Teks: 1 Pet. 1:4, Yos. 7, Mzm. 139:1-16, Ezr. 10:11, Luk. 12:15, Yos. 8:1-29
PENDAHULUAN
Shalom, kita tiba pada pelajaran yang ke enam dengan topik ‘Musuh dalam diri’ pelajaran ini membahas tentang penyebab kekalahan Israel melawan AI. Fokus di Yosua 7.
Kita akan mulai dengan satu cerita tentang Tembok Cina ditembus oleh musuh dengan mudah.
Tombok Cina di bangun lebih kurang selama 2000 tahun, panjangnya 8.850 km, atau sama dengan 8 kali panjang pulau Jawa.
Tembok ini, selain sebagai jalur komunikasi, juga merupakan penanda perbatasan. Namun fungsi paling utama adalah sebagai benteng pertahanan supaya Cina tidak bisa ditembus oleh bangsa Mongolia atau Manchuria.
Pada tahun 1600 Cina diserang oleh bangsa Mongolia dan tidak bisa ditembus. 44 tahun kemudian tepatnya tahun 1644 Cina Kembali diserbu, namun akhirnya bisa tembus oleh bangsa Mongolia.
Apa strategi menembus tembok besar tersebut? Apakah dengan serangan yang lebih besar, apakah dengan menggali parit, atau membuat terowongan, atau dengan membuat meriam?
Ternyata cara menembusnya sangat sederhana dan tidak banyak menimbulkan kerugian yang besar bagi bangsa Mongolia, yaitu dengan cara menyuap pasukan penjaga benteng Cina.
Dengan demikian pasukan Mongolia bisa masuk melewati gebang yang dijaga pasukan Cina yang paling lemah.
Demikianlah runtuhnya tembok Cina karena Integritas penjaganya yang lemah sehingga bisa disuap…
Kekalahan Israel melawan Ai, mirip dengan cerita diatas, karena ada orang yang tidak berintegritas. Sehingga mereka menerima akibatnya.
Mereka belajar dari kesalahan tersebut bahwa ketaatan pada perjanjian membawa kemenangan. Sebaliknya, ketidaktaatan membawa kehancuran.
Karena keberhasilan militer Israel tidak bergantung pada jumlah, strategi pertempuran, atau taktik cerdas mereka, melainkan pada kehadiran Sang Prajurit Ilahi bersama mereka.
Apa pelajaran penting yang harus mereka pelajari? Bahwa musuh mereka yang paling berbahaya bukanlah di luar perkemahan mereka, melainkan di dalam barisan mereka sendiri.
Tantangan terbesar yang mereka hadapi bukanlah tembok kota-kota Kanaan yang berbenteng maupun teknologi militer mereka yang canggih..
Melainkan diri mereka sendiri yang dengan sengaja mengabaikan perintah Tuhan.
Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, namun perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”
Benar, tantangan terberat kita dalam hidup adalah menghadapi diri sendiri. Orang-orang yang didalam. Dimana muncul orang-orang yang melakukan tindakan bodoh. Bahkan oleh kita sendiri.
Bangsa Israel hampir tiba dalam kemenangan, namun tertunda.
Seperti halnya dengan kita, sudah tiba pada perbatasan tanah perjanjian, kita hanya dapat menang melalui penyerahan diri kepada Yesus Kristus.
MINGGU: PELANGGARAN PERJANJIAN
Teks: Yosua 7
Apa penyebab Israel mengalami kekalahan dari penduduk Ai?
Ada dua penyebab utama: Dosa Akhan dan terlalu percaya diri orang Israel terhadap kekuatan mereka sendiri.
Hal terakhir ini mengakibatkan mereka lalai berkonsultasi dengan kehendak Tuhan sebelum menyerang Ai dan meremehkan kekuatan musuh.
Informasi mengenai dosa Akhan dicatat di Yosua 7:1, disebutkan, Orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan itu.
Sebutan orang Israel disini merujuk kepada satu orang yaitu Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda. Tetapi berdampak kepada semua orang.
Mengapa dosa satu orang menjadi dosa kolektif?
Karena perjanjian TUHAN melibatkan semua umat, bukan hanya individu. Jadi itu perjanjian kolektif. Dalam perjanjian itu, Israel dilhat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Karena itu, dosa satu orang atau beberapa orang akan berdampak kepada seluruh bangsa. Itu sebabnya dalam kalimat pembuka disebut ‘orang Israel.’
Karena dosa satu orang menjadi dosa kolektif, mereka harus menjaga diri masing-masing dari hal-hal yang dapat merusak perjanjian itu.
Apakah barang-barang yang dikhususkan yang diambil Akhan? Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi (6:19).
Apakah dia tidak tahu kalau itu sudah dikhususkan?
Dia sudah tahu. Karena dipasal 6:17-19, Yosua telah mengumumkan dan mengingatkan untuk tidak mengambil apa pun dari barang-barang Yeriko.
“..jagalah dirimu terhadap barang-barang yang dikhususkan untuk dimusnahkan.. jangan kamu mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan.. semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN..”
Jadi Akhan dengan sadar sengaja mengambil barang-barang tersebut. Dia mengakui telah mengambil jubah buatan Sinear. 200 syikal perak. 1 batang emas lima puluh syikal beratnya (7:21).
Dalam hal ini dia melanggar hukum ke 6 dan 10 dari perintah Tuhan. Jangan mencuri dan mengingini.
Mengingini sesuatu yang bukan milik kita, dapat membawa kepada dosa lainnya seperti mencuri.
Bagaimana Tuhan menunjukkan seriusnya dosa Akhan?
Kita bisa lihat dari penggunaan kata kumulatif atau berurutan dalam ayat 11-13.:
- Telah berbuat dosa
- Melanggar perjanjian Ku
- Mengambil barang yang diasingkan
- Mencuri
- Menyembunyikan
- Menaruh diantara barangnya
Nah, Perbuatan Akhan inilah yang dimaksud dengan ‘Israel telah berubah setia.’
Apa arti berubah setia? Berarti “bertindak secara rahasia” atau “melanggar kepercayaan.” Yaitu tindakan pengkhianatan atau ketidaksetiaan yang disengaja terhadap Tuhan.
Memang ini dosa pribadi, namun dipandang sebagai tindakan atas nama semua orang. Itu sebabnya semua mereka menderita karena tindakan Akhan.
Jadi dosa Akhan adalah keinginan dan ketidaktaatan. Dosa ini membuat dia, keluarganya, bangsa Israel mengalami kerugian.
Kita mungkin pernah melihat bahkan mengalami pesoalan serupa, misalnya, dosa seorang Suami berdampak pada seluruh keluarganya.
Seorang suami yang didapati melakukan pelanggaran kerja, akhirnya dipecat dari pekerjaannya, yang mana dia adalah tulang punggung ekonomi, akibatnya semua keluarga menderita.
Banyak contoh lainnya, silahkan ditambahkan..
Karena itu, pentingnya menjaga diri. Menguduskan diri agar terhindar dari hal-hal yang dapat merusak hidup kita sendiri dan orang-orang disekitar kita.
SENIN: DOSA AKHAN
Teks: Yosua 7:16-19
Dipelajaran sebelumnya kita telah melihat penyebab kekalahan Israel melawan Ai. Ketika mereka kalah, mereka belum tahu apa penyebab kekalahan tersebut.
Itu merupakan kekalahan yang memalukan. Mereka lari kocar kacir dan menewaskan dari mereka 36 orang.
Akibat kekalahan tersebut, apa yang dilakukan Yosua?
- Da bersama tua-tua menghadap Tuhan dengan hati yang penuh duka: Megoyakkan jubahnya. Sujud didepan tabut Tuhan. Menaburkan debu diatas kepala (7:6-9).
- Dia mempertanyakan, mengapa Tuhan menyuruh mereka menyeberangi sungai Yordan kalau akhirnya kalah dan dipermalukan..
- Dia mempertanyakan apa yang akan Tuhan lakukan memulihkan nama besar-Nya?
Apa jawaban Tuhan kepada Yosua?
- Tuhan menyingkapkan rahasia kekalahan mereka karena telah berbuat dosa. Melanggar perjanjian Tuhan. Mengambil barang-barang yang dikhususkan. Mencuri. Menyembunyikan (ayat 11-12).
Diayat tersebut, Tuhan tidak menunjuk secara personal siapa yang telah berbuat dosa. Namun mengungkapkan secara umum ‘orang Israel.’
- Tuhan tidak akan menyertai mereka selama barang yang dikhusukan itu tidak dihancurkan.
Apa perintah Tuhan terhadap Yosua setelah kekalahan ini?
Ayat 13, agar semua orang menguduskan diri mereka. Artinya agar setiap orang menempatkan diri mereka dalam kerangka berpikir untuk menghadap Allah, dan tunduk pada pemeriksaan Ilahi.
Mereka semua harus menyelidiki diri sendiri dan merenungkan sekiranya mereka telah berbuat dosa agar mereka segera mengakuinya dan bertobat.
Mengapa Tuhan tidak langsung menunjuk Akhan?
Untuk memberi Akhan waktu untuk berpikir, bertobat, dan mengakui dosanya. Demikian pula, keluarganya (jika mereka tahu apa yang terjadi) memiliki kesempatan untuk memutuskan apakah mereka ingin terlibat dalam upaya menutup-nutupi atau menolak menjadi kaki tangan, seperti anak-anak Korah, yang terhindar dari kehancuran dengan menolak berpihak pada ayah mereka (bandingkan dengan Bil. 16:23-33 , Bil. 26:11 ).
Bagaimana cara Tuhan untuk menetapkan orang yang bersalah?
Walau mata Allah tertuju kepada Akhan, tetapi dia melakukan prosedur yang mengesankan bagi bangsa itu.
Pertama, mereka harus tampil kedepan suku demi suku. Suku yang ditunjuk harus tampil. Setelah suku kemudian kaum/klan (Orang-orang terikat keluarga). Setelah kaum kemudian keluarga.
Setelah keluarga, kemudian orang per orang dari anggota keluarga tersebut (7:14-15).
Tujuan cara ini untuk menghapuskan kesalahan kolektif dari bangsa itu dengan mengerucut hingga menemukan seseorang yang bersalah.
Disini Tuhan berperan penting, kalimat yang digunakan “kaum yang ditunjuk oleh Tuhan..” kata ditunjuk dalam bahasa Ibr lakad, artinya mengambil, menangkap, menjebak.
Jadi Tuhan mengambil setiap suku, keluarga, hingga individu yang mengambil barang khusus itu.
Kemungkinan, Yahweh “mengambil” melalui pengundian, meskipun teks tidak menyebutkannya secara spesifik.
Tradisi Timur Dekat kuno menunjukkan seperti apa proses tersebut. Undian tersebut akan berupa dua batu, satu putih dan satu hitam, masing-masing menandakan jawaban “ya” atau “tidak” untuk pertanyaan, “Apakah suku/klan/keluarga/individu ini yang dimaksud?”
Jadi saat Yosua memimpin proses undian di ayat 16-18, seseorang (mungkin seorang imam) akan mengeluarkan satu batu yang tersembunyi di pakaiannya untuk mengevaluasi setiap kandidat.
Jawaban “tidak” akan mengecualikan pihak tersebut dari pertimbangan lebih lanjut, sementara jawaban “ya” akan mengarah pada penyaringan lebih lanjut hingga individu tersebut “diambil”
Secara teologis, prosedur ini mengasumsikan bahwa tangan Yahweh secara tak kasat mata membimbing pengundian untuk menyingkirkan penjahat rahasia.
Pemimpin upacara bahkan dapat mengulangi proses ini tiga kali dengan setiap kandidat untuk memverifikasi bimbingan ilahi, bukan sekadar kebetulan, berada di balik hasilnya.
Di bagian lain, lakad menggambarkan penaklukan kota-kota, sehingga teks tersebut juga dapat menggambarkan “penaklukan” ini sebagai tindakan unik perang Yahweh melawan musuh internal.
Sistem “undian” serupa diterapkan di tempat lain, terkadang melibatkan Urim dan Tumim (1 Sam. 10:20-21; 14:41-42).
Di tempat lain, Yosua menggunakan undian (Yos. 14:2; 15:1; psl. 18-19, 21), dan bisa jadi inilah mekanisme pemilihannya.
Pengambilan Akhan
Setelah Tuhan menjelaskan prosedur untuk menemukan orang yang bersalah, esok harinya, Yosua melaksanakan proses tersebut.
Seluruh bangsa berkumpul untuk ritual pemilihan melalui undian. Sejumlah besar veteran nonperang—perempuan, anak-anak, dan laki-laki nonmiliter—kemungkinan besar hadir untuk menyaksikannya.
Bisa dibayangkan tatapan curiga yang gugup di antara kelompok-kelompok yang “diambil” dan kelegaan di antara mereka yang tidak.
Dengan cepat, proses tersebut mengidentifikasi suku (Yehuda; ayat 16), klan (keturunan Zerah), dan keluarga (Zabdi; ayat 17).
Akhirnya, undian menangkap pengkhianat dari antara laki-laki Zabdi, Akhan, dan narator menyebutkan garis keturunannya yang termasyhur (ayat 18).
Bagaimana cara Yosua menangani orang berdosa?
Setelah terungkap, lalu diadakan pengadilan kecil. Yosua menginterogasi Akhan agar menghormati Tuhan dengan mengakui perbuatannya (7:19).
Penting untuk memperhatikan cara Yosua menangani Akhan, dia bilang: “Anakku.”
Melalui sikapnya, Yosua menunjukkan kepekaan, kebaikan, dan kasih dari Yesus yang “tidak pernah kasar, tidak pernah mengucapkan kata-kata keras yang tidak perlu, tidak pernah memberikan rasa sakit yang tidak perlu kepada jiwa yang sensitif. . . .
Dia [Yesus] mencela kemunafikan, ketidakpercayaan, dan kejahatan, tetapi air mata terdengar dalam suara-Nya saat Dia mengucapkan teguran pedas-Nya.”— Ellen G. White, The Desire of Ages , hlm. 353.
Dalam hal ini, Yosua adalah gambaran Allah. Meskipun Allah membenci dosa dengan segenap keberadaan-Nya, Ia tetap mengasihi orang berdosa, Yohanes 3:16).
Meskipun ia bertindak sebagai hakim, ia ingin agar Akhan tahu bahwa ia seperti seorang ayah. Hal ini untuk memberikan teladan kepada semua orang yang memegang kekuasaan kehakiman, mereka ada ‘bukan untuk menghina mereka yang sedang menderita, meskipun mereka telah menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kejahatan..
Tetapi untuk memperlakukan para pelanggar dengan semangat kelembutan.
Kita tahu bahwa bagi Tuhan tidak ada yang tersembunyi, bagaimana seharusnya hal itu memengaruhi cara hidup kita?
SELASA: PILIHAN YANG MENENTUKAN
Baca Yosua 7:19-21
Apa yang Yosua minta dari Akhan? Untuk menghormati Tuhan dan mengakui dosanya secara terus terang.
Hormatilah Tuhan artinya dengan jujur mengaku bersalah atas tuduhan tersebut, dengan jujur mengakui dosa.
Dengan melakukan hal itu, Ia tidak hanya akan memberikan kepada Allah kemuliaan kemahatahuan-Nya, yang darinya tidak ada rahasia yang tersembunyi.
Apakah Akhan mengaku?
Ya, Segera Akhan mengakui perbuatannya, bahwa dia yang telah berbuat dosa kepada Tuhan. Dosanya penyebab kekalahan mereka.
Tapi Akhan tidak mengakui dosanya secara sukarela sampai Tuhan dengan jelas menunjukkan bahwa ia bersalah. Dia punya banyak kesempatan untuk mengaku ketika setiap suku ditampilkan untuk maju..
Apakah Akhan sedih dan menyesali dosanya?
Dia memang menyesal hanya karena ia tertangkap. Tapi dia tidak bertobat. Nampaknya, tidak ada kesedihan karena melanggar perintah Allah, mengkhianati bangsanya demi harta rampasan, dan menyebabkan kekalahan pasukan Israel serta kematian 36 orang.
Dia juga menceritakan alasan dibalik dosanya adalah keinginan untuk memiliki barang itu (ayat 21).
Mengapa dia ingin barang-barang itu?
Di dunia kuno, kekayaan dikumpulkan melalui (1) pakaian mahal; (2) logam mulia; dan (3) bahan makanan.
Pertama untuk menambah kekayaannya, maka dia mengambil barang yang bernilai moneter seperti dua ratus syikal perak dan sebongkah emas seberat lima puluh syikal.
Kedua untuk gaya hidup. Karena jubah sinear itu dari Babilonia, salah satu kota besar di dunia, selain indah, jubah itu juga mahal.
Babilonia menjadi pemimpin budaya Mesopotamia. Itu adalah tanda kesuksesan dan kekuasaan. Apa pun dari Babilonia dianggap “bergaya.”
Jadi, Akhan ingin dikenal sebagai orang sukses dan bergaya. Jadi, dosa Akhan ketamakan dan keserakahan.
Tapi ironisnya Akhan memiliki barang-barang yang terkubur di kemahnya yang tidak dapat ia gunakan! Akhan berdosa dan mati sia-sia! Barang-barang yang dicurinya sama sekali tidak berguna baginya!
Jadi Dosa Akhan berawal dari melihat. Beralih menjadi mengingini. Kemudian mengambil. Kebiasaan dosa adalah mencoba menyembunyikannya dari orang lain.
Akhan berusaha menyembunyikan dosanya, Adam dan Hawa “bersembunyi” setelah mereka berdosa ( Kejadian 3:8 ).
Namun, dosa sangat sulit disembunyikan, bahkan tidak dapat disembunyikan dengan baik.
Allah melihat segalanya, dan jika Dia melihat dosa kita, Dia dapat mengungkapkannya kepada dunia, dan seringkali Dia melakukannya.
Karena itu tidak ada deskripsi yang lebih baik tentang tipu daya dan pengaruh dosa yang menggoda di seluruh Alkitab: Melihat, menginginkan, mengambil dan menyembunyikan.
Apakah perbedaan antara Akhan dengan Rahab?
Rahab, orang kafir, menyelamatkan mata-mata Israel dari prajurit Yeriko, sedangkan Akhan, prajurit Israel menjerumuskan orang Israel dengan keserakahannya akan harta.
Rahab membuat perjanjian dengan orang Israel; Akhan mengingkari perjanjian dengan Yahweh.
Rahab menyelamatkan dirinya dan keluarganya, dan mereka menjadi warga negara yang dihormati di Israel; Akhan mengutuk dirinya dan keluarganya untuk mati dan menjadi contoh kehinaan.
Mengapa dosa ketamakan dapat menghancurkan diri kita sendiri dan keluarga kita?
RABU: PINTU HARAPAN
Teks: Yosua 8:1-29 .
Bagaimana Allah mengubah kegagalan menjadi kemenangan?
Kita akan melihatnya di Yosua 8. Sebelumnya di pasal 7, kita melihat Israel kalah karena dosa Akhan. Namun dosa telah dibersihkan dari tengah-tengah mereka. Sekarang mereka mulai dari awal lagi.
Apa yang Tuhan katakan kepada Yosua untuk mengulangi kembali pertempuran melawan Ai?
Di pasal 8, ada beberapa hal yang Tuhan katakana. Pertama, memberi dorongan: untuk jangan takut dan tawar hati.
Kedua, untuk membawa tentara dan siap menghadapi Ai. Tuhan telah menyerahkan Ai bahkan sebelum mereka berperang.
Ketiga, di Ai, barang-barangnya dan ternaknya boleh diambil, tidak seperti di Yeriko.
Keempat, memberikan taktik untuk mengalahkan Ai.
Apa taktiknya? Taktiknya ada dua.
Pertama, menempatkan secara rahasia tentara penyergap dari belakang kota. Kemungkinan Ai hanya memiliki satu gerbang utama dibagian depan.
Karena itu, fokus utama penjagaan gerbang dibagian depan. Tuhan mengetahui kelemahan ini sehingga tim penyergap dapat menggunakannya untuk menyerang.
Kedua, pasukan Yosua akan datang mendekat dan seolah menyerang dari depan, maka ketika tentara Ai melihat dan menyerang, mereka harus berpura-pura melarikan diri.
Dan ketika tentara Ai keluar dari kota untuk mengejar tentara Israel, maka tim penyergap harus masuk kekota dan menghancurkan Ai yang ditinggalkan tentaranya.
Dan ketika saat tim penyergap sementara menghancurkan kota, maka tim Yosua akan berbalik dan menyerang tentara Ai.
Pasukan Yosua sebanyak 30.000 orang siap pergi ke Ai. Mereka merupakan pasukan khusus. Mereka berangkat malam hari agar tidak terdeteksi.
Saat itu pasukan Ai berada pada puncak percaya dirinya, karena mereka berhasil mengalahkan Israel.
Tiba di belakang kota, ketiga puluh ribu pasukan sembunyi. Mereka senyap. Tidak ada yang melihat.
Yosua dan pasukannya juga sudah siap menyerang dari bagian depan kota. Mereka segera bergegas mendekat kota dan memancing tentara Ai.
Saat tentara Ai melihat pasukan Israel, segera mereka keluar dari kota untuk mengejar tentara Israel. Mereka pura-pura melarikan diri hingga jauh dari kota.
Saat mereka sudah jauh meninggalkan kota mereka, Yosua memberi kode, mengacungkan lembingnya memberi komando, segera pasukan penyergap Israel keluar dari persempunyiannya dan menyerbu kota Ai dan membakarnya.
Tentara Ai seketika sadar, kalau kota mereka telah dibakar saat merela melihat asap membubung keatas dari kejauhan.
Sementara itu, pasukan Yosua berbalik dan menyerang orang-orang Ai. Saat yang sama juga ada orang-orang Israel lainnya keluar dan menyerbu orang-orang Ai dari sisi lain.
Mereka terjebak ditengah-tengah orang Israel. Dan orang Israel menghancurkan mereka semua mdan mengambil ternak dan barang-barang mereka.
Siapa sumber kemenangan Israel? Tuhan.
Kekalahan Ai, bukan karena kehebatan taktik mereka. Yos. 8:7 memperjelas Tuhan sendirilah yang akan memberikan kemenangan dan menyerahkan kota Ai kepada orang Israel.
Kemenangan mereka karunia Tuhan. Tanpa taktik pun mereka bisa menang. Taktik adalah bagian dari iman mereka kepada Tuhan.
Ketika orang-orang Ai meninggalkan kota dan mulai mengejar orang Israel. Taktik Tuhan ini berhasil, menandakan bahwa Ia mengawasi pertempuran.
Apa symbol dari lembing Yosua yang teracung?
Pertama, sinyal untuk menyerang, Tuhan yang menyuruh Yosua mengacungkan lembingnya, sebagai sinyal untuk menyerang. Lembing dari kata kidon (ibr) artinya pedang.
Kidon bukanlah kata yang umum untuk “pedang” (ḥereb) atau “tombak” (ḥanit) dan, oleh karena itu, mungkin merujuk pada senjata yang khas.
Kedua, mengungkapkan kedaulatan Allah dalam kekalahan Ai. Seni Mesopotamia dan Mesir sering kali menampilkan pedang berbentuk bulan sabit, senjata kuno yang sudah usang, yang melambangkan kedaulatan ilahi atau manusia.
Dengan mengacungkan pedang sabit hingga menang, Yosua elah sepenuhnya mengambil alih peran kepemimpinan yang dijalankan Musa saat menyeberangi Laut Merah ( Kel. 14:16 )
Dan juga dalam perang melawan orang Amalek ( Kel. 17:11-13 ), di mana Yosua secara pribadi memimpin pertempuran.
Kunci keberhasilan terletak pada iman Yosua kepada firman Tuhan dan ketaatannya yang teguh.
Pelajarannya bagi kita adalah untuk memenangkan pertempuran apa pun, kuncinya taat pada Tuhan.
KAMIS: SEORANG SAKSI KEKUATAN TUHAN
Teks: Yosua 7:6-9
Pada pelajaran ini kita mundur lagi ke Yosua 7:6-7. Disini dicatat reaksi Yosua ketika mereka menderita kekalahan yang memalukan dari Ai.
Bagaimana reaksi Yosua ketika kalah?
Pertama, Yosua mengeluh. Keluhannya mirip dengan orang-orang Israel yang menggerutu ketika menghadapi kesulitan.
“Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?” Bilangan 14:2-3.
Inilah keluhan Yosua,
“Ah, Tuhanku ALLAH, mengapa Engkau menyuruh bangsa ini menyeberangi sungai Yordan? supaya kami diserahkan kepada orang Amori untuk dibinasakan? Lebih baik kalau kami putuskan tadinya untuk tinggal di seberang sungai Yordan itu!” Yosua 7:7
Kedua, Yosua kuatir reputasi TUHAN akan hancur dimata orang Kanaan.
Bagi Yosua kekalahan ini merupakan ancaman terhadap keberadaan mereka. Itu sebabnya dia berkata,
“Apabila hal itu terdengar oleh orang Kanaan dan seluruh penduduk negeri ini, maka mereka akan mengepung kami dan melenyapkan nama kami dari bumi ini. Dan apakah yang akan Kaulakukan untuk memulihkan nama-Mu yang besar itu?” (7:9).
Yosua tidak mengetahui alasan dibalik kekalahan mereka. Ia juga tidak tahu tindakan Allah selanjutnya.
Intinya bagi dia, reputasi Allah dipertaruhkan jika Israel dimusnahkan. Maka Yosua menekankan bahwa Nama Allah lebih penting daripada nama Israel.
Karena selama ini orang-orang Kanaan sangat gentar ketika mendengar nama Tuhan Israel. Namun sekarang umat-Nya kalah perang. Ini semacam hinaan bagi Yosua.
Apakah tujuan Allah bagi Israel dari kekalahan yang mereka alami?
Agar mereka tahu bahwa reputasi Allah dimata bangsa kafir, tergantung dari ketaatan mereka kepada Tuhan.
Bahwa kekalahan mereka karena ada dosa ditengah-tengah mereka, yang mana saat itu belum diungkap oleh Tuhan.
Jika mereka taat, mereka akan menang dan bangsa-bangsa kafir akan melihat hal-hal besar yang Tuhan lakukan, sehingga mereka bisa seperti Rahab, belajar tentang Allah Israel.
Dengan kata lain, setiap kali Israel menaklukan bangsa Kanaan, itu mendatangkan kehormatan dan kemuliaan bagi Tuhan, yang merupakan satu-satunya harapan bagi orang-orang kafir, serta bagi Israel.
JUMAT: KESIMPULAN
“Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” Yeremia 17:10.
- Minggu dan Kamis
Dosa Akhan mendatangkan malapetaka bagi seluruh bangsa karena mereka satu kesatuan dalam perjanjian Tuhan.
Keluarga dan gereja dapat berada pada situasi yang sulit oleh kesalahan satu orang
Pengaruh yang paling ditakuti oleh gereja bukanlah dari luar, seperti pengaruh para penentang, orang-orang kafir, dan penghujat, melainkan pengaruh dari dalam, yaitu para anggota gereja yang tidak konsisten. Merekalah yang menahan berkat Allah Israel dan mendatangkan kelemahan bagi umat-Nya. PP 497
Allah menghendaki kesetiaan kita menjadi representasi kemuliaan-Nya.
“Meskipun [Tuhan] ingin bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka melihat hal-hal besar apa yang [Dia] akan lakukan bagi umat-Nya yang menaati-Nya, mereka juga bisa, seperti Rahab, belajar tentang Tuhan Israel melalui kekuatan penaklukan umat-Nya.”
- Senin, Selasa dan Rabu
Proses di mana dosa Akhan diidentifikasi dan dihukum mengungkapkan belas kasihan dan keadilan Tuhan.
Allah memberikan waktu kepada Akhan dan keluarganya untuk mengaku dosa dan bertobat, namun tidak menggunakan kesempatan itu. ( Yos. 7:13-15 ; bandingkan dengan Bil. 16:23-33; 26:11 )
Meskipun satu di dalam Kristus, kita bertanggung jawab secara pribadi atas kesalahan kita sendiri.
Akhirnya, sikap Yosua terhadap Akhan mencerminkan hati Tuhan terhadap orang berdosa ( Yos. 7:19).
Ada perbedaan yang mencolok antara iman Rahab dan dosa Akhan. “Rahab menyelamatkan dirinya dan keluarganya, dan mereka menjadi warga negara yang dihormati di Israel; Akhan mencelakai dirinya dan keluarganya dengan kematian dan menjadi contoh kehinaan.”
Akhirnya, setelah perkemahan dibersihkan dari kesalahan Akhan, Yosua menaati perintah Tuhan dan memimpin Israel menuju kemenangan di Ai ( Yos. 8 ).
[Akhan] telah menyaksikan pasukan Israel kembali dari Ai dalam keadaan kalah dan patah semangat; namun ia tidak maju dan mengakui dosanya…
Ia tidak mengaku dosa, sampai jari Tuhan menunjuknya. Kemudian, ketika dosanya tak lagi dapat disembunyikan, ia mengakui kebenaran.
Betapa seringnya pengakuan serupa dilakukan. Ada perbedaan besar antara mengakui fakta setelah terbukti dan mengakui dosa yang hanya diketahui oleh diri kita sendiri dan Tuhan.
Akhan tidak akan mengaku dosa jika ia tidak berharap dengan melakukannya dapat menghindari konsekuensi kejahatannya.
Namun pengakuannya hanya menunjukkan bahwa hukumannya adil. Tidak ada pertobatan sejati atas dosa, tidak ada penyesalan mendalam, tidak ada perubahan tujuan, tidak ada kebencian terhadap kejahatan. PP 497, 498











