Oleh Pdt. J.F. Manullang, D.Th.

Di jantung setiap sistem teologi Kristen yang kokoh terletak pertanyaan fundamental tentang otoritas: Apa sumber kebenaran tertinggi dan final?

Reformasi Protestan abad ke-16, yang dimotori oleh tokoh-tokoh seperti Martin Luther dan John Calvin, menjawab pertanyaan ini dengan prinsip formal yang gemilang: Sola Scriptura, atau Alkitab saja.¹

Prinsip ini menegaskan bahwa Kitab Suci, sebagai Firman Tuhan yang diilhamkan, adalah satu-satunya kaidah iman dan praktik yang tidak dapat salah (infallible) dan bersifat menentukan (norma normans non normata—norma yang menormalkan semua norma lain).

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), sebagai ahli waris tradisi Reformasi, dengan tegas menempatkan doktrin ini sebagai landasan utama teologinya, sebagaimana dinyatakan dalam Kepercayaan Dasar yang pertama.²

Namun, sebuah pertanyaan unik dan sering kali disalahpahami muncul terkait peran dan kedudukan tulisan Ellen G. White (EGW), salah seorang pionir gereja Advent yang menerima karunia nubuat untuk umat yang sisa.

Bagaimana gereja dapat mempertahankan komitmennya terhadap Sola Scriptura sambil secara bersamaan mengakui tulisan-tulisan EGW sebagai “pena inspirasi”?

Esai ini akan menguraikan secara logis, meyakinkan, dan tidak terbantahkan bahwa posisi GMAHK bukanlah sebuah kontradiksi, melainkan sebuah kerangka kerja teologis yang konsisten secara alkitabiah.

Tulisan EGW, yang dipahami sebagai “terang yang lebih kecil” (lesser light), tidak bersaing dengan atau menggantikan Alkitab, melainkan berfungsi sebagai pemandu yang diilhami Roh Kudus untuk menuntun umat kepada “terang yang lebih besar” (greater light), yaitu Alkitab itu sendiri.

Posisi ini memiliki implikasi mendalam bagi perumusan (formulasi) doktrin dan kehidupan praktis umat percaya yang bersiap menyambut Kedatangan Kristus yang kedua kali.

Landasan Supremasi Sola Scriptura

Prinsip Sola Scriptura berakar kuat dalam kesaksian Alkitab tentang dirinya sendiri. Rasul Paulus, dalam suratnya kepada Timotius, menyatakan,

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).

Kata Yunani untuk “tulisan” adalah graphē (γραφή), yang dalam konteks ini merujuk pada Kitab Suci Perjanjian Lama dan, secara prinsip, berlaku untuk keseluruhan kanon Alkitab.³

Kata kunci “diilhamkan Allah” adalah terjemahan dari theopneustos (θεόπνευστος), sebuah kata majemuk yang secara harfiah berarti “dinapaskan Allah.”

Sebagaimana dijelaskan dalam Theological Dictionary of the New Testament (TDNT), kata ini menekankan asal-usul ilahi Kitab Suci, memberikannya otoritas yang unik dan tak tertandingi.⁴

Konsekuensinya, seperti yang Paulus nyatakan di ayat 17, adalah bahwa melalui Kitab Suci, “manusia kepunyaan Allah” diperlengkapi “untuk setiap perbuatan baik.” Alkitab, oleh karena itu, bersifat cukup (sufficient).

Para teolog dari berbagai spektrum, mulai dari B.B. Warfield hingga Wayne Grudem dan Millard Erickson, menegaskan bahwa kecukupan Alkitab berarti tidak ada wahyu baru yang diperlukan untuk keselamatan atau kehidupan Kristen.⁵

Alkitab adalah cetak biru yang lengkap. Yesus sendiri mengesahkan otoritas Perjanjian Lama, dengan menyatakan,

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17).

Dalam konfrontasinya dengan tradisi manusia, Yesus berulang kali bertanya, “Tidakkah kamu baca…?” (Matius 12:3, 5; 19:4), selalu mengarahkan pendengar-Nya kembali kepada Firman yang tertulis.

Nabi Yesaya memberikan ujian pasti untuk semua ajaran: “Carilah pengajaran dan kesaksian! Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak ada fajar” (Yesaya 8:20).

Kata Ibrani untuk “pengajaran” adalah torah (תּוֹרָה), dan “kesaksian” adalah te’udah (תְּעוּדָה), keduanya merujuk pada wahyu Allah yang telah mapan.⁶

Oleh karena itu, setiap klaim kebenaran, termasuk klaim kenabian, harus diuji oleh Alkitab.

George R. Knight, seorang sejarawan dan teolog Advent terkemuka, dengan tepat meringkas bahwa bagi umat Advent, Sola Scriptura adalah “prinsip dasar yang mengontrol semua prinsip lainnya.”⁷

Karunia Nubuat untuk Gereja Akhir Zaman

Meskipun Alkitab adalah wahyu final dan kanon tertutup, Alkitab sendiri tidak pernah mengajarkan bahwa semua manifestasi karunia Roh Kudus akan berhenti dengan ditutupnya kanon.

Sebaliknya, Alkitab meramalkan pencurahan Roh Kudus secara khusus pada akhir zaman.

Nabi Yoel menubuatkan, “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat…” (Yoel 2:28).

Rasul Petrus, pada hari Pentakosta, menyatakan bahwa penggenapan awal dari nubuatan ini telah dimulai (Kisah Para Rasul 2:16-18).

Namun, konteks eskatologis Yoel (“sebelum datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu”) menunjukkan manifestasi penuh di masa depan.

Kitab Wahyu, buku puncak dari eskatologi alkitabiah, secara eksplisit mengidentifikasi umat sisa Allah di akhir zaman dengan dua karakteristik utama:

“mereka yang menuruti perintah-perintah Allah dan memiliki kesaksian Yesus” (Wahyu 12:17). Teks kunci ini menjadi lebih jelas ketika Yohanes mendefinisikan “kesaksian Yesus.”

Dalam Wahyu 19:10, seorang malaikat memberitahu Yohanes, “…sebab kesaksian Yesus (hē martyria Iēsou, ἡ μαρτυρία Ἰησοῦ) adalah roh nubuat (to pneuma tēs prophēteias, τὸ πνεῦμα τῆς προφητείας).”

Berdasarkan analisis sintaksis Yunani yang cermat oleh para sarjana seperti Ranko Stefanovic, Jon Paulien, dan tim dari Biblical Research Institute, frasa “kesaksian Yesus” paling baik dipahami sebagai “kesaksian dari Yesus”—yaitu, Yesus yang bersaksi kepada gereja-Nya melalui manifestasi karunia nubuat.⁸

Ini bukan kesaksian tentang Yesus semata, melainkan Yesus sendiri yang berkomunikasi secara aktif dengan umat-Nya di akhir zaman melalui Roh Kudus dalam bentuk nubuat.

Dengan demikian, Alkitab sendiri menuntun kita untuk mengharapkan adanya karunia nubuat yang berfungsi di tengah-tengah umat sisa yang memelihara hukum Allah.

GMAHK memahami bahwa pelayanan dan tulisan-tulisan Ellen G. White adalah penggenapan dari nubuatan alkitabiah ini.⁹

“Terang yang Lebih Kecil” Menuntun kepada “Terang yang Lebih Besar”

Di sinilah letak kunci untuk memahami hubungan antara tulisan EGW dan Alkitab. Ellen White sendiri tidak pernah mengklaim bahwa tulisannya setara dengan Alkitab atau menambahkan sesuatu pada kanon Kitab Suci.

Sebaliknya, ia secara konsisten dan tegas mendefinisikan perannya dengan sebuah analogi yang brilian:

“Hanya sedikit perhatian yang diberikan kepada Alkitab, sehingga Tuhan telah memberikan terang yang lebih kecil untuk menuntun pria dan wanita kepada terang yang lebih besar.”¹⁰

Analogi ini sangatlah penting. “Terang yang lebih besar” adalah Alkitab, sumber cahaya orisinal dan utama seperti halnya matahari.

“Terang yang lebih kecil seperti bulan” (tulisannya) tidak bersaing dengan matahari; sebaliknya, seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari, ia berfungsi untuk menerangi jalan dalam kegelapan agar orang dapat menemukan dan mengapresiasi sumber cahaya utama.

Herbert E. Douglass, dalam studinya yang mendalam, Messenger of the Lord, menegaskan bahwa fungsi utama pelayanan kenabian EGW adalah untuk:

(1) meninggikan Alkitab,

(2) mengklarifikasi prinsip-prinsip Alkitab, dan

(3) menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari.¹¹

Secara psikologis dan sosiologis, peran ini sangat krusial bagi sebuah gerakan keagamaan yang lahir dari kekecewaan (The Great Disappointment, 22 Oktober 1844).

