudian mereka mengajak orang-orang percaya dari jemaat yang telah berdiri dan mendesak mereka untuk bergabung.
Sama seperti kelompok lainnya, kelompok ini pergi CL karena UUHM yang menurut versi mereka akan dijalankan pada tahun 1991 dan kedatangan Yesus kedua kali tahun 1992.
Dikampung saya pun heboh Country Living, menggema sekitar 1990an, seperti cerita saya diawal.
Dan yang hebat, mereka tidak menyekolahkan anak mereka ke sekolah umum atau swasta, tetapi mengajar sendiri dirumah.
Kelompok ini bahkan menyalahkan dan mengkritik gereja dan para pemimpin karena kurangnya minat pada kehidupan pedesaan sesuai dengan standar mereka.
Dampak negatif dan meresahkan kelompok ini sangat meluas, bahkan sampai ke Korea, Indonesia, dan banyak Keluarga dari banyak gereja Korea di Amerika Utara telah pindah ke Lavonia, Georgia, dan telah membentuk “sebuah gereja di dalam gereja.”
Secara khusus fenomena Country Living (CL) dua tahun terakhir ini saat pandemi melanda dunia, Gerakan CL menggema dikalangan gereja Advent.
Di beberapa kota yang saya ketahui seperti Purwokerto, Semarang, Yogyakarta misalnya ada beberapa keluarga yang menjual propertinya dan menutup usahanya lalu pergi ke Sumatra Utara dan Bogor untuk CL, namun satu keluarga pulang lagi.
Sebelum mereka berangkat, mereka mulai menjelek-jelekkan gereja dan para pendeta. Mereka katakan gereja telah disusupi Jesuit, gereja telah Babel, dll. Mereka tidak mau tahu penjelasan gembala jemaatnya, namun lebih mendengar ajaran orang-orang dari independent ministry.
Ada seorang pendeta juga, mengundurkan diri dari kependetaan lalu pergi kesumatra untuk CL. Ada banyak orang-orang dari DKI, Bandung mencari tanah di jawa tengah dan ditempat tempat lain untuk CL.
Identifikasi masalah
Dorongan untuk hidup dipedesaan adalah nasehat Ellen G White yang dituliskan diberbagai kutipan yang kemudian disatukan menjadi satu buku Country Living.
Tetapi nasehat itu telah diikuti dengan pemahaman yang sempit dan tidak seimbang oleh Sebagian anggota gereja.
Kota yang disebut telah menjadi tempat yang jahat dan banyak kriminalitas telah dimaknai bahwa umat Tuhan tidak boleh tinggal dalam kota.
Padahal dalam buku tulisan Ellen G White setebal 140 halaman dengan judul Ministry to the city, dikota harus didirikan pusat-pusat penginjilan, sekolah-sekolah, dll.
Country Living telah dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran untuk hidup saleh dan suci. Mereka berpandangan bahwa tidak mungkin bisa hidup saleh dikota.
Desa adalah tempat yang lebih baik untuk hidup saleh dan suci. Benarkah demikian? Apakah mereka yang tinggal dikota tidak dapat hidup saleh dan suci?
Dan apakah kerohanian mereka yang tinggal di desa lebih baik dari mereka yang tinggal dikota?
Namun yang lebih ironis lagi, selain menjelekan gereja dan para pemimpin, mereka juga mengajak, menghasut anggota untuk keluar dari organisasi, dan mendirikan gereja dalam gereja.
Nampaknya tulisan Ellen G White tentang hidup dipedesaan telah di salah gunakan dalam prakteknya, dan ada orang-orang menjadi radikal dalam beragama.
Hidup dipedesaan itu baik, dan hidup dikota juga baik.
Tetapi, kemudian pertanyaanya Kembali, bukankah Ellen White sendiri yang mendesak kita untuk keluar dari kota-kota dan mengadakan pendekatan dari luar? Ya, dia memang mengatakan demikian. Dia menulis:
” ‘Keluar dari kota-kota, keluar dari kota-kota!’…; ‘inilah pesan yang telah Tuhan berikan kepadaku …. Kita tidak boleh mendirikan diri di kota-kota jahat, di mana musuh berada dalam segala hal, dan di mana Tuhan begitu sering dilupakan.'” —Life Sketches, hlm. 409, 410.
Ketika Ellen White menulis kata-kata ini, gereja diperbatasan hidup dalam penantian akan kedatangan Yesus yang segera. Tugas misionaris telah selesai. Kota-kota telah diperingatkan, tetapi mereka telah menolak pesan itu. Tidak ada alasan, diyakini, untuk tinggal di kota-kota untuk tujuan misionaris.
Ellen White khawatir, apalagi—seperti yang seharusnya kita semua lakukan—bahwa orang percaya mungkin terkontaminasi oleh mentalitas mencari kesenangan dan kepuasan diri sendiri, kesibukan dan kegelisahan, sekularisme dan materialisme yang menjadi ciri khas penduduk kota.
Jadi lihat, Ellen White pada jaman dia hidup telah merasakan dekatnya kedatangan Yesus kedua kali, sehingga dia memberikan nasehat ini.
Pada masa itu juga, hanya 10 sampai 15 persen dari penduduk di Amerika Utara yang tinggal di kota; suasana dan mentalitas pada dasarnya masih pedesaan.
Tetapi sekarang hampir, 85 persen orang di Amerika, dan 55 persen dari populasi dunia, tinggal di kota. Suasana hati dan mentalitas kota telah menjadi suasana hati dan mentalitas seluruh bangsa, terlepas dari di mana seseorang tinggal! Hari ini, kota adalah cara hidup kita, budaya kita, takdir manusia kita.
Ketika Ellen White, di tahun-tahun terakhir kehidupannya, menyadari tantangan misionaris kota-kota ini, dia tidak bosan menekankan bahwa gereja sepenuhnya salah dalam mengabaikan pekerjaan di kota-kota, di mana jutaan orang hidup dan mati tanpa Kristus.
Oleh karena itu, setiap kali dia berbicara tentang kota-kota, bukan hanya sebagai pusat kejahatan, tetapi juga sebagai objek kasih Allah dan misi-Nya, dia mendesak orang-orang percaya untuk pindah ke kota-kota, ladang-ladang yang terabaikan ini, dan berbaur dengan orang-orang di sana. untuk memenangkan mereka bagi Kristus.
Dia menulis : “Mengapa tidak keluarga yang mengetahui kebenaran saat ini menetap di kota-kota ini … untuk mendirikan di sana standar Kristus?” —Christian Service, hal. 180.
Jadi saudara lihat, satu sisi Ellen White mengatakan untuk meninggalkan kota dan tinggal dipedesaan. Namun disisi lain dia katakan untuk tinggal dikota dan menginjili kota.
Nah, bagaimana kita dapat membuat kedua hal ini sinkron..kita akan lanjutkan tulisan ini dengan topik Latar belakang sejarah Gerakan Country Living di Gereja Advent.
Dan sebagai ayat untuk mengingatkan kita bahwa akan banyak muncul guru-guru palsu, yang akan menyesatkan pikiran banyak orang.
Paulus telah mengingatkan Timotius tentang hal tersebut. Dia katakan,
“Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 4:3-4



