Teks: Kej. 3:17-24; Ul. 6:3; Yos. 13:1-7; Ibr. 12:28; Im. 25:1-5, 8-13; Yeh. 37:14, 25

Shalom, kita telah tiba dipelajaran ke Sembilan dengan judul: Pewaris Janji, Tahanan Harapan. Mari kita mulai dengan membaca dari Yosua 13-21.

Bacaan ini cukup panjang. Mungkin tidak menarik bagi kita. Membosankan, karena isinya hanya daftar tanah yang dibagikan kepada setip suku Israel.

Biasanya pasal-pasal seperti ini cenderung dilewatkan. Namun saran saya jangan dilewatkan. Baca saja.

Karena daftar-daftar ini didasarkan pada pemahaman teologis tentang Tanah Perjanjian yang penting bagi kita saat ini.

Apa yang ingin diajarkan dari daftar-daftar ini?

Tuhan ingin mengajarkan bahwa janji Tuhan bukan sekedar mimpi. Tetapi kenyataan.

Tanah itu dijanjikan kepada mereka dengan cara yang sangat nyata dan terukur. Namun, mereka harus mewujudkan janji itu dengan bertindak sesuai dengannya.

Artinya tanah itu adalah warisan. Itu pemberian Tuhan sesuai dengan janji-Nya. Dengan demikian tanah itu bukan hasil usaha mereka.

“Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya.” Ulangan 1:8.

Memang mereka punya peran, dalam arti merespon janji Tuhan, mereka harus beriman dengan melakukan perintah Tuhan.

Minggu ini kita akan melihat beberapa konsep teologis terkait Tanah Perjanjian dan implikasi spiritualnya bagi mereka yang mengklaim semua janji yang ditemukan dalam Yesus.

Teks: Kejadian 2:15 dan Kejadian 3:17-24

Pada pelajaran hari ini, kita akan melihat Tuhan memberikan taman Eden untuk tempat tinggal orang tua pertama kita, saat penciptaan dan tanah Kanaan untuk umat pilihan Tuhan.

Apakah nama tempat yang diberikan kepada Adam dan Hawa?

Jawabanya: Taman Eden. Dicatat di Kejadian 2:15 ,” TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Apa arti nama Eden?

Kata Ibrani yang diterjemahkan “Eden” dipahami berarti “Kenikmatan, kesenangan” atau “kegembiraan.”

Kata Ibrani yang serumpun dengan kata Sumeria EDIN, dan kata ini juga ada hubungan dengan kata serumpun Aram yang berarti “memperkaya, membuat berlimpah.”

Jadi taman Eden menghasilkan gagasan “taman kelimpahan.”

Bunyi kata “Eden” sendiri menyiratkan bahwa taman itu subur dan indah. Pohon-pohon yang hijau dan subur menjadi ciri khas taman itu.

“Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya..: Kej 2:9a.

Apa arti manusia ditempatkan di taman Eden?

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden..” (9b dan 15a).

Ditempatkan artinya “beristirahat”. Artinya, taman itu bagi Adam adalah tempat peristirahatan, sebagaimana dalam Mazmur 95:11, Tanah Perjanjian bagi Israel adalah tanah peristirahatan.

Jadi, bagi Adam, Taman Eden adalah tanah peristirahatan. Itu adalah di lingkungan yang sempurna yang mewujudkan kelimpahan dan keindahan.

Apakah pekerjaan mereka ditaman Eden?

Pekerjaan mereka adalah mengusahakan dan memelihara taman itu. kata lainnya mengolah.

Kata Ibrani ini berarti “bekerja” atau “melayani”, menekankan aktivitas fisik. Kata ini juga digunakan untuk bekerja dalam pelayanan kepada Allah.

Aktivitas fisik ini merupakan pelayanan rohani kepada Allah; manusia ada di sana bukan untuk dilayani, melainkan untuk menjadi hamba Allah.

Kata memeliharanya berarti “menjaga”. Kata itu juga digunakan dalam Kejadian 3:24, di mana Kerubim ditugaskan untuk menjaga pintu masuk ke taman.

Kata ini juga berarti “menjaga” dalam arti “kepatuhan”. Menjaga taman dalam arti menjaga akan menjadi tindakan ketaatan.

Penekanannya bahwa ia harus menjaga Taman Eden, bukan dalam arti musuh eksternal, melainkan menjaganya dalam arti menaati perintah Allah.

Menjaga taman akan menjadi tindakan ketaatan kepada Allah.

Ketika mereka bekerja mengusahakan dan memelihara taman, mereka dalam keadaan yang sempurna.

Jadi mereka bekerja terasa mudah karena tanah mudah menghasilkan. Itu bukanlah pekerjaan yang melelahkan dan menguras keringat.

Apakah fungsi taman Eden bagi mereka?

Sebagai pusat pembelajaran di mana Adam dan Hawa memperoleh pemahaman yang mendalam tentang karakter Allah dan kehidupan yang Ia rencanakan bagi mereka.

Setelah berdosa, bagaimana rumah tinggal Adam dan Hawa?

Setelah berdosa, hubungan mereka dengan Taman Eden pun berubah, dan sebagai tanda putusnya hubungan tersebut, mereka harus meninggalkan taman itu.

Mereka kehilangan wilayah yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka terusir dari taman itu (Kej 3:23).

Kemana mereka pergi setelah berdosa?

“Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil..”

“Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.” Kej 3:23-24.

Mereka diusir keluar taman Eden. Adam, penjaga taman, diusir seperti pencuri, tidak akan pernah masuk lagi ke sana. Pengusiran itu mengerikan, tetapi juga merupakan anugerah.

Taman itu adalah tempat kudus Allah, ruang ilahi yang asli. Adam dan Hawa hidup dengan memandang wajah Allah saat Ia berjalan di taman.

Mereka menghirup udara kehadiran Allah. Kini hal itu tidak mungkin lagi.

Untuk mencegah mereka masuk, para kerubim ditempatkan di sebelah timur taman dengan pedang berapi, yang mewakili keadilan dan kekudusan Allah dalam penghakiman-Nya, berkilauan ke sana-kemari.

Bagaimana kondisi mereka diluar taman Eden?

Hidup mereka berudah, dari kenikmatan menjadi kesengsaraan. Kejadian 3:16-19 mencatat keadaan mereka diluar taman Eden:

Susah mengandung, sakit melahirkan. Perempuan dikuasai laki-laki. Tanah terkutuk. Susah payah mencari rejeki. Tanah menghasilkan semak duri dan rumput duri. Makan dari tumbuh-tumbuhan. Kematian.

Jadi kehilangan taman Eden sama dengan penderitaan.

Namun Allah berjanji akan mengmbalikan Eden yang telah hilang kepada umat-Nya. Dan kita akan menemukan kembali motif-motifnya dalam tema Tanah Perjanjian.

Apakah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham?

Tanah Kanaan. Tanah itu digambarkan berlimpah susu dan madu (Keluaran 33:3; Bilangan 12:23-26).

Bagaimana Tuhan menjanjikan tanah itu ?

Kepada Abraham Tuhan berjanji akan memberikan tanah kepadanya dan keturunannya (Kej 13:14-15; Kej. 26:3 , 24 ; Kej. 28:13)

Ketika dia tiba disana, dengan iman tanah itu menjadi Tanah Perjanjian baginya dan keturunannya. Tanah itu tetap menjadi Tanah Perjanjian selama 400 tahun.

Siapa sebenarnya yang punya tanah itu?

Tanah itu milik Allah, seperti Taman Eden adalah milik-Nya. Alasannya, karena Adam dan Hawa tidak melakukan apa pun yang membuat mereka berhak atas Taman Eden..

Seperti Israel, mereka juga tidak berkontribusi apa pun untuk mendapatkan tanah itu. Tanah Perjanjian adalah pemberian Allah berdasarkan inisiatif-Nya.

Israel tidak memiliki hak atau klaim yang melekat untuk memiliki tanah itu ( Ulangan 9:4-6 ); hanya oleh kasih karunia Allah mereka dapat memilikinya.

Bagaimana janji Tuhan kepada kita tentang tanah perjanjian surgawi?

Menurut Ibrani 8:6, kepada kita janjinya akan lebih mulia, janji yang lebih tinggi. Dan janji itu akan digenapi jika kita mengikuti teladan iman mereka yang mewarisi janji-janji itu dengan iman dan kesabaran ( Ibr. 6:12 ).

Jadi, apakah taman Eden itu?

  1. Taman Eden adalah tempat manusia dapat bertemu Tuhan.

Sang Pencipta “berjalan-jalan di taman itu pada waktu hari sejuk” dalam Kejadian 3:8 , dan Adam serta Hawa dapat bersama-Nya dan bercakap-cakap dengan-Nya.

  1. Taman Eden adalah tempat yang penuh persediaan.

Adam dan Hawa tidak kekurangan apa pun dan “bebas memakan buah dari pohon apa pun di taman itu” ( Kejadian 2:16 ), kecuali satu.

  1. Taman Eden adalah tempat persatuan dan persekutuan.

Hawa diciptakan di taman itu dan dibawa kepada Adam ( Kejadian 2:21-22 ). Persatuan dan persekutuan yang dinikmati oleh pasangan manusia tersebut merupakan cerminan dari persatuan dan persekutuan yang mereka nikmati bersama Allah.

  1. Taman Eden adalah tempat kerja dan kepuasan.

Ketika Allah menempatkan Adam di taman itu, Dia memberi manusia sebuah tugas: Adam harus “mengusahakan [taman itu] dan memeliharanya” ( Kejadian 2:15 ).

Umat manusia diberkati oleh Allah, diberi tanggung jawab, dan disediakan pekerjaan yang bermakna, kreatif, dan bermanfaat.

  1. Taman Eden adalah tempat pernikahan pertama .

Di Taman Eden inilah pernikahan didefinisikan sebagai persatuan antara seorang pria dan seorang wanita yang telah meninggalkan orang tua mereka untuk membentuk sebuah keluarga baru ( Kejadian 2:24 ).

  1. Taman Eden adalah tempat yang penuh ketulusan.

Awalnya, tidak ada dosa di taman itu dan tidak ada yang akan menyebabkan kecemasan atau keresahan.

Ketelanjangan Adam dan Hawa ( Kejadian 2:25 ) menunjukkan bahwa mereka merasa nyaman satu sama lain tanpa rasa takut akan eksploitasi atau potensi kejahatan.

  1. Taman Eden adalah tempat kehidupan.

“Di tengah-tengah taman itu ada pohon kehidupan ” ( Kejadian 2:9 ), dan Adam dan Hawa memiliki akses bebas dan tanpa hambatan ke sana.

  1. Taman Eden adalah tempat ujian.

Di tengah-tengah taman itu juga terdapat “pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” ( Kejadian 2:9 ), buah yang menurut Allah tidak boleh dimakan Adam.

Itulah satu-satunya larangan di Taman Eden. Allah telah menciptakan Adam dan Hawa untuk bebas, dengan rasa moral dan kemampuan untuk membuat keputusan dan memilih bagi diri mereka sendiri.

Kehadiran pohon terlarang memberikan kesempatan bagi Adam dan Hawa untuk membuat pilihan yang nyata dan penting, yaitu taat atau tidak taat. Sayangnya, Adam gagal dalam ujian tersebut.

  1. Taman Eden menjadi tempat penebusan dosa dan harapan .

Dosa Adam dan Hawa menghadapi penghakiman Allah, tetapi di tengah-tengah penghakiman itu ada belas kasihan. Allah menutupi ketelanjangan mereka—yang sekarang membuat mereka malu—dengan kulit binatang ( Kejadian 3:21 ).

  1. Taman Eden adalah tempat yang kita rindukan untuk kembali.

Tuhan harus memaksa Adam dan Hawa untuk meninggalkan taman itu, dan Dia menempatkan kerubim yang tangguh untuk menjaga agar tidak masuk kembali tanpa izin.

Taman itu dirindukan kembali, Tuhan berjanji akan menciptakan Eden yang baru.

  1. Taman Eden akan dipulihkan.

Akses kita ke taman kekal Allah didasarkan pada hubungan kita yang dipulihkan dengan Allah melalui Yesus Kristus (lihat Lukas 23:40-43 ).

Kepada dia yang menang, Aku akan memberikan hak untuk makan dari pohon kehidupan, yang ada di Taman Firdaus Allah” ( Wahyu 2:7 ).

Taman Eden, tempat kenikmatan dan kesenangan itu, telah hilang karena dosa kita—dan Allah, dalam belas kasihan dan kasih karunia-Nya, akan memulihkannya bagi kita atas nama Kristus.

Teks: Keluaran 3:8 ; Imamat 20:22 ; Imamat 25:23 ; Bilangan 13:27 ; Ulangan 4:1 , 25 , 26 ; Ulangan 6:3 ; dan Mazmur 24:1.

Apa jadinya bila sebuah bangsa tidak punya tanah atau wilayah untuk mereka tinggal? Mereka akan menjadi bangsa gelandangan.

Mengapa suatu bangsa harus memiliki tanah?

Karena tanah merupakan sumber daya yang fundamental (makanan, air, mineral), habitat bagi manusia, basis perekonomian (pertanian, industri, lapangan kerja), dan sumber identitas budaya/spiritual..

Dengan negara mengklaim kedaulatan atas wilayah tertentu sebagai bagian penting dari identitas dan pemerintahan nasionalnya.

Tanah menyediakan ruang fisik bagi penduduk untuk hidup, menopang diri, membangun infrastruktur, dan menjalankan kedaulatan.`

Intinya, pada dasarnya, tanah menawarkan identitas fisik bagi suatu bangsa.

Memiliki tanah berarti kebebasan. Identitas bangsa pilihan sangat terkait dengan tempat tinggal mereka di tanah tersebut.

Apa hubungan istimewa antara Allah, Israel, dan Tanah Perjanjian?

  1. Israel menerima tanah itu dari Allah sebagai anugerah, bukan sebagai hak yang tidak dapat dicabut. (Kel 3:8)
  2. Bangsa pilihan dapat memiliki tanah itu selama mereka berada dalam hubungan perjanjian dengan Yahweh dan menghormati ajaran-ajaran perjanjian itu. (Imamat 20:22).

Dengan kata lain, mereka tidak dapat memiliki tanah dan berkat-berkatnya tanpa berkat Allah.

Ketika Tuhan menyediakan tanah, apa yang Tuhan ingin mereka pahami?

  1. Agar mereka memahami karakter Allah yang setia, menepati janji-Nya dan dapat dipercaya.
  2. Agar mereka tahu, bahwa tanpa inisiatif Allah tanah dan Israel tidak akan ada. Allah adalah sumber dan fondasi keberadaan mereka.
  3. Agar mereka bergantung terus-menerus kepada Allah. Karena sewaktu mereka di Mesir tanaman mereka tumbuh karena sungai Nil dan sistim irigasinya.

Sementara di tanah Kanaan berbeda. Mereka bergantung pada hujan untuk panen yang melimpah, dan hanya Allah yang dapat mengendalikan cuaca.

Siapakah pemilih tanah yang sesungguhnya?

Allah adalah pemilik tanah. Israel menerima tanah itu sebagai hadiah dari Yahweh. Sebagai pemilik sejati seluruh bumi (Mazmur 24:1 ), Yahweh berhak untuk memberikan tanah itu kepada Israel atau mengambilnya kembali.

Jika Allah adalah pemilik tanah itu, maka bangsa Israel dan, lebih luas lagi, semua manusia adalah orang asing dan perantau, atau, dalam istilah sekarang, kita semua adalah tamu Allah yang telah lama tinggal di tanah/bumi-Nya.

Dengan demikian, taman Eden, tanah Kanaan, dunia baru adalah pemberian Tuhan. Dimasa depan Tuhan akan memberikan kepada kita Eden, dunia baru untuk tempat kita tinggal.

Ibrani 11:9-16 mengatakan bahwa kita adalah penumpang di bumi ini, namun Allah telah mempersiapkan sebuah kota untuk orang-orang percaya.

Karena itu mari kita setia dengan memengang teguh perjanjian iman kita kepada Yesus.

Teks: Yosua 13:1-7

Pelajaran hari ini membahas tentang berbagai tantangan dalam menaklukan seluruh negeri Kanaan agar mereka memilikinya.

Meski pun tanah Kanaan merupakan anugerah Tuhan, namun mereka juga punya peran dan mereka menghadapi sejumlah tantangan.

Apa saja tantangan yang dihadapi dalam memilikinya?

Tantangannya adalah bagaimana menduduki semua negeri itu. Yosua 13:1 disebutkan, “..Dari negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki…”

Memang sebagian besar tanah Kanaan telah ditaklukkan, itu sebabnya mereka dapat membagi-bagi tanah itu.

Musuh telah dihancurkan sepenuhnya dalam sebagian besar pertempuran, tetapi masih banyak orang Kanaan yang tersisa di tanah itu. Jadi, tanah itulah yang harus dikuasai.

Singkatnya, perang besar untuk Tanah Perjanjian telah berakhir, tetapi masih ada pertempuran yang harus diperjuangkan.

Perang itu sekarang menjadi bagian setiap suku untuk mengusir penghuni dan mengambil kepemilikan penuh untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Sebenarnya ini perang kecil-kecil.

Apa yang menjadi kendala mengapa masih banyak yang belum diduduki?

Ada yang mengatakan persoalan militer. Kendalan sebenarnya soal militer. Memang secara militer mereka tidak memadai bahkan jauh dibanding Mesir yang telah mapan.

Mesir sebagai negara superpower masa itu, tidak mampu sepenuhnya menaklukan Kanaan yang dikenal dengan kota-kota bertembok.

Namun kendala Israel menduduki seluruh Kanaan bukan soal kekuatan militer, sebab Allah yang berperang untuk mereka.

Kendalanya adalah diri mereka sendiri, yaitu taat atau tidak taat kepada TUHAN.

Sebab Allah telah berjanji di Ulangan 11:22-23,

“Sebab jika kamu sungguh-sungguh berpegang pada perintah yang kusampaikan kepadamu untuk dilakukan, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan berpaut pada-Nya,

maka TUHAN akan menghalau segala bangsa ini dari hadapanmu, sehingga kamu menduduki daerah bangsa-bangsa yang lebih besar dan lebih kuat dari padamu.”

Dalam Kel. 23:27-33, asalkan mereka tidak kompromi, Allah akan menghalau semua musuh-musuh mereka.

Salah satu contohnya di ayat 13, “orang Israel tidak menghalau orang Gesur dan orang Maakha itu..”

Kata menghalau dari kata yarash artinya menghancurkan sepenuhnya, melenyapkan dengan penghancuran, mencabut akar.

Namun, alih-alih “mencabut” akar-akar tersebut seperti yang dilakukan untuk membasmi rumput liar, Israel meninggalkan akar di tanah itu dan tampaknya menumbuhkan beberapa gulma..

Dan sekitar 400 tahun kemudian raja Maakha bersekutu dengan orang Amon dalam perang melawan Raja Daud ( 2Sam 10:6 ).

Boleh jadi kita seperti itu, tidak mencabut akar-akar dosa dalam hidup kita, sehingga menggerogoti rohani kita dengan gulma-gulma dosa.

Apa yang menyebabkan mereka gagal menghalau musuh-musuh mereka?

Beberapa penyebab dari dalam diri mereka seperti, kemalasan, ketidakpedulian, berpuas diri, ketidakpercayaan, kurangnya keberanian, kurangnya kekuatan rohani dan ketekunan, dll.

Semua ini kendala dari dalam diri mereka sendiri. inisiatif Allah memberi seluruh negeri itu, tidak direspon mereka dengan ketaatan.

Jadi penaklukan ini sangat rumit dan banyak kerumitan. Mereka membuatnya menjadi rumit.

Kerumitan serupa juga menggambarkan dinamika keselamatan kita.

Seperti halnya Israel, kita tidak dapat melakukan apa pun untuk mendapatkan keselamatan kita ( Ef. 2:8-9 ).

Keselamatan adalah anugerah, sama seperti tanah itu adalah anugerah Allah kepada bangsa Israel berdasarkan hubungan perjanjian mereka dengan-Nya.

Tentu saja, keselamatan tidak didasarkan pada jasa mereka (lihat Ul. 9:5 ).

Bagaimana caranya agar Israel dapat menikmati karunia Allah?

Mereka harus memikul semua tanggung jawab yang menyertai kehidupan di tanah itu. Kita juga demikian, harus menjalani proses pengudusan dalam ketaatan penuh kasih terhadap persyaratan menjadi warga kerajaan Allah.

Mereka diberi tanah karena kasih karunia. Kita pun demikian, selamat karena kasih karunia. Tetapi keselamatan itu bisa hilang bila kita tidak taat.

Bagian kita saat ini adalah menaati perintah Tuhan, agar kita tetap berada dalam kasih karunia-Nya.

Teks: Imamat 25:1-5 , 8-13

Pada bagian ini membahas perintah Tuhan kepada mereka bagaimana mereka memperlakukan tanah yang diberikan Tuhan ditanah perjanjanjian.

Ketika nantit masing-masing suku akan mendapatkan tanah, yang kemudian dibagikan kepada setiap keluarga. Dan mereka harus mengikuti petunjuk Tuhan cara memperlakukan tanah tersebut.

Bagaimana cara pembagian tanah agar tidak dimiliki segelintir orang?

Tanah itu harus dibagi berdasarkan suku, klan, dan keluarga ( Bil. 34:13-18 ) agar tidak menjadi milik segelintir elit terkemuka.

Dalam pembagian itu, tidak boleh ada yang mengambil tanah untuk kepentingan dirinya sendiri. sebagai tanah pemberian, Yosua melakukan tugas pembagian dengan adil.

Seperti apa perintah Tuhan dalam cara memperlakukan tanah tersebut?

Imamat 25 mencatat, “..tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN.” (ayat 1).

Jadi selain perhentian sabat bagi manusia, tanah juga harus mendapat perhentian. Disebut sebagai tahun sabat.

Apa artinya tahun sabat?

Sebagaimana mereka bekerja enam hari lamanya dan hari ketujuh beristirahat, maka hal yang sama diperintahkan kepada mereka dalam hal pengelolaan tanah.

Selama enam tahun mereka akan mengolah tanah mereka. Menanam. Membajak. Menuai.

Namun, setiap tahun ketujuh harus dirayakan sebagai hari Sabat. Lahan harus dibiarkan kosong (tidak digarap). Tidak diperbolehkan menabur di ladang atau memangkas kebun anggur pada tahun Sabat ini. (Imamat 25:3-4)

Lalu dari mana sumber makanan mereka selama tahun sabat?

Jawabanya di ayat 18-22. Pertama, di tahun yang keenam, tanah mereka akan menghasilkan panen untuk persediaan selama tiga tahun.

Kedua, pada tahun ketujuh, mereka akan menikmati hasil panen dari tahun keenam. Dan juga dari tanaman yang tumbuh sendiri diladang.

Ketiga, mereka baru akan mengolah tanah mereka pada tahun kedelapan. Tentu tanah belum menghasilkan. Maka mereka masih punya persediaan untuk dua tahun.

Persediaan itu hingga tahun kesembilan, sampai tanah mereka kembali menghasilkan panen.

Jadi, Tuhan sangat luar biasa memelihara mereka.

Aplikasi: Seperti halnya kita, kita bekerja enam hari lamanya. Berkat Tuhan telah dilimpahkan lebih banyak di hari sebelumya, agar kita bisa menikmati istirahat sabat dihari ketujuh.

Karena itu, kita harus taat kepada perintah Tuhan, dengan tidak bekerja hari sabat.

Apakah yang dimaksud Yubileum atau tahun Yobel?

Yubileum adalah Tahun kelima puluh setelah tujuh siklus tujuh tahun. Cara menghitungnya adalah 7×7 tahun = 49 tahun (Im 25:8).

Kemudian tahun ke 50 dikuduskan atau diasingkan untuk maksud khusus (Im 25:10-12).

Kata “Yobel” berasal dari kata Ibrani yang berarti “bergembira sekali” dan “bersukacita”. Kata ini berkaitan dengan kata Ibrani untuk tanduk domba jantan atau terompet.

Itu sebabnya, tahun Yobel dimulai dengan tiupan tanduk domba jantan pada Hari Raya Pendamaian, yang menandakan panggilan untuk bersukacita, pembebasan, dan awal tahun untuk melakukan keadilan dan belas kasihan yang penuh kasih.

Apa tujuan khusus tahun Yobel atau tahun ke 50?

Tujuannya adalah untuk “memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya.” (Imamat 25:10.

Kebebasan dari apa?

Dari hutang. Jadi, orang-orang yang terlilit utang dan menjual diri mereka sebagai budak atau menjadi hamba kepada orang lain dilepaskan dari utang mereka dan dibebaskan.

Misalnya dalam kasus tanah yang mungkin digadaikan atau dijual sebagian. Perlu kita tahu, bahwa perintah Tuhan bahwa tanah tidak dapat dijual. Tanah adalah milik Allah (Imamat 25:23)..

Namun, ketika sebagian orang jatuh miskin, terpaksa mereka menjual tanah atau menggadaikan dan tidak mampu bayar, maka tanah itu dapat hilang karena utang.

Agar tidak hilang, maka kerabatnya diwajibkan untuk menebusnya bahkan sebelum tahun Yobel ( Im. 25:25 ).

Bahkan bila mereka tidak bisa menebus, tanah itu akan tetap ditangan yang membeli, namun ditahun Yobel tanah itu bebas.

Tanah tersebut dikembalikan kepada keluarga-keluarga yang awalnya menerima tanah tersebut sebagai warisan.

Selain membebaskan yang berhutang, apalagi yang dilakukan di tahun Yobel?

Seperti halnya TAHUN-TAHUN SABAT, Tahun Yobel adalah tahun untuk tidak menabur maupun menuai (Imamat 25:11).

Tahun kelima puluh menjadi penting dalam kehidupan ekonomi Israel. Jika seseorang ingin menebus orang yang terlilit utang, harganya dihitung berdasarkan jumlah tahun yang tersisa hingga Tahun Yobel.

Apa alasan menetapkan tahun Yobel?

Salah satu alasan mengapa Allah menetapkan Tahun Yobel adalah untuk mencegah orang Israel saling menindas (Imamat 25:17).

Apa dampak tahun Yobel?

Salah satu dampak Tahun Yobel adalah mencegah terbentuknya sistem kelas ekonomi yang permanen.

Selain itu, tahun Yobel memiliki efek pemerataan pada budaya Israel; memberikan setiap orang kesempatan untuk memulai kembali, secara ekonomi dan sosial.

Apa yang Tuhan ingin ajarkan melalui tahun Yobel?

  1. Untuk mengajarkan anak-anak-Nya agar bermurah hati kepada mereka yang kurang beruntung dan membiarkan tanah mereka memberi mereka makan setiap tujuh tahun.
  2. Mengajarkan prinsip perintah Sabat dalam skala yang lebih besar. Selain menghargai dan mendorong kerja keras, kepemilikan tanah, juga menuntut rasa hormat dan kebaikan hati kepada mereka yang menghadapi kesulitan keuangan.

Undang-undang kepemilikan tanah memberikan setiap orang Israel kesempatan untuk terbebas dari keadaan penindasan yang diwarisi atau disebabkan sendiri dan untuk memulai hidup baru.

Apa hakikat tahun Yobel?

  1. Hakikatnya, menghapus perbedaan antara si kaya dan si miskin, majikan dan karyawan, yang istimewa dan yang kurang istimewa..
  2. Menempatkan kita semua pada kedudukan yang sama dengan mengakui kebutuhan kita sepenuhnya akan kasih karunia Allah. Dan ini lah injil sesungguhnya.
  3. Mengingatkan kita bahwa Allah menghendaki manusia untuk bebas (Luk. 4:18-19).
  4. Tahun Yobel juga menjadi saksi atas keinginan Allah akan keadilan di bumi dan mempertanyakan praktik sosial apa pun yang mengarah pada perbudakan permanen dan hilangnya kesempatan ekonomi.
  5. Kita juga dapat melihat pemeliharaan Allah bagi konservasi tanah dalam seruan agar tanah beristirahat (Im. 25:11, 18-22).
  6. Umat tidak boleh mengambil sumber daya bumi dengan cara yang rakus. Tahun Sabat dan mungkin Tahun Yobel juga ditandai dengan pengajaran dalam Hukum Taurat (Ul. 31:9-13).

Dengan cara ini, umat Israel belajar bahwa tuntutan Allah untuk mengasihi dan menaati-Nya berhubungan langsung dengan perhatian-Nya terhadap kesejahteraan seluruh umat Israel.

Apa akibat bila mereka melalaikan perintah Tuhan tentang tahun sabat dan Yobel?

Ketika mereka benar-benar memiliki tanah, mereka tidak melakukan perintah Tuhan. Akhirnya, Tuhan sendiri yang memaksa mereka untuk mengistirahatkan tanah tersebut.

Dalam 2 Taw. 36:20-21, hal tersebut dicatat. Mereka ditawan ke Babilonia 70 tahun. Rumah-rumah mereka hancur, “karena tanah itu tandus selama menjalani sabat, hingga genaplah tujuh puluh tahun.”

Aplikasi dan ringkasan Imamat 25.

  1. Tahun Yobel membentuk puncak kalender Ibrani.
  2. Tahun Yobel (menunggu pembebasan) dan tahun sabat (menunggu peristirahatan) adalah tipe dari peristirahatan dan pembebasan yang dibawa oleh Yesus Kristus. Keduanya merupakan konsekuensi dari pendamaian.
  3. Gereja akan menikmati kemuliaan Sabat berupa istirahat dan pembebasan di dunia yang akan datang ( Wahyu 21:1–4 )
  4. Tahun Yobel yang kekal akan menjadikan segala sesuatu baru, khususnya tatanan sosial yang sepenuhnya baru, yaitu kebebasan dan kebahagiaan ( Wahyu 21:23–22:5 ).

Bagaimana Sabat dapat membantu kita berkata “tidak” kepada siklus konsumerisme yang eksploitatif dan kejam yang menjangkiti banyak masyarakat?

Bagaimana kita dapat menerapkan prinisp-prinsip tahun Yobel untuk membebaskan orang-orang yang berhutang kepada kita?

Teks: Yeremia 24:6 ; Yeremia 31:16 ; Yehezkiel 11:17 ; Yehezkiel 28:25 ; dan Yehezkiel 37:14 , 25

Dipelajaran hari ini kita melihat bagaimana Tuhan memulihkan tanah mereka yang terbengkalai selama 70 tahun akibat penawanan di Babilonia.

Dipenawanan, hati mereka pahit dan getir kehilangan tanah air mereka.

Apa janji Allah mengenai kembalinya Israel ke Tanah Perjanjian?

a) Yeremia 24:6 – mereka akan dibawa kembali. Membangun. Menanam mereka.

b) Yeremia 31:16b – akan kembali dari negeri musuh.

c) Yehezkiel 11:17 – menghimpun dan mengumpulkan kembali. Memberkan tanah Israel.

d) Yehezkiel 28:25 – Aku mengumpulkan kaum Israel..akan diam ditanah mereka

Bagaimana dan kapan janji itu akan digenapi?

Ketika bangsa Israel mengakui dosa-dosa mereka, bertobat, dan mencari Tuhan dengan segenap hati mereka, Allah menggenapi janji-Nya kembali, dan membawa mereka kembali ke tanah mereka sebagai tanda pemulihan mereka. Artinya, Dia tetap Allah mereka, bahkan ketika mereka tidak berada di tanah itu.

Janji bahwa Israel akan memiliki tanah itu selamanya bersifat bersyarat dicatat di ( Ul. 28:63-64 ; Yos. 23:13 , 15 ; 1 Raj. 9:7 ; 2 Raj. 17:23 ; Yer. 12:10-12 )..

Demikian pula janji untuk menetap kembali dan membuat Israel makmur di tanah itu setelah pembuangan.

Para nabi Perjanjian Lama menunjuk kepada pemulihan yang akan dibawa oleh raja Daud di masa depan ( Yes. 9:6-7 ; Zakh. 9:9 , 16 ).

Janji ini digenapi dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus, yang di dalam-Nya semua janji kepada Israel kuno akan digenapi.

Di perjanjian baru, bagaimana tanah perjanjian digenapi?

Tanah Perjanjian tidak disebutkan secara langsung, tetapi kita diberitahu bahwa janji-janji Allah telah digenapi di dalam dan melalui Yesus Kristus ( 2 Korintus 1:20 , Roma 15:8 ).

Dalam terang Kristus, tanah itu ditafsirkan kembali, dan menjadi simbol berkat rohani yang Allah rencanakan untuk diberikan kepada umat-Nya yang setia di sini dan saat ini ( Efesus 2:6 ) dan di akhirat.

Kapan penggenapan akhir dari tanah perjanjian?

Penggenapan akhir janji ilahi akan ketenangan, kelimpahan, dan kesejahteraan di bumi akan terjadi di bumi yang baru. Disana tidak ada lagi dosa dan semua akibatnya.

Dalam hal ini, sebagai orang Kristen, harapan kita didasarkan pada janji Kristus bahwa Dia akan kembali dan, setelah 1.000 tahun di surga, menegakkan kerajaan-Nya yang kekal di bumi yang baru. Ini akan menjadi penggenapan akhir dari semua janji tentang bumi.

Jadi, Eden yang hilang, tanah perjanjian Kanaan yang hilang, melalui Yesus Kristus kita akan dibawa kesana, menuju tanah perjanjian Surgawi.

Eden yang dipulihkan, akan menjadi rumah dan tempat tinggal kita selamanya.

Ayat hafalan:

“Kembalilah ke kota bentengmu, hai orang tahanan yang penuh harapan! Pada hari ini juga Aku memberitahukan: Aku akan memberi ganti kepadamu dua kali lipat!” Zakaria 9:12

Pengantar belajar

Pelajaran minggu ini mempelajari pentingnya, baik jasmani maupun rohani, dari pembagian tanah perjanjian di antara suku-suku Israel.

1. Tanah itu dijanjikan dengan syarat: Taat. (Sabtu, senin, Rabu)

A. Tuhan adalah pemilik seluruh bumi ( Mazmur 24:1 ), dan

Karena itu “Tanah yang dijanjikan adalah anugerah Allah berdasarkan inisiatif-Nya. Israel tidak memiliki hak atau klaim bawaan untuk memiliki tanah tersebut.” Minggu, par 2.

B. Janji Kanaan itu nyata dan nyata ( Yos. 13-21 ), terlepas dari kondisinya.

Pembagian tanah menjadi beberapa bagian yang dibagikan kepada setiap suku menunjukkan keabsahan janji Tuhan kepada Israel.

Namun, janji ini bersyarat pada ketaatan ( Im. 18:26-28; Bil. 33:56; Ibr. 3:17-19 ).

• Mirip dengan Eden, “perpindahan dari tempat yang dirancang oleh Tuhan menandai konsekuensi dari ketidaktaatan.” Komentar Guru, hal. 120, par 1

C. Tahun sabat dan Yobel

Allah menetapkan tahun-tahun sabat dan tahun Yobel sebagai perlindungan terhadap kesenjangan sosial dan ekonomi yang diakibatkan oleh keserakahan, penindasan, dan pilihan hidup yang buruk.

“Peraturan kepemilikan tanah memberikan setiap orang Israel kesempatan untuk terbebas dari penindasan yang diwariskan atau yang disebabkan oleh diri sendiri dan untuk memulai hidup yang baru.” Rabu, par 4

D. Implikasi injil tahun Yobel

“Pada hakikatnya, inilah tujuan utama Injil: menghapus perbedaan antara kaya dan miskin, majikan dan karyawan, yang beruntung dan yang kurang beruntung, menempatkan kita semua pada kedudukan yang sama dengan mengakui kebutuhan kita sepenuhnya akan kasih karunia Allah.” Rabu, par 5

2. Tanah tersebut walau sudah ditunjuk, masih harus diambli alih (Selasa)

A. Janji atas tanah itu tidak setara dengan warisannya. Allah mengharapkan dan mewajibkan setiap suku untuk menaklukkan wilayah mereka masing-masing.

• Mereka dapat menjadikannya milik mereka yang sesungguhnya hanya dengan menempatinya, dengan mematuhi persyaratannya, dengan menjalankan iman yang hidup kepada Allah, dengan menerima janji-janji-Nya bagi diri mereka sendiri.” Youth’s Instructor, 17 Februari 1898 (Jum, par. 1)

• Ini dirancang untuk menggambarkan hubungan antara iman dan perbuatan

B. “Inisiatif Tuhan harus diimbangi dengan respons manusia…. Kompleksitas penaklukan menggambarkan dinamika keselamatan kita.” Sel, par 2, 3

• Setiap orang memiliki pertempuran pribadi untuk diperjuangkan. Bahkan Tuhan pun tidak dapat menjadikan karakter kita mulia atau hidup kita berguna, kecuali kita menjadi rekan kerja-Nya. Mereka yang menolak perjuangan kehilangan kekuatan dan sukacita kemenangan. MH 487.2

3. Masih tersedia waktu istirahat bagi umat Allah (Kamis)

A. Kanaan di bumi tidak pernah menjadi “tanah perjanjian” yang sesungguhnya.

Umat beriman pada zaman Alkitab memahami bahwa tanah Kanaan hanyalah gambaran dari Kanaan surgawi ( Ibr. 11:9, 10; 11:13-16, 39-40; 4:8, 9 ).

B. Penaklukan tanah dimaksudkan untuk tujuan spiritual.

• “…Israel berjuang hampir sepanjang waktu untuk mempertahankan kendali atas tanah tersebut.” Qtly, Komentar Guru, hlm. 121, par. 2 (lihat AA 105.2)

• Yesus menggambarkan rencana Allah untuk penaklukan dalam hidup dan pelayanan-Nya.

Kuasa Juruselamat kita tidak terletak pada rentetan kata-kata tajam. Kelembutan-Nya, semangat-Nya yang tidak egois dan rendah hati,lah yang menjadikan-Nya penakluk hati. Rahasia kesuksesan kita terletak pada penyataan semangat yang sama. 7T 156:2

Kesimpulan

 Melalui bangsa pilihan, Allah telah bermaksud mendatangkan berkat bagi seluruh umat manusia…. Bani Israel akan menduduki seluruh wilayah yang telah Allah tetapkan bagi mereka.

 Bangsa-bangsa yang menolak penyembahan dan pelayanan kepada Allah yang benar akan direbut.

 Namun, Allah bermaksud agar melalui penyataan karakter-Nya melalui Israel, manusia akan ditarik kepada-Nya….

 Semua orang yang, seperti Rahab orang Kanaan dan Rut orang Moab, berpaling dari penyembahan berhala kepada penyembahan kepada Allah yang benar, harus bersatu dengan umat pilihan-Nya.

 Seiring bertambahnya jumlah orang Israel, mereka harus memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga kerajaan mereka mencakup seluruh dunia. Kis 17:19

`

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *