PARA PEMIMPIN ROHANI JEMAAT

Para ketua jemaat haruslah dikenal oleh jemaat sebagai pemimpin rohani yang kuat dan harus memiliki reputasi yang baik di jemaat maupun di masyarakat. Bila pendeta tidak ada, ketua adalah pemimpin rohani jemaat dan melalui ajaran dan teladannya harus terus-menerus berusaha memimpin jemaat menuju pengalaman Kristen yang lebih dalam dan penuh.

Ketua jemaat harus sanggup memimpin acara-acara gereja. Tidak selamanya konferens menyediakan pendeta untuk menolong semua jemaat; jadi ketua harus siap melayani dalam firman dan doktrin.

Namun de-mikian, ketua tidak boleh dipilih hanya karena kedudukan sosial, atau karena dia pandai bicara, melainkan karena kehidupan yang berserah dan kesanggupan memimpin.

Hubungan dengan Pendeta

Bilamana komite konferens menugaskan seorang pendeta atau lebih dari satu pendeta bertugas, pendeta itu, atau pendeta senior jika lebih dari satu, harus menjadi pemimpin tertinggi di jemaat, dan ketua-ketua jemaat adalah wakilnya.

Pekerjaan mereka sangat berhubungan erat; oleh sebab itu mereka harus bekerja bersama-sama secara harmonis. Pendeta jangan memegang semua tanggung jawab, tetapi harus membagi tugas bersama ketua-ketua dan pengurus jemaat lainnya. Pendeta yang melayani sebagai pendeta jemaat secara reguler bertindak sebagai ketua majelis jemaat. (Lihat hlm. 33, 125, 126).

Akan tetapi mungkin ada situasi bilamana ketua dianjurkan untuk bertindak memegang tanggung jawab tersebut. Tugas penggembalaan di jemaat harus dibagi antara pendeta dan ketua.

Dengan nasihat pendeta, ketua jemaat harus membantu dalam tugas-tugas kependetaan, termasuk melawat anggota-anggota jemaat, melayani orang sakit, mengatur atau memimpin upacara pemberkatan dan penyerahan bayi, menguatkan mereka yang kecewa, serta membantu dalam tanggung jawa penggembalaan lainnya. Sebagai mitra sepelayanan gembala, ketua harus terus-menerus memperhatikan kawanan dombanya.

TUGAS-TUGAS KETUA JEMAAT

  1. Kunjungan.

Penatua akan bertanggung jawab atas pembinaan dan pemeliharaan rohani para anggota di jemaatnya. Dia akan mengunjungi para anggota di rumah mereka untuk berdoa dan memberi semangat. Ia juga akan membantu dalam memberikan pelajaran Alkitab kepada calon anggota.

  1. Pelayanan Ibadah.

Penatua akan memimpin kebaktian sesuai jadwal. Dia akan meninjau urutan pelayanan terlebih dahulu untuk memastikan bahwa semua pihak yang bertanggung jawab siap untuk melayani.

  1. Berkhotbah.

Penatua mungkin diminta untuk berkhotbah ketika pendeta sedang berada di luar kota atau tidak ada.

  1. Sebagai Mentor Rohani.

Kehidupan rohani seorang penatua harus terus-menerus mengarahkan anggota gereja untuk mencari pengalaman rohani yang lebih dalam bagi diri mereka sendiri. I Timotius, pasal 3, menggambarkan kehidupan Kristen seorang penatua dengan kata-kata berikut: “. . . tidak tercela, suami dari satu istri, bersahaja, bijaksana, terhormat, ramah tamah, mampu mengajar, tidak kecanduan anggur atau garang, tetapi lemah lembut. . .”

Seorang penatua harus memberikan teladan, melalui kehidupan baktinya, kepribadian Kristiani dan minat rohaninya, suatu cita-cita yang lebih tinggi yang ingin dicapai oleh setiap anggota.

Penatua hendaknya mencerminkan buah-buah Roh dalam hubungannya dengan orang lain: kasih, sukacita, kedamaian, kesabaran, kemurahan hati, kebaikan, kesetiaan, kelembutan dan pengendalian diri.

  1. Administrasi Gereja.

Seorang penatua harus selalu berusaha memberikan kontribusi positif bagi organisasi dan kemajuan gereja. Saat melakukan hal ini, dia tidak boleh mencoba untuk mendominasi atau mengendalikan, melainkan memungkinkan orang lain untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan di gereja dan pelayanan. Seorang penatua sering kali bertugas sebagai penasihat di berbagai departemen, komite, dan proyek.

Seorang penatua adalah anggota majelis dan hadir secara rutin untuk memberikan masukan dan nasihat mengenai masalah-masalah gereja.

Komite penatua akan bertemu dengan pendeta sebulan sekali untuk melakukan visi, administrasi, doa, dan nasihat.

  1. Menyokong Persepuluhan.

Ketua-ketua dapat membantu meningkatkan per-sepuluhan dengan mengajar orang banyak akan tanggung jawab penatalayanan secara Alkitabiah dan juga melalui usaha pribadi dengan anggota dalam cara yang bijaksana dan menolong.

  1. Menyokong Semua Bidang Pelayanan Jemaat.

Di bawah pimpinan dan kerja sama dengan pendeta, para ketua adalah pemimpin rohani jemaat dan bertanggung jawab menyokong semua departemen dan aktivitas pekerjaan. Ketua jemaat harus menjaga agar tetap ada hubungan yang saling menolong dengan para pengurus jemaat lainnya.

Bebas untuk Bekerja Secara Efektif.

Ketua jemaat khususnya harus dibebaskan dari beban lain agar dapat berhasil dengan baik menja-lankan tanggung jawab mereka yang begitu banyak. Dalam beberapa keadaan dianjurkan agar meminta ketua untuk memimpin pekerjaan jangkauan keluar jemaat, tetapi ini pun harus dihindari bila ada orang lain yang lebih berbakat untuk itu.


Karunia Rohani yang Sesuai:

• Menasehati – Kemampuan khusus yang Tuhan berikan kepada beberapa orang untuk memberikan dorongan dan kenyamanan kepada orang lain.

• Pendeta/Gembala – Kemampuan untuk memikul tanggung jawab pribadi atas kesejahteraan rohani sekelompok orang percaya dan bertindak sebagai gembala, pengawas, pelindung, dan pembimbing gereja.

• Administrasi – Kemampuan untuk membimbing gereja dalam mencapai tujuannya.

• Kepemimpinan – Kemampuan untuk membantu orang lain menetapkan tujuan dan mengomunikasikan tujuan tersebut kepada orang lain.

Komitmen Waktu :
Termasuk tugas Sabat, sebagian besar penatua perlu merencanakan dua hingga empat jam per minggu untuk melaksanakan tugas mereka.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *