SAYA selalu berpesan kepada jemaat yang baru pertama kali datang agar tidak pulang dulu, karena kita ada jamuan makan bersama atau yang lebih dikenal dengan istilah potluck.

Bagi kita orang Advent, potluck sudah menjadi budaya yang tidak terpisahkan dalam kehidupan berjemaat.

Karena sudah budaya, maka bagi sebagian orang, jadwal potluck sering kali lebih mudah diingat daripada kegiatan gereja lainnya.

Setelah ibadah selesai, orang-orang biasanya tidak langsung bergegas menuju parkiran. Sebaliknya, mereka berjalan menuju ruang makan gereja..

Bagi orang yang baru pertama kali datang ke gereja Advent, suasana ini mungkin terasa unik.

Mengapa setiap orang membawa makanan? Mengapa semua makanan diletakkan di satu meja panjang?

Mengapa semua orang makan bersama? Dan mengapa rasanya hampir tidak pernah kekurangan makanan?

Selama bertahun-tahun melayani sebagai pendeta, saya semakin menyadari bahwa potluck bukan sekadar makan bersama.

Di balik meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan, ada nilai-nilai rohani yang sangat indah.

Potluck Mengajarkan Bahwa Gereja Adalah Keluarga

Di dunia modern, yang serba sibuk sekarang ini, makan bersama semakin jarang terjadi.

Banyak keluarga bahkan tidak lagi memiliki waktu untuk duduk makan di meja yang sama. Setiap orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Namun di gereja pada hari sabat, setelah selesai kebaktian, kita akan duduk untuk makan bersama.

Tidak peduli apakah kita seorang dokter, petani, guru, pengusaha, mahasiswa, atau anak kecil. Semua duduk di meja yang sama.

Tidak ada meja VIP. Tidak ada ruang khusus dan makanan khusus untuk orang tertentu. Semua menikmati makanan yang sama.

Bukankah inilah gambaran keluarga Allah?

Rasul Paulus menulis: “Demikianlah kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus.” (Roma 12:5)

Potluck mengingatkan kita bahwa gereja bukan sekadar tempat ibadah. Gereja adalah keluarga. Dimana kita duduk bersama menikmati jamuan kasih.

Potluck Mengajarkan Berbagi

Hal yang menarik adalah hampir tidak ada aturan tentang berapa banyak makanan yang harus dibawa.

Ada yang membawa makanan satu panci besar. Ada yang hanya membawa buah. Ada yang membawa sayur. Ada yang membawa tahu-tempe. Ada yang membawa sambal.

Ada juga yang karena keadaan ekonomi hanya mampu membawa sedikit makanan.

Namun ketika semua diletakkan di atas meja, tidak ada yang memperhatikan siapa membawa apa. Yang penting adalah semua menikmati bersama.

Saya sering melihat sebuah pemandangan yang indah. Seorang ibu berkata, “Silakan dicoba ya, ini saya masak sendiri.”

Kalimat sederhana itu adalah ungkapan kasih. Ia telah memasak dengan sepenuh hatinya demi kasihnya bagi jemaat Allah.

Saya juga sering melihat, bagaimana orang-orang yang datang dari jauh, mereka mungkin sudah lapar, dengan adanya potluck mereka diberkati..

Poinnya, kita merindukan potluck setiap sabat, karena disana kita dapat berbagi berkat makanan kepada warga jemaat.

Dengan demikian, potluck mengajarkan kita bahwa memberi bukan soal jumlah, melainkan kerelaan hati.

Potluck Menghapus Sekat

Saya memperhatikan sesuatu yang menarik dari potluck. Saat kebaktian berlangsung, orang biasanya duduk bersama keluarga atau teman dekatnya.

Tetapi ketika potluck dimulai, suasananya berubah. Orang-orang saling berpindah tempat.

Anak-anak mencari temannya untuk duduk makan bersama. Dengan penuh keceriaan mereka makan sambil bercerita..

Kemudian, orang yang baru pertama kali datang langsung diajak makan. Dan mereka orang pertama yang dipersilahkan ambil makanan..

Percakapan pun mengalir dengan alami. Hubungan yang sebelumnya canggung menjadi akrab.

Masing-masing orang menjadikan momen itu sebagai waktu untuk ngobrol, sharing dan bersaksi.

Sering kali, konflik kecil di antara anggota gereja mulai mencair hanya karena mereka duduk semeja dan berbincang santai diruang potluck.

Makanan memang tidak selalu menyelesaikan semua persoalan, tetapi sering kali menjadi jembatan yang membuka hati satu sama lain.

Potluck Adalah Bentuk Keramahtamahan

Alkitab berkali-kali mengajarkan pentingnya memberi tumpangan dan menerima orang lain dengan kasih.

Dalam budaya Timur Tengah pada zaman Alkitab, makan bersama memiliki makna yang sangat dalam. Orang yang diundang makan dianggap diterima sebagai sahabat.

Karena itu, ketika gereja mengajak tamu menikmati potluck, sebenarnya gereja sedang berkata tanpa kata-kata: “Engkau diterima di sini.”

Saya pernah melihat tamu yang awalnya hanya ingin mengikuti kebaktian. Namun karena diajak makan bersama, akhirnya ia mengenal banyak anggota jemaat dan terus datang ke gereja.

Kadang-kadang, penginjilan dimulai bukan dari mimbar, melainkan dari meja makan.

Potluck Bukan Ajang Pamer Masakan

Sekali pun potluck budaya yang baik di gereja, namun potluck juga bisa kehilangan maknanya, kalau orang mulai membandingkan makanan satu dengan makanan lainnya.

Siapa yang memasak paling enak. Siapa yang membawa makanan paling banyak. Siapa yang hanya membawa sedikit.

Kalau sudah demikian, tujuan potluck mulai bergeser.

Potluck bukan ajang lomba memasak dan masakan siapa yang paling enak. Bukan juga ajang menunjukkan kemampuan ekonomi.

Potluck adalah kesempatan untuk melayani melalui hal-hal sederhana.

Bahkan sepiring pisang rebus yang dibawa dengan kasih bisa lebih bermakna daripada hidangan mewah yang dibawa dengan hati yang ingin dipuji.

Untungnya digereja kita ada panduan bahwa makanan yang dibawa yang sederhana saja. Menghindari makanan dari daging.

Karena potluck bukan untuk memuaskan selera kita, tapi agar persekutuan kita semakin akrab dari hari ke hari.

Potluck Mengingatkan Kita Akan Perjamuan yang Lebih Besar

Setiap kali saya melihat orang-orang makan bersama di gereja, saya sering teringat janji Yesus tentang perjamuan di Kerajaan Surga.

Yesus berkata, “Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga..” Matius 8:11

Jadi, suatu hari nanti, semua orang yang diselamatkan akan berkumpul di meja yang sama bersama Sang Juruselamat.

Tidak ada lagi perbedaan suku, bangsa, bahasa, jabatan, atau status sosial. Yang ada hanyalah sukacita karena semua telah ditebus oleh kasih karunia Kristus.

Karena itu, potluck di gereja hanyalah sebuah bayangan kecil dari sukacita besar perjamuan akbar di Sorga nanti.

Penutup

Mengapa orang Advent suka potluck? Jawabannya bukan karena setelah ibadah perut mulai lapar.

Potluck disukai karena di sana kita belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan hanya lewat khotbah.

Kita belajar berbagi, menerima, melayani, membangun persahabatan, dan merasakan bahwa gereja benar-benar adalah sebuah keluarga.

Di balik sepiring nasi, semangkuk sayur, atau sepotong buah, tersimpan pelajaran tentang kasih Kristus yang diwujudkan dalam tindakan sederhana.

Jadi, lain kali ketika Anda menghadiri potluck di gereja, jangan hanya sibuk memilih menu yang paling enak.

Lihatlah orang-orang di sekeliling Anda. Duduklah bersama seseorang yang belum Anda kenal atau orang yang jarang Anda ajak bicara..

Lalu, ajaklah tamu berbincang. Barangkali, justru di meja makan itulah Tuhan sedang memakai Anda untuk menyatakan kasih-Nya.

Karena pada akhirnya, potluck bukan hanya tentang makanan. Potluck adalah tentang persekutuan umat Allah.

Potluck adalah cicipan dari perjamuan besar nanti di Sorga.

Semoga melalui tulisan ini kita semakin baik dalam memahami makna potluck yang sebenarnya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *