Teks: Yos. 5:13-15; Yes. 37:16; Why. 12:7-9; Ul. 32:17; Kel. 14:13-14; Yos. 6:15-20
SABTU: Pendahuluan
Shalom, kita tiba di pelajaran yang keempat. Fokusnya Yosua 5:13-15. Tentang kemunculan panglima Bala Tentara Tuhan.
Dalam kitab Yosua, kita melihat kampanye militer agresif. Dilakukan atas perintah Tuhan. Atas nama Tuhan. Dengan pertolongan Tuhan.
Tuhanlah dibalik penaklukan tanah Kanaan. Terungkap di ( Yos. 10:10-11 ) dalam firman Tuhan sendiri ( Yos. 6:2 , Yos. 8:1 )..
Dalam pidato Yosua ( Yos. 4:23-24 ; Yos. 8:7 ), oleh Rahab ( Yos. 2:10 ), oleh mata-mata ( Yos. 2:24 ), dan oleh umat ( Yos. 24:18 ).
Tuhan mengklaim sebagai pemrakarsa konflik-konflik yang penuh kekerasan ini.
Karena itu muncul pertanyaan: Bagaimana kita bisa memahami bahwa umat pilihan Allah melakukan praktik-praktik semacam itu di zaman Perjanjian Lama?
Bagaimana mungkin kita dapat menyelaraskan gambaran Allah yang “suka berperang” dengan karakter kasih-Nya (misalnya, Kel. 34:6 , Mzm. 86:15 , Mzm. 103:8 , Mzm. 108:4 ) tanpa mengurangi kredibilitas, otoritas, dan historisitas Perjanjian Lama?
Semua pertanyaan tentang perang yang diperintakan Tuhan, akan terjawab melalui pelajaran minggu ini.
MINGGU: Panglima Tentara Tuhan (Yosua 5:13-15)
Dibagian ini Israel telah menginjakkan kaki ditanah Kanaan. Kota pertama yang harus mereka taklukan adalah Yeriko.
Pada waktu itu, ada informasi intelijen yang diterima oleh semua raja Amori. Raja Kanaan. Bahwa Tuhan Israel telah mengeringkan air sungai Yordan agar Israel dapat menyeberang.
Mengetahuinya, mereka sadar Allah Israel unggul dari dewa-dewa mereka. Itu sebabnya, tawarlah hati mereka dan hilanglah semangat mereka menghadapi orang Israel itu. (Yos 15:1).
Karena itu seluruh akses masuk ke kota Yeriko ditutup. Mereka mengisolasi diri. Dan mempersiapkan pertahanan terbaik mereka untuk menghadapi Israel.
Bagi Yosua, itu akan menjadi pertempuran pertamanya sebagai pemimpin, tentu membutuhkan strategi.
Walau Yosua sudah mendapat data intelijen dari dua pengintai, dia belum punya strategi menyerang Yeriko. Jadi dia masih menunggu petunjuk Tuhan.
Karena Israel tidak memiliki persenjataan seperti mesin pengepungan, tidak ada alat pendobrak, tidak ada ketapel, dan tidak ada menara bergerak.
Kalah jauh dari Yeriko. Merekal hanya memiliki umban, tombak, dan panah.
Satu-satunya senjata mereka adalah umban, panah, dan tombak
Tentu, secara perhitungan matematis, mereka pasti kalah menghadapi tentara Yeriko dengan senjata lengkap.
Sementara masa-masa menunggu, beberapa hal yang mereka lakukan: Menyunat bangsa Israel. Kemudian, merayakan paskah pada hari ke 14.
Selanjutnya, mereka makan roti yang tidak beragi dan bertih gandum, pada hari itu juga (Yos 5:11). Dan pada saat juga, manna sebagai makanan selama perjalanan padang belantara berhenti.
Dan untuk pertama kali mereka makan hasil tanah negeri Kanaan.
Setelah merayakan Paskah, Yosua berjalan dari Gilgal menuju kota Yerikho. Dia ingin melihat lebih dekat kota itu.
Dia membandingkan laporan para pengintai, benar kota itu bertembok. Kokok. Kuat.
Meskipun Yosua memiliki pengalaman militer yang panjang, ia belum pernah memimpin serangan terhadap kota berbenteng yang dipersiapkan untuk pengepungan yang lama.
Yeriko lain dari yang lain. Dari semua kota bertembok di Palestina, Yerikho mungkin yang paling tak terkalahkan. Ditambah lagi para tentaranya sudah terlatih.
Keduanya merupakan rintangan yang tampaknya tak teratasi.
Sementara dia memandang ke Yeriko, tiba-tiba, ia melihat seorang pria dengan pedang terhunus berdiri di hadapannya.
Dia terkejut. Lalu mendekat. Yosua bertanya, Apakah engkau kawan atau lawan? Pria itu segera mengungkapkan bahwa ia adalah “panglima bala tentara TUHAN.” (5:13-14)
Kata “panglima bala tentara” unik dalam Alkitab Ibrani. Gabungan panglima dan bala tentara merujuk pada seorang pemimpin militer.
Kata “bala tentara” dalam Kitab Suci dapat merujuk pada pasukan militer, para malaikat, atau benda-benda langit.
Jadi siapakah Panglima bala tentara tersebut? Sebelum kita mengidentifikasi identitanya, kita lihat dulu pengalaman yang sama yang dijumpai Musa dan beberapa orang dalam Alktab.
Musa, bertemu dengan malaikat TUHAN dalam nyala api semak duri (Kej 3:1-10). Gideon juga mengalami hal yang sama. Bertemu malaikat TUHAN (Hak 6:11-14).
Sementara Yosua bertemu dengan “panglima tentara TUHAN”.
Jadi ada kemiripan dari tiga kisah tersebut. Bagaimana respon mereka?
Musa dan Yosua ketika melihat sesuatu yang mengejutkan tersebut, mereka mendekat.
Kemudian mereka diperintahkan untuk melepas sandal mereka karena mereka berdiri di tempat yang suci, dan mereka menanggapi dengan hormat dan takut.
Jadi kehadiran sosok Ilahi dihadapan mereka sebelum perjalanan misi dimulai, merupakan bentuk jaminan dan penguatan Ilahi bagi mereka.
Bagi Musa, itu akan menjadi empat puluh tahun yang sulit di padang gurun, dan bagi Yosua, itu akan menjadi masa peperangan di Kanaan.
“Tempat yang kudus” selalu menunjukkan bahwa Yahweh hadir, dan bahwa sebuah peristiwa besar akan segera terjadi.
Dalam hal ini, Israel akan menaklukkan Kanaan, dan Yerikho berada di ambang kehancuran.
Jadi siapakah panglima bala tentara tersebut?
Dia adalah Yesus sebelum inkarnasi. Muncul dalam rupa manusia dan rupa itu juga yang akan dikenakan saat penebusan.
Ada beberapa alasan, mengapa Panglima Bala tentara itu adalah Yesus..
Pertama, gelar , ‘Panglima Balatentara Tuhan,’ yang merupakan bentuk lain dari nama ‘Tuhan semesta alam,’ yang menyiratkan penguasa seluruh balatentara surgawi..
Gelar ini merupakan gelar yang tepat untuk Yahweh-Yesus.
Kedua, penerimaannya atas penyembahan atau pemujaan yang Yosua berikan kepadanya di sini.
Hal seperti Ini pasti akan ditolak oleh malaikat atau makhluk ciptaan mana pun. Bdk. Why. 19:10 ; 22:9 ; Hak. 13:16. Ini juga terlihat dari perintahnya agar Yosua menaggalkan kasutnya.
Ketiga, Tempat tersebut dikuduskan oleh kehadirannya, yang merupakan hak prerogatif khusus Allah, Kel 3:5.
Keempat, dari Yosua 6:2, sosok itu disebut sebagai Yahweh.
Mengapa Yesus pra inkarnasi datang menemui Yosua?
Untuk mendorong Yosua bahwa dia tidak sendirian. Tuhan akan menyertainya seperti yang telah dikatakan sebelumnya (Yos 1:5,9).
Bahwa yang akan berperang untuk mereka adalah Tuhan. Dan itu dia bisa lihat dari pedang yang terhunus ditangan-Nya, menunjukkan bahwa perang itu berasal dari Allah.
Jika Allah di pihaknya, siapakah yang dapat melawannya?
Selain itu pertemuan Yosua dan panglima bala tentara tersebut sebagai waktu bagi Yosua menerima arahan bagaimana strategi mengalahkan Yeriko.
Yosua diingatkan bahwa ia adalah orang kedua yang memegang komando.
Tuhan datang kepada Yosua hari itu, bukan hanya untuk menolong, tetapi juga untuk memimpin.
Yosua adalah seorang prajurit berpengalaman, yang telah dilatih Musa untuk menjadi pemimpin. Namun itu bukan jaminan keberhasilan. Ia membutuhkan kehadiran Tuhan Allah.
Ketika Yosua bertemu Tuhan, ia menyadari bahwa pertempuran itu adalah milik Tuhan dan Dia telah mengalahkan musuh.
Yang perlu Yosua lakukan hanyalah mendengarkan Firman Tuhan dan menaati perintah, dan Tuhan akan mengerjakan sisanya.
Tuhan telah menyerahkan Yerikho kepada Israel ( Yos. 6:2 ); yang perlu mereka lakukan hanyalah melangkah maju dengan iman dan meraih kemenangan dengan menaati Tuhan.
Aplikasi
Dalam sebuah pertemuan dengan sekelompok kecil misionaris di Tiongkok, James Hudson Taylor, pendiri China Inland Mission (sekarang Overseas Missionary Fellowship), mengingatkan mereka bahwa ada tiga cara untuk melakukan pekerjaan Tuhan:
Pertama adalah membuat rencana terbaik yang kita bisa, dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya …
Kdua, setelah menyusun rencana kita dengan cermat dan bertekad untuk melaksanakannya, kita dapat memohon kepada Tuhan untuk membantu kita, agar diberkati dalam rencana tersebut.
Ketiga, memulai dengan Tuhan; meminta rencana-Nya, dan mempersembahkan diri kita kepada-Nya untuk melaksanakan tujuan-Nya.
Jadi, jangan terburu-buru memasuki medan perang, kita harus “meluangkan waktu lebih dahulu untuk menjadi kudus.”
Dalam pelayanan Kristen, kemenangan publik yang besar diraih secara pribadi ketika para pemimpin tunduk kepada Tuhan dan menerima arahan dari-Nya.
SENIN: Perang di Surga
Teks: Wahyu 12:7-9 , Yes. 14:12-14 , Yeh. 28:11-19 , dan Dan. 10:12-14)
Ketika Yosua siap menghadapi peperangan melawan raja-raja tanah Kanaan, ia sadar peperangan ini bagian dari konflik yang lebih besar. Perang semesta antara Kristus dan setan.
Itu bukan sekedar peperangan biasa perebutan wilayah. Peperangan mereka berkaitan dengan rencana keselematan yang Tuhan telah rencanakan sebelum dunia diciptakan.
Peperangan itu bermula di Sorga. Itu dicatat di Wahyu 12:7-9.
Salah seorang dari malaikat Tuhan, Lucifer, memilih untuk memberontak melawan dan mengajak sepertiga malaikat lainya untuk memberontak.
Mikhael dan para malaikatnya berperang melawan Iblis dan para malaikatnya. Mikhael (nama yang berarti “siapakah yang seperti Allah?”) adalah komandan bala tentara surga.
Di tempat lain dalam Alkitab, ia diidentifikasi sebagai pemimpin terkemuka (Dan 10:13, 21; 12:1) dan penghulu malaikat (Yudas 9).
Dialah yang menampakkan diri kepada Yosua di Yerikho sebagai panglima bala tentara surgawi dan disamakan dengan Tuhan sendiri (Yos. 5:13-15).
Kristus memimpin tentara surgawi dalam melawan Iblis. Setan dan para malaikatnya melawan. Namun, karena mereka tidak cukup kuat, mereka akhirnya kalah dalam pertempuran.
Akibatnya, Iblis dan pasukannya diusir dari surga dan dikirim ke bumi (Wahyu 12:9).
Selanjutnya, Yesaya dan Yehezkiel merujuk pada konflik tersebut, meskipun beberapa penafsir mencoba membatasi makna Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 hanya kepada raja Babel dan seorang penguasa di Tirus..
Namun teks pada ayat tersebut menampilkan personifikasi setan. Raja Babel digambarkan berada di surga di takhta Allah ( Yes. 14:12-13 ), dan raja Tirus dikatakan berdiam di Eden sebagai kerub pelindung di gunung kudus Allah ( Yeh. 28:12-15 )
Raja Babel menjadi contoh pemberontakan, kemandirian, dan kesombongan.
Raja Tirus digambarkan sebagai sosok yang sangat sombong dan menganggap dirinya setara dengan Tuhan, sehingga ia dihukum dengan kejatuhan yang memalukan.
Ambisinya yang didorong oleh keserakahan dalam perdagangan juga digambarkan merusak dirinya sendiri.
Simbol-simbol seperti berjalan di gunung suci Allah dan di antara batu-batu api digunakan untuk menekankan aksesnya yang istimewa, yang kemudian hilang akibat kesombongannya.
Menurut Daniel 10:12-14 , makhluk-makhluk surgawi yang memberontak ini menghalangi pemenuhan tujuan Allah di bumi.
Berdasarkan hubungan antara surga dan bumi inilah kita harus memahami perang-perang Israel yang disahkan oleh Allah.
Kita perlu mengenalinya sebagai manifestasi duniawi dari konflik besar antara Allah dan Setan, dan antara kebaikan dan kejahatan—semuanya pada akhirnya bertujuan untuk memulihkan keadilan dan kasih Allah di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa.
Perang yang dimulai di Surga, masih berlanjut didunia. Meskipun nasib Iblis telah diputuskan dengan pengusirannya dari surga, kekalahannya belum selesai.
Dia masih mengklaim sebagai penguasa di bumi. Itulah sebabnya surga memberikan peringatan ini:
“..celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.” (Why. 12:12).
Bagaimana kita melihat, realitas pertempuran kosmik antara kebaikan dan kejahatan dalam hidup kita dan dunia sekitar kita?
Pertempuran itu terus berlangsung. Bahkan itu melibatkan kita. Setiap hari, kita menghadapi peperangan rohani. Pikiran kita menjadi arena perebutan antara Kristus dan Iblis.
Satu-satunya cara kita menang adalah dengan mengenakan seluruh senjata perlengkapan Allah (efesus 6:11).
SELASA: Tuhan adalah seorang Pejuang
Teks: Keluaran 2:23-25 ; Keluaran 12:12-13 ; dan Keluaran 15:3-11
Ratusan tahun di Mesir, mereka melupakan Allah leluhur mereka. Pengetahuan mereka tentang Allah memudar. Akibatnya mereka mencampurkan unsur pagan kedalam agama mereka.
Karena ditindas begitu berat di Mesir, mereka mengeluh karena perbudakan. Mengeluh berarti mengeluarkan suara putus asa, terutama karena penindasan.
Pada akhirnya, mereka berseru kepada Tuhan. Berseru berarti berteriak minta tolong, berteriak dalam kesedihan.
Ada berkat positif dari perbudakan. Agar mereka ingat Tuhan. Sehingga mereka berpaling kepada Tuhan dan berseru-seru (Kel 2:23-25).
Karena mereka mengerang, maka Allah ingat perjanjian-nya. Allah mengingat bukan karena anak-anak Israel baik, tetapi karena Dia begitu baik sehingga Dia mengikat perjanjian yang kekal dan tanpa syarat dengan mereka.
Ketika Tuhan mengingat, berarti mulai bertindak berdasarkan apa yang diingat.
Jadi ketika mereka mengeluh dan berseru. Allah mendengar dan mengingat janji-Nya.
Kata kerja ini menekankan simpati dan belas kasihan Allah bagi umat-Nya. Allah dekat dengan mereka yang membutuhkan; bahkan, sang penyelamat telah dipilih.
Ketika Tuhan mengingat, artinya Dia akan mengambil tindakan untuk kesejahteraan mereka. Itu sebabnya Dia melihat dan memperhatikan mereka (2:25).
Menggambarkan Allah sedang memusatkan pandangan-Nya, memandang dengan penuh perhatian terhadap penderitaan yang Dia lihat.
Pada saat yang tepat, Tuhan turun tangan bagi mereka.
Jadi seperti Israel, Tuhan melihat penderitaan umat-Nya, dan Dia mendengar tangisan mereka.
Lalu mengapa Dia tidak bertindak lebih cepat? Karena Dia punya waktu yang tepat ( Kej. 15:13–16 ). Kita harus belajar menantikan Tuhan.
Pada 12 pasal pertama kitab keluaran, konflik yang terjadi bukan sekedar perebutan kekuasaan antara Musa dan Firaun.
Konflik itu dianggap sebagai antara dewa-dewa dari masing-masing yang berkonflik.
Misalnya, di Keluaran 12:12, Israel ditindas, lalu Tuhan muncul membela mereka dan menjatuhkan hukuman kepada Mesir.
Hukuman itu bukan hanya kepada Firaun, juga kepada dewa-dewa Mesir.
Dalam terang yang lebih luas, Allah sedang berperang melawan dosa. Dan mereka yang berbuat dosa akan mendapat ganjarannya (Maz 28:4).
Malaikat yang jatuh dalam dosa dan manusia berdosa yang tidak bertobat akan dibinasakan.
Jadi ketika Tuhan berperang dengan orang-orang di Bumi, seperti Firaun, orang-orang Kanaan, dll, itu harus dilihat sebagai tahap awal dari konlik semesta.
Konflik ini akan mencapai puncaknya di kayu salib, dan akan tuntas pada penghakiman terakhir (Why 20), disana keadilan dan karakter kasih Allah akan dibuktikan.
Jadi ketika suatu bangsa dihancurkan, seperti bangsa Kanaan, itu ahrus dilihat dalam konteks peperangan semesta antara Tuhan dan setan.
Disana Allah terlibat dalam konflik kosmik dengan para pelaku kejahatan di alam semesta. Yang pada akhirnya dipertaruhkan adalah reputasi dan karakter Allah ( Rm. 3:4 , Why. 15:3 ).
Karena ini adalah perang antara Tuhan dan setan, maka kita harus membuat piliha berdiri dimana. Tidak ada posisi netral dalam perang ini. Pilihanya jelas, berada di pihak Tuhan atau pihak jahat.
Jadi, dengan latar belakang ini, pemusnahan bangsa Kanaan harus dilihat sebagai gambaran awal dari penghakiman terakhir.
Artinya sebagaimana Tuhan membinasakan bangsa Kanaan, demikian juga Tuhan akan membinasakan semua kejahatan dari muka bumi ini.
Jadi, apa artinya Tuhan sebagai pejuang? Tuhan bertindak melepaskan umat-Nya dari penindasan. Dia melawan kejahatan dan memberi kemenangan.
Allah membinasakan iblis dan semua orang jahat dari muka bumi dan memberikan dunia baru kepada Umat-Nya.
Dimanakah posisi Anda berdiri dalam konflik ini?
RABU: Tuhan Akan Berperang untukmu
Teks: Keluaran 14:13-14
Dalam keluaran 14:13-14, Musa mengatakan bahwa TUHAN akan berperang untuk mu. Apa maksud dari perkataan tersebut?
Latar belakang perkataan Musa itu datang pada saat Israel menghadapi situasi krisis. Mereka yang telah keluar dari Mesir, namun dikejar oleh Firaun dan mereka tiba pada jalan buntu.
Tidak ada jalan keluar. Dihadapan mereka ada laut Merah. Jalan mereka terhenti. Mereka ketakutan. Musa menjadi sasaran amarah mereka, karena membawa mereka pada situasi sulit.
Musa berusaha menenangkan hati mereka,
“Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Kel 14:13-14).
Mengapa mereka takut? Karena mereka tidak berdaya. Belum terlatih berperang dan tidak punya kekuatan militer.
Karena itu Tuhan mengintervensi mereka. Dimulai dari mengeluarkan mereka dari Mesir. Dan saat mereka terpojok oleh tentara Firaun, Tuhan muncul bertempur untuk mereka.
Tuhan akan berperang artinya peperangan ini adalah milik TUHAN! Ini adalah “pertarungan ilahi” karena Firaun dianggap ilahi dan ia akan berhadapan dengan satu-satunya Pribadi yang benar-benar ilahi!
Jadi ini perang Tuhan, karena itu mereka hanya berdiam dan menyaksikan kejatuhan lawan mereka. Hasilnya musuh kalah.
Setelah mereka menyeberang laut Merah, mereka mengungkapkan bahwa ‘TUHAN itu pahlawan perang..” (Kel 15:3).
Allah adalah pejuang; inisiatif ada di tangan-Nya. Dia menetapkan strategi, menentukan sarana, dan memimpin kampanye.
Ellen G. White menafsirkan hal ini sebagai ungkapan fakta bahwa Allah “tidak merancang agar mereka memperoleh tanah perjanjian melalui peperangan, melainkan melalui ketundukan dan ketaatan tanpa syarat kepada perintah-perintah-Nya.”—Ellen G. White, The Signs of the Times , 2 September 1880.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali Israel memiliki kepercayaan yang cukup kepada Tuhan, mereka tidak perlu berperang (lihat 2 Raja-raja 19, 2 Tawarikh 32, Yesaya 37 ).
Poinnya, Tuhan akan berperang adalah perang ini dilakukan oleh Tuhan untuk membela reputasi, janji, dan kepentingan pribadi-Nya (14:10–14).
Bagian mereka hanya menyaksikan kuasa TUHAN dipertunjukkan!
TUHAN berperang bagi umat-Nya adalah tema yang berulang dalam Perjanjian Lama, dan Dia tetap sama hingga hari ini.
Jadi, mungkin kita sedang menghadapi pertempuran kehidupan hari ini, bisa jadi itu dalam pekerjaan, karir, usaha, sekolah, kesembuhan, dll..
Kita harus ingat bahwa dalam pertempuran ini, kita memiliki Pembela dan Sekutu yang kuat! Dan seringkali, lebih baik membiarkan TUHAN berperang bagi kita sementara kita tetap diam !
KAMIS: Pilihan Terbaik Kedua
Teks: Keluaran 17:7-13 dan Yosua 6:15-20
Kapankah Israel berperang untuk pertama kalinya? Dua bulan setelah mereka keluar dari Mesir. Tempatnya di Rafidim.
Perang pertama mereka melawan suku Amalek. Mereka keturunan Esau. Mereka mendiami tanah tandus terpencil di timur laut semenanjung Sinai dan Negeb.
Amalek adalah putra Elifas (putra sulung Esau) dengan seorang selir bernama Timna ( Kejadian 36:12) dan menjadi “klan” atau “kepala” dalam suku Esau ( Kejadian 36:15 )
Jadi, orang Amalek adalah sepupu jauh orang Israel.
Peperangan pertama ini terjadi saat orang Israel bersungut-sungut kepada Musa soal air minum. Bahkan mereka mempertanyakan kehadiran Allah di tengah-tengah mereka (17:3).
Dan Tuhan menyediakan air di gunung Horeb, keluar dari batu yang dipukul Musa.
Saat itu, secara mendadak, orang Amalek datang menyerang mereka lebih dahulu menyerang mereka.
Ini bukan secara kebetulan. Allah mengizinkan orang Amalek menyerang Israel sehingga mereka dapat belajar untuk percaya kepada-Nya lagi.
Kemungkinan peperangan ini terjadi karena orang Amalek melihat kedatangan Israel sebagai ancaman bagi mereka.
Peperangan terjadi umumnya karena perebutan hak atas padang rumput. Bangsa Amalek pada waktu itu adalah ras terkuat di Semenanjung.
Di sini mereka mengambil posisi sebagai pemimpin kaum pagan. Mereka juga yang pertama di antara kaum pagan yang menyerang umat Allah.
Ada kemungkinan mereka telah mengetahui tentang janji tanah Kanaan yang telah diberikan kepada saudara kembar Esau, Yakub..
Seharusnya mereka tidak perlu merasa terancam terhadap kepentingan mereka di Negev jika janji ini diingat dan ditanggapi dengan serius.
Lagipula, janji itu seharusnya menjadi sarana untuk memberkati Amalek bersama dengan semua bangsa lainnya.
Gantinya menyambut Israel dengan sukacita, sebaliknya mereka justru menyerang Israel.
Serangan Amalek ini memancing kemarahan Allah karena dua alasan:
(1) Mereka gagal mengenali tangan dan rencana Allah dalam hidup bangsa Israel.
(2) Mereka menyasar lebih dahulu orang-orang Israel yang sakit, lanjut usia, dan lelah yang tertinggal di belakang barisan (Ul 27:1-18).
Akhirnya orang Amalek dikalahkan dengan cara yang luar biasa dan unik (17:10-16).
Tuhan memberikan kemenangan kepada mereka untuk mengajar mereka bahwa selama mereka terus percaya tanpa syarat mereka akan menang.
Perang menjadi suatu keharusan bagi Israel, perang juga menjadi ujian kesetiaan mereka kepada Yahweh.
Allah tidak meninggalkan mereka, tetapi mengizinkan mereka menyaksikan kuasa-Nya dengan bergantung sepenuhnya kepada-Nya.
Mereka akan terlibat dalam perang untuk membangun kepercayaan tanpa syarat akan pertolongan Yahweh.
Namun, Israel selalu diingatkan ( Yos. 7:12-13 ; Yos. 10:8 ) bahwa hasil setiap pertempuran pada akhirnya berada di tangan Tuhan..
Dan satu-satunya cara agar mereka menang dalam konflik militer adalah melalui iman kepada Tuhan. Pilihannya ada di tangan mereka sendiri.
Jadi apa persamaan dan perbedaan antara perang Israel di Rafidim melawan Amalek dengan perang melawan Yeriko?
Persamaan: Sama-sama menghadapi musuh yang kuat. Kemenangan yang mereka raih sama-sama karena campur tangan Tuhan.
Sama-sama menghadapi perang pertama. Amalek Musuh terkuat di padang belantara. Yeriko Musuh terkuat di Kanaan
Perang pertama setelah keluar dari Mesir. Perang pertama setelah memasuki tanah Kanaan
Menang: Mengangkat kedua tangan. Menang: Mengelilingi 7 kali
sama-sama menang karena Tuhan.
Perbedaan: Perang melawan Amalek dan Melawan Yeriko. Dipimpin Musa dan Dipimpin Yosua
Diserang lebih dahulu dan Menyerang lebih dahulu
Alat peraga tongkat Musa yang diangkat. Alat peraga tabut, sangkala
Jadi cara berperang berbeda, namun cara menangnya sama, yaitu menang karena kuasa Tuhan.
JUMAT: Kesimpulan
Perang Israel melawan orang-orang yang menghalangi jalan mereka adalah perang Tuhan. Tuhan sebagai pejuang yang mengintervensi Israel mengalahkan Amalek dan Yeriko.
Perang ini dalam rangka untuk menggenapi rencana Tuhan, yang dijanjikan kepada Abraham untuk membentuk satu bangsa pilihan Tuhan agar menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Perang ini adalah perang kosmis yang telah dimulai di Sorga oleh Lucifer. Antara TUHAN dan Setan. Kebenanran dan kejahatan.
Perang yang dijalani Israel adalah gambaran dari perang semesta yang puncaknya di kayu salib dan akan tuntas pada akhir millennium.
Kebinasaan orang-orang Kanaan dalam peperangan adalah cerminan dari kebinasaan kekal dari orang-orang jahat yang tidak bertobat, yang menolak kasih karunia Ilahi.
Motif Yahweh sebagai seorang pejuang menjadi gambaran awal dari kemenangan akhir itu, yang pada akhirnya akan mengakhiri konflik kosmik yang sedang berlangsung antara kebaikan dan kejahatan ( Wahyu 20:8-10 ).
Pertanyaan Diskusi:
1. Melalui latar belakang perang semesta antara Tuhan dan Setan, bagaimana kita memahami perintah Tuhan kepada Israel untuk berperang?
2. Di kelas, diskusikan jawaban Anda atas pertanyaan hari Senin mengenai realitas kontroversi besar dan bagaimana hal itu terjadi di dunia sekitar kita. Apa peran kita dalam kontroversi ini, dan bagaimana kita berupaya memenuhinya?
3. Bagaimana kita dapat menerapkan prinsip berdiam diri dan menantikan Tuhan berperang bagi kita dalam kehidupan rohani kita?
4. Sering kali, dalam diskusi dan perselisihan di gereja, kita ingin melihat siapa yang ada di pihak kita. Bagaimana kita seharusnya mengubah sikap kita berdasarkan Yosua 5:13-15 ?