Bimbingan kenabian memberikan kepastian ilahi, menafsirkan kembali pengalaman traumatik dalam kerangka rencana Allah yang lebih besar (seperti yang diuraikan dalam doktrin Bait Suci), dan menyatukan kelompok yang tercerai-berai dengan visi dan misi bersama.¹²

Namun, penting untuk dicatat bahwa validitas bimbingan ini selalu diukur dengan kesetiaannya pada “terang yang lebih besar.”

Tulisan-tulisannya berfungsi seperti teleskop yang kuat. Bintang-bintang (kebenaran Alkitab) sudah ada di langit, tetapi teleskop (tulisan EGW) memungkinkan kita untuk melihatnya dengan lebih jelas, mengidentifikasi pola-pola (tema-tema teologis seperti Pertentangan Besar), dan mengagumi keindahan dan kerumitannya yang mungkin terlewatkan oleh mata telanjang.

Tulisan-tulisan seperti The Desire of Ages (Kerinduan Segala Zaman) tidak menambahkan satu fakta pun pada Injil, tetapi telah membawa jutaan orang ke dalam hubungan yang lebih dalam dan penuh kasih dengan Yesus dari Nazaret yang digambarkan dalam Injil. Ini adalah bukti fungsional dari perannya sebagai “terang yang lebih kecil.”

Implikasi bagi Doktrin dan Kehidupan Umat Percaya

Pemahaman yang benar tentang hubungan ini memiliki implikasi praktis yang sangat signifikan.

1. Dalam Formulasi Doktrin:

Prinsip Sola Scriptura tetap menjadi penguasa absolut. Sebuah doktrin GMAHK tidak dapat dan tidak boleh didasarkan semata-mata pada pernyataan Ellen G. White.

Setiap butir Kepercayaan Dasar harus dan telah didirikan di atas studi Alkitab yang ekstensif dan menyeluruh.¹³

Peran tulisan EGW dalam proses ini adalah sebagai komentator yang diilhami. Ia dapat mengarahkan para peneliti Alkitab kepada teks-teks yang mungkin terabaikan, membantu mereka melihat hubungan tematik antar ayat, dan melindungi gereja dari interpretasi ekstrem atau salah yang menyimpang dari gambaran besar Alkitab.

P. Gerard Damsteegt dalam disertasinya menunjukkan bagaimana para perintis Advent, bahkan dengan bimbingan kenabian EGW, membangun doktrin mereka melalui studi Alkitab yang intensif, bukan dengan kutipan langsung dari EGW sebagai bukti utama.¹⁴ Tulisannya adalah katalisator untuk studi Alkitab yang lebih dalam, bukan penggantinya.

2. Dalam Kehidupan dan Misi di Akhir Zaman:

Di sinilah nilai praktis dari “terang yang lebih kecil” bersinar paling terang.

Alkitab memberikan prinsip-prinsip abadi; tulisan EGW sering kali memberikan nasihat spesifik tentang bagaimana menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam konteks modern dan tantangan akhir zaman.

Nasihatnya yang luas tentang kesehatan (Ministry of Healing), pendidikan (Education), keluarga (The Adventist Home), dan kehidupan praktis (Counsels on Stewardship) adalah penerapan dari prinsip-prinsip alkitabiah tentang pemeliharaan tubuh sebagai bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19-20), mendidik anak dalam jalan Tuhan (Amsal 22:6), dan menjadi penatalayan yang setia.

Lebih dari itu, kerangka “Pertentangan Besar” (The Great Controversy), yang menjadi tema utama dalam tulisannya, memberikan umat percaya sebuah teodisi yang komprehensif dan berpusat pada Kristus.

Ini memberikan makna pada penderitaan dan pergumulan, menempatkan kehidupan sehari-hari dalam konteks kosmik antara Kristus dan Setan, dan memotivasi umat untuk berpartisipasi dalam misi Allah untuk memulihkan citra-Nya di dalam manusia.

Seperti yang ditekankan oleh teolog seperti N.T. Wright dan Walter C. Kaiser, memiliki narasi besar yang koheren adalah kunci untuk identitas dan tindakan Kristen yang efektif.¹⁵

Tulisan EGW memberikan narasi yang kuat, berakar dalam Alkitab, yang mempersiapkan umat secara mental, spiritual, dan emosional untuk krisis terakhir dan kedatangan Kristus.

Sebuah Panggilan untuk Kembali kepada Firman

Hubungan antara Sola Scriptura dan tulisan Ellen G. White dalam teologi Advent bukanlah sebuah paradoks yang harus diselesaikan, melainkan sebuah sinergi ilahi yang harus dipahami.

Alkitab berdiri sendiri, tertinggi, dan mutlak sebagai satu-satunya kaidah iman. Supremasinya tidak dapat diganggu gugat.

Tulisan Ellen G. White, sebagai manifestasi dari karunia nubuat yang dijanjikan Alkitab untuk gereja akhir zaman, berfungsi di bawah dan dalam pelayanan kepada Alkitab.

Ia adalah suara kenabian yang diilhami, seorang komentator tepercaya, seorang penasihat pastoral, dan seorang pemandu misi.

Perannya bukanlah untuk menjadi tujuan akhir, melainkan untuk menjadi penunjuk jalan yang andal, yang selalu mengarahkan kita bukan kepada dirinya sendiri tetapi kepada Pribadi dan Firman yang jauh lebih agung: Yesus Kristus dan Alkitab.

Pada akhirnya, ujian terbesar dari pelayanan kenabiannya terletak pada buahnya.

Selama lebih dari satu abad, tulisannya telah menginspirasi jutaan orang untuk mempelajari Alkitab dengan lebih tekun, mengasihi Yesus dengan lebih dalam, dan menjalani kehidupan yang lebih suci dalam penantian penuh pengharapan akan kedatangan-Nya.

Pesan terpenting bagi setiap orang, baik di dalam maupun di luar Gereja Advent, bukanlah untuk menjadi ahli dalam tulisan Ellen White, melainkan untuk menerima ajakannya yang tak kenal lelah:

Ambillah Alkitab, terang yang lebih besar itu, bacalah untuk dirimu sendiri, temukan di dalamnya Juruselamat yang penuh kasih, dan biarkan Firman-Nya mengubah hidupmu untuk selamanya. Di situlah letak otoritas sejati dan harapan kekal.

Pdt. J. F. Manullang, seorang pendeta yang telah melayani selama 40 tahun lebih. Aktif menulis topik-topik teologi

Referensi:

¹ Martin Luther, The Bondage of the Will, trans. J.I. Packer and O.R. Johnston (Grand Rapids, MI: Fleming H. Revell, 1957), 65-69.
² General Conference of Seventh-day Adventists, “The Holy Scriptures,” in Seventh-day Adventists Believe: A Biblical Exposition of 28 Fundamental Doctrines, 2nd ed. (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association, 2005), 7-20.
³ Fritz Rienecker and Cleon Rogers, A Linguistic Key to the Greek New Testament (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1980), 633.
⁴ Gerhard Kittel, ed., Theological Dictionary of the New Testament (TDNT), vol. 3, trans. Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1965), s.v. “γράφω, γραφή.”
⁵ Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1994), 129.
⁶ Willem A. VanGemeren, ed., New International Dictionary of Old Testament Theology and Exegesis (NIDOTTE), vol. 4 (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1997), s.v. “תּוֹרָה.”
⁷ George R. Knight, A Search for Identity: The Development of Seventh-day Adventist Beliefs (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association, 2000), 18.
⁸ Ranko Stefanovic, Revelation of Jesus Christ: Commentary on the Book of Revelation, 2nd ed. (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2009), 554–55. Lihat juga Ángel Manuel Rodríguez, “The Testimony of Jesus,” Adventist World, October 2010.
⁹ Raoul Dederen, “The Spirit of Prophecy,” in Handbook of Seventh-day Adventist Theology, ed. Raoul Dederen, Commentary Reference Series, vol. 12 (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association, 2000), 295–319.
¹⁰ Ellen G. White, Colporteur Ministry (Mountain View, CA: Pacific Press Publishing Association, 1953), 125.
¹¹ Herbert E. Douglass, Messenger of the Lord: The Prophetic Ministry of Ellen G. White (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association, 1998), 415-420.
¹² George R. Knight, Millennial Fever and the End of the World: A Study of Millerite Adventism (Nampa, ID: Pacific Press, 1993), 289-312.
¹³ “The Dynamics of Doctrine,” in Seventh-day Adventists Believe, 2-5.
¹⁴ P. Gerard Damsteegt, Foundations of the Seventh-day Adventist Message and Mission (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 1977), 103-145.
¹⁵ N.T. Wright, The New Testament and the People of God (Minneapolis: Fortress Press, 1992), 68-80. Lihat juga Walter C. Kaiser, Jr., The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2008), 15-22.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *